Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 45. Rahasia Marshella


__ADS_3

Kami sampai disekolah Marshella. Dia mengajakku turun untuk mendampinginya ke ruang guru.


"Aku ini hanya pak supir. Gak mungkin kan aku temenin kamu disekolah. Sudahlah sana masuk!" seruku.


Dia kecewa aku menolak permintaannya. Dia berjalan lesu kearah ruang guru.


Aku menunggunya di dalam mobil tanpa mematikan mesinnya.


Sepuluh menit berlalu. Pikiranku selalu saja bergelut dengan keadaan keluargaku di kampung.


Brekk..


Suara pintu mobil menutup. Marshella sudah kembali duduk di sampingku.


"Om kenapa sih? kok lemes gitu mukanya? ada masalah ya om?" tanya Marshella bertubi-tubi.


"Gak sih. Cuma, om lagi kangen sama keluarga dikampung. Ponsel om dan dompet hilang waktu berburu dihutan beberapa bulan kemarin." Jawabku sedikit berbohong.


"Keluarga om disini siapa aja? termasuk istri bukan sih?" tanya dia lagi.


"Om gak punya istri. Om kangen sama bapak, ibu dan anak gadis." Jawabku lagi.


"Apa? om udah punya anak? berarti sekarang ini, om itu.....duda dong." Seru Shella.


"Ya, begitulah. Om ini duda beranak satu." Aku mengiyakan.


"Tapi sih ya, Shella pikir om belum menikah. Om kan masih muda, seger plus ganteng lagi." Ucapnya.


"Hais.....kenapa juga sih ngomongin om. Kita pulang sekarang aja!" ajakku.


Marshella mengerucutkan bibirnya sambil menggumamkan sesuatu.


"Jangan pulang dulu om. Temenin Shella ke mall titik! Shella mau shopping dikit, sekalian sarapan." Suruhnya.


Aku hanya menurut kemauan nona ini.


"Baiklah, kamu mau ke mall mana? jangan lupa tunjukkan jalannya! om belum hafal jalanan sini." Seruku.


"Kita berangkat sekarang om!" suruh Shella.


Dua puluh menit kemudian. Aku telah sampai ke sebuah mall besar. Aku memarkirkan mobil di tempatnya. Kami turun dari mobil. Marshella menyuruhku mengikutinya.


"Sarapan dulu kita om, perut Shella udah minta diisi nih." Ajakknya.


Dia menarik tanganku dan masuk kesuatu restoran cepat saji di dalam mall.


"Duduk om! nanti Shella yang pesenin ya!" serunya.


Aku duduk santai di sofa ini. Orang sekeliling sudah terlihat menyantap makanan mereka.


"Baru jam sepuluh pagi. Tapi sudah rame banget tempat ini." Lirihku seorang diri.


Hiruk pikuk orang-orang disini mulai membuat ku tak nyaman. Ya, aku memang tidak menyukai keramaian semenjak berhenti jadi supir angkot.


Marshella mendekati. Ditangannya ada nampan makanan.


"Wah, sepertinya enak nih." batinku.


Dia memesan sebuket ayam goreng tepung tanpa nasi. Ada 2 minuman bersoda dan air mineral menemani makanan kami.


"Mari makan om! Mumpung masih anget." Ajaknya.


"Baiklah. Aku juga sudah lapar. Tapi, kenapa tidak ada nasi?" tanyaku.

__ADS_1


"Ayamnya kan banyak om. Ngapain juga harus pake nasi. Nanti kalau om masih lapar, biar Shella beliin makanan lain diluar."


"Iya deh. Makasih ya non Shella." Ucapku tulus.


Kami diam tanpa berkata. Kami menikmati makanan di depan kami.


Marshella sesekali melihatku. Tatapannya seperti meminta sesuatu. Tapi, aku tidak bisa menebak apakah itu.


Kami menyandar di sofa ini. Perut sudah diisi.


"Disini dulu aja om. Perut Shella kenyang banget ini. Biasanya Shella makan dikit. Eh, didepan Shella ada om. Malah nyomot terus deh....he...he...he." Cengirnya lucu.


