Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 48. Pencarian Fatma menemukan titik terang.


__ADS_3

Aku dan Elisa berjalan keliling Mall ini. Hanya sebuah ponsel. Tapi, entah kenapa aku seperti tidak membutuhkan yang mahal. Elisa selalu membujukku untuk menerima ponsel mahal itu. Aku berusaha menghindar dengan segala cara agar Elisa tidak memaksaku.


"Aku yang putuskan mau beli tipe ponsel seperti apa. Aku tidak butuh ponsel yang mahal seperti itu." Tolakku.


"Gak usah kuatir mas! ini separuh dari harganya biar aku yang bayar." Seru Elisa.


"Aku tahu itu. Oleh karena itu, aku gak mau. Sudah terlalu sering aku dibelikan sesuatu olehmu!" tolakku lagi.


Wajah Elisa berubah murung. Aku masih dengan keputusanku. Aku tidak mau dicap sebagai pria yang tidak tahu diri.


"Baiklah mas. Cepatlah pilih yang mana! aku ikut ajah!" akhirnya dia menyerah.


Aku meneliti etalase transparan ini. Mencari tipe ponsel sederhana yang berfitur lengkap.


Pilihanku jatuh pada ponsel berwarna hitam metalik di ujung kiri. Harga yang ditawarkan juga masih wajar.


"Ini aja deh. Bagus juga kayaknya!" tunjukku.


"Baiklah, yang ini 1 ya kak!" ucap Elisa pada karyawan itu.


Setelah semuanya sudah beres. Kami meninggalkan Mall besar ini. Kaki sudah seperti bengkak dan sakit. Jalan-jalan di Mall begitu melelahkan. Wanita memang tiada duanya kalau sudah berada di Mall. Memilih dan memilah barang kesukaan tanpa rasa capek.


Hari ini begitu melelahkan. Kaki udah kesemutan gara-gara mencari ponsel android.


Elisa masih saja bersemangat. Heran aku tuh, terbuat dari apa ya kaki wanita itu. Bisa betah jalan kalau sudah shopping di Mall.


Kami masuk kedalam mobil. Tiba-tiba Elisa memberikan sebuah tas belanja yang besar untukku.


"Apa ini? kenapa kamu beri aku sesuatu lagi?" tanyaku mengernyit heran.


"Ambil saja mas! mungkin suatu saat nanti kamu butuh itu buat acara formal." Sodornya padaku.


Acara formal? maksudnya apa nih?


Aku mengintip tas besar ini. Seperti sebuah setelan baju kantor pria-pria CEO.


Aku hanya menyimpannya dan tak menelisiknya lebih jauh.


"Makasih hadiahnya Elisa." Senyum ku kembangkan demgan terpaksa.


"Santai aja mas! kali aja kan suatu saat nanti kamu bisa pake itu!" Ucapnya bersemangat.


Aku hanya menganggukkan kepalaku.


Aku melajukan kembali mobil ini kerumah mewah tuan Cipto Cahyono.


...----------------...


*


*Marshella POV.


Aku mengerjabkan mata berkali-kali. Sore sudah menjelang. Sebentar lagi malam akan tiba. Aku menguap sebentar dan beranjak duduk.


"Tidur siang tadi rasanya seger banget. Hilang sudah amarahku." Senyumku mengembang sempurna.


"Silvia pasti mencariku. Aku harus mandi terus ganti baju. Dan akan menyusulnya di kamarnya." Gumamku sambil menuju kamar mandi di kamar ini.


Hampir setengah jam aku membersihkan badan. Rasanya segar dan seakan membuat kulitku menjadi lebih sehat.

__ADS_1


Semua ritual soreku sudah selesai.


Aku keluar dari kamar dan memanggil bik Minah.


"Bikkk. Masakin gue ya! taruh makanan di kamar Silvia. Kami akan makan malam di kamar Silvia nanti!" suruhku.


Bi Minah tergopoh menghadapku. Dia langsung mengaggukkan kepalanya dan beranjak kedapur lagi.


Tok, tok, tok.


Aku mengetok kamar Silvia. Sepertinya dia masih tidur. Tidak ada suara di dalam kamarnya.


Klak.......


Pintu aku buka. Dan didalam sana, kosong. Tidak ada siapapun.


"Weehhh, ini bocah kemana sih? udah jam segini juga." Sungutku sebal.


Aku keluar kembali dari kamar Silvia dan kembali masuk ke kamarku lagi.


Aku mengambil ponsel yang sudah terisi penuh dayanya.


Kunyalakan ponsel mahalku.


Mahal? iyalah ....anak sulung Cipto Cahyono gitu lho. Jangan pada ngiri sama gue ya.


( Eh Marshella. Nanti Author tenggelamkan tokohmu kalau sombong bin riya'😷😷. Maaf kan Marshella karena sudah pamer. Begitulah dia, gak pamer gak hidup 🤐🤐)


Ada beberapa panggilan tak terjawab setelah aku menyalakan ponsel milikku.


"Ini bocah kemana sih. Nelpon sampe 10 kali." Aku memandangi layar yang bertuliskan nama Silvia.


