Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 18. Sakit Hati


__ADS_3

Malam hari dirumah Andi.


"Eh...Ti...kamu kenapa belom mandi? dah


sore loh?" tanya Andi.


"Ah...males mas, lagian cuma dirumah gini,


ngapain mandi mulu." Jawab Rosyanti malas.


"Mandi gih....abis isyak kita makan malem


diluar, mumpung aku libur lagi," lanjut Andi.


"Yang bener mas? kamu gak boong kan?"


tanya Rosyanti berbinar.


"Ya gak lah...lagian aku bosen makan


masakanmu mulu...malem ini pengen


makan mie ayam bakso," lanjut Andi.


"Kalo gitu...aku mandi bentar, terus siap-siap."


Ujar Ros semangat.


"Ya udah...sana gih!" seru Andi.


Ros yang selama ini sudah bosan dirumah.


Akhirnya kembali bersemangat ketika diajak


suaminya pergi keluar mencari makanan.


Mereka sudah bersiap dan mengendarai motor.


Setelah berkeliling mencari gerobak mie ayam,


akhirnya mereka memutuskan nongkrong


sekalian makan mie ayam di tempat.


"Disini lumayan rame mas, sepertinya enak


makanannya. Mana bisa lesehan lagi," ucap


Rosyanti mengajak Andi.


"Ya sudah kamu pesen makan sana! biar aku


cari tempat duduk," lanjut Andi.


"Okay...," sahut Ros.


Belum beranjak dari tempatnya berdiri, Ros


melihat Malik melintas. Di belakangnya ada


Nissa yang memeluk ayahnya dari belakang.


Malik menyetir dengan satu tangan dan


perlahan, agar Nissa bisa melihat sekeliling.


Sudah lama Nissa tidak keluar di malam hari.


Dengan sorot mata sedih dan sendu, Ros


melihat dan memperhatikan mereka berdua


sambil menghela nafasnya perlahan.


Pikirannya dipenuhi Malik dan Annisa, gadis


kecilnya.


Andi yang tak sengaja melihat Malik, hanya


menatap heran ke arahnya.


"Tumben Malik bawa anaknya malem-malem.


Biasanya kan dia hanya bawa anaknya kalo


masih siang," batin Andi.


Pesanan sudah siap dan Andi melahap


makanan di depannya, sementara Rosyanti


memakannya dengan tak selera. Bukannya


karena tak enak...tapi, karena memikirkan


orang-orang di masalalunya.


...----------------...


"Yeayy....Sampe Yah," seru Nissa ketika sudah


sampai di halaman rumah Fatma.


"Masuk yuk! tapi, Nissa gak boleh ganggu


tante ya! tante masih sakit lho," ucap Malik


pada anak gadisnya.


Nissa hanya mengangguk semangat.


Mereka melangkah ke dalam rumah yang


sebelumnya sudah di bukakan pintu oleh


Zainab.


Zainab yang menuntun Nissa masuk, merasa


senang akan kehadiran bocah mungil yang


manis ini.


"Tante....," seru Nissa sambil berlari kepelukan

__ADS_1


Fatma yang duduk di sofa ruang tamu.


"Wah...udah tambah tinggi ajah nih," Fatma


mengelus kepala Nissa.


Annisa yang mendapat perhatian dari Fatma,


hanya bisa menyengir lebar.


Malik yang melihat tingkah anaknya hanya


menggelengkan kepalanya.


"Duduk aja mas...ngapain berdiri disitu!" suruh Fatma.


Malik duduk di samping Fatma, posisinya


agak jauh dari tempat Fatma duduk.


"Tante....ini kepalanya masih sakit gak?" Nissa


mengusap kepala Fatma yang masih di


perban.


"Udah gak...kok...sayaangg," sambil mencubit


pipi Nissa gemas.


"Ini ...dimakan dulu cemilannya!" suruh Zainab


yang sudah kembali dari dapur membawa


makanan ringan dan minuman.


"Duh...maaf sekali bu, ngerepotin ..seharusnya


kami yang bawa makanan buat Fatma," lirih Malik.


"Gak usah sungkan nak Malik...kita ini kan


sudah seperti keluarga sendiri," sahut Zainab.


"Makasih bu...," ucap Malik.


"Nissa...mau makan eskrim gak? eyang punya


eskrim rasa coklat di kulkas," tawar Zainab.


Nissa mengangguk setuju sambil mengucap.


"Iya ...Nissa mau eskyim eyang," tangannya


terbuka lebar.


"Eyang ambil dulu ya!" lanjut Zainab dan


berlalu pergi.


"Bilang apa Nis, kalo diberi sesuatu?" tanya Malik.


"Makasih ya ...tante Fatma," cengir Nissa lebar.


dong...kan eyang yang bawa eskrimnya,"


sahut Fatma tersenyum kecil.


