Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 38. Sepenggal kisah Elisa


__ADS_3

*Elisa POV.


"Syukurlah dia sudah sadar. Aku ketakutan setengah mati kalau terjadi apa-apa dengannya.


Aku pulang kerumah bunda Marwah setelah berpamitan pada suster jaga. Aku harus disini sampai pria itu pulang dari puskesmas dan sehat kembali.


Tak lupa kuhubungi telpon rumah.


Tuuuttt....tuuuuttt.


"Halo? dengan kediaman Cahyono. Mau cari siapa?" suara seberang telpon terdengar tak ramah.


Pasti tuh anak. Emang gak pernah ada sopan-sopannya.


"Ini tante Elisa." Aku menjawabnya.


"Oh...istrinya papa. Ada apa? aku gak punya banyak waktu." Ucapnya ketus.


"Tante harus temenin bunda Marwah selama seminggu disini. Jadi kalian berhati-hati di rumah. Kalau keluar ajak bibi saja supaya aman!" seruku.


"Istrinya papa gak usah khawatir deh. Kita ini sudah gede. Bukan bocah lagi." Sahutnya kasar.


"Ya sudah kalau begitu. Kasih tau papamu jangan lupa ya!" suruhku lagi.


"Iya....gak balik sekalian juga gak masalah kok." Sahutnya ketus.


Aku langsung mematikan ponselku.


Aku hampir saja mengucapkan kata-kata yang tidak pantas untuknya. Marshella memang anak yang pemberontak dan sangat arrogant.


Aku harus lebih bersabar lagi menghadapi mereka. Sudah lama aku berpikir akan meninggalkan keluarga Cahyono. Tapi, bunda Marwah selalu menghalangi. Beliau takut anggota keluarga besar yang lain membicarakanku yang tidak-tidak.


*


*


Matahari bersinar cerah. Aku sudah bersiap-siap menemani bunda Marwah pergi ke pemakaman. Setiap hari jumat pagi, bunda selalu pergi ke makam ayahku. Suami yang dia cintai seumur hidupnya. Bunda rela tidak menikah lagi setelah ayahku meninggal. Bunda menikah dengan ayahku sejak aku berusia 3 tahun.


Walaupun aku hanya anak tiri tapi, kasih sayang dan cinta yang tulus selalu aku dapatkan dari beliau. Maklum saja, aku seorang piatu sejak hari kelahiranku. Setiap berulang tahun rasa sedih dan kecewa selalu singgah dihatiku. Ibu kandungku meninggal saat melahirkanku.


Bunda selalu mengalihkan kesedihanku dengan kasih sayangnya. Beliau memang akan selalu menganggapku putri satu-satunya.


"Lis, bunda mau sebentar lagi disini ya! kamu masuk mobil saja! hari mulai terasa panas." Suruh bunda.


"Baiklah bunda." Sahutku sembari meninggalkan bunda dikuburan ayah.


Aku melihat bunda dari jauh. Beliau terlihat sendu. Entah apa yang dipikirkan.


Tak berapa lama bunda menghampiriku dan mengajak pulang.


"Beli sarapan sekalian Lis, kasian nak Adi. Dia pasti lapar." Seru bunda.


"Okey....bunda. Nanti kita mampir." Sahutku sambil menjalankan mobil.


*


*


*


Puskesmas Desa SumberMulyo.


Aku dan bunda menjenguk pria itu. Kami langsung memasuki kamarnya tanpa mengetuk pintu dahulu.


"Jangan-jangan dia lagi ke kamar kecil?" aku membatin.

__ADS_1


Pria itu tidak ada dikamarnya.


"Kemana dia Lis? kok kamarnya kosong?" tanya bunda.


Aku hanya mengendikkan bahu. Tanda tak tahu.


Klak....


Pintu terbuka. Pria yang bernama Adi masuk dan menyapa kami. Jalannya masih perlahan.


Aku ingat kejadian semalam saat dia berlatih berjalan.


*Flashback Elisa.


Setelah makan malam, aku menghubungi pegawaiku satu-satunya. Aku memang percaya padanya tapi, aku juga harus selalu mengecek pengeluaran dan pemasukan toko online sekaligus offline ku.


"Lolly....Kamu buat laporan jadi dua berkas ya!


selama aku disini pisahkan semua nota penjualan dan pembelian. Setelah aku pulang aku akan periksa lagi." Suruhku.


"Iya mbak Lis, aku sudah atur ulang semua berkas sesuai permintaan mbak Lisa." Sahutnya dari seberang.


"Hati-hati jaga toko sendirian. Jangan lengah!" Seruku.


"Siap selalu mbak." Ucapnya.


"Mbak, titipanku sudah dapat kan?" tanya Lolly.


"Haduh, jadi lupa deh. Tadi aku udah dapet syalnya, tapi ketinggalan di puskesmas." Kataku sambil menepuk jidat.


"Lho....siapa yang sakit mba? Bunda sakit ya?" tanya Lolly lagi.


