
*Hari keduaku di rumah keluarga besar Cahyono.
pukul 6 pagi aku mulai berjalan dari kosan ke rumah nyonya.
Angin pagi bersemilir dengan sejuknya.
Hari ini aku memakai kemeja berlengan pendek warna biru bermotif. Celana yang ku pakaipun, celana yang di beri oleh Elisa.
Seorang diri aku berjalan. Melewati taman pinggir kota. Banyak orang-orang memulai aktifitas paginya. Ada yang berjalan kaki di trotoar seperti aku. Ada yang masih berkeringat akibat jogging pagi. Ada juga anak-anak balita yang ikut berjalan pagi dengan orangtuanya.
Pasti Annisa pengen juga hidup seperti mereka. Punya orang tua lengkap dan selalu ada di sisinya. Semoga ayah bisa memberikan ibu sambung yang terbaik untukmu.
Aku menatap mereka lekat-lekat. Ada rasa kecemburuan di hati.
Langkahku mulai gontai dan tak bersemangat lagi seperti tadi.
Didepan sana Rumah besar bak istana telah tampak dari pandangan.
Aku menekan bel rumah. Pak Mujib membuka pagar mewah ini dengan menekan remote.
"Kamu jalan kaki? pagi-pagi udah keringetan kaya gitu." Tanya nya.
"Iya pak, saya kan gak punya motor. Lagipula, bisa sambil jalan pagi juga. Jadi, ya gak masalah." Ucapku enteng.
"Kamu ini supir nyonya Elisa kan?" tanya pak Mujib aneh.
"Iya pak. Memangnya supir siapa lagi?" kernyitku menjawab.
"Soalnya tadi non Marshella nyari kamu. Pagi-pagi sekali. Dia bilang mau kesekolah ngambil berkas kelulusan." Jelas pak Mujib.
"Nanti saya tanya nyonya dulu. Karena saya juga gak tau tuh harus nganterin Marshella apa enggak." Ucapku enteng.
"Semenjak aku kerja dirumah ini. Baru kali ini dia itu mau dianterin supir. Biasanya sih nyetir mobil sendiri." Terang pak Mujib.
"Mungkin lagi males nyetir pak." Sahutku.
"Aku kasih tahu ya. Kamu harus berhati-hati dengan dua nona kita. Mereka itu seperti bom. Bisa meledak sewaktu-waktu. Apalagi kalau keinginannya gak terpenuhi." Pak Mujib mengingatkanku.
"Baiklah pak kalau begitu. Terimakasih sudah mengingatkanku." Sahutku sambil melangkah kedalam garasi.
Tak berapa lama. Aku yang mengelap kaca mobil didatangi seseorang. Penampilannya tidak seperti gadis berumur 18 tahun.
"Hai om, kita berangkat yuk! Marshella harus kesekolah. Hari ini, hari pengambilan ijazah yang terakhir. Besok-besok gak boleh kesekolah lagi." Cicit Marshella sambil memelintir rambutnya.
hadeuh, ini bocah kemasukan setan apa ya? centilnya luar biasa. Mana dandanannya tebel kaya udah tante-tante lagi.
"Baiklah, aku akan mengantarmu kesana! tapi, aku harus memberi kabar pada nyonya Elisa dulu." Ujarku tegas.
"Om, gak usah ijin tau. Yang bayar gaji om itu, papa Cipto bukan istrinya papa yang udik itu!" Sahutnya kesal.
Dia mengedipkan matanya kepadaku. Senyumnya dibuat seakan dia bergaya dewasa dan elegan.
Ini anak parah amat deh. Belom ngeliat cowok cakep ya. Gatelnya kok kaya ulet keket. Perlu di kasih pelajaran nih. Hehehehe.
"Hapus dulu dandananmu itu! baru aku akan mengantarmu, okey!" syaratku padanya.
__ADS_1
"Om, emang kalau Marshella dandan kaya gini gak cakep ya?" serunya sambil memegang tangan dan mengedip padaku.
Haik....ini bocah belum di pelet ajah udah bertingkah gini. Apalagi kalau gue pelet. Bocah senengnya kok sama orang kaya aku.
Ya memang sih aku ini tampan dan menarik. Tapi, urusan nafkah. Berjuang terus tanpa henti.
Aku mengibas tangannya pelan. Dia mendekatkan wajahnya ke arahku.
Tiba-tiba.
"Nyonya Lisa!" panggilku spontan.
Dia menoleh kesemua arah. Dan tidak mendapatinya disana.
"Om boong ya! Ayo om kita berangkat!" Rayunya lagi.
"Om gak mau jalan sama gadis yang gayanya kaya tante-tante gini. Malu-maluin aja deh!" Terangku.
"Baiklah om, Shella akan hapus make-up dulu. Om wajib anterin Shella ya!" Pintanya lagi.
Aku hanya menganggukkan kepalaku.
