
Pagi ini matahari bersinar dengan terang. Elisa melakukan pendekatan pada Nissa. Sepertinya Nissa menghindarinya selama ini. Pagi ini Elisa menawarkan diri untuk mengantarkan Nissa ke sekolah. Sumiyati gembira dan sangat bersemangat. Ia harap Elisa menjadi seorang ibu yang baik untuk Nissa nantinya.
Dulu Ketika berada di kota L, Elisa selalu memikirkan Malik yang telah pulang ke kampung halamannya. Sekarang ini di pikiran Elisa hanya satu, yaitu mengambil hati Nissa agar dekat dengannya.
Nissa dan Elisa berjalan beriringan. Elisa bermaksud menggandeng tangan Nissa.
"Tante gak boleh gandeng Nissa ya?" Elisa masih berusaha.
"Tante gak usah pegang-pegang! nanti Elisa bisa diejek teman-teman!" gerutu Nissa.
"Kok bisa diejek sih?" tanya Elisa heran.
"Iya dong, kan temanku tahu kalau ayah selama ini gak punya istri. Jadi kalau ada cewek yang deket dengan ayahku pasti deh aku diejek!" Sungut Nissa kesal.
"Diejeknya gimana sih sayang?" tanya Elisa lagi.
"Hmm, begini tante. Nissa punya ibu tiri, nanti Nissa di pukuli!" jelas Nissa polos.
"Apa? kenapa mereka bilang begitu? tante gak akan pernah memukul seseorang kalau ia tak bersalah sayang!" sahut Elisa tersenyum.
"Tapi, Doni bilang ibu tiri nya sering mukul lho tante. Makanya Nissa takut kalau punya ibu tiri!" Nissa berbicara dengan gaya khas anak kecil.
"Tenang saja sayang! tante akan menyayangi Nissa seperti anak kandung tante sendiri kok!" Elisa berusaha meyakinkan Nissa.
"Benarkah? tapi Nissa masih takut tante!" sahut Nissa polos.
"Gak usah takut, makanya ijinin ayah sama tante menikah ya?" tanya Elisa tenang.
"Nissa masih takut tante! biarkan saja Nissa gak punya ibu tiri!" Nissa masih Keukeh.
"Ya udah deh, nanti kita ngobrol lagi! sekolah udah di depan tuh!" seru Elisa tersenyum kecut.
"Bye tante, Nissa masuk ya!" pamit Nissa tanpa menyalami Elisa.
"Anakmu keras kepala sekali mas!" lirih Elisa.
Elisa bergegas kembali kerumah Malik. Ia harus menyiapkan perlengkapan Malik sebelum berangkat ke Apotek nanti.
Malik sudah duduk dengan santai di kursi teras rumahnya. Malik tersenyum lebar ketika melihat wanita pujaan hati melangkah mendekat.
"Eh mamanya Nissa udah dateng nih!" goda Malik tertawa.
"Gak usah usil deh mas, anakmu itu sungguh keras kepala!" sungut Elisa kesal.
"Emang ada apa dengan Nissa?" tanya Malik heran.
__ADS_1
"Dia bilang gak mau punya ibu tiri. Dia takut kalau dipukul nantinya!" jelas Elisa sedih.
"Dasar anak itu, padahal dia selalu iri dengan temannya yang punya orang tua lengkap. Eh, ini malah gak mau punya ibu!" keluh Malik.
"Sudah seminggu ini aku berusaha dekat dengan Nissa mas, tapi dia selalu menolak ku!" keluh Elisa tak sabar.
"Gimana kalau kita menikah dulu baru deh kamu deketin Nissa!" usul Malik.
"Mas bener juga nih. Tapi, nanti kalau Nissa tambah marah sama aku gimana dong?" tanya Elisa menghela nafasnya.
"Kamu benar juga sih, nanti aku minta pendapat ibu sama Fatma aja! mereka berdua itu deket banget lho dengan Nissa!" Malik berpendapat.
"Iya mas. Oh ya, aku mau masuk dulu beresin barang-barang yang mau kamu bawa nanti ke Apotek!" pamit Elisa.
"Makasih sayang karena udah mau bantuin aku!" Malik mengedipkan matanya.
"Dasar genit!" Elisa langsung masuk kedalam kamar Malik dan menyiapkan keperluannya.
"Lisa, kamu jangan sampai telat sarapan! sarapan dulu nak!" suruh Sumiyati ketika Elisa sudah selesai dan tengah duduk santai di depan televisi.
