Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 111. Kehidupan yang mulai berubah


__ADS_3

Tiga Minggu kemudian setelah kecelakaan sandra dan Cipto.


Elisa yang sudah berada di atas kapal penumpang akhirnya bisa bernafas lega. Sungguh ia tak menyangka hidupnya akan berubah. Ia sudah tak punya anggota keluarga yang lain. Sekarang hidupnya sungguh kesepian.


Sementara Malik di kampung.


Malik tengah berkutat dengan kesibukan nya yang mengurus dan mengatur apotek. Rencana Evans dan Sumiyati yang membangun apotek di kampung nya ternyata berhasil dan berjalan lancar. Orang-orang kini tak perlu bersusah payah pergi ke puskesmas atau rumah sakit yang jaraknya lumayan jauh dari pemukiman warga kampung itu. Obat yang disediakan apotek pun tak kalah bagus di bandingkan obat dari rumah sakit. Evans yang seorang dokter sengaja memesan obat berkualitas tinggi demi kesembuhan dan kenyamanan pelanggan.


"Nak, makan dulu nih! udah siang gini jangan sampai telat makan!" Sumiyati menyodorkan rantang berisi makanan.


Sumiyati sengaja mengunjungi Malik di apotek.


Ia tak mau anak kesayangannya telat makan karena pekerjaan.


"Ibu masak apa nih? baunya enak bu!" tanya Malik yang mulai penasaran.


"Ini soto daging kesukaanmu, ayo makan dulu!" ajak Sumiyati pada anaknya.


Malik menghentikan pekerjaannya menata obat-obatan. Ia menghampiri Sumiyati di meja samping tempat makan dan berkumpul.


Mereka berdua terlihat bahagia.


...----------------...


*Pov Aisyah di pagi hari.


Hari ini sungguh cerah. Aku pikir hari ini akan hujan karena dari semalam langit mendung tak ada bintang bermunculan.


Aku membiasakan diri melangkah menuju sekolah TK. Aku tak sabar bertemu dengan Annisa anak mas Malik yang aku sukai. Ia begitu periang dan aktif. Nissa telah mencuri hatiku selama ini, selain bapaknya sih.. hehehe.


Aku sudah sampai di sekolah tempat ku mengajar. Saling sapa antar guru yang lain sudah menjadi kewajiban dan kebiasaan kami.


Tak lama bel berdering nyaring tanda kegiatan belajar mengajar di mulai.


Aku berjalan menuju kelas. Aku mengedarkan pandangan ku ke arah Annisa. Ya, seharusnya aku hari ini mengajar kelas B tapi aku mengajukan diri untuk menukar posisi dengan guru lain.


Annisa tampak murung tak semangat seperti biasanya.


"Anak-anak buku gambar dan mewarnai yang kemarin dibuka ya! kita mewarnai gambar hewan hari ini!" ucapku tersenyum.


"Asyikk, saya suka Bu guru!" sorak murid lain.


"Hewan jerapah aja ya bu!" teriak yg lain lagi.


"Hewan apa saja boleh! asalkan ada di dalam bukunya ya!" aku pun menjelaskan.


Kuhampiri meja Nissa. Ia mengeluarkan pensil warna dan bukunya. Ia cemberut tanpa berkata-kata.


"Nissa kenapa nih? kok mukanya malah cemberut?" tanyaku pelan.


Nissa menoleh kearahku. Raut wajahnya ragu mau berucap sesuatu.


"Ngomong aja sama ibu!" bujukku.

__ADS_1


"Tante! tadi pagi Nissa di marahin sama ayah!" jawab Nissa sedih.


"Kok ayah bisa marah? emang Nissa bandel ya kalau di rumah?" tanyaku lagi.


Nissa menggeleng cepat.


"Nissa nanya siapa sih Elisa itu? tapi ayah langsung marah tante!" jawab Nissa pelan.


"Elisa? emang Nissa tahu nama itu dari siapa?" tanyaku lagi.


"Ayah manggil Elisa waktu masih tidur tadi pagi tante!" jawab Nissa lagi.


"Ternyata dia bermimpi dan mengigau!" ucapku dalam hati. Aku mencari jawaban yang tepat agar bisa di pahami bocah usia 6 tahun.


