
Malik dan Evans berbincang di depan rumah. Mereka asyik mengobrol sampai ketika ada seorang wanita datang menghampiri.
Wanita itu menyapa Malik dan Evans.
Malik mengerutkan dahi, ia tak menyangka malam begini Aisyah bertamu kerumahnya.
Malik pun menanyakan maksud kedatangan Aisyah.
"Lik, aku masuk dulu ya nemenin ibu dan bapak! pamit Evans yang tahu situasi.
"Iya, nanti aku susul!" Malik menyahut.
"Ada apa Ais? sini duduk! ini sudah malam lho, gak baik buat anak gadis seperti kamu bertamu sendirian!" tegur Malik.
"Maaf mas, saya kesini mau bertanya tentang sesuatu!" Aisyah gugup.
Aisyah tak berani memandang wajah Malik.
Ia hanya menatap sekilas dan mengalihkan pandangannya.
"Nanya apa? katakan saja Ais, aku akan menjawab pertanyaan mu!" sahut Malik.
"Sebenarnya aku mau tahu mas!" Aisyah memotong pertanyaannya.
"Terusss!" Malik mengernyit
"Itu mas, wanita tadi sore. Sebenarnya siapa dia mas?" tanya Aisyah pelan.
"Maksud kamu Elisa? owh dia itu majikanku waktu aku berada di kota L!" jawab Malik.
"Majikan? mas bekerja di tempatnya?" tanya Ais penasaran.
"Iya, aku menjadi supirnya selama disana! selama itu pula kami menjalin hubungan asmara!" Terang Malik enteng.
Duaarrrr.
Bagai petir menyambar, Aisyah mencoba tegar di hadapan Malik. Ternyata penantiannya selama ini tak seperti harapannya.
"Owh, begitu mas!" suara Aisyah bergetar.
Ia mencoba menutupi suaranya itu dengan gelak tawa yang ringan.
"Masuk yuk, udah malem nih! kamu gak mau menyapa ibu?" ajak Malik.
"Maaf mas salam aja buat ibu ya! Ais lupa kalau ada keperluan di tempat lain!".
Aisyah pamit pulang dan bergegas melangkah pergi meninggalkan Malik seorang diri.
Ia menyembunyikan air bening yang mulai menetes membasahi pipinya.
Jilbab yang ia kenakan, dipakai untuk menghapus air mata itu. Ia berjalan dan mengendarai motor yang ia kendarai tadi.
"Kenapa Aisyah jadi aneh ya? pertanyaannya juga gak ada hubungannya dengan sekolah Nissa!" gumam Malik mengendikkan bahu.
"Sudahlah mending aku masuk dulu!" Malik melangkah masuk kedalam rumah.
Malik disambut ledekan seisi rumah kecuali Nissa, Nissa hanya melihat ayahnya tersenyum lebar.
"Sepertinya sebentar lagi akan ada orang yang meninggalkan status lama!" ledek Evans tertawa.
__ADS_1
"Iya mas, apa sekalian kita gabung aja acaranya?" usul Fatma.
"Wah ide bagus tuh nak Fatma!" sahut Sumiyati.
"Kalian ini pada bahas apaan sih! aku gak tuh gak ngerti!" Malik berpura-pura.
"Lik, nanti biar Elisa nginap di rumah Fatma ya! gak enak sama tetangga kalau dia menginap disini!" ucap Sugeng angkat bicara.
"Iya pak, tapi tanya dulu sama tuan rumahnya tuh!" Malik menunjuk Fatma dengan dagunya.
"Wah asyik dong ada temen ngobrol dirumah. Elisa nanti kita tidur berdua aja dikamar ku!" ajak Fatma gembira.
"Kaya anak kecil deh, kaya gak punya teman ajah!" ledek Evans.
"Biarin mas, kan mas tahu sendiri perlakuan mereka padaku seperti apa." Fatma sendu.
"Ish, gak usah dibahas yang itu!" larang Evans.
Setelah jam menunjukkan pukul sepuluh malam, mereka pamit pulang. Begitupun Elisa yang akan menginap di rumah Fatma. Ia mengambil sepasang baju tidur yang ia bawa.
Rumah Sumiyati menjadi sepi kembali.
"Ibu merasa punya banyak anak ketika Evans, Fatma dan Elisa disini tadi!" ujar Sumiyati.
"Lho bukannya ibu memang punya 3 anak ya!" seru Sugeng menimpali.
"Yang dua entah kemana pak, mereka seakan tak peduli kepada kita!" keluh Sumiyati.
"Doakan saja agar mereka cepat mengingat kita yang disini bu!" sahut Sugeng.
Malik yang mendengarnya hanya diam saja. Ia tak mau ikut campur kalau sudah berurusan dengan kedua kakaknya. Ia masih trauma dan menyimpan ketakutan.
"Ibu jadi lupa nak, maaf ya! ya udah cepat gendong Nissa masuk ke kamarnya! kasian kalau tidur disini!" Sumiyati menyahut.
