
Rumah sakit Harapan Maju tempat Cipto di rawat.
*Author POV
Sandra yang menerima telpon merasa aneh dengan orang yang barusan menghubunginya.
Dari suaranya terlihat khawatir dan risau.
Dia menuju ke arah kantin rumah sakit. Perut nya berbunyi tanda minta diisi.
Sandra yang berjalan dengan santainya tidak tahu bahwa ada seorang wanita yang melihatnya. Wanita itu memperhatikannya Sandra sambil mengepalkan tangannya kuat.
"Si*lan tuh orang! kenapa dia kembali ke Indonesia lagi!" sungut perempuan itu kesal.
Wajahnya berubah kesal dan jengkel ketika melihat Sandra yang berjalan ke arah kantin.
"Tunggu saja nanti, gue akan memberikan pelajaran yang kedua buat elo!" lirih wanita itu sambil menyegir licik
"Kali ini gue tidak akan melepaskan Rexy. Gue harus menyusun rencana yang lebih rapi agar mereka tidak bersama lagi." Gumam wanita itu.
Wanita itu diam ditempat nya, dia duduk di ruang tunggu pasien. Sandra yang tengah menikmati makanannya di hubungi seseorang.
Sandra melihat nama itu di layar ponsel nya. Dia mengernyitkan dahi tanda bertanya-tanya.
"Ngapain sih ini orang nelepon gue lagi!" sungut Sandra.
"Kenapa lagi sih?" tanya Sandra ketika panggilan sudah di jawab.
"Sayang, aku sudah ada di rumah sakit Harapan Maju. Kamu ada dimana?" tanya suara itu yang tidak asing di telinga Sandra.
"Hah, jadi elu nyusul gue kemari?" tanya Sandra kaget.
"Iya sayang, aku tuh kuatir kamu kenapa-napa!"
sahut Rexy tak sabar.
"Gue masih di kantin ini, belom kelar makan!" ujar Sandra.
"Aku susul kamu kesana ya!" sahut Rexy langsung mematikan ponselnya.
Rexy bergegas menuju kantin rumah sakit.
Dicari nya orang yang amat dicintainya itu.
Netranya melihat sekeliling, mencari sosok Sandra.
"Akhirnya ketemu juga!" seru Rexy sambil melangkah ke arah meja Sandra.
"Kamu kenapa baik-baik saja?" tanya Rexy yang duduk di hadapan Sandra.
"Elo mau gue kenapa-napa ya? elo mau gue celaka?" kesal Sandra.
"Bukan gitu sayang! aku kuatir banget kamu ada di rumah sakit. Aku pikir kamu kenapa-napa, makanya aku langsung kemari."
Sahut Rexy.
"Gue baik-baik aja kok! abang Cipto yang sakit bukan gue!" seru Sandra.
"Syukurlah kamu gak kenapa-napa sayang!" Rexy bernafas lega.
Di suatu sudut rumah sakit. Seorang wanita melihat Rexy dan Sandra yang tengah mengobrol. Netranya terlihat penuh amarah.
Raut wajahnya seperti akan melahap habis orang yang di pandanginya.
"Sebaiknya aku kesana sekarang. Kesempatan yang bagus agar Sandra itu tidak kembali selama nya pada Rexy." Wanita itu beranjak dari tempat duduknya. Dia bergegas menghampiri Sandra dan Rexy.
"Hai sayang!" panggil wanita itu pada Rexy.
__ADS_1
Rexy dan Sandra terkejut akan kehadiran seorang wanita yang langsung mengucap mesra.
"Kamu? ngapain kamu kesini?" Rexy mengernyitkan keningnya heran.
"Si*lan ini manusia, kenapa dia ada disini? sungguh bukan waktu yang tepat!" batin Rexy resah.
"Elo udah di jemput sama calon elo tuh! mendingan pergi dari sini sekarang!" seru Sandra yang hampir menjerit.
Raut wajah Sandra mulai terlihat emosi.
Orang sekitar kantin mulai mengarahkan pandangannya kearah meja mereka bertiga.
"Gak usah emosi gitu dong kalau elo udah gak cinta lagi sama Rexy sayangku!" sahut wanita itu santai sambil tersenyum licik.
"Kamu jangan sembarangan ya! cepat pergi dari sini!" usir Rexy pada wanita itu.
"Baru mau menyembuhkan hati Sandra kembali agar dia mencintaiku lagi. Mak lampir ini malah mengacaukannya!" batin Rexy geram.
"Gue mau pulang sama elo sayang! elo kesini jemput gue kan?" wanita itu bergelayut manja di lengan Rexy.
"Lepaskan!" Rexy mengibaskan tangan wanita itu.
"Kalian disini saja! biar gue yang pergi!" Sandra beranjak dari duduknya, dia bergegas pergi meninggalkan Rexy dan wanita itu.
"Sandra! tunggu aku sayang!" Rexy mengejar Sandra.
Tapi, wanita itu menghalangi jalan Rexy.
"Stop Rexy, Sandra agak akan cinta sama elo lagi! cuma gue yang cinta sama elo sayang!" seru wanita itu sambil menarik tangan Rexy.
Sandra pergi secepatnya dari kantin. Dia langsung menuju toilet perempuan agar Rexy tidak bisa menemukannya.
