Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 25. Kecurigaan


__ADS_3

Fatma yang sudah siap berangkat kerja


merasakan sesuatu yang aneh. Semenjak


kecelakaan itu, tingkah Toni terhadapnya


berubah. Toni seperti menghindari tatapan


matanya. Dan bertingkah seakan lebih peduli


daripada biasanya.


" Biasanya mas Toni rada cuek sama aku, tapi


akhir-akhir ini dia lebih perhatian, walaupun dia


selalu menghindari tatapanku, ada yang salah


dengan mas Toni. Apa dia menyembunyikan


sesuatu?", lirih Fatma yang sudah berada


didalam mobil.


Fatma memandangi sekeliling rumahnya, hari


ini seperti biasanya, mobil Toni tidak ada


dirumah.


" Orangnya ada, mobilnya gak ada, apa dibawa


kebengkel?", tanya fatma bergumam seorang


diri.


" Ah....udahlah, aku berangkat aja, bisa pusing


lama-lama mikirin keanehan mas Toni", sambil


melajukan kendaraannya keluar rumah.


Didalam rumah, Toni yang berada di kamarnya


hanya berbaring di tempat tidurnya yang


empuk.


Dia memegang ponselnya dan mengetik


beberapa pesan. Pesan yang dikirimnya


berbalas.


Isi pesan.


" Bro....nanti malam jangan lupa bawa


barangnya yang banyak, temen geng gue mau


nongkrong di tempat biasa, okey!", pesan


seseorang.


" Tapi, malam ini gue libur kesana bro, kalo


harganya mau naik dikit, gue bisa usahain deh",


tawar Toni.


" Tenang saja bro, kita-kita mah sudah sedia


duit buat nanti malam, lu kagak usah kuatir


dah, asalkan barang ada, duit juga nampol lu


dah", balas pesan tadi.


Toni tersenyum membaca isi pesan itu.


Malam ini tangkapannya bukan ikan teri lagi


tapi ikan hiu.


" Okey...okey, gue bawain lebih nanti malam ",


Toni mengakhiri pesan.


Toni tersenyum lebar sambil menyiapkan


beberapa bungkusan yang dia simpan di


dalam sepatu baru yang masih berkotak dan


tersusun rapi diatas lemari pakaiannya.


Dia mengambil 3 bungkusan plastik putih kecil


berisi serbuk dan pil putih kecil.


Dia memainkan barang itu sambil berkata.


" Malam ini harus laku nih, kalo barang sudah


habis, aku gak mau jualan ini lagi, lagian duit


tabunganku cukup buat beli tanah dan bangun


restoran di kampung ini".


Toni keluar dari kamar setelah menyiapkan


sepatu baru yang masih terbungkus rapi


dalam kotaknya.


Dia bersiul senang dan masuk kedalam kamar


mandi. Senyum menghiasi wajahnya.


...----------------...


Di bengkel, Andi yang mulai bosan hidup di


kampung ini sering melamun. Dia berpikir


bagaimana caranya agar bisa hidup di kota


kembali.


Bruagh....

__ADS_1


" Woi...melamun aja kamu Di, liat tuh bannya


udah melar", Helmi memukul ringan badan


mobil sambil menunjuk ban mobil yang mulai


membesar.


" He...he...maaf mas, lagi ruwet", cengir Andi


membuang kembali angin yang lebih dari ban


mobil tadi.


" Kalo punya masalah itu cerita, entah sama


istrimu atau orang yang kamu percaya, jangan


di pendam sendiri. Lama-lama nanti meledak


kaya ban meletus", mas Helmi menasehati


Andi.


" Iya mas Hel, nyantai aja, gak ruwet banget


kok pikiranku, cuma sudah mulai bosan kerja


dikampung ini". Andi berucap.


" Semua orang memang pernah jenuh dengan


kegiatan sehari-harinya, rasa bosan pasti ada


Di, tapi ketika mereka melihat kembali anggota


keluarga yang lain, perlahan rasa jenuh itu


menghilang berganti semangat ingin


membahagiakan orang-orang tercinta", pesan


Helmi lagi.


" Makasih mas atas nasehatnya", Andi


mengangguk mengiyakan perkataan Helmi.


" Ya sudah, mas tinggal ke kamar mandi bentar,


jangan melamun lagi", Helmi menepuk pundak


Andi sambil berlalu meninggalkannya.


Andi hanya bisa menghela nafasnya. Dia juga


tak mau suatu saat harus bertemu dengan


mantan suami Rosyanti. Dia hanya malas


bertemu dengan orang yang sudah menyakiti


hati Rosyanti dulu.


