Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 103. Mulai melangkah tanpa mu


__ADS_3

*Kampung Malik.


Sudah satu bulan lebih Malik pulang dari perantauan. Ia sudah tak seberapa galau dan kecewa seperti sebelumnya. Aktifitas yang padat membuatnya berangsur melupakan Elisa.


Evans memberikan tanggung jawab pada Mj untuk mengurus semua proses pembangunan apotek barunya.


Mulai dari sekarang itulah kesibukan Malik di kampung nya. Ia dan Evans memilih tempat yang strategis dan ramai penduduk.


Lokasi yang bagus untuk memulai sebuah usaha di perkampungan. Dan apotek itu nantinya akan menjadi yang pertama di kampung Malik.


Evans dan Fatma menggelar acara pertunangan mereka di rumah Evans yang besar di kota.


Pesta yang di gelar cukup meriah dan mewah.


Orang tua Evans yang berada di Australia pulang dan bahagia akan perkembangan kisah cinta anaknya. Walaupun awalnya mereka tak setuju karena Evans memilih menjadi muallaf dan mencintai gadis lokal untuk menjadi calon pengantin kelak.


Hanya orang tua Fatma yang merasa kurang akan sesuatu. Ya, mereka masih saja memikirkan Toni yang berada di dalam penjara.


Acara tunangan Fatma dan Evans pun tak menjadikan Zaenab dan Ahmad merasa bahagia. Fatma kecewa karena orang tuanya hanya duduk termenung di acara bahagia nya itu. Fatma hanya bisa menghela nafasnya dan membuangnya kasar. Ia beranjak dari duduknya dan mendekati Evans yang berbincang dengan para tamu undangan.


Acara malam itu berakhir dengan indah walaupun Fatma masih kecewa dengan sikap kedua orangtuanya. Kehadiran keluarga Malik membuat Fatma menyunggingkan senyum bahagia.


Malik dan keluarga nya pulang dari acara tunangan Fatma. Malik menyetir mobilnya sendiri. Ia mengangsur kendaraan atas keinginan Evans agar mudah untuk mengurus pembangunan apotek yang belum selesai.


Evans membantu membayar uang muka mobil itu ketika mereka berada di dealer dan memilih mobil yang pas untuk Malik.


Di depan sana rumah Malik sudah terlihat.


Mobil itupun masuk kedalam pekarangan rumah yang mungil. Annisa sudah tertidur lelap semenjak masuk ke dalam mobil. Ia sungguh bahagia sekali tante kesayangannya akan menikah sebentar lagi. Tadi dia selalu mengikuti Evans dan Fatma. Ia menggandeng tangan keduanya. Sampai-sampai tamu beranggapan bahwa Annisa adalah anak Fatma. Annisa sungguh lincah di pesta itu.


Nissa tidur dengan lelapnya, ia di gendong oleh sang ayah menuju kedalam rumah.


Keluarga Sugeng Jayadi sampai di rumah dengan keadaan yang letih. Mereka di perkenalkan sebagai keluarga baru Evans.


"Kamu bawa kekamar saja ya nak! biar nanti ibu yang gantikan bajunya Nissa!" seru Sumiyati ketika beliau turun dari mobil.


Malik masih menggendong Nissa. Bobot Nissa sudah jauh berbeda dengan 2 tahun sebelumnya. Ia semakin tinggi dan berisi. Malik mulai memberikan perhatian kembali pada anaknya itu.


Malik menunggu orang tuanya masuk duluan kedalam rumah. Ia kemudian menyusul dan langsung menuju kamar membaringkan Nissa di ranjang nya yang empuk. Ya, sekarang Nissa sudah punya kamar sendiri. Malik tidur di kamar paling kecil sebelah kamar mandi yang sudah lama tak terpakai.


Sumiyati sudah berganti baju. Ia langsung menyusul Malik kedalam kamar Nissa.


"Biar ibu lap badan Nissa nak! sekalian mengganti bajunya, kamu Istirahat lah yang cukup! besok masih banyak pekerjaan yang menunggu!" suruh Sumiyati pada anak kesayangannya.


"Baiklah bu! Malik akan kekamar mandi sebentar!" Malik beranjak dan melangkah Keluar kamar.


"Lumayan pegel dan capek juga malam ini!" Malik bergumam setelah keluar dari kamar mandi.


Ia masuk kedalam kamarnya yang lebih sempit.


Kamar Sekarang yang dia tempati mengingatkannya akan kenangan silam sewaktu kecil. Disinilah Malik dulu tidur, Malik yang hanya seorang anak kecil selalu di ganggu oleh kedua kakak nya si Ipah dan Amah.

__ADS_1


Malik selalu di kunci dari luar ketika kakaknya itu pergi bermain bersama temannya di luar rumah. Orang tua mereka tak mengetahui itu. Sampai suatu ketika Sumiyati pulang mendadak dan mendengar suara isak tangis seseorang. Ia mencari sumber suara, betapa kagetnya ia ketika ada kunci tergantung di handel pintu anak bungsunya. Ia membuka kunci itu dan mendapati Malik menangis sesenggukan.


"Siapa yang mengunci kamu nak?" tanya Sumiyati prihatin.


"Kak Pah, kak Mah bu!" Malik menjawab sambil sesenggukan.


Sumiyati memeluk Malik kecil, ia mengambil minuman instan yang baru saja di belinya.


Semenjak kejadian itu Sumiyati merasa tak peduli pada kedua anak perempuannya. Ipah dan Amah sudah remaja sementara Malik masih berusia 7 tahun di kala itu.


"Kalian masih saja kecewa dan marah dengan ibu, padahal itu semua ulah kalian dulu!" Malik menghela nafas mengingat kenangan masa lalu.