"Kurang a**r emang si Rexy, alesan aja dia itu kesini mau ketemu gue. Padahal si jal*ng breng**k itu juga ada disini." Geram Sandra di depan cermin toilet.
Sementara di kantin, Rexy dan wanita itu masih
beradu mulut.
"Rexy ingat apa yang pernah kita lakukan! kita sudah melakukannya berkali-kali!" ucap wanita itu.
"Aku gak akan pernah cinta sama kamu! kamu itu kan memang pel****! jangan harap kamu akan menjadi pacarku bahkan istriku!" sahut Rexy masih terbawa emosi.
"Rexy, aku hanya melakukan itu denganmu saja!" kilah wanita itu. Raut wajahnya dia rubah seakan menyimpan kesedihan.
( Dasar wanita j****g emang banyak ye sandiwara nya π€π€ )
"Ah, itu hanya alesanmu saja! kamu pikir aku tidak tahu siapa kamu sebenarnya? aku sudah menyelidiki kamu itu wanita macam apa! dasar pe*****!" pekik Rexy yang sudah hilang kesabarannya.
Rexy meninggalkan wanita itu. Banyak pasang netra yang melihat dan mencemooh wanita itu.
"Kalian lihat saja nanti! akan aku balas kalian berdua!" wanita itu mengeratkan giginya. Tangannya terkepal pertanda amarah menguasai. Dia langsung bergegas pergi ke halaman rumah sakit dan masuk kedalam mobil nya.
Rexy yang khawatir akan Sandra langsung mencarinya. Puas Rexy mencari, dia baru terpikirkan sesuatu.
"Kenapa aku gak nyari kamar bang Cipto ya! ah gini deh isi kepala kalau sudah bingung akan tingkah Sandra." Gerutu Rexy seorang diri.
Rexy yang sudah berhasil mendapatkan info dari petugas rumah sakit, akhirnya berhasil masuk ke kamar Cipto.
Cipto terpejam di brankarnya. Dia tak mendengar ada orang yang masuk ke kamarnya. Rexy melihat sekeliling kamar, dan membuka toilet di dalam kamar perawatan.
"Kemana si Sandra? disini dia tidak ada!" lirih Rexy pelan yang kecewa.
"Lebih baik aku pulang saja! aku akan kerumah Sandra besok pagi!" tekad Rexy bulat.
Rexy keluar dari kamar Cipto. Dia tergesa dan segera menuju arah parkiran mobil.
Sepasang netra mengikuti gerak-gerik Rexy.
__ADS_1
"Ternyata elo mencari gue di kamar abang!" lirih Sandra.
Sandra tak bisa lagi memungkiri perasaannya. Ternyata selama ini dia masih mencintai Rexy.
Dia kembali ke kamar abang nya di penuhi rasa gundah. Pikirannya tertuju pada kejadian di kantin rumah sakit tadi.
...----------------...
Di rumah mewah Cahyono.
Mj yang masih menunggu Silvia dan Shella akhirnya bisa bernafas lega. Kedua anak itu sudah berada di dalam mobil. Mj langsung mengarahkan kendaraan ke jalanan menuju rumah sakit. Silvia dan Marshella terdiam dengan pikiran masing-masing.
Mj memulai memutar musik agar suasana tidak canggung. Musik terdengar merdu, Mj yang sekilas hafal dengan lirik nya mulai bernyanyi.
πΆπΆπΆπΆ
What would i do without your smart mouth.
Drawin' me in, and you kickin' me out.
You've got my head spinnin', no kiddin' i cant' pin you down.
What's going on in that beautiful mind?
I'm on your magical mistery ride.
And i'm so dizzy, don't know what hit me.
But i'll be alright.
πΆπΆπΆπΆ
"Om.....!" pekik Shella ketika mendengar suara Mj bernyayi lagu asing.
Mj seketika berhenti dari nyanyiannya. Dia melihat kearah kaca di atas kepalanya.
"Ada apa non Shella? orang lagi nyanyi malah di panggil!" seru Mj.
"Sejak kapan om bisa nyanyi lagu asing?" tanya Shella.
"Sejak sering mengantar nyonya Elisa!" jawab Mj jujur, dia masih menyetir mobil dengan santai.
"Owh gitu! udah ah, gue gak mau bahas orang udik itu!" sahut Shella malas.
"Dijawab jujur malah ngambek!" gerutu Mj.
"Om, berhenti bentar di pojokan!" suruh Shella.
Mj menepikan mobilnya. Shella yang semula duduk bersama Silvia akhirnya berpindah di kursi depan bersama Mj.
"Elo ngapain di situ kak?" tanya Silvia yang baru tersadar kalau kakak nya pindah di depan.
"Elo gak usah ngurusin gue, maen ponsel aja terus!" gerutu Shella.
"Alah, gitu aja marah." Ujar Silvia enteng.
Drrrtttt....drtttt...drrtttt.
Ponsel Shella bergetar. Seseorang menghubunginya, suara itu terdengar sedang terisak.
"Duh kok malah gini sih?" sahut Shella ketika mendengar cerita dibalik suara itu.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung
Selamat membaca semua. Maaf karena telat up dan jangan lupa dukungan nya berupa like, komen, favorit, rate β 5, serta vote atau bisa berupa gift. Terimakasih atas dukungan selama ini buat pembaca setia Mj ππππ₯°