
*Sumiyati Pov.
Sudah hampir dua bulan anakku masih belum menghubungi. Pikiranku selalu tertuju padanya.
Ponsel yang dia kasih di kala itu selalu menunggu kabar darinya.
Sore ini seperti biasa. Aku dan Nissa bermain bersama. Tapi, pikiranku masih saja tertuju pada Malik, anak lelaki satu-satunya.
"Yangti, Molly udah sobek dikakinya. Isinya keluar semua eyang, hu-hu-hu." Nissa sedikit terisak.
Aku menoleh memperhatikan. Benar yang dikatakan Nissa. Tapi, aku tidak ada waktu untuk menjahitnya.
"Nanti, kalau eyang sempet. Baru lah eyang akan jahit Molly. Nissa yang sabar ya nak!" suruhku.
Nissa masih terisak pelan memandangi Molly, boneka kesayangannya. Dia mengangguk pelan tanpa menoleh kearahku.
Senja menampakkan keindahan warnanya. Kami mulai masuk kedalam rumah. Tak lupa aku menyuruh Annissa mandi agar tidak terlalu malam. Semenjak bersekolah, anak ini sudah bisa mandiri.
Kriing, kriing, kriing.
Bunyi telepon membuyarkan lamunanku di depan televisi.
Aku melihat tulisan yang samar di layar ponsel. Entahlah ini siapa, aku harus menjawabnya.
Setelah saling memberi dan menjawab salam. Aku tahu siapa yang menghubungi.
Suara disana aku kenal dengan akrabnya.
"Ada apa nak Fatma? tumben menghubungi ibu. Biasanya langsung kemari." Tanyaku langsung.
"Ibu, doa ibu selama ini di kabulkan Allah bu. Tadi ada yang menghubungi Fatma." Dia bersemangat.
"Doa yang mana nak? siapa yang menghubungi kamu?" tanyaku berturut-turut.
Aku masih berpikir dan bertanya-tanya maksud perkataan Fatma. Orang tua yang lemah ini sudah terlalu banyak pikiran. Jadi, tidak mampu mencerna perkataan orang lain dengan seksama.
"Coba lebih pelan lagi nak! ibu masih belum mengerti!" seruku.
"Fatma juga belum ngasih tahu semuanya bu.
Tadi, ada yang menelpon Fatma. Dia bilang mas Malik ada dirumahnya bekerja sebagai supir pribadi." Jelas Fatma.
"Alhamdulillah kalau ada hasil nak. Ibu senang sekali." Air bening mengalir di pipi keriputku.
Aku hanya mampu terisak pelan.
Fatma yang mendengarnya melanjutkan perkatannya lagi.
"Jangan menangis bu, Mas Malik sudah ada kabarnya. Nanti malam, orang itu sendiri yang akan menghubungi ibu. Tolong ibu isi dulu daya ponselnya agar nanti tetap aktif bu." Saran Fatma.
"Baiklah nak! ibu akan mengisi dayanya dulu. Terimakasih atas bantuan nak Fatma selama ini." Ucapku tulus.
"Sudah dulu ya bu! Fatma mau mandi nih, biar seger." Ujar Fatma.
"Baiklah nak. Sekali lagi terimakasih." Ucapku dengan terharu.
Selesai menjawab salam. Aku langsung mengisi daya ponsel ini. Semoga nanti malam aku bisa mengobrol dengan anakku.
"Eyang! baju Nissa mana nih?" pinta Nissa.
"Maaf, eyang lupa sayang!" aku beranjak mengambil baju tidur Nissa di kamarnya.
__ADS_1
Kamar ini, sudah lama anakku tidak menempatinya. Dirumah ini bayangannya selalu saja membuatku merindukannya.
Sudah 9 bulan lebih Malik merantau disana.
Semoga dia berencana untuk pulang secepatnya. Aku sungguh merindukanmu nak.
Setelah Annissa selesai berpakaian. Aku mulai memasak untuk makan malam kami nanti.
Sedangkan Annissa, aku memberinya sketsa gambar. Dia suka sekali menggambar sekaligus mewarnai.
Suamiku akhir-akhir ini selalu telat pulang.
Ketika adzan maghrib selesai berkumandang, dia baru sampai rumah.
Yang ditunggu pun tiba. Dia merebahkan dirinya sebentar. Aku melihat raut wajah itu.
Raut wajah yang letih karena pekerjaan.
Kerja di ladang dan bertani sudah menguras tenaganya selama ini.
"Pak, istirahat saja dulu! mbok yo libur bentar ajah. Kamu sudah capek banget itu!" seruku.
"Iya buk, tadi bapak juga sudah pamit sama pak Marjuki. Bapak sudah lelah, bapak juga sudah tidak muda lagi." Keluhnya.
"Ibu duluan saja sholatnya pak. Jangan lupa mandi yang bersih!" seruku.
"Sejak kapan bapak mandinya gak bersih? ada-ada saja ibu ini." Belanya sambil tersenyum.
"Hi...hi. Kali aja asal siram pak. Ibu mau kekamar dulu. Sholat bareng Nissa." Ucapku sambil meninggalkan suamiku.
......................
Aku dan Nissa sepakat mengecilkan volume televisi mungil kami agar tidak mengganggu tidur mas Sugeng.
Tililililiililit.
Dering ponselku.
Beginilah kalau sudah tua, mata sudah rabun dan tidak bisa melihat dengan jelas.
Aku masih saja mengerjapkan netraku berkali-kali supaya tulisan di layar ponsel terbaca. Tapi, hasilnya nihil.
Jawab sajalah.
"Assalamualaikum, ini siapa ya?" aku memulai obrolan.
Suara disana terdengar asing, bahkan pertama kali aku mendengarnya.
"Ini aku buk, majikan om Mj." Sahut suara diseberang telepon.
"Majikan Mj? nak Malik maksudnya? Malik Jayadi anakku?" tanyaku bertubi-tubi.
"Terus siapa lagi? aku majikan om Mj buk. Dia baik-baik aja kok. Jadi ibu gak usah kuatir." Ucap suara itu.
"Siapa nama kamu? bisakah saya berbicara dengan anak saya sekarang?" tanyaku mulai bersemangat.
"Aku Marshella bu. Om Mj sudah pulang kekosannya kalau malam gini. Besok biar aku hubungi ibu kembali." Ucap suara itu lagi.
Tut...tut...tut.
Panggilan terputus.
__ADS_1
Ini anak, gak pamit gak apa malah main putusin telepon ajah. Padahal masih banyak pertanyaanku.
Aku menghela nafas dengan tergesa. Setidaknya Malik masih hidup walaupun sekarang ini aku belum bisa berbicara langsung dengannya.
Malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak. Anak lelakiku satu-satunya sudah ada kabarnya.
*
*Sumiyati Pov off.
...----------------...
Malam ini aku masih menemani Elisa. Kami berdua menikmati makan malam bersama di sebuah warung tenda di pinggir jalan.
Banyak pasang mata melihat dan memperhatikan kami. Aku sedikit mendengar mereka berbisik.
"Duh, yang cowok ganteng. Yang cewek cantik.
Pasangan serasi banget sih." Kata sepasang muda-mudi didepan kami.
"Mobilnya mahal tuh. Tapi, kok mereka mau makan di tempat gini ya?" sahut yang lain.
Aku dan Elisa yang mendengar mereka berbisik, hanya tersenyum kecil.
Mereka mengira kami pasangan yang serasi.
Padahal kami adalah atasan dan bawahan. Seorang majikan dan suruhan.
Seandainya mereka tahu aku ini siapa. Pasti mereka akan mengasihaniku.
Kami makan dengan santai tanpa mempedulikan omongan disekitar kami.
Setelah itu aku langsung pulang menuju kosan.
Elisa mengambil alih kendaraan. Aku pamit tanpa basa-basi.
Aku menenteng tas kecil berisi ponsel baru.
Aku memasuki kamarku. Sebelum memasuki kamar banyak gadis-gadis muda menyapa dan menyunggingkan senyum mereka.
Entahlah ini berkah atau kutukan. Aku selalu menjadi pusat perhatian karena wajahku ini.
Aku merebahkan badanku. Pikiranku mulai menerawang lagi. Sudah dua bulan ini aku tidak mengabari keluargaku.
Sekarang udah punya ponsel baru. Setidaknya aku bisa mencari akun sosial media Fatma. Mungkin saja akunnya masih aktif. Semoga begitu.
Setelah membersihkan badan dan mengganti baju santai. Aku berbaring dan mulai memejamkan mata. Sudah saatnya aku mengistirahatkan badanku yang seharian ini lelah berkeliling.
Aku selalu berharap. Besok akan ada hari dimana aku bisa menghadapi semua ini.
*
*
*
Happy reading semuanya.
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada Author dengan cara like, komen, favorit, rate ⭐️ 5 dan vote. Terimakasih semua atas dukungannya🙏🙏 Semoga kita mendapatkan berkah di bulan ramadhan ini.
Aamiin.🤗
__ADS_1