Ya ...Andi hanya tau bahwa suami Rosyanti


dulu cuek dan tak perhatian kepadanya.


kekota bersamanya.


...----------------...


" Yangti....Nissa mau ganti baju Amara dulu ya",


sambil melangkah membawa boneka barunya


masuk kedalam kamar.


Nissa mengganti baju boneka Barbie yang


bernama Amara dengan baju baru yang belum


pernah di kenakan Amara.


" Anak itu, ganti baju boneka aja kudu masuk


kekamar dulu", Sumiyati tersenyum melihat


tingkah cucunya.


Nissa sudah keluar dengan membawa dua


buah boneka, Amara di tangan kanannya. Dan


Molly di tangan kirinya.


" Yangti...lihat deh, bagus gak?", sambil


menunjuk Amara yang sudah berganti baju.


" Bagus kok, tapi kenapa Amara ganti baju di


dalem kamar? disini kan bisa?", tanya Sumiyati.


" Malu dong Yangti, kalo ganti baju di luar",


jawab Nissa polos.


Sumiyati hanya mengangguk tanda setuju.


Setidaknya cucunya mendapat didikan rasa


malu sedari kecil. Dia bangga pada cucunya


itu.


Mereka berdua bermain kembali seperti biasa.


Sudah sebulan Sumiyati tidak mendapat


panggilan untuk mencuci baju tetangganya.


Jadi dia bisa menemani cucunya bermain


sepuasnya.


...----------------...


------Flashback.


Dua orang yang mengobrol diterminal beberapa

__ADS_1


hari yang lalu menunggu seseorang di sebuah


warung makan dekat terminal.


" Itu dia orangnya", tunjuk pria rambut gondrong


pada seseorang yang baru masuk.


Teman disebelahnya pun menoleh kearah pintu


masuk.


" Akhirnya datang juga", senyumnya lebar.


Mereka berbincang merencanakan sesuatu.


Setelah dirasa kesepakatan sudah dicapai,


mereka sama-sama tersenyum puas sambil


melihat satu sama lain.


" Bro...elu kalo udah mesen trus janjian sama


Toni, kasih tau kita ya, saat itu juga gue


hubungin pak ici pake telpon umum",


sengirnya lebar.


" Beres, asal ada ini...semua ini bisnis bro",


sambil memilin tangannya pertanda minta


bayaran.


" Lu tenang aja, bos kita udah siapin barang


bagus buat lu, lu mau mentahan juga bisa ",


jawab pria berambut gondrong.


Mereka tertawa kegirangan bersama. Membuat


perhatian orang di dalam sana memperhatikan


kebisingan mereka.


" Rencana ini harus berhasil bro, kita harus


menguasai pasar disana, disana itu


menjanjikan buat kita", ucap pria botak.


Mereka berdua yang mendengarkan hanya


mengangguk tanda setuju.


Setelah puas berbincang, makanan yang


dipesan sudah datang. Tanpa segan mereka


menyantap makanan yang ada di depan


mereka. Berharap apa yang sudah mereka


rancang dan lakukan tidak sia-sia belaka.


----- Flashback off


...----------------...


Toni yang sudah menghubungi Cindy


kekasihnya, menyuruh perempuan itu


mengambil mobilnya dirumah Rudi.


Toni berjalan keluar rumahnya dan masuk


kedalam mobil yang sudah Cindy bawa


untuknya. Cindy menukar posisinya dengan


Toni. Toni yang sudah memberitahukan


pesanan tadi sungguh bersemangat.


" Mas yakin dia bisa dipercaya? kalo anggota


gengnya gak jadi nongkrong di bar gimana


dong?", tanya Cindy.


Perasaan Cindy sudah dua hari ini tak enak.


Pikirannya kemana-mana. Hatinya tak tenang.


Entah apa yang akan terjadi.


" Sebelum kita pergi ke bar biasa, gimana kalo


kita mampir dulu ke hotel beb?", Toni


mengedipkan matanya kearah Cindy.


" Kamu tuh mas, kebiasaan. Tapi boleh juga sih,


lagian kamu gak mabuk, aku gak suka kalo


tidur bareng, kamu itu bau alkohol", senyum


Cindy sumringah.


" Kita muter-muter dulu ya beb, makan dulu,


agak malam dikit baru deh lanjut cao kehotel",


usul Toni sambil mengelus pipi Cindy.


Mereka berdua berciuman di dalam mobil,


saling menempelkan bibir dan mengakhirinya


dengan nafas yang terengah-engah.


Mobil sudah melaju di tengah jalan. Malam


panjang akan menjadi saksi dosa mereka


berdua.

__ADS_1


__ADS_2