Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 68. Ujian datang tanpa henti


__ADS_3

*Author POV.


Malik tergesa dan terburu-buru meninggalkan rumah sakit. Dia harus secepatnya pulang ke kosan. Dihalaman rumah sakit, dia berpapasan dengan seorang wanita.


"Mas Mj kamu mau kemana mas? emang sudah sembuh ya?" tanya wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Elisa.


"Ii-ya lis, aku sudah sembuh. Aku mau pulang sekarang aja, gak betah disini lama-lama." Jawab Mj.


"Kalau begitu aku antar mas! kenapa kamu gak ngabarin sih!" seru Elisa.


"Bukannya gitu Lis, gak enak lama-lama di sini terus!" Mj beralasan.


"Ayo kita masuk kemobil! aku antar ke kosan!" ajak Elisa.


"Baiklah!" seraya mengikuti Elisa.


"Baru aja mau menghindar, malah ketemu disini." Batin Mj.


Mj hanya terdiam tanpa kata. Elisa memperhatikannya sedari tadi.


"Mas kenapa nih? masih ada yang sakit ya? kok diem gitu sih?" heran Elisa.


"Gak kok, gak ada yang sakit!" sahut Mj.


Mj berusaha memperbaiki ekspresinya di depan Elisa. Mj tidak mau Elisa mencari tahu kenapa dia menghindar.


Obrolan tidak berlangsung lama. Mj selalu menjawab singkat dan seadanya. Obrolan pun terhenti dengan sendirinya.


Sesampainya di kosan, Mj langsung turun tanpa pamit dan langsung menutup pintu kamarnya.


"Eh, mas Mj aneh sekali. Biasanya dia pasti akan mencium keningku. Terus ngajak mampir sebentar. Tapi, sekarang ini kok beda ya?" Elisa bertanya lirih.


Elisa hanya bisa melihat pria yang dicintainya itu pergi dari hadapannya. Tanpa banyak pikir panjang Elisa mulai melajukan kendaraannya.


...----------------...


Sandra dan Marshella di kediaman Cahyono.


"Tante, tante nih ngilang kemana sih? Shella sama Silvia tungguin juga!" sungut Shella.


"Lah, emang kenapa kalian nunggu tante? bukannya Silvia sekolah ya?" kernyit Sandra.


"Hari ini tanggal merah tante. Silvia libur dan tante pernah janji sama kami kalau mau shopping bareng!" Shella cemberut.


"Oh iya! maaf sayang, tante lupa. Kalau begitu sekarang aja kita berangkat ya!" bujuk Sandra ketika melihat wajah cemberut keponakannya.


"Udah sore gini tante, jadi males deh! pasti rame juga di Mall nya." Shella kesal.


"Ya udah nanti malam aja kalau gitu ya! kalian udah makan siang tadi?" tanya Sandra.


"Udah tante, tadi bi Minah masak sedep bener. kami jadi banyak makan! lagian nungguin tante pasti lama. Kemana aja sih dari tadi?" sungut Shella kembali.


"Tadi tante ada urusan. Ketemu sama temen lama waktu di Singapura dulu." Sahut Sandra.


"Owh kirain kemana tant. Terus kapan tante ke singapura lagi? bukankah tante bilang seminggu aja disini?" tanya Shella.

__ADS_1


"Elo ngusir tante ya?" gerutu Sandra kesal.


"Eh, bukan gitu tante! kan tante sendiri yang bilang hanya seminggu disini!" ujar Shella.


"Tambah seminggu lagi di sini! tante harus menberi pelajaran seseorang dulu! barulah tante akan ke Singapura lagi." Terang Sandra Tersenyum licik.


"Siapa tuh tant? kok Shella jadi penasaran sih! emang musuh tante ya?" tanya Shella penasaran.


"Bukan siapa-siapa kok. Elo kuliah aja yang bener! gak usah ngurusin gue. Oh iya, adek elo mane? kagak keliatan dari tadi." Sandra memperhatikan ke sekeliling ruang tamu.


"Itu anak mah seperti biasa tant! ngacir sama temen-temennya!" sahut Shella acuh.


"Elo sebagai kakak kudu merhatiin Silvia! jangan sampai dia salah temen!" Sandra mengingatkan.


"Tenang aja tant, Shella punya nomor kontak mereka sekaligus orang tuanya. Jadi, kalau Silvia kenapa-napa. Mereka berurusan sama Shella." Sahut Shella bangga.


"Udah ya! tante mau kekamar dulu. Ngantuk berat ini Shel." Sandra langsung pergi meninggalkan Shella.


*Author Pov end.


...----------------...


*Alexandra Cahyono POV.


Aku masuk kekamar ini dan melempar tas ke kasur. Sungguh hari yang indah. Mulai sekarang aku akan melihat sebuah pertunjukan dan tontonan yang menarik di rumah ini.


Aku berbaring setelah mencuci wajah dan mengeringkannya. Kutatap plafon kamar yang bersih tanpa noda. Pikiranku mengingat kejadian tadi pagi. Kejadian waktu di kamar supir kampung itu.