"Emang kamu kalau makan gak dirumah ya? kan ada bibi yang masak." Tanyaku.


"Kadang-kadang aja sih om. Shella males harus satu meja makan sama istrinya papa." Jawabnya acuh.


"Emang kenapa? coba cerita sama om." Bujukku.


"Males aja sih. Gak mau liat wajahnya. Muak banget sama wanita udik itu. Mau sama duit papa ajah!" geram Marshella.


"Emang bener gitu, kalau nyonya Elisa hanya mau harta papamu?" selidikku sambil melihat reaksi Marshella.


Marshella mengingat sesuatu. Hal yang tidak ada orang tau satupun, kecuali dirinya, mantannya dan tuhan.


Dia mengingat kejadian itu. Kejadian disaat papanya mendadak sakit stroke 2 tahun yang lalu.


*Flashback Marshella 2 tahun yang lalu.


Kenaikan kelas membuat ku bersemangat. Kali ini aku sungguh beruntung bersama kekasihku di kelas baru ini. Kami baru saja jadian dan mulai berkencan. Harry pacarku selalu perhatian dan membuatku nyaman berada disisinya. Kami bagaikan dua sejoli sejati.


Banyak pasangan di sekolah ini yang iri pada kami. Karena kami tidak pernah bertengkar dan saling mengerti.


Sampai usia 3 bulan masa pacaran kami. Aku mengajaknya kerumah. Siang itu keadaan di rumah sangatlah sepi. Entah kemana semua orang. Hanya ada pak satpam di posnya. Istri papa dan bibi juga sedang tidak ada dirumah.


Aku mengajak Harry masuk kedalam rumah. Kubawakan cemilan dan minuman dingin.


"Harry, kita nonton film aja yuk! aku sudah download tapi masih belum aku tonton nih. Laura bilang sih bagus di tonton bareng pasangan." Ajakku.


Harry hanya mengangguk saja.


Dia menarikku duduk di pangkuannya. Hatiku berdetak dengan kencang.


"Hei, aku belum putar filmnya. Kamu duduk diam-diam, jangan nakal ya!" sambil mengerling nakal kearahnya.


untunglah aku tidak salah tingkah tadi. Bisa-bisanya ini jantung kenceng banget detaknya. Semoga aja Harry gak denger suara jantungku tadi.


Aku mulai memutar film, dan menghampiri Harry di sofa.


Kami duduk bersebelahan dan saling menautkan lengan.


"Beb, kamu kok hari ini manja banget sih?" tanya Harry.


"Perasaan sama aja tau beb. Dari kemarin-kemarin kan emang selalu manja sama kamu." Ujar Shella.


"Asalkan sama aku aja manjanya. Gak boleh manja sama cowok lain. Ingat itu!" seru Harry.


Aku hanya mengiyakannya. Dia mencubit pipiku gemas. Film yang kami tonton seakan tidak menarik lagi. Tiba-tiba, dipertengahan adegan. Ada kejadian yang menarik netra kami berdua.


Adegannya membuat kami begitu tercengang.


Kami saling berpandangan, detak jantung memburu dengan cepat, kami mulai tergiur mencobanya.


Setelah dahaga kami tersalurkan, kami merangsek pindah kedalam kamar. Disana, kami meniru adegan di dalam film yang kami putar tadi.

__ADS_1


Klik.....


Pintu terbuka. Ada sepasang mata melihat kami berdua didalam satu selimut.


Netranya memandangi kami berdua dengan tajam dan menusuk.


"Kalian, apa yang kalian lakukan disini? HA....cepat jawab!" bentak lelaki itu kasar.


Dia menarik Marshella dengan kasar.


"Kamu, dasar anak cowok ba*gsat. Berani-beraninya kamu berbuat mesum di rumah ini. Kamu pikir anak saya ini gadis murahan apa?" pekik lelaki itu yang tak lain adalah papa Marshella.


