Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 121. Meyakinkan Annisa


__ADS_3

Hari Minggu pun tiba.


Elisa sudah bersiap ke rumah Malik. Hari ini ia berencana mengajak Nissa ke sebuah taman hiburan yang berada di kota. Elisa sengaja pergi berdua saja dengan Nissa.


Fatma meminjamkan mobil nya. Elisa sudah berada tepat di depan rumah Malik. Ia yang sudah tak sabar, segera masuk menemui anggota keluarga Malik.


Setelah bersalaman dengan Sumiyati dan Sugeng, Elisa memintanya ijin agar boleh mengajak Nissa keluar bersamanya.


"Jalan aja nak! ibu malah seneng lho kalau kalian berdua tambah dekat!" Sumiyati tersenyum senang.


"Iya bu, makanya aku hanya mau pergi berdua dengan Nissa." Sahut Elisa.


"Hati-hati nak Lisa, bapak titip cucu bapak ya!" Sugeng menimpali.


"Siap pak! ibu dan bapak tidak perlu khawatir ya!" Elisa tersenyum lagi.


"Lis, kenapa aku gak boleh ikut? aku kan juga mau jalan bareng kalian!" sungut Malik cemberut.


"Gak pantes udah tua cemberut!" sahut Elisa.


"Kamu gak ajak aku sih!" gerutu Malik lagi.


"Udah to nak! biar Elisa puas bersama dengan Nissa hari ini! sekalian belajar jadi seorang ibu!" sahut Sumiyati terkekeh.


"Tapi, ada syaratnya lho ya! jangan lupa beliin aku oleh-oleh yang spesial!" pinta Malik.


"Siap bos! di tunggu saja nanti!" sahut Elisa.


"Tanteeee..!!" teriak Nissa.


Nissa setengah berlari mendekat kearah Elisa. Ia tak sabar akan dibawa kemana hari ini. Ia sudah memakai baju kesayangannya.


"Wah, cantik sekali Nissa! sudah siap berpetualang sama tante kan?" tanya Elisa.


"Iyaaaa tanteee...!" Nissa menjawab dengan nada riang dan bersemangat.


Keduanya pamit dan meninggalkan Malik yang cemberut karena tak diajak.


Elisa melajukan mobilnya ke arah jalan raya besar. Setengah jam perjalanan, Elisa memutar musik anak-anak dan bernyanyi bersama Nissa.


Keduanya berduet dengan nada yang riang dan senang hati. Tak lama kemudian, Mall megah yang berada di pusat kota ada di hadapan. Mereka langsung ke tempat parkir dan turun.


Nissa langsung menggandeng tangan Elisa yang baru saja menutup mobil.


"Tante, kita main capit boneka yuk! Nissa mau main itu tante!" ajak Nissa yang tak sabar.


"Iya boleh, tapi jangan panggil tante boleh gak? panggil ibu atau mama gimana?" pinta Elisa.


"Ibu, mama? kan tante bukan ibunya Nissa!" sungut Nissa.


"Sebentar lagi tante akan jadi ibu Nissa, jadi Nissa harus terbiasa dulu manggil ibu atau mama. Gimana, mau kan?" bujuk Elisa lagi.


Nissa memikirkan perkataan Elisa tadi. Ia menggaruk kepalanya dan mengangguk perlahan sekali. Seakan ada perasaan tak menyenangkan.

__ADS_1


"Nah gitu dong! nanti mama akan turutin semua keinginan Annisa!" seru Elisa bersemangat.


"Horeee.... beneran ya ma?" Nissa mulai tersenyum lebar.


"Yuk kita masuk dulu!" ajak Elisa.


Elisa menuntun Nissa masuk ke dalam Mall dan langsung menuju ke area bermain anak.


Mereka kali ini langsung bermain di mesin capit boneka. Elisa membiarkan Nissa puas bermain disana. Sementara ia hanya mengamati Nissa yang seru bermain.


"Anak ini kuat juga kalau main, sayang sekali sedari bayi kamu tak mendapatkan kasih sayang seorang ibu!" Elisa menghembuskan nafas pelan.


"Tante, kita pindah lagi yukkk! aku udah bosen maen itu tante!" rengek Nissa.


"Gak mau! tadi kan udah bilang panggil ma...!" belum sempat Elisa mengakhiri perkataannya, Nissa sudah menimpali.


"Iya mah, maaf ya ma! Nissa mau main kolam bola mah!" bujuk Nissa memelas.


"Anak pinter! yuk kita kesana!"


Mereka berdua bermain sepuasnya. Selama ini Nissa belum pernah bermain lepas seperti sekarang. Mereka berdua bermain seperti ibu dan anak yang sesungguhnya.


Setelah capek bermain aneka permainan. Akhirnya mereka berdua mengeluh lapar.


"Mah, laper!" ucap Nissa.


"Sama nih, mama juga laper lho!" sahut Elisa.


