
Rumah keluarga Cahyono.
*Alexandra POV.
PRAAAAANNNNNGGG.
Suara barang terjatuh terdengar dari sudut lain di rumah ini. Suara itu seperti suara barang pecah belah.
Aku melihat sekeliling. Tak ada apapun yang jatuh. Aku bertanya pada bi Minah yang telah selesai mencuci piring.
"Bi, tadi denger sesuatu gak sih?"
Bi Minah hanya menggeleng. Mungkin dia tak mendengar suara tadi karena suara air yang gemericik.
Aku mendekati ruangan baca. Dia tergeletak di lantai. Di sebelahnya ada gelas kaca yang pecah tak beraturan. Ada air bening sedikit mengalir di pipinya. Mungkin dia tengah menahan sakit.
"Biikkkkkkkkkk." Teriakku kencang.
Bi Minah tergopoh mendekat. Dia langsung terperanjat melihat bang Cipto tergeletak begitu saja di lantai.
"Ya Allah non, gimana ini?" tanya bi Minah panik. Raut wajah itu panik dan ketakutan.
"Panggil sekuriti bik! nanti kita angkat ke sofa diruang tamu." Seruku.
Aku berpikir apa yang seharusnya aku lakukan sekarang ini.
"Ambulans, aku harus menghubungi ambulans secepatnya." Aku langsung berlari kearah kamarku. Langsung saja aku mengambil ponsel diatas nakas. Ku panggil nomer darurat dan secepatnya meminta bantuan Ambulans datang.
"Sss-aan-draa...." suara Cipto lirih dan pelan sekali.
Setelah menelepon Ambulans aku melihat bi Minah yang membawa sekuriti masuk.
"Pak, kita gotong Abang ke sofa dulu! gue sudah panggil ambulans kemari." Suruhku.
"Baiklah nona!" sahutnya.
Kami bertiga bersusah payah membawa Abang Cipto untuk berbaring di sofa. Ada beberapa memar di wajah dan anggota badan bagian kanannya. Raut wajahnya berubah sendu. Aku tak tahu apa yang ada di dalam pikirannya.
"Non Sandra, sepertinya tuan mencari nyonya Elisa." Kata bi Minah gugup.
"Kok bisa bi? Abang kan gak bisa ngomong. Kenapa, bibi bisa tau?" tanyaku.
"Tuan selalu mencari nyonya kalau sesuatu terjadi dengannya. Raut wajah ini, bibi hafal betul non." Jelas bi Minah.
"Ya sudah bi, hubungi saja Elisa!" seruku acuh.
Ada gue juga disini, malah nyariin itu orang kampung.
Bi Minah melakukan apa yang aku suruh. Suaranya terdengar panik ketika menghubungi Orang kampung itu.
...----------------...
*Author POV
Elisa dan Mj yang tengah menikmati makan siang. Makanan mereka hampir habis.
__ADS_1
"Gimana mas? enak kan?" tanya Elisa.
"Enak, aku kan orang kampung. Jadi, belum pernah makan yang seperti ini." Jawab Mj jujur.
"Semua makanan ini buatan koki Italia mas. Hanya ada di 8 kota besar di seluruh Indonesia." Jelas Elisa antusias.
"Benarkah? pantesan rasanya aneh dan pertama kali terasa di lidah." Mj keceplosan.
"Tadi bilang enak, eh sekarang malah bilang aneh. Yang bener yang mana nih?" Elisa sebal.
"Sebenarnya aneh di lidahku. Aku kan baru pertama kali makan. Jadi, wajar saja sih." Mj menjawab jujur.
"Owh begitu ya! lain kali kita makan di warteg aja deh kalau gitu!" seru Elisa.
"Enak tuh, mas suka makanan ala warteg." Ucap Mj jujur.
Tulalittt, tulalittt, tulalittt.
Dering ponsel Elisa nyaring.