*Flasback 5 jam yang lalu.


Setelah mencari alamat kosan Mj, aku bertemu seorang wanita yang tengah hamil besar. Aku bertanya padanya dan mendapat informasi bahwa Mj memang tinggal di kosan kumuh itu. Tetangga dari si wanita hamil.


Aku secepatnya menuju rumah sakit tempat Mj Di rawat. Kamar kosnya itu kosong tanpa penghuni. Jadi, sudah pasti Mj masih berada dirumah sakit.


Tap, tap, tap.


Suara langkah kakiku terdengar kencang.


Ceklek, aku membuka pintu itu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Langsung saja aku menuju sofa sebelah kiri brankar.


"Kamar Vip. Pasti Wanita kampung itu yang bayarin ini supir." Batinku.


Aku langsung saja duduk tanpa permisi pada orang yang berada dikamar ini.


"Elisa kamu......" supir kampung itu berhenti bicara dan menatapku.


Pasti dia kecewa karena aku yang datang, bukan Elisa yang menjenguknya.


Aku suka raut wajahnya yang terkejut bercampur kecewa. Sungguh indah pemandangan di depanku ini.


Aku bertepuk tangan dan berbincang dengannya. Sebenarnya sih bukan berbincang. Tapi lebih kepada kata memperingatkan.


Kami berdebat akan sesuatu hal. Ternyata, dia mencintai Elisa dengan tulus. Terlihat jelas dari raut wajahnya ketika aku mengancam keselamatan Elisa. Dia bereaksi gemetar dan panik. Pikirannya memang hanya tertuju pada Elisa saja untuk sementara ini. Mungkin di lain waktu supir kampung ini akan masuk kedalam perangkapku.


"Kita lihat saja dalam seminggu ini. Kalau elo tidak menuruti semua perkataan gue, elo akan tahu akibatnya." Gumamku seorang diri.

__ADS_1


Aku meninggalkan supir kampung itu setelah mengecup pipinya sekilas. Bulu-bulu halus di wajahnya membuat ku geli sejenak. Langkah kakiku mantap seiring dengan rencana yang sudah aku susun tadi.


Seringai licik tak henti-hentinya aku tampakkan.


"Sebentar lagi akan ada pertunjukan menarik di rumah keluarga Cahyono. Aku siap menjadi penonton dan pemeran figuran di dalamnya. Ha, ha, ha." Aku tertawa puas ketika sudah masuk kedalam mobil.


Perut mulai berbunyi. Aku pun pergi kerestoran favoritku. Disana, tanpa sengaja aku bertemu teman lama. Teman sekaligus mantan pacarku.


"Hai sayangku! apa kabar sayangku?" sapa lelaki itu.


"Kita udah putus ya! gak usah panggil-panggil sayang! jijik tau dengernya!" sewotku.


Emosiku tiba-tiba berubah. Mungkin karena dia dulu selingkuh dan meninggalkanku. Jadi, aku masih tidak terima sampai sekarang ini.


Lelaki itu menarik tanganku agar duduk di kursi sebelahnya. Aku hanya berdiri tak bergeming.


"Ayolah sayang! aku masih mencintaimu! Wanita itu pel*cur, sama siapapun dia mau!" jelasnya begitu lembut.


"Kelihatan kan bohongnya! bilang mau melamar tapi malah selingkuh!" geramku.


"Elo itu sudah tidur sama wanita j**ang itu! gak usah cari gue lagi!" kesalku.


Rexi masih saja membujukku. Tangannya tak berhenti mengelus dan menyuruhku duduk.


Aku mengalah dan duduk di sebelahnya.


"Sayangku, miss you so much." Ucapnya sambil mengecup punggung tanganku.


"Gak usah gombal pria si*lan." cemoohku.


"Gue gak gombal sayang! elo itu wanita berharga buat gue. Elo pasti jodoh gue, buktinya kita tanpa sengaja bertemu kembali disini. Tempat makan favorit kita." Kata Rexi lagi.


"Tau deh." Aku yang mendengar Rexi berkata seperti itu akhirnya mulai luluh dan termakan rayuannya.


Tak bisa kupungkiri bahwa aku masih mencintainya. Rasa cinta ini masih ada di dalam hati untuknya.


"Kita makan dulu yuk sayang! Elo pesen duluan nih sayang!" Rexi menyodorkan buku menu yang ada di depannya kepadaku.


Aku mengambil dan langsung membuka berkali-kali buku menu itu.


"Gue pesen ini aja deh!" tunjukku.


"Okey sayang, sebentar ya gue panggil Waitressnya dulu."


Rexi memanggil pramusaji, tangannya melambai pada seseorang.


"Ada yang bisa saya bantu mas?" tanya orang itu.


Aku menoleh dan melihat siapa di balik suara itu.


"Kamu.....?"


*


*

__ADS_1


*


Happy reading.


__ADS_2