Mereka berdua berjalan lesu dan menuju ke tempat aneka hidangan yang di sebut Food Court. Mereka sepakat akan makan satu hidangan kesukaan masing-masing.


"Tunggu sini dulu, biar mama pesan sekalian beli minum ya!" Elisa melangkah menjauh.


Sedangkan Nissa hanya bisa mengelus perutnya yang tengah kelaparan. Ia memesan bakso komplit favoritnya.


Elisa sudah kembali ke tempat nya. Ia mengamati Nissa yang tengah lesu.


"Laper banget ya sayang? sampe lesu gitu lho!"


"Iya mah, laper banget pokoknya!"


10 menit berselang. Keduanya telah disibukkan menyantap makanan di depannya. Mereka telah bersandar di kursi masing-masing akibat kekenyangan makan bakso komplit favorit.


"Setelah ini Nissa mau kemana lagi?" apa kita ke toko mainan aja ya?" tanya Elisa memancing Nissa.


"Wah, mau dong mah! Nissa mau mainan kuda poni yang pelangi itu!" mata Nissa berbinar bahagia.


"okey, kita kesana sekarang juga!" ajak Elisa.


Mereka berdua berjalan beriringan sambil bergandengan dan menuju ke toko mainan.


Pramuniaga toko menyambut kedatangan mereka.


"Wah, anaknya gemoy dan lucu ya bu!" seru pramuniaga itu ketika melihat Nissa.

__ADS_1


"Iya mbak, anaknya doyan ngemil nih!" Elisa terkekeh.


"Tante, aku mau lihat mainan kuda poni yang pelangi ituh!" Nissa menarik baju pramuniaga.


"Banyak kok disini koleksi nya! yukk ikut tante!" ajak pramuniaga.


Mereka bertiga menuju sebuah rak susun yang sudah di tata sedemikian rupa agar menarik pelanggan yang melihatnya.


Nissa memperhatikan sebuah boneka besar berbentuk kuda poni. Matanya berbinar, ia juga menyentuh sebuah gantungan kunci berbentuk kuda poni juga. Ada jepit rambut kuda poni dan aneka aksesoris kuda poni.


"Mamah, Nissa mau yang itu! itu, itu dan yang itu!" pinta Nissa memelas.


Ia pun menggenggam erat tangan Elisa. Ia merengek meminta mainan didepannya.


"Gak boleh semua dong sayang! itu namanya rakus. Nissa gak boleh rakus lho jadi anak tuh!" nasehat Elisa.


"Terus Nissa boleh minta 2 mainan ya mah!" rengek Nissa lagi.


"Boleh kok kalau cuma 2. Tapi gak boleh lebih ya!" sahut Elisa sumringah.


"Asyikkk, Nissa mau boneka besar itu sama tas kuda poni aja deh!" setelah berpikir Annisa memilih.


"Okey deh, kita bayar sekarang yuk! mbak bungkus Sekarang aja ya!" segera Elisa memberikan kartu kredit nya kepada pramuniaga.


Setelah membayar semuanya, mereka berdua keluar dari Mall. Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Sungguh hari yang melelahkan bagi Elisa, tapi tidak untuk Nissa yang puas bermain.


Setelah masuk kedalam mobil, Elisa bertanya pada Nisa.


"Gimana hari ini, seneng kan kalau jalan bareng mama? nanti kapan-kapan kita jalan bareng ayah juga!" ucap Elisa sambil mengelus rambut Nissa.


"Iya mah, enak ya punya mama ternyata! Doni aja yang bilang ibu tiri itu jahat, suka mukul dan gak ngasih dia makan." Ucap Nissa polos.


"Benarkah? temanmu cerita begitu? kasihan sekali si Doni!" cemas Elisa.


"Iya mah, tapi... apakah benar mama mau jadi ibu tiri aku? mama gak akan jahat sama aku kan?" tanya Nissa dengan polos dan dengan tampang yang agak takut.


"Iya, mama akan jadi ibu yang baik buat Nissa! mama juga bisa ngasih Nissa adek lho nantinya!" senyum Elisa.


"Benarkah? mau mah, mau!" Nissa sungguh bersemangat.


"Sekarang kita pulang yuk, udah sore juga nih!" Elisa mulai menyalakan mesin mobil dan meluncur ke jalan raya menuju kampung Malik.


Hari ini di perjalanan, senyum terkembang di bibir tipisnya. Ia berhasil meyakinkan Nissa bahwa dia bisa menjadi seorang ibu yang baik. Nissa juga bukan seorang anak bandel yang hobi membangkang. Ia. anak manis dan penurut.


*


*


*Bersambung.


Ditunggu beberapa bab terakhirnya.


Selamat membaca 🥰.

__ADS_1


Selamat HARI RAYA IDUL ADHA BAGI YANG MERAYAKAN. Taqabbalallaahu Minna wa minkum taqabbal yaa kariim. MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN 🙏🙏🙏


__ADS_2