"Tumben ada telepon dari rumah." Elisa mengernyit.
Dia langsung menjawab panggilan itu.
"Eh, bi Minah. Ada apa bi?" Elisa bertanya dengan senyuman ringan.
"Tuan tadi jatuh nyonya, sekarang akan di bawa kerumah sakit." Terang suara sebelah.
"Kok bisa sih bi? di rumah sakit mana bi?" raut wajah Elisa berubah cemas.
"Masih menunggu Ambulans nyonya. Lebih baik nyonya pulang sekarang karena tuan mencari anda." Seru bi Minah.
Dia mematikan ponselnya dan menuju konter pembayaran. Kami berdua keluar restoran ini.
"Kenapa Lis? kenapa kamu cemas dan panik gitu?" tanya Mj setelah mereka berdua berada didalam mobil.
"Om Cipto mas, dia jatuh dari kursi roda!" jawab Elisa.
"Kok bisa gitu? dia kan gak bisa bergerak. Kenapa bisa jatuh?"
"Aku juga gak tau! sekarang juga kita pulang kerumah mas!"
Mj hanya mengangguk. Dia langsung mengarahkan kendaraan kearah jalan pulang.
30 Menit kemudian Elisa dan Mj baru sampai di rumah.
Elisa setengah berlari masuk kedalam rumah.
Dia menatap sekeliling.
"Dimana om Cipto?" gumam Elisa.
"Biiii, bi Minah." Teriaknya.
Bi Minah yang mendengar suara Elisa langsung menghampiri majikannya.
__ADS_1
"Nyonya, kenapa lama sekali?" tanya bi Minah.
"Tadi macet di jalan bi, mana tuan? di rumah sakit mana dia?" tanya Elisa bertubi-tubi.
"Dibawa kerumah sakit Harapan maju nyonya. Nona Sandra yang menemani tuan." Jawab bi Minah.
"Bibi jaga rumah ya! kalau Marshella dan Silvia pulang kasih tahu mereka. Sekarang biarkan saja mereka berdua fokus dengan pelajarannya." Pesan Elisa.
"Baiklah nyonya!" sahut Bi Minah.
Elisa langsung keluar menghampiri Mj yang berada di teras rumah. Mj yang duduk langsung berdiri ketika melihat Elisa mendekatinya.
"Kenapa lagi Lisa?"
"Kita pergi ke rumahsakit Harapan Maju mas!"
suruh Elisa.
"Baiklah, ayo kembali ke mobil!"
Mereka berdua memacu kendaraan kerumah sakit Harapan Maju.
Sementara di rumah sakit.
Sandra panik karena Cipto yang mulai tak sadarkan diri sejak masuk ke rumah sakit ini.
Dia khawatir akan abangnya itu.
Dokter keluar dari kamar pasien. Dan mengajak Sandra berbincang.
"Anda wali dari bapak Cipto?" tanya dokter.
"Iya dok, saya adik kandungnya." Jawab Sandra.
"Tidak ada yang serius dengan kondisi pasien. Hanya saja beliau mengalami kejang ringan karena penyakit stroke." Terang Dokter.
"Terimakasih dokter, apa sekarang saya bisa masuk menemui Abang saya?" tanya Sandra.
"Silahkan saja, pasien baru saja sadar." Dokter itu tersenyum dan pamit kepada Sandra.
Sandra masuk keruang rawat Cipto.
Dia melihat abangnya yang terbaring lemah.
Tangannya di infus. Cipto menoleh kearah Sandra yang menghampiri nya di dekat brankar.
"San-dra, kk-e-mar-ilah." Panggilnya pelan.
"Abang, Abang sudah mulai jelas bicaranya!" girang Sandra.
"Si-ni, ce-pat!" panggil Cipto lagi.
Sandra terkejut, ada sesuatu yang menyentuh tangannya......
*
__ADS_1
*
* Selamat membaca 🥰🥰