Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 108. Acara peresmian apotek baru


__ADS_3

Kediaman Cahyono.


Elisa duduk di taman samping sambil membaca buku. Shella yang melihatnya menggoda Elisa dan menunjukkan ponselnya.


Elisa mengambil ponsel itu dan menonton video. Beberapa menit kemudian Shella langsung mengambil nya dan melanjutkan langkahnya. Ia menjauh dari Elisa.


"Benarkah itu kamu mas Mj? sungguh seperti orang yang berbeda ketika kamu bersama mereka!" lirih Elisa seorang diri.


Ia menutup buku dan meninggalkan taman. Ia melangkah masuk karena senja sudah turun. Ia melakukan aktivitas malamnya di kala itu sambil memikirkan video yang dilihat tadi.


*Kampung Malik.


Malam ini bintang bekerlip dengan indahnya. Malik mengajak Nissa dan orang tuanya makan di sebuah restoran kesukaannya di kota. Perjalanan yang di tempuh tak memakan waktu lama karena Malik sedikit mengebut.


"Nih anak mentang-mentang mobil bentar lagi lunas malah maen kebut ajah!" gerutu Sumiyati pada anaknya.


"Maaf bu, sengaja agar Nissa gak ngantuk!" Malik beralasan.


"Ya udah kita langsung turun dan makan saja biar Nissa gak keburu ngantuk!" Sugeng menengahi ibu dan anak itu.


Mereka turun dan memasuki restoran itu. Suasana sungguh menyejukkan mata yang memandang. Semua perabot restoran terbuat dari kayu jati kuno. Mereka memesan makanan dan menikmatinya.


Sementara itu, di suatu sudut restoran ada dua pasang mata yang mengamati Malik dan keluarga nya. Yang satu memancarkan rona rindu yang begitu dalam. Sementara yang satu memancarkan sinar keirian akan hidup enak yang Malik jalani sekarang.


"Cuih, lihat itu mantan suamimu! sombong sekali dia, padahal dia dapat bantuan dana dari dokter Evans!" Nada suara Andi terdengar meremehkan.


"Itu sudah rejeki nya mas Malik! kita tidak boleh meremehkan nya!" bela Rosyanti enteng.


"Owh jadi begitu ya! kamu lebih membela mