Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 20. Insiden kecil


__ADS_3

*


"Eh itu bukannya MJ ya? tumben bawa bocilnya dimari?" tanya mas Yanto.


"Tau dah mas, mending kita langsung aja susul


kesana, lagian juga dah waktunya makan siang." Sahut mas Udin.


"Kuy.....gercep kesana!" Memet yang baru


menghampiri mereka langsung berkata.


"Hussss.....ngagetin aja si Memet," Yanto


sambil mengelus dada.


"Ha...ha...ha...maaf ni mas, lagian ngeliatin


paan. Sampe aku ada di belakang, kalian kok


enggak ngeh," timpal Memet lagi.


"MJ tuh...bawa anaknya!" sahut mas Udin.


"Hah..tumben," Memet berekspresi heran


sambil membuka mulutnya.


"Woi....tuh mulut tutup ngapa! kagak balik


kapok!" Mas Udin menjitak kepala Memet.


"Aku lagi...aku lagi...kena bully mulu dah


perasaan." Ujar Memet.


"Kalian berdua nih kalo udah ngumpul.


Kebiasaan banget deh...ayuk ah! gercep


kesana!" suruh mas Yanto.


Mereka bertiga melangkah mendekati Malik


dan anaknya.


Tanpa basa basi mereka ngebanyol dan


memulai aksi gesreknya bersama.


...----------------...


Dikota seberang...tempat Toni berada


bersama Cindy.


"Mas...bentar lagi ya ...please...!" mohon Cindy


pada Toni.


"Hampir sejam aku tuh nungguin, masak


belom beres juga sih?" sungut Toni sebal.


"Nih udah cepet mas...beresinnya," kilah Cindy.


Toni mulai merasa kesal, sudah hampir sejam


dia menunggu Cindy pulang dari salon ini.


Cindy adalah seorang gadis kuliahan yang


bekerja sambilan di salon kecantikan.


Toni mengenalnya secara tak sengaja


disebuah bar. Tempat Toni biasa menjual


barangnya.


Cindy yang sedari awal memperhatikan Toni,


dan mulai mendekatinya. Hingga sekarang


bisa menjadi pacar Toni.


Dia melalui sebuah proses panjang untuk


meyakinkan hati Toni.


Sekarang sudah hampir 2 tahun mereka


berpacaran dan kuliah Cindy juga hampir


selesai.


Beruntung Cindy mendapatkan Toni. Uang


bulanan dari Toni dia manfaatkan untuk


biaya hidupnya sehari-hari.


Walaupun sikap Toni kasar kalau sudah


terbawa emosi. Seperti sekarang yang lama


menunggu.


"Fiuh...beres juga..akhirnya selesai mas,"


ucap Cindy lega.


"Ya udah .... aku tunggu di mobil!" sambil


berlalu keluar dari ruangan salon.


"Ayok mas...kita pulang!" senyum Cindy


mesra dan bergelayut manja pada lengan Toni.


"Okey...gaskeun!" sahut Toni yang terbawa


suasana.


Toni di depan orangtuanya memasang peran


yang penting yaitu pekerja keras. Padahal dia


hanya seorang makelar barang-barang haram.


Anggota keluarganya tidak ada yang tahu.


Selama ini dia menutup rapat mulutnya,

__ADS_1


bahkan teman dekat nya juga tidak tau dia


berjualan sesuatu yang tidak pantas.


Dia cerdik menutupi semuanya, karena itulah


dia menargetkan kota ini dalam mencari


konsumen.


Seperti biasanya, Toni dan Cindy mulai


menikmati malam bersama. Mereka sudah


terbiasa melakukan dosa besar.


Mereka tidak peduli akan hukum alam yang


suatu saat akan memberi ganjarannya.


...----------------...


*


Ciiiitttttt......Bruaggghhhh.


sebuah motor bermanuver ke arah selokan


jalan. Motornya terperosok di dalam selokan


jalan kampung yang terbuka.


"Ya...Allah...gini amat ya!" sungut seorang


pengendara motor.


Orang yang melintas hanya tersenyum


melihat seseorang yang terperosok jatuh


kedalam selokan besar. wajahnya sudah tidak


bisa dikenali, saking hitamnya air selokan.


Baju yang dia pakai juga basah kuyup diiringi


bau yang menyengat.


Dia mengumpat akan kesialannya malam ini.


"Sue....pasti tadi aku ngantuk. Makanya gak


ngeh ada mobil didepan," sambil mengelap


wajah kotornya dengan baju yang dipakainya.


Dia meminta tolong pada orang yang melintas


untuk menarik motornya yang terperosok.


"Duh mas...baunya itu lho...gak nguatin," keluh


seorang pria paruh baya sambil menutup


hidung ketika motor sudah berhasi ditarik.