Annisa lega setelah menerima penjelasan dan bujukan dariku.


Aku melanjutkan pelajaran hari ini walaupun pikiranku selalu tertuju pada mas Malik.


"Kali ini siapakah Elisa itu mas? apakah aku masih belum bisa mengisi hatimu?" gumamku pelan.


Pov Aisyah end.


...----------------...


Malik memperhatikan karyawan apotek nya. Ia berkeliling mengawasi kinerja karyawan nya.


Tak, tak, tak.


Pria di belakangnya menepuk pundak Malik cepat.


"Astaga, aku pikir siapa. Ternyata itu kamu Vans!" Malik mengelus dadanya.


"Sengaja mau ngagetin kamu Lik biar gak tegang he..he..!" cengir Evans.


"Kamu nih, kebiasaan deh! tumben banget sih kesini, ada perlu apa nih?" Malik berjalan mendekati kursi plastik dan duduk.


"Ada perlu sama bos obat! makanya aku langsung kesini!" ejek Evans.


"Yang bos kan kamu! bukan aku." Sergah Malik.


"Aku cuma investor ajah bos! udah lah lupain ajah itu, aku ada urusan penting nih!" Evans terdengar terburu-buru.


"Apaan sih kok serius banget?" kernyit Malik.


"Tolongin aku dong! jemput temen ku yang sebentar lagi datang. Aku menyuruhnya menunggu di terminal kota. Ini nomer telpon nya!" Evans memberikan kertas bertuliskan nomer telpon.


"Temen? tumben bawa temen masuk ke kampung ini? ya udah deh aku berangkat sekarang kesana." Sahut Malik.


"Makasih bro! nanti kamu juga tahu temen ku itu siapa! udah ya aku pergi ke rumah calon mertua dulu!" Evans melangkah pergi meninggalkan Malik.


"Berangkat sekarang ah biar gak kesorean!" lirih Malik seorang diri.


Malik berjalan ke arah parkiran dan masuk kedalam mobilnya. Ia melajukan mobilnya dengan cepat, ia tak mau teman Evans nanti menunggu terlalu lama di terminal.

__ADS_1


Tiga jam berlalu.


Malik menghubungi nomer telpon yang di berikan Evans. Beberapa kali ia menghubungi nomer itu tapi masih belum ada jawaban.


Terlihat ada seorang wanita duduk di sebelah Malik yang saling membelakangi. Rambut panjang nya tergerai dengan indah.


"Duh, lupa mau nyalain ponsel!" gerutu wanita itu.


Ia mengaktifkan kembali ponselnya. Ia terkejut ada nomer tak dikenal menelepon beberapa kali.


"Nomer siapa ya? kok ada nomer baru sih? ini bukan nomer Evans deh!" gumamnya lagi.


Malik menghubungi kembali nomer telpon itu. Ia mencoba lagi dan lagi.


"Akhirnya nyambung juga!" lirih Malik lega.


Ia kuatir kalau teman Evans kenapa-napa.


Tiba-tiba suara dering ponsel itu berbunyi.


Malik menoleh ke arah suara itu. Ia penasaran dengan wanita yang duduk membelakanginya di sebelah.


"Apa aku jawab aja ya telpon nya? tapi bukan nomer Evans!" lirih wanita itu cemas.


Dering telepon masih berbunyi.


Akhirnya wanita itu menjawab panggilan ponselnya.


"Halo, ini siapa ya?" tanya wanita itu cepat.


"Kamu teman Evans kan? aku disuruh Evans menjemput mu!" terang Malik.


Mereka berdua saling penasaran satu sama lain. Suara di ponsel terasa dekat sekali dengan telinga dan terdengar nyata.


Mereka saling menjawab ponsel padahal jarak mereka hanya berjarak satu kursi.


Akhirnya mereka penasaran dan saling menoleh. Raut wajah mereka berdua terlihat kaget dan tak menyangka sama sekali.


Apalagi wanita itu mulai tersenyum sambil meneteskan air mata.


"Ternyata kamu.....!" mereka berdua saling menuding tak percaya.


*


*


*


Masih bersambung.


Selamat membaca.


Dukung terus karya Author dan bisa follow akun Author ya.

__ADS_1


__ADS_2