Malam itu Sumiyati dan Sugeng di penuhi rasa khawatir akan kedua anak perempuannya yang sudah lama tak mengabari keberadaannya Sekarang ini. Mereka sudah hilang kontak selama setahun terakhir.
Disisi lain Aisyah yang sudah berada di dalam kamarnya hanya bisa menangis.
Semua barang didalam kamarnya seolah menjadi saksi bisu akan kesedihannya.
"Mas Malik, kenapa kamu selama ini tak melihatku sebagai seorang wanita? kenapa mas?" isak tangis Aisyah.
"Apa kurangnya diriku ini, aku udah berusaha menjadi seorang gadis yang menjaga diri dan menunggu mu setahun terakhir mas, hiks..hiks!" suara tangis Aisyah semakin kencang.
Harapannya pupus dan kandas ketika melihat wanita itu. Elisa, wanita yang selalu muncul dalam mimpi Malik. Nissa yang menceritakan perihal mimpi Malik pada Aisyah.
"Hiks, hiks, hiks!" Isak tangis semakin kencang.
Tok, tok, tok.
Ada suara ketukan pintu di balik pintu kamar Aisyah. Aisyah tak mempedulikannya, ia terlanjur larut dalam kesedihan.
"Buka pintunya nak! kenapa kamu kunci pintunya?" sang ibu khawatir.
"Kamu kenapa nak? masuk rumah tadi murung, terus sekarang kamu menangis." Sang ibu tak berhenti membujuk Aisyah.
"Buka nak! buka sekarang pintunya!" perintah sang ibu.
Aisyah menoleh kearah pintu. Ia melangkah perlahan menuju pintu dan membuka kuncinya.
__ADS_1
Ibunya pun langsung membuka pintu dan berhambur memeluk Aisyah ketika melihat wajah sembab anak perempuan satu-satunya.
"Kamu kenapa nak? kenapa kamu menangis seperti ini?" tanya ibunya.
Aisyah tak menyahut, ia hanya membalas pelukan ibunya dan menangis sesenggukan.
Ibunya mengelus rambut Aisyah berulang kali.
"Cerita sama ibu nak! apa yang terjadi denganmu?" tanya sang ibu lagi.
Aisyah mulai merenggangkan pelukannya. Ia mengusap air mata yang menetes. Suaranya masih bergetar.
"I-bbu, Aisyah sakit disini!" Aisyah menunjuk dada kirinya.
"Sakit apa kamu nak? ayo kita periksa ke rumah sakit!" sang ibu terkejut dan mulai waspada.
"Tak ada rumah sakit yang bisa menyembuhkannya bu!" sahut Aisyah sendu.
"Jangan bercanda kamu nak! ayo kita periksa sekarang!" ajak sang ibu.
"Aisyah sakit hati bu, Aisyah kecewa, Aisyah tak punya harapan lagi!" cerita Aisyah.
"Astaghfirullah nak, tolong jangan begitu! jangan karena seorang pria kamu menjadi seperti ini. Hidup mu masih panjang sayang!" nasehat sang ibu.
"Maafkan Ais bu! Ais hanya kecewa karena mas Malik sudah bersama dengan wanita lain." Aisyah mengaku.
"Malik? jadi kamu selama ini menyukai dia? ibu tak menyangka nak. Sudah jangan di pikirkan lagi! suatu saat nanti kamu pasti akan bertemu dengan pria yang mau menyayangi dan mencintai mu sepenuh hatinya.
Aisyah hanya mengangguk pelan. Ibunya memang gampang mengucapkan itu. Tapi baginya yang sudah terlanjur mencintai Malik dan menunggu Malik selama setahun terakhir ini merasakan kepedihan yang mendalam.
"Tidur lah nak! ibu akan menemani mu sampai tertidur!" senyum sang ibu.
Aisyah berbaring sesuai perintah ibunya. Ia memejamkan mata. Lambat laun terdengar hembusan nafas teratur. Ternyata tak butuh waktu lama agar ia tertidur. Mungkin aktivitas tadi di sekolah membuat nya letih sehingga cepat tertidur. Ibunya pun keluar kamar setelah menyelimuti Aisyah.
*Pulau Sumatera kota L.
Disebuah rumah sakit, ada seorang perempuan memakai kursi roda. Pandangan matanya kosong seolah tak mampu bertahan hidup.
Ada seorang lelaki melambai ke arah perempuan itu. Ia tersenyum dan melangkah semakin dekat.
"Maafkan aku sayang, aku terlambat datang!" ucap lelaki itu.
Perawat yang mendorong kursi roda perempuan tadi pamit pergi. Sekarang tinggallah mereka berdua.
Lelaki itu mengelus puncak kepala perempuan yang duduk di kursi roda. Ia mengecup lembut kening perempuan itu.
"Besok kita pergi berobat keluar negeri agar kamu bisa berjalan kembali sayang!" lelaki itu menggenggam tangan perempuan itu dan mengecupnya.
*
*
*
*Bersambung.
Siapakah perempuan berkursi roda? yuk tebak di kolom komentar 🤭🤭.
Selamat membaca, jgn lupa dukungannya 🤭🤗🤗
__ADS_1