"Iya deh Tante," lanjut Nissa lagi.


Malik melihat sekeliling dan bertanya.


"MasToni sama bapak kemana? kok mereka gak ada?"


"Mas Toni pergi ke rumah Rudy...temennya.


Kalo bapak sih udah tidur mas, kecapean


mungkin," jawab Fatma.


Mereka bertiga tertawa karena kelucuan Nissa.


Rumah yang biasanya selalu sepi karena


orang-orangnya sibuk dengan urusan


masing-masing jadi berwarna akan celotehnya.


Zainab melihat Malik, Fatma dan Annisa.


Dia hanya bisa berharap kalo anaknya Fatma


bisa mendapat lelaki sebaik Malik.


"Malik mungkin minder karena orang gak mampu, padahal anaknya baik, Fatma juga gak


masalah akan statusnya...tapi, hati memang


tak bisa di paksakan," batin Zainab.


Setelah dirasa cukup lama menjenguk,


akhirnya Malik dan Nissa berpamitan.


Fatma berjalan perlahan mengantar kepergian


mereka didepan teras rumah.


"Sepi lagi deh ini rumah," gumamnya seorang diri.


"Makanya nikah nak, usiamu juga sudah pas


kok untuk menikah, apalagi mas kamu tuh,


temen-temennya udah pada punya anak,


Malik aja yang adik kelasnya udah punya anak,


ah...kalian ini emang gak sayang orang tua,"


keluh Zainab panjang lebar sambil masuk


kembali kedalam rumah.


Fatma yang berjalan perlahan tak dihiraukan

__ADS_1


oleh Zainab karena perasaan kesalnya tadi.


"Ibuk...nih...baperan amat jadi orang tua,"


gumam Fatma seorang diri melanjutkan


langkahnya.


...----------------...


"Assalamualaikum," serentak ayah dan anak


memberi salam.


"Waalaikumsalam.... lama ya kalian pulangnya.


Emang Nissa gak ngantuk?" tanya sang nenek.


"Enggak Yangti (eyang putri), tadi Nissa


makan eskyim..makanya gak ngantuk," sambil


tersenyum lebar.


"Aduh...jangan ngompol ya kalo bobo!


sekarang masuk yuk...Yang kung ( eyang


kakung) nunggu kalian di depan Tivi!" suruh


Nenek Nissa.


Mereka melangkah masuk bersama, Malik


hanya menahan tawanya ketika melihat


bapaknya yang sudah tertidur di depan televisi.


"Bukannya nonton...eh...malah di tonton,"


gumamnya pada sang ibu.


"Eyang kung dah bobo kok...Nissa kebelet pipis


Yangti," tarik Nissa pada tangan neneknya.


"Langsung kekamar mandi yok sayang," ajak


neneknya.


Sementara Malik berlalu pergi kekamar dan


mengganti bajunya.


Nissa sudah masuk dan menemani Malik di


kamar. Selang beberapa lama akhirnya mereka


terlelap, terpikat sang malam.


...----------------...


Toni bersama Cindy di sebuah bar terdekat


dari kampungnya.


"Untung aja...Fatma gak kenapa-napa," Toni


mulai emosi.


"Maaf mas....aku gak sengaja, aku hanya


mengantuk setelah pulang kerja," Cindy merasa bersalah.


"Sudahlah...kamu gak usah pake mobilku lagi!


kalo Fatma ngeh itu mobil kakaknya sendiri


yang nabrak ....bisa bahaya. Sementara, kamu


yang nyetir dan aku gak ada didalam mobil," Toni masih terbawa emosi.


"Dia luka dikepalanya...di jahit lagi...untunglah


gak lebih dari itu...ngeliat dia kaya gitu aja, aku


merasa bersalah banget...tau," lanjut Toni


masih emosi.


Cindy hanya menunduk atas kesalahannya,


dia juga gak berpikir akan melukai Fatma, adik


dari orang yang dia cintai.


"Kemaren itu...terakhir kali kamu minjem dan


make mobil aku, jadi gak usah banyak alasan!"


ancam Toni.


Cindy hanya bisa mengehela nafasnya.


Dia menyesal karena telah menyebabkan


Fatma kecelakaan.


Minuman yang tersaji di meja mereka tidak


bisa mendinginkan suasana yang terlanjur


tegang semenjak Toni tau kalo Cindylah


yang menyebabkan Fatma kecelakaan.


Nasi sudah menjadi bubur, padahal Cindy mau


menguasai hati dan pikiran Toni, tapi...Toni


masih saja menganggap keluarga yang utama.


Dan dirinya hanyalah sampingan untuk dahaga


Toni saja.

__ADS_1


__ADS_2