"Maaf om, kami tadi hanya mencoba adegan film yang kami tonton dan keterusan." Harry menundukkan wajahnya. Dengan terburu-buru dia memakai celananya.


"Sekarang kamu pergi dari sini! jangan pacaran sama anakku lagi! ingat itu." Papa masih saaj marah dan mengusir Harry.


Aku tidak terima dengan perlakuan papa. Aku membela Harry dan memeluknya erat dikala papa akan memukul kami berdua dengan tangannya.


"Papa tidak berhak mengadili kami. Kami ini sudah besar pa. Jadi, biarkan kami yang memutuskan!" Aku membela diriku dan Harry.


"Astaghfirullah Shella, kamu ini masih gadis dan perawan. Hanya karena cowok ba*gsat ini kamu rela memberikan keperawananmu? kamu itu salah besar nak." Ucap Cipto lantang.


"Sekarang juga kalian harus berani bertanggung jawab. Mau tidak mau kalian harus menikah. Sebelum semuanya menjadi sulit." Suruh papa.


"Apa? nikah om? yang benar saja! saya ini masih muda dan harus berpendidikan tinggi. Masa harus menikah di usia muda. Jangan harap om." Hardik Harry mulai emosi.


"Lihat dia Shella, kamu mau hidup dengan cowok kasar seperti dia?" kata papa.


"Tapi aku cinta dan sayang sama Harry pa. Aku tidak apa seperti ini. Aku akan menunggu Harry melamarku ketika dia sudah bekerja nanti." Ucapku mulai terisak.


"Apa kamu bilang? sungguh anak bod*h. Kamu harus jadi anak gadis yang mempunyai harga diri! jangan mau direndahkan lelaki manapun!" Bentak papa lagi.


Papa memegang kepala dan dada kirinya bergantian. Harry mulai meninggalkan kami. Dia tidak peduli sama sekali tentang perdebatanku dan papa.


"Lihat dia sekarang. Mulai berani bertingkah. Kamu harus berhenti berhubungan dengannya Shella! turuti kata papa!" teriak papa lagi.


Aku mengejar Harry. Dia mengacuhkanku.


"Harry Rahardian. Kamu harus bertanggung jawab!" seruku.


"Hei kamu, kita itu sama-sama mau dan tidak ada paksaan. Jadi, kenapa aku harus bertanggung jawab? dasar cewek kuno." Sambil meninggalkanku ketika dia sudah mengambil tas yang dipakainya tadi.


Papa melihat kami dari depan kamarnya. Dia melangkah pelan sambil memegang dadanya.


Papa tiba-tiba pingsan dan tak sadarkan diri.


Aku yang melihat papa pingsan menjauh dari sisinya. Aku takut disalahkan. Aku segera keluar dari rumah ini. Kuhubungi taksi langgananku. Aku menunggunya di teras rumah. Wajah kuseka menggunakan tissu basah supaya wajahku terlihat lebih segar.


"Kenapa siang-siang begini papa bisa pulang sih?" sungutku sebal.


"Udah lah, males aku ngeladenin papa. Palingan bentar lagi juga udah mulai bangun dari pingsannya. Aku harus secepatnya pergi dari sini." Sambil berjalan keluar pagar rumah karena taksi yang kupesan sudah datang.


Aku masuk dan menyuruh pak supir membawaku kealamat yang aku sebutkan.


*Flashback off.


Raut wajah Marshella menunjukkan rasa bersalah dan ketakutan. Aku tidka bisa menebak jalan pikirannya. Sepertinya anak ini menyimpan sesuatu.


"Sudahlah om, kita pulang saja yuk!" ajaknya sambil berdiri dan mulai melangkah.


"Bilangnya mau shopping. Beneran mau pulang?" tanyaku.


"Sudah gak mood lagi om. Besok aja lah shoppingnya." Dia terkesan menutupi sesuatu.

__ADS_1


Kami melangkah keluar mall dan menuju parkiran Vip. Aku mengendarai mobil dan melesatkannya. Marshella yang disebelahku masih berdiam diri.


__ADS_2