Tut....tut....tut.


Suara di seberang masih tidak tersambung.


"Kesel gue dah. Di telpon malah gak aktif. Tadi dia nelpon malah gue yang gak aktif." Sungutku.


Aku memikirkan sesuatu yang terlupa.


"Ah iya, nama akun yang mencari keberadaan om Mj. Siapa ya? aduh aku lupa lagi." Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


Aku mencoba membuka kembali akun sosial mediaku. Aku mencari-cari lagi akun itu.


Tiba-tiba netraku tertarik pada suatu bacaan di layar. Disana, di forum jual beli pulau S kota L ada yang membagikan postingan pencarian orang hilang.


Aku melonjak kegirangan.


"Yes, ini dia. Banyak yang membagikan postingan ini. Jadi, aku bisa melihatnya lagi di beranda sosial mediaku.


Aku mencatat nomor telepon yang terpampang disana. Fatma wiguna, seorang wanita mencari keberadaan om Mj.


"Tapi, tunggu dulu. Om bilang sih dia udah bercerai sama istrinya. Dia ini siapa ya?" gumamku yang bertanya seorang diri.


Pertanyaan demi pertanyaan melintas dan berkecamuk di kepalaku.


"Biarlah, asal om Mj senang. Dia kan kangen banget sama keluarganya di kampung." Senyumku riang.


Aku menghubungi nomor itu tanpa memikirkan resikonya.

__ADS_1


Suara telepon berbunyi di seberang.


"Halo, selamat malam. Ini siapa ya?" sahut suara di seberang.


"Saya liat postingan elu di sosial media. Lu lagi nyari om Mj gue kan?" jawabku tanpa basa-basi.


"Om Mj? maksud kamu Malik jayadi? benarkah kamu tahu dimana dia sekarang?" tanya Fatma.


Dari suaranya dia terlihat bersemangat.


"Iya, om Mj bilang sih namanya emang Malik Jayadi. Emang elu itu siapa nya? kok bisa nyari-nyari om Mj gue?" tanyaku curiga.


"Saya ini temannya mas Malik. Ibunya kuatir dan selalu bersedih kalau mas Malik tidak ada kabarnya sama sekali hampir 2 bulanan ini." Terang Fatma.


"Oh begitu ya. Berikan gue nomor ponsel ibunya om Mj! biar nanti gue yang hubungin!" seruku santai.


"Tapi, apakah benar kalau yang ada bersamamu itu mas Malik? tolong jangan permainkan kami!" serunya.


"Seratus persen yakin kalau itu om Mj. Tapi, dia gak kurus kaya di foto itu. Sekarang om Mj sudah berisi dan lebih cakep." Terangku asal.


"Baiklah. Saya akan mentransfer hadiah untukmu! tinggalkan nomor rekeningmu!" serunya.


"Gue gak butuh uang itu. Uang jajan gue sepuluh kali lipat lebih besar daripada duit yang elu tawarkan!" kesalku.


"Kasih gue nomor ponsel ibunya om Mj. Cukup itu aja, gak lebih!" pintaku.


"Ehm, baiklah kalau seperti itu. Saya akan mengirimkan nomornya padamu." Ucapnya ragu.


Aku memutus sambungan telepon. Ada suara pesan masuk dan kubuka pesan itu.


"Ibunya om Mj namanya Sumiyati. Hahaha, Dasar orang udik. Namanya aneh sekali." Ejekku.


Nanti malam aku bisa menelponnya dan memberitahukan om Mj besok pagi. Dia pasti seneng banget dah. Om Mj aku sayang banget sama om.


Sejenak aku melupakan Silvia yang belum bisa kuhubungi.


Malam sudah beranjak dan perutku minta diisi.


"Duh aku lupa kalau tadi aku nyuruh bi Minah bawa makanannya ke kamar Silvia!" sambil menepuk jidat dan keluar kamar.


Kamar ini masih saja kosong.


"Awas aja ini bocah kalau sampe telat pulang! gue marahin abis-abisan nanti!" gerutuku kesal.


Di meja kecil pojokan. Hidangan tersaji dengan penutup plastik Wrap. Cacing di perut mulai beradu minta diisi.


"Aku duluan aja lah makannya. Silvia juga belum pulang. Bisa-bisa malem banget kalau menunggunya." Gumamku seorang diri.


...----------------...


Di pulau jawa sana. Fatma memberitahukan bahwa ada seseorang yang memberi kabar bahwa Malik masih hidup. Sumiyati gembira dan terharu ketika mendapat kabar baik dari Fatma. Buliran bening membasahi wajahnya yang berkeriput. Harapannya selama ini ternyata menjadi kenyataan.


*


*


Happy reading semuanya.🤗🤗🤗


Dukung terus karya Author dengan cara like setiap episode. Komen, rate⭐️5, Favorit dan vote. Terimakasih selalu karena sudah mendukung karya pertama Author🙏🙏 Selamat berpuasa bagi yang menjalankannya🤗🤗 Semoga puasa di hari jumat ini menjadi lebih berkah.....aamiin.

__ADS_1


__ADS_2