Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 6. Penyesalan


__ADS_3

POV Rosyanti.


Aku menghela nafas perlahan, ku edarkan


pandanganku ke sekeliling. Kampung ini


tidak pernah berubah. Jalanannya masih


sama. Masih berdebu dan tak rata.


Langkahku mulai gontai membawa tas


punggung yang agak besar. Perjalanan


kemari memang perlu waktu yang tidak


sedikit.


Aku mencari pria itu, pria yang


membuatku meninggalkan mas Malik


dan anakku.


Demi dia, aku melakukan sebuah


dosa besar, dosa yang mungkin saja


Tuhan tak bisa mengampuninya.


Sudah hampir 2 tahun aku meninggalkan


keluarga di kampung ini.


Tak kuhiraukan perkataan mereka yang


menasehatiku dulu. Aku sudah buta. Ya ....buta, buta karena dosa yang jelas-jelas


terpampang nyata.


Karena statusku yang sudah menikah dan mempunyai anak malah meninggalkan mereka. Pergi dengan pria lain yang aku cintai.


Bukannya aku tidak mencintai mas Malik.


Mungkin cintaku berubah. Dengan kehadiran


Annisa anakku, dia lebih memperhatikan


dan lebih menyayangi bayi mungil itu


daripada aku....istrinya.


Entahlah apa yang kurasakan saat itu. Hatiku terluka seolah aku kurang perhatian dari mas Malik.


Padahal suamiku menyayangi dan memberikan


perhatiannya pada anaknya sendiri bukan


orang lain.


Pertemuan pertamaku dengan pria itu tak disengaja. Kami bertemu di satu warung makan.


Nanik yang mengenalkanku padanya. Dia


bilang pria itu adik kelasnya dulu waktu


di sekolah.


Awalnya aku biasa-biasa saja dengan pria


itu, tak ada perasaan istimewa. Kami


bertemu kembali tanpa sengaja.


Waktu itu, aku berbelanja di pasar sore


dekat lapangan kampung. Aku mencari-cari


dompet yang terjatuh entah dimana.


Lelah kumencari, dia datang bagai pahlawan.


Disodorkannya dompet kepadaku. Aku tak


menyangka dia disini.


"Dompetmu gak jatuh Ros, tadi preman pasar memainkannya," sambil menunjuk dompet.


"Preman? tapi, tadi aku gak diapa-apain kok


sama mereka, kenapa bisa mereka punya


dompetku?," kernyitku heran.


"Ha....ha...ha.. Kamu itu udah dicopet,


tapi gak nyadar," sahutnya sambil


tertawa kecil.


"Dasar preman. Bisanya nyopet perempuan


untunglah ada kamu. Dompet dan isinya


selamat tanpa kurang apapun. Makasih ya,"


timpalku sambil memeriksa isi dompet.


"Santai aja, bukannya sesama manusia


harus saling membantu?," kerlingnya padaku.


"Oh ya, kenapa kamu tau kalo ini


dompetku, emang kamu temenan


sama mereka ya?," tanyaku asal.


"Ngawur...ya gaklah. Tadi aku lewat


di samping mereka dan tak sengaja


mendengar mereka udah dapat umpan


dan menunjuk seorang wanita.


Kulihat wanita yang ditunjuknya. Eh aku liat


kamu, trus aku mikir kamu juga lagi kayak


orang nyari-nyari sesuatu. Pasti


dompetmu yang di embat sama preman


kampung itu," jelasnya panjang lebar.


"Ck....ck...Kamu pinter juga ya, bisa mikir


kearah sana," decakku kagum.


"Ya udah. Aku masih ada urusan. Lain kali


ketemu lagi ya! simpen nomerku nih!," dia


memberikanku sebuah kartu nama.


Aku memandangnya sampai tak terlihat.


Ada rasa berdesir, tapi aku masih tidak tau


itu rasa seperti apa.


Dan mulailah aku menghubunginya hanya

__ADS_1


dengan pesan tulis dan singkat. Lama


kelamaan kami terjerat oleh perasaan kami


dan kami mengacuhkan beberapa komentar


keluarga dan orang yang mengenal kami.


Kami mulai sering bertemu tanpa


sepengetahuan orang lain. Bersamanya


aku bisa mendapat perhatian lebih daripada


aku bersama mas Malik.


Hubungan kami berlanjut. Bahkan sampai


sekarang. Ya walaupun dia sudah berubah.


Lebih kasar dan mulai membentak.


Padahal, waktu aku berumah tangga dengan mas Malik, suamiku tidak pernah berbuat


kasar kepadaku.


Pekerjaannya di kota mulai goyah. Dia


diberhentikan oleh perusahaannya akibat


kelalaiannya sendiri. Dia lebih sering


memakiku dengan kata-kata kasar semenjak


itu, seolah-olah aku jadi pelampiasannya.


......................


Dan sekarang. Disinilah aku, tempat


dimana memulai semua dosaku. Aku


terpaksa kembali ke kampung ini.


Setidaknya dia tidak harus mengeluarkan


uang untuk tempat tinggal.


Beruntung dia


masih punya teman yang peduli padanya.


Di bengkel mas Kadir dia memulai


pekerjaannya. Dialah mas Andi,


orang-orang mengenalnya dengan


panggilan Aan.


Walaupun dia sudah bekerja, tapi tempramen


buruknya tak jua berubah, dia sering keluar


dengan teman-temannya dan tidak tau waktu.


