Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 62. Bertemu di rumahsakit.


__ADS_3

*Elisa POV.


Pagi ini jelas sekali tanpa Matahari. Aku yang tertidur di samping brankar mas Mj terbangun dan membuka gorden kamar ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Mentari bersembunyi di balik awan. Mendung hitam laksana tahu bahwa hatiku diliputi kegundahan yang mendalam.


Dia masih terbaring lemah belum sadarkan diri.


Semoga saja tidak ada penyakit yang serius didalam tubuhnya.


Aku menuju kamar mandi. Tak sengaja aku memperhatikan diriku di cermin.


"Astaga, ternyata aku masih memakai baju tidur dari semalam. Aku lupa bawa baju ganti." Gumamku seorang diri.


Aku mencuci wajah dan berkumur serta menemui perawat agar memperhatikan kondisi mas Mj. Langsung saja aku keluar dari rumah sakit menuju rumah om Cipto. Aku harus mandi dan berganti pakaian.


...****************...


Setibanya di rumah megah Cahyono.


Aku yang keluar dari mobil, langsung tergesa masuk ke dalam rumah dan menuju kamarku.


Adik om Cipto menyambar tanganku. Dia menelisikku dari atas sampai bawah.


"Darimana kamu? punya suami tapi pulang pagi." Tanya Alexandra ketus.


"Semalem temenku lagi sakit, aku yang mengantarnya langsung ke rumah sakit." Jawabku acuh.


"Suami kamu juga sedang sakit! kenapa kamu gak menjaganya? udah bosen sama suami sendiri?" tanya Sandra sengit.


( Alexandra nama panggilan Sandra )


"Sakitnya om Cipto beda! sudah menahun dan kita juga tidak tahu kapan dia akan sembuh!" sahutku sambil melepaskan cengkramannya.


"Kamu..... lancang sekali kamu berkata seperti itu terhadap suami mu sendiri!" pekik Sandra.


"Aku capek nih! mau mandi dan ganti baju. Gak ada waktu buat ladenin orang kaya tante!" Aku berlalu meninggalkannya.


"Tiga orang berkumpul sesama jenis, pasti ini rumah sudah jadi kaya hutan belantara. Liat aja nanti tingkah mereka pasti ngeselin." Gumamku seorang diri dan melanjutkan langkah cepat ke dalam kamar.


Aku langsung masuk ke kamar mandi dan membersihkan badan.


*20 menit kemudian.


Aku memakai baju senyaman mungkin. Aku melihat om Cipto sekilas, bi Minah sudah mengurusnya ketika aku belum pulang tadi.


Terlihat om Cipto yang sudah rapi di kursi rodanya. Mulutnya seakan mengucap sesuatu. Bibirnya bergerak sedikit demi sedikit.


Aku menghampirinya.


"Pa, kamu kenapa? aku gak bisa lama di sini! temenku kecelakaan semalem. Jadi, aku harus pergi ke rumah sakit lagi setelah ini!" Seruku sambil mengusap tangan om Cipto.


Om Cipto hanya berkedip cepat. Tangannya seakan mau membalas usapanku.


"Sudah ya pa! aku harus pergi sekarang!" Seruku sambil pergi meninggalkannya.


Di ruang tamu tak terlihat si Sandra adik bungsu om Cipto. Aku setengah berlari menuju garasi dan melajukan kendaraanku.


Aku mampir ke ruko sebentar dan mengambil beberapa setel baju pria.


"Buru-buru amat sih mbak? tumben deh!" tanya penjaga rukoku.


"Kudu kerumah sakit ini! makanya gak bisa mampir lama, udah dulu ya!" pamitku langsung tancap gas ketika sudah masuk ke dalam mobil.


Selang beberapa menit kemudian, aku terjebak macet di jalan utama ini. Aku melihat sekeliling yang penuh dengan kendaraan bermotor. Sungguh jalan yang penuh dan sesak.

__ADS_1


"Tunggu dulu, mobil itu! sepertinya aku mengenal mobil itu! tapi, dimana ya?" pikirku sambil melihat mobil di belakangku.


"Duh, kok susah inget sih! padahal baru-baru ini aku kenal dengan mobil itu. Punya siapa ya?" pikirku lagi masih penasaran.


Klakson mobil berbunyi nyaring. Aku yang tergagap langsung menancap gas perlahan, berjalan melewati kendaraan lainnya.


"Sampe gak tau kalau di depan kosong, dasar aku!" kutukku sendiri.


Tik....tik....tik.


Hujan mulai turun ketika aku melangkah keluar dari mobil. Kubawa baju ganti buat mas Mj ketika dia sudah sadar dan bisa pulang nantinya. Aku berlari agar terhindar dari tetesan air hujan. Ku seka dahiku yang terkena sedikit air hujan. Ku langkahkan kaki menuju kamar perawatan mas Mj.


*Elisa POV end.


*


*


*Marshella Pov.


Aku melihatnya tergesa keluar dari kamarnya. Dia tak mempedulikanku yang tepat berada di depannya. Aku duduk di sofa ruang tamu.


Tante Sandra menghampiriku seraya mengajakku sarapan. Kami berdua memakan sarapan kami dengan cepat.