"Maaf mas..namanya juga kecelakaan, syukur


cuma nyemplung di parit gak ditabrak mobil,"


"Makasih semuanya...semoga Allah yang


membalas kebaikan kalian. Kalau begitu...saya


pamit pulang pak-bapak," pamit pengendara


motor.


Dia melesatkan motornya kembali setelah


beberapa kali mencoba menghidupkan


mesin motor.


Selang 10 menit kemudian, sampailah dia


disebuah rumah sederhana.


Ckiittt....kleekk.


Kenop kunci berputar dan pintu terbuka.


Setelah mengucapkan salam dia memanggil


istrinya.


"Yanti....ambilkan sarung sekarang, cepaaat!"


pekiknya tak sabar.


"Bentar mas....," jawab Rosyanti dari dalam


kamarnya.


"I....ni-mas...," sambil tergagap akan seseorang


di depannya.


Rosyanti menahan tawanya ketika dia melihat


Andi, suaminya yang bermandikan air parit


yang hitam.


"Mas...kamu...kenapa?" tanya Rosyanti


sambil menahan tawanya.


"Kecemplung di got," jawab Andi malas.


"Kok bisa sih mas?," tanya Ros lagi.


"Ya bisa lah...namanya juga ngantuk," jawab


Andi ketus.


"Ambil ember...cepet...aku mau ganti diluar


pake sarung ini!" suruh Andi.


Rosyanti langsung berlari kearah kamar mandi


dan mengambil ember yang diminta suaminya.

__ADS_1


"Nih.....," sambil menyerahkan ember.


Setelah membuka baju dan celananya di teras


rumah Andi memakai sarung dan beranjak


masuk kekamar mandi.


"Apes banget dah hari ini, padahal pulang


kerja capek. Pengen langsung


tidur. Eh...malah kecemplung di got,"


gumamnya seorang diri sambil berjalan.


"Lucu juga muka mas Andi kalo item kek gitu,


udah kayak dakocan....ha...ha...," tawa ros


keras.


"Yantiiiiii.....aku dengar kamu ngomong apa!"


teriak Andi dari dalam kamar mandi.


"Pfttt....," Rosyanti menahan tawanya dan


melangkah masuk sambil membawa ember


baju kotor dan bau tadi.


...----------------...


"Bu, Nissa malam ini tidurnya cepet ya."


Ucap Malik pada ibunya yang sudah


menidurkan anaknya.


"Capek dijalan mungkin nak, biasanya dia kan


belum pernah ikut kamu keliling. Ini pertama


kalinya. Jadi ...ya kecapean deh."


"Tadi siang dia juga sempet tidur bu." Timpal


Malik.


"Tuh anak...didalam angkot yang panas juga


bisa tidur ya...hebat," sahut ibu Malik.


"Oh ya nak...tadi kakakmu telpon, dia bilang


mau ngirim duit buat ibu dan bapak. Coba


besok kamu periksa rekeningmu. Siapa tau


udah masuk duitnya." Suruh ibu.


"Kakak siapa yang ngirim bu? Kak Pah apa kak


Ma?" tanya Malik penasaran.


"Pasti kak Pah lagi ya bu yang ngirim," sambung Malik lagi


yang menjawab pertanyaannya sendiri.


Ibunya hanya menghela nafas perlahan dan


menghembuskannya.


"Iya...nak, cuma Ipah yang selama ini ingat ibu


dan bapak. Kak Ma kamu nelpon aja jarang."


Jelas ibu dengan raut wajah sedihnya.


"Ada Malik disini bu...yang akan selalu


menemani ibu dan bapak!" ujar Malik yakin.


Ibunya hanya tersenyum mendengar penuturan


anaknya.


"Kita masuk saja bu...nemenin bapak nonton!


kasian sendirian didalem," sambil beranjak


dari duduknya di dipan teras rumahnya yang


mungil.


Ibu dan anak berjalan beriringan dan


menghampiri lelaki tua di depan televisi.


"Pak...serius amat nontonnya, mulutnya tutup


dikit pak," usil Malik pada bapaknya.


"Akh...ganggu aja kamu Lik," sahut bapaknya


yang tidak memandang Malik dan hanya


terpaku dengan layar kecil didepannya.


"Si bapak...acara ituuuu terus yang ditonton.


Gak bosen apa ya," sungut ibunya kesal.


"Ibu juga pengen nonton juga...tapi sinetron


yang ibu suka. Bukan acara nyanyian seperti


itu," lanjut ibu Malik masih dengan raut wajah


yang kesal.


"Bentar lagi juga udahan kok nyanyinya...tuh


jurinya dah mulai ngumumin," tunjuk bapak.


Malik hanya tersenyum kecil melihat ibu dan


bapaknya yang bertengkar mulut karena hal


sepele.


"Semoga kita akan terus bahagia seperti ini.

__ADS_1


Walaupun kita hidup dalam dunia yang serba


cukup." Batin Malik.


__ADS_2