"Bunda sehat kok. Ehm...temennya bunda yang sakit." Jawabku bohong.


"Ya sudah, kamu istirahat saja." Seruku lagi.


Kuputuskan sambungan teleponku.


Aku langsung beranjak menuju rumah sakit. Aku kuatir pesanan Lolly terlupa. Tapi, warnanya tidak sesuai dengan selera Lolly. Aku akan menukarnya besok.


Sampai di puskesmas.


Aku meminta ijin pada suster jaga agar bisa masuk keruangan pria itu.


*Klak.


Kubuka pintu. Aku melihatnya tengah berjalan tertatih. Sepertinya dia mulai bisa berjalan kembali.


Pandangannya heran, mungkin bertanya-tanya kenapa aku kesini di malam hari.


"Maaf, ada yang tertinggal disini. Kamu.....kamu udah bisa bangun dan berjalan?" tanyaku basa-basi.


Dia mengangguk sambil berkata.


"Aku mulai belajar duduk dan berjalan agar bisa cepat keluar dari sini. Kalian pasti kerepotan harus menjagaku." Lirihnya dengan wajah tak enak hati.


"Tidak usah khawatir. Aku dan bunda tidak kerepotan olehmu.


Malah aku yang seharusnya menjagamu karena sudah menabrakmu waktu itu." Lirihku pelan merasa bersalah.


"Aku baik-baik saja sekarang. Jadi, kalian tidak usah khawatir." Dia tersenyum padaku.


Netra kami saling bertemu. Aku mulai memperhatikan bentuk wajahnya.


Mata agak redup. Rahangnya kokoh tertutupi janggut tipis. Hidungnya bangir mancung. Bibirnya agak tebal.

__ADS_1


Senyuman tadi membuatku terkesima padanya.


Sudah sekian lama aku belum pernah terpukau oleh senyuman laki-laki. Baru kali ini aku melihat dan memperhatikan wajahnya. Pria didepanku ini tergolong tampan dan menarik.


Dia memutus pandangan kami.


Aku mulai salah tingkah karena memandanginya tanpa berkedip.


"Ehm...ini...ini, aku ketinggalan sesuatu." Kuraih tas kertas diatas nakas sebelah brankar.


"Aku permisi dulu." Pamitku.


"Tunggu dulu! aku belum tahu siapa namamu," suaranya terdengar pelan dan ragu.


Aku berpikir sejenak. Ternyata kami memang belum berkenalan.


"Iya juga. Maaf aku lupa memperkenalkan diri.


Kenalin, nama saya Elisa......kamu?" aku mengulurkan tangan.


"Bukankah kemarin kamu tahu namaku? apakah sudah lupa?" tanyanya pelan.


"Benarkah?" aku mengingat namanya.


"Ah iya.....bunda selalu memanggilnya Adi." Batinku.


"Oh iya....Adi, nama kamu Adi kan?" entah kenapa tanganku masih saja terjulur ke arahnya.


Dia meraih tanganku.


"Iya....kamu benar. Lengkapnya sih Malik Jayadi. Tapi kamu cukup panggil saya Adi saja!" jelasnya.


"Baiklah kalau begitu. Silahkan istirahat dulu mas Adi! saya akan kerumah bunda. Selamat malam." Aku terseyum padanya dan pamit pulang.


"Selamat malam Elisa." Dia menjawab ucapanku.


Aku melangkah keluar dan pergi dari puskesmas. Hatiku kacau sekali.


"Bagaimana bisa aku memandangnya selama itu tadi? sungguh memalukan." Gumamku didalam mobil sambil tersenyum malu.


*Flashback off.


Dia menghampiri kami dengan perlahan.


Bunda merengkuh lengannya tak tega.


"Kamu darimana? masih pagi tapi sudah keluar kamar." Ujar bunda.


"Nyari udara segar bunda." Sahutnya.


"Sekalian belajar jalan dan bergerak biar gak suntuk juga sih, dikamar terus." Ucapnya jujur.


"Sini duduk! makan dulu biar perut kamu gak kosong." Suruh bunda sambil menyerahkan kotak makanan padanya.


"Iya bun. Sebentar dulu ya! Adi mau kamar kecil bund." Sahutnya.


Dia melangkah masuk keruangan kecil dikamar ini. Memang aku sengaja memilihkan kamar VIP agar dia tak kesusahan untuk kekamar kecil.


Penglihatan bunda mengekori Adi. Ada raut wajah sendu disana. Bunda selama ini belum pernah seperti ini. Apalagi Adi adalah orang yang baru kita kenal.


Apa yang bunda pikirkan ketika melihat Adi?


Biarlah ini menjadi rahasia bunda. Aku tidak usah bertanya padanya.


*

__ADS_1


*


Selamat membacaπŸ€—πŸ€— jangan lupa dukung karya Author selalu dengan cara like, komen, rate bintang lima, favorit dan vote kalau kalian berkenan. Terimakasih semuanya πŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜


__ADS_2