
Ciiiiiiiitt.....
Ada sebuah kendaraan mengerem mendadak. Mereka semua terkejut dan terpaku. Jantung mereka berdetak tak karuan.
"Hey....kalian ini cepat pergi dari sini! mengganggu pemandangan di jalan saja!" cibir pria di dalam mobil.
Seketika ibu dan anak itu pun menoleh kearah pria yang berkata kasar pada mereka. Mereka membelalakkan matanya tak percaya.
"Ayah...Rico mau ikut yah! ibu dan adek juga," Rico merengek pada pria di dalam mobil.
"Astaga ternyata kalian ya! aku pikir pengemis di pinggir jalan." Cibir pria itu lagi.
"Apa yang kamu ucapkan mas? kami ini masih keluarga mu dan tanggungjawabmu. Bisa-bisanya kamu menelantarkan kami hanya untuk wanita murahan itu." Pekik Ipah meneteskan air mata.
"Sudahlah...saya tidak punya waktu untuk berbicara dan berdebat dengan kalian." Pria itu langsung menjalankan kendaraannya.
Bocah lelaki yang bernama Rico mengejar sambil berteriak memanggil ayahnya. Ia jatuh terjerembab karena tersandung sebuah batu yang tergeletak di pinggir jalan. Seluruh pakaiannya terkena debu.
Ibunya menyusul Rico. Ia menangisi nasibnya yang sudah ditinggalkan oleh suami.
"Ibu...kenapa ayah tidak peduli lagi pada kita? apa yang harus kita lakukan Bu?" tanya Rico menangis.
Ipah hanya memeluk anaknya dengan erat. Ia mencoba untuk menenangkan anak sulungnya itu.
Ipah ingin sekali pulang ke kampung halamannya. Tapi sayangnya ia tidak mempunyai uang yang cukup. Selama beberapa bulan ia hanya mendapatkan jatah belanja yang serba kurang dari suaminya. Suaminya berubah drastis ketika mereka mempunyai segalanya.
Perselingkuhan suaminya membuatnya menyesal karena dulu ia tidak mendengar ucapan ibu dan bapak nya.
"Maaf kan Ipah Bu, Pak...Kalian benar bahwa Rudy itu adalah seorang pria yang suka bermain dengan wanita malam." Ipah menangis sambil menyusuri jalanan.
Penyesalan memang akan terjadi dibelakang hari. Semua orang hanya bisa memilih sebuah pilihan walaupun mereka tidak akan pernah tahu bahwa pilihan itu baik atau buruk kedepan nya.
Nasib Ipah masih terluntang lantung dijalanan.
Bersyukurlah ia karena ada pertolongan dari anggota Rohis di masjid terdekat. seorang pemuda memberinya tempat tinggal sementara di dekat mesjid. Ruangan itu sempit dan ada beberapa barang keperluan pengajian disana. Tapi Ipah senantiasa bersyukur karena masih ada orang yang peduli dengannya.
__ADS_1
"Maafkan kami karena telah merepotkan kamu dek." Sesal Ipah.
"Jangan sungkan Bu! ini tugas kami sebagai sesama umatnya agar saling membantu." Pemuda itu tersenyum ramah.
Ipah tersenyum bahagia, ia merasa bersyukur sekali karena masih ada orang yang baik hati yang mau menolongnya. apalagi orang itu memberikan makanan ringan untuk cemilan anak-anaknya.
Mereka masuk kedalam ruangan sempit itu. Ada sebuah selimut dan bantal diatas kasur lipat. Anak lelaki Ipah merasa nyaman berada disana. ia sebelumnya hanya tidur beralaskan koran dan kardus bekas yang dipungut oleh ibunya.
"Tidurlah nak! semoga besok kita bisa pergi ke terminal dan pulang ke kampung." Ipah mengelus kepala anaknya dengan sayang.
"Besok aku akan berusaha untuk bekerja asalkan aku dapat uang dan bisa pulang kampung." Tekad Ipah kuat.
Malam ini mereka bertiga tidur dengan nyenyak serta melupakan kekalutan hidup walaupun hanya sementara.