Dia langsung menuju kedalam rumah. Aku mencari keberadaan Lisa.
"Selamat pagi Nyonya. Tadi non Shella meminta saya mengantarnya pergi kesekolah." Jelasku.
"Pergilah. Anak itu keras kepala dan pemberontak. Mau larang juga gak bakalan bisa. Maklum lah anak manja." Terang Elisa.
"Baiklah nyonya. Saya permisi dulu!" seruku.
Elisa berubah menjadi nyonya yang dingin ketika di rumah. Berbeda ketika dia berjalan denganku diluar sana.
"Kok kamu duduk sini nona? nanti temen-temenmu salah paham sama pak supir ini." Heranku.
"Gak papa om nyantai ajah sih. Shella udah putus semingguan ini sama pacar Shella." Ujarnya semangat.
Perasaan kalau putus cinta pasti sedih dan sendu. Lha ini bocah, bocah langka kali ya. Putus cinta kok semangat begitu.
Marshella menunjukkan arah jalannya. Aku mengikuti aba-aba dan langsung tancap gas.
...----------------...
Di kampung MJ.
Raut wajah itu terlihat sendu. Dia memikirkan keselamatan anaknya siang dan malam.
Annissa yang di sebelahnya pun luput dari perhatiannya.
"Yangti, Molly mau mandi sebentar ya! tadi pagi
Molly gak sempet mandi sih." Ucapnya polos.
Sang nenek hanya mengangguk mengiyakan.
Brakkk
__ADS_1
Ada suara pintu mobil menutup. Suara itu pun tak membuat Sumiyati tertarik.
Tap....tap....tap.
Suara langkah terburu-buru dan tergesa.
Setelah mengucapkan salam. Gadis didepannya mencium tangan Sumiyati.
"Ibu Sum, kok lesu? memangnya kenapa? maaf Fatma baru bisa berkunjung setelah sekian lama." Kata Fatma lesu.
Sumiyati hanya menitikkan air matanya. Cairan bening itu menetes tak berhenti. Fatma memeluk wanita tua didepannya.
"Ibu, tolong jelaskan kenapa? Fatma kok gak denger kabar mas Malik lagi? biasanya kalau kesini ibu akan bercerita tentang keadaan mas Malik disana." Tanya Fatma penasaran.
Tangisan wanita tua ini terdengar semakin pilu.
Nafasnya tak beraturan. Sesenggukan akibat mencoba menahan air mata agar tidak mengalir deras.
Suara Sumiyati serak akibat menangis tadi.
"Fatma, tolong ibu nak. Malik sampai sekarang belum ada kabarnya. Ibu Dendi bilang anaknya di tangkap dan Malik berhasil kabur. Tapi, sampai sekarang tidak ada kabarnya." Sumiyati masih terisak.
"Astaghfirullah bu, nanti Fatma usahakan ya! ibu kasih tau saja dimana terakhir kali mas Malik berada. Biar Fatma sebar informasi di sosial media tentang mas Malik." Seru Fatma lesu.
Raut wajah Fatma mendadak lesu dan tidak bersemangat kembali.
"Tante....." Annissa berlari kearah Fatma dan memeluknya. Kerinduan terpancar daru netra keduanya.
"Kita siap-siap aja yuk! Tante mau ngajak Nissa sama nenek jalan sore di taman. Sambil makan-makan, okey!" Ajak Fatma.
"Asyik.....Nissa ikut ya tante. Mau jajan yang banyak nanti!" katanya antusias.
"Asalkan perut kecil ini muat nampungnya." Fatma mencubit pelan perut Nissa.
"Hihihihi. Nissa ini pinter kalau makan tante. Apalagi kalau dikasih." Ucap Nissa polos.
"Ibu cuci muka dulu sana! biar Fatma temani Nissa disini." Seru Fatma.
Sumiyati melangkah gontai masuk kedalam rumahnya.
"Anak itu selalu saja menghiburku. Padahal dia dan keluarganya bermasalah semenjak Toni di penjara. Ibunya sudah tidak peduli padanya dan hanya memikirkan Toni." Batin sumiyati.
Sore ini mereka bertiga menikmati keramaian di taman. Aneka gerobak kuliner terjajar rapi dan siap untuk disinggahi.
Fatma bersemangat lagi. Melupakan Malik yang masih belum tentu dimana keberadaannya. Fatma yakin kekuatan sosial media akan mampu menemukan keberadaan Malik.
*
*
*
MAAF kan Author karena telat up. Seharian ini badan lemas dan pusing. Bab ini mungkin saja tidak terlalu menarik karena Author lagi pusing beneran.
Selamat membaca readers setiaku.
__ADS_1
Tetap dukung selalu Author dengan cara like, komen, rate bintang 5, Favorit, dan Vote kalau berkenan.🙏🙏🙏 Terimakasih semuanya.
😘😘😘😘