"Makasih ya bu! Lisa udah sarapan bersama Fatma tadi sebelum dia berangkat kerja!" Lisa tersenyum.
"Kalian ini! jangan terlalu sering makan diluar! besok pagi kalian harus sarapan disini!" seru Sumiyati.
Sumiyati hanya tersenyum mendengar perkataan Elisa. Dia beruntung akan mendapatkan menantu yang baik dan rajin seperti Elisa.
"Bu, kita berangkat dulu ya! ibu istirahat aja yang banyak kalau gak ada kegiatan!" seru Malik.
"Kalian berhati-hatilah dijalan! jangan lupa pesanan ibu ya Malik!" seru Sumiyati lagi.
"Oke bu, kami berangkat dulu. Assalamualaikum!" pamit Malik menyalami Sumiyati. Elisa pun menyusul menyalami Sumiyati dan mengikuti langkah Malik keluar rumah.
Ketika di dalam mobil.
"Yang, kamu gak mau ngasih aku vitamin ya?" tanya Malik.
"Vitamin? kamu sakit apa mas? kenapa mau vitamin dari aku?" tanya Elisa khawatir.
"Perlu vitamin C dari kamu sayang! vitamin ciuman!" Malik sudah terkikik geli.
"Ih mas Malik nih bisa aja!" Elisa mulai merona seperti anak remaja yang tengah di landa asmara.
"Mau ngasih gak nih? sebelum kita berangkat lho!" Malik mengedipkan matanya.
"Ya udah sini! mas mendekat dong!" suruh Elisa.
__ADS_1
Badan mereka mendekat. Bibir mereka saling menempel dan menyatu. Mereka juga bertukar saliva. Selang lima menit berlalu. Nafas Elisa sudah terengah-engah. Ia menghentikan ciuman Malik yang sudah menjalar kemana-mana.
"Mas, mau berangkat kerja gak nih?" tanya Elisa mulai sebal.
"Iya..iya.. sekarang kita rapiin dulu penampilan kita! apalagi rambut kamu tuh acak-acakan!" Malik tertawa kecil.
"Lagian kamu juga kan yang buat rambut ku seperti ini!" sungut Elisa sebal.
"Jangan ngambek sayang! nanti aku acakin yang lebih parah baru tahu kamu!" goda Malik.
"Ish, udah lah mas! kita berangkat sekarang! tuh lihat, ibu udah keluar rumah!" Elisa menunjuk Sumiyati.
"Iya, kita kabur dulu sebelum ibu ceramah!" sahut Malik mulai menancapkan gasnya.
Mobil sudah berada di jalan raya. Elisa mulai membuka ponselnya.
"Alhamdulillah, akhirnya mereka menikah juga!" girang Elisa.
"Siapa tuh yang menikah? kok kamu girang banget?" tanya Malik.
"Sandra dan Rexy mas, mereka berdua menikah! berarti Sandra udah bisa berjalan kembali kalau begitu!" Elisa mengernyit.
"Syukurlah kalau mereka menikah! tinggal kita nih yang belum nikah! padahal kawinnya udah lama lho, waktu itu!" Malik mengedipkan matanya pada Elisa.
"Mas jangan ingetin itu dong! pikiranmu sekarang mulai mesum ya!" gerutu Elisa.
"Bukan mesum sayang. Tapi lama puasa itu lho yang buat aku memikirkan kejadian waktu itu!" Malik terkekeh.
"Udah mas! gak usah dibahas deh! Apotek udah ada didepan mata tuh!" sahut Elisa.
Malik menghentikan mobilnya dan keluar. Mereka berdua masuk kedalam Apotek. Kali ini para karyawan dan pelanggan sudah tahu siapakah Elisa sebenarnya. Mereka mulai menyapa Elisa.
Elisa masih memikirkan cara untuk membujuk Nissa agar mau mempunyai ibu tiri. Elisa yang memerhatikan layar ponsel akhirnya mendapatkan sebuah ide.
"Baiklah nak! aku akan membuatmu menyetujui aku sebagai ibu mu sayang!" liri Elisa sambil tersenyum senang. Ia yakin kali ini idenya akan berhasil membujuk Nissa.
Ia jadi tak sabar menunggu hari Minggu tiba.
*
*
*Selamat membaca 🥰
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, komen, favorit, rate ⭐ 5, dan vote Mingguan gratis. Bisa follow Author juga ya 🤭
__ADS_1