Esok paginya Ipah memandikan ke-dua anaknya. Setelah itu barulah ia mandi dengan terburu-buru karena khawatir mereka akan merengek meminta makan. Ipah sudah memakai pakaiannya lagi dan langsung menghampiri anaknya di dalam ruangan sempit. Ia memasukkan kembali barang-barang kepunyaannya. Mereka bertiga memakan Snack box yang dikasih oleh pengurus masjid setelah diadakan pengajian pagi. Kini mereka bersiap berangkat lagi menuju terminal terdekat. Kali ini tekad Ipah untuk mencari kerja sambil berjalan semakin kuat. Ia sangat merindukan kedua orangtuanya yang sudah puluhan tahun tak pernah ia kunjungi.
"Lho...ibu mau kemana? hari masih pagi." Pemuda itu mengernyit heran.
*Kami harus pergi ke Terminal dek, kami ingin sekali pulang kampung. Kota ini sudah tidak ramah kepada kami." Ipah menahan tangisnya.
"Terimakasih dek, tapi kami tidak mau merepotkan." Tolak Ipah halus.
"Tenang saja Bu...tidak repot kok. Saya juga harus membeli bahan baku untuk konsumsi pengajian nanti malam." Sahut pemuda itu.
"Terimakasih dek...tapi...," Ipah tidak meneruskan ucapannya.
"Ini untuk kepentingan umat jadi Ibu jangan sungkan. Marilah naik! kita akan berangkat sekarang juga." Ajak pemuda itu.
"Bolehkah saya tahu siapa nama adek? biar bisa ibu ingat siapa yang menolong disaat susah." Ipah tersenyum tipis.
"Panggil saja saya Dino Bu, marilah masuk ke dalam mobil!" ajak Dino ramah.
mereka masuk kedalam mobil pick up. Mesin kendaraan telah dinyalakan dan kendaraan pun meluncur ke jalan raya. Dino mengantar Opah terlebih dahulu. Ia tak mau membuat Ipah menunggu selama ia membeli bahan untuk keperluan pengajian.
Setengah jam berlalu.
__ADS_1
"Kita sudah sampai Bu! Di sanalah bus berderet untuk menunggu penumpang." Dino menunjuk dengan sopan.
"Terimakasih banyak dek telah mengantar kami sejauh ini. Dan terimakasih banyak telah menampung kami tidur." Ipah terharu.
"Bersyukurlah pada Tuhan Bu! saya hanya menjalankan perintah Tuhan saja. Dan ini ada sedikit dari kami semua." Dino menyerahkan sebuah amplop.
"Maaf dek, saya tidak bisa menerimanya! terlalu banyak saya mendapatkan kebaikan dari kalian. Sementara saya ini adalah seorang yang banyak dosa." Ipah menyesali perbuatannya pada kedua orangtuanya.
"Ambil saja Bu! kami ikhlas membantu." Dino menyerahkan amplop itu pada Rico anak Ipah.
"Terimakasih banyak dek, semoga Allah yang membalas kebaikanmu dan orang-orang yang baik itu." Ipah terharu dan menitikkan air mata.
Setelah berpamitan mereka keluar dari mobil dan melangkah menyusuri jalanan kearah bus yang berjejer.
Balita yang digendong Ipah mulai rewel. Sepertinya ia kepanasan karena berada di luar ruangan.
Ipah dengan cepat mencari dan bertanya pada orang yang berlalu-lalang dimanakah bus ke kota M.
Akhirnya ia sudah tahu harus naik bus apa. Ia berjalan sambil menenangkan anaknya yang masih merengek. Sementara Rico tak banyak bicara, ia mengikuti langkah ibunya.
Didalam bus sudah terisi separuh penumpang. Ipah, Rico dan anaknya yang balita duduk di kursi penumpang bagian belakang. Ia merasa lega bahwa tak lama lagi ia akan pulang ke kampung halamannya.
Ada seseorang yang sedang memperhatikan Ipah didalam bus. Ia mengernyitkan keningnya tanda heran. Ia juga tak tahu kenapa bisa bertemu dengan Ipah didalam bus.
"Kak Ipah....."
Orang itu melongo tak percaya akan penglihatannya.
"Ternyata itu benar kamu kak Ipah." Lirih orang itu tak percaya.
Bersambung ke bonus chapter selanjutnya.
Kira-kira siapa ya yang memanggil Ipah?
Jangan lupa follow, kasih vote dan gift yang banyak untuk author ya ðŸ¤.
__ADS_1