"Males makan banyak tante, udah ah segini aja!" seruku sambil beranjak pergi menjauh.


Aku keluar dan mencari orang udik itu. Mobilnya baru saja keluar dari garasi rumah.


"Tante, itu orang udik mau kemana pagi-pagi gini? bukannya dia barusan pulang ya?" seruku sambil menghampiri tante Sandra di meja makan.


"Kok malah nanya sama tante sih? mana tante tau!" sergah tante Sandra.


"Kita ikutin yuukkk tant? penasaran deh siapa yang sudah buat orang udik kewalahan di pagi hari." Ajakku menyeret lengan tante Sandra.


"Nanti kita bisa makan lagi! ayuk tant buruan!" ajakku tergesa.


Kami berdua beranjak menuju garasi. Tante menyetir dan aku duduk disampingnya.


Aku melihat jalanan, mencari keberadaan mobil orang udik itu.


"Itu dia tant!" tunjukku.


"Untung jalanan lumayan padet. Jadi, kita bisa mengejarnya sampai sini." Sahut tante Sandra.


"Awas tante Sandra! lebih baik kita jaga jarak saja!" Usulku.


"Ah biarin deh, lagian dia gak mungkin ngeh kalau ini mobil tante. Jarang tante pake selama disini, cuma hiasan di garasi doang kan!" sahut Sandra enteng.


"Terserah tante aja deh. Asalkan kita gak ketahuan!" pasrahku.


"Tuh liat! dia masuk ke rumahsakit!" tunjuk tante Sandra.


"Duh, ujan nih tant. Gimana kita mau masuk kedalem?" tanyaku.


"Dasar lu Shel, sama air hujan aja takut. Pake payung sana!" suruh tante Sandra.


"Emang tante bawa payung?"


"Tuh disana!" tunjuk Sandra ke arah kursi belakang.


"Shella mau turun ngikutin orang udik itu tant! tante mau ikut?"


"Dih males amat deh. Males ah."

__ADS_1


"Shella keluar dulu ya tant! gak lama kok."


Tante Sandra hanya mengangguk kecil. Aku berjalan masuk ke rumah sakit. Air hujan membasahi langkahku.


"Siapa ya yang membuat orang udik jadi repot dan tergesa seperti ini? temen dekat nya sekalipun gak mungkin bisa merubahnya!" lirihku penasaran.


Aku menutup payung dan meletakkannya di ruang tunggu. Ku tanyai perawat yang berpapasan denganku.


"Maaf bu, apakah ada orang yang bernama Elisa hardi disini?"


"Saya tidak tau dek, coba saja tanya ke konter bagian administrasi." Sarannya.


"Baiklah kalau begitu, terimakasih bu." pamitku sambil meninggalkannya.


Aku mencari konter administrasi dan berhasil menemukannya.


"Maaf bu, saya mau nanya. Apa benar ada Elisa Hardi yang membayar seorang pasien disini?"


"Maaf ya kalau saya boleh tahu, adik ini siapa? pihak rumah sakit tidak bisa membocorkan identitas siapapun!" tegas petugas itu.


"Saya anak tiri ibu Elisa Hardi. Beliau tadi meminta saya datang tapi, ponsel saya tertinggal bu. Tolong saya, dimana sebenarnya ibu tiri saya bu?" pintaku memelas. Kebohongan yang entah berapa ratus kali aku lakukan.


Petugas itu melihatku yang sedang berakting sok sedih dan galau. Akhirnya terucap sesuatu dari mulutnya.


"Baiklah, akan saya cari. Kamu tunggu sebentar ya!"


"Terimakasih banyak bu!" kataku girang.


Senyum merekah di bibirku ketika aku sudah tahu dimana orang udik itu berada. Aku langsung melangkah kesana.


Tap, tap, tap.


Suara langkah kakiku terdengar keras.


Ceklek, aku membuka pintu kamar perawatan.


Dia, wanita itu sedang menggenggam tangan pasien. Aku terkejut ketika melihat siapa pasien itu.


"Kamu, kenapa bisa disini?" tanya orang udik langsung melepaskan tangannya dari om Mj.


"Elo juga ngapain disini? pegang-pegang tangan om Mj lagi!" gerutuku kesal.


"Jangan buat keributan disini! ini rumahsakit!" suruhnya.


"Papa juga sedang sakit. Tapi, elo malah berduaan sama om Mj disini. Sakit apa om Mj tuh?"


"Dia hanya kelelahan saja! sebaiknya kamu pulang!" serunya.


"Gue akan pulang dan nanti sore kembali ke sini lagi! kalau gue kesini nanti sore, elo harus pergi. Ngerti!!!" ancamku.


"Terserah kamu saja, lagi males ladenin kamu. Asalkan mas MJ bisa pulih kembali."


"Eh, lo gak usah macem-macem ya sama om Mj. Elo itu udah bersuami, jangan sampe suka sama om Mj gue. Ngerti gak sih?" aku menekankan suara.


Tap, tap, tap. Elisa dan Marshella menoleh ke asal suara tapak kaki yang mendekat.


Ceklek, pintu terbuka dan mereka berdua terdiam melihat orang yang baru datang ke kamar ini.


*


*


*Happy reading.

__ADS_1


__ADS_2