Aku menikah secara agama saja dengannya,


dulu aku tidak peduli pernikahan itu sah atau


tidaknya karena aku masih menyandang


status istri orang dan mas Andi tau akan


hal tersebut.


...----------------...


biru di sore ini, aku baru saja tiba di kampung


ini, aku tidak memberitahu mas Andi kalau


aku akan mengunjunginya di bengkel.


Mau bagaimana lagi, aku sudah tidak ingat


jalan menuju rumahnya di kampung sebelah,


satu-satunya cara aku harus mendatanginya


langsung di bengkel dan nanti ikut pulang


bersamanya.


Dipinggir jalan kampung, aku menghela nafas


setiap kali kuingat semua kesalahan yang


aku lakukan, penyesalan memang akan


selalu datang terlambat.


Aku mulai rindu


akan mas Malik dan Annisa anakku. Sekarang


dia pasti sudah besar, pasti dia lincah dan


aktif kemana-mana.


"Maaf ibu meninggalkanmu nak," lirihku sendirian.


Jalanan di sore ini begitu sepi dan lengang,


biasanya banyak kendaraan dan orang-orang


kampung yang melintas silih berganti tapi


tidak dengan saat ini.


Sayup-sayup terdengar suara mesin motor.


"Syukurlah aku tidak sendiri di jalan ini",


pikirku.


Aku mulai melangkah bersemangat.


Kulihat pengemudi motor itu, seorang lelaki.


Tapi sepertinya aku kenal dengan lelaki itu.


Dari balik kaca spion motornya kami


bertatapan sejenak.


Deg.......


Dia....dia....Mas Malik, lelaki yang aku


tinggalkan demi lelaki lain.


Langsung kuarahkan pandanganku


ke samping jalan.


Kupikir mas Malik juga menyadarinya. Dia


menyadari kalau aku lah wanita yang tega


meninggalkannya, kembali ke kampung ini.


Motornya melaju perlahan untuk lebih

__ADS_1


memastikan itu aku atau bukan.


Setelah itu dia langsung melesatkan


motor bututnya.


"Sudah 2 tahun. Tapi motormu masih sama


mas, motor butut yang selalu menemani


kita jalan semasa pacaran dulu bahkan


ketika sudah menikah," lirihku seorang diri.


......................


Kulihat dari jauh mas Andi tengah


disibukkan dengan pekerjaannya. Semakin


dekat terlihat mas Kadir pemilik bengkel


keluar dari sebuah ruangan.


Ku hampiri beliau dan bersalaman dengannya.


"Mas kadir, apa kabar? lama kita gak ketemu,"


sambil melepaskan jabatan tanganku.


"Alhamdulillah baik. Kamu....kenapa kamu


bisa disini? ada perlu apa emangnya Ros?,"


dia seakan kaget melihatku disini.


"Oh...itu...aku...aku pengen ketemu sama


Aan mas,"jawabku.


"Aan..?? siapa Aan?," kernyitnya bingung.


"Itu dia mas orangnya!," tunjukku pada mas


Andi yang menghampiri kami.


"Andi?.... jadi kamu sama Andi.....?," tanpa


melanjutkan pertanyaannya mas Kadir


seakan paham maksudku kemari.


"Ngapain kamu kemari Ti? bukankah aku


bilang jangan kembali ke kampung ini?


apalagi kamu sampai ke tempat ini,


ayo kita pulang!." Mas Andi menarik


lenganku dengan kasar.


"Maaf sebelumnya mas Kadir, aku pamit


sebentar ya, mau nganterin Yanti pulang mas,"


mas Andi merasa tak enak pada majikannya.


"Iya....iya...lagian Imran udah dateng.


Sementara kerjaanmu tinggal saja sebentar.


Kalian pulanglah dulu," mas Kadir sepertinya


tau keadaan kami.


"Makasih mas pengertiannya. Kami pamit,


Assalamualaikum," ucap mas Andi yang


menyeret lenganku.


"Waalaikumsalam," mas Kadir menjawab


sambil memandangi kami dengan tatapan


aneh.


Kami melangkah keluar bengkel. Sebelum


memulai perjalanan pulang. Dia berujar


seakan menyudutkanku.


"Kamu ngapain sih Ti. Pulang ke kampung ini.


Apa kamu gak punya malu? wajahmu itu kau


tampakkan sama orang-orang yang kau


tinggalkan dulu,"


"Aku kesini hanya mencarimu mas.


Gak ada hubungannya dengan siapapun di


masa laluku. Aku lupa arah pulang ke


rumahmu yang di kampung sebelah.


Makanya aku kemari."


"Kamu kan bisa naik ojek!, ngapain juga


harus nyusul aku ke tempat mas Kadir,"


sungutnya sebal.


"Maaf mas, tapi uang ku gak cukup buat


ongkos ojek, makanya aku kepepet kemari."


Sanggahku.


"Ya sudah. Cepat naik! kerjaanku masih


banyak. Sampai rumah jangan pikir kamu


bisa kemana-mana. Ingat itu!," ancam mas


Andi.


Aku hanya mengangguk mengiyakan


ucapannya. Kuambil helm yang di


sodorkannya padaku.


Kami pun pulang menuju rumah di kampung sebelah.


Rumah yang sudah lama tidak di tempati.


Hatiku seakan perih mendengar perkataan


mas Andi barusan. Aku tidak boleh


kemana-mana. Aku kan bukan hewan


peliharaan yang harus diam di kandangnya.


Aku menghela nafas dan menghembuskannya


perlahan. Berharap sifat kasar mas Andi perlahan memudar.

__ADS_1


__ADS_2