Ia juga mengingat sebuah kejadian manis dan pahit dalam hidupnya. Tanpa sadar ia terlelap dalam buaian malam.


...****************...


*Rumah bunda Marwah.


Elisa yang merasa hampa dirumah cahyono hanya bisa melampiaskannya bersama Marwah. Dalam 2 bulan terakhir ia mengunjungi bundanya lebih sering tak seperti dulu. Apalagi Elisa memberikan alasan kepada Cipto bahwa bundanya itu tengah sakit dan tidak bisa ditinggalkan seorang diri.


Cipto pun tak sanggup membiarkan Elisa bersedih karena ia tahu bahwa Elisa sangat menyayangi Marwah. Ia mengijinkan Elisa menginap di rumah Marwah sesuka hatinya.


Ia sudah tak khawatir lagi karena Mj yang sudah ada di kampung halamannya tidak akan pernah bertemu Elisa lagi.


Elisa sampai di rumah itu. Marwah yang masih sedikit lemah menunggu di kursi teras rumahnya. Ia tersenyum ketika Elisa keluar dari mobil dan menghampiri.


"Bunda tunggu di dalam saja kan bisa!" seru Elisa yang mencium tangan Marwah.


"Gak bisa nak! suntuk dirumah terus setelah keluar dari puskesmas." Marwah menyahut.


"Bunda mau minum gak? biar aku buatkan!" tawar Elisa pada Marwah.


"Buatin teh pahit anget saja nak!" Marwah tersenyum lembut.


Elisa mengangguk dan beranjak pergi kedapur.


Tiba-tiba ia teringat pada Mj. Di dapur ini ada kenangannya bersama Mj. Mereka tak sengaja saling bersentuhan dan menautkan jemarinya di ruangan ini. Air bening mulai menyeruak dari netra Elisa. Ia mengusap perlahan dan melanjutkan membuat teh untuk Marwah.


"Hampir dua bulan mas, tapi aku masih belum bisa melupakan mu!" Elisa bergumam lirih.


"Apa kamu disana masih mengingat ku mas?" tanya Elisa di balik lamunannya.


Elisa membawa teh untuk Marwah dan ia langsung memainkan ponselnya. Ia tak mau membuat karyawannya bertanya-tanya dimana dia berada. Sang karyawan kepercayaannya selalu dapat diandalkan untuk mengurus toko online dan offline kepunyaan Elisa.


Setelah menghubungi karyawan nya Elisa langsung membuka akun sosial media yang ia punya. Ia membuka akun sosmed yang berwarna biru. Sudah lama ia tak meng update kegiatannya beberapa bulan terakhir.


Ia larut menaik turunkan layar ponsel, melihat akun sosial media dari para pengikutnya. Sesekali ia tertawa lepas ketika tak sengaja menonton video iklan luar negeri.


"Sudah lama kamu tak pernah tertawa seperti ini nak! Semoga saja kebahagiaanmu akan secepatnya menghampiri!" Marwah berdoa dengan tulus.


Ia yang masih memperhatikan tawa Elisa yang lepas seakan lega. Walaupun mungkin nanti Elisa akan kembali bersedih ketika mengingat Mj.

__ADS_1


...----------------...


*Kediaman Cahyono.


"Mau kemana lagi kamu Shel?" tanya Sandra pada keponakannya.


"Terserah Shela dong mau kemana! lagian Shella sumpek dirumah terus te, Pokoknya hari ini Shella harus shopping!" Shella langsung melangkah pergi meninggalkan Sandra.


"Dasar tuh anak! emosi mulu kalau sama gue! pasti masih kesal karena gue ngusir supir kampung itu dari sini!" dengus Sandra kesal akan perlakuan Shella.


"Tante!" panggil Silvia yang baru keluar dari kamar.


"Ini lagi satu!" Sandra menoleh kearah Silvi.


"Tante, yuk temenin Silvi ke rumah temen!" ajak Silvia.


"Gue gak boleh kemana-mana Sil! om elu gak ngebolehin gue nyetir sendiri!" sahut Sandra.


"Udah mulai bucin nih sama om Rexy. Udah kaya suami istri aja sih sama om Rexy sampe-sampe dilarang kemanapun!" sungut Silvia sebal.


"Rexy bilang ini demi keselamatan gue! dan kalau gue mau kemana-mana ada dia yang nganter!" sahut Sandra.


"Ya udah, Silvi naik taksi aja kesana!" Silvia berjalan sambil menghentakkan kakinya.


Di depan rumah itu masih saja ada mobil hitam yang memantau. Mereka tak menyerah menunggu Sandra yang keluar seorang diri.


"Gila si bos kita! udah satu bulan ini kita disuruh jaga disini!" ucap pria botak kesal.


"Nurut aja kenapa sih! cuma kaya gini doang kok repot elo tuh!" sahut pria cepak enteng sambil bermain ponsel.


Kriiiiinggg.


Ponsel berdering kencang.


Pria botak itu melihat layar ponselnya.


"Panjang umur nih tuh manusia!" seru pria botak.


"Cepet lu angkat, nanti ngomel dia tuh!" sahut si cepak tak sabar.


Mereka berbincang didalam mobil.


Mereka berdua tidak tahu bahwa ada seorang pria yang mengintai dari kejauhan. Ia tak mau membuat majikannya kecewa.


*


*


*


*

__ADS_1


Jangan lupa untuk like nya 👍 pada setiap episode. Komen, rate ⭐ 5, favorit dan vote Mingguan gratis. Dukung terus karya author.


Terimakasih 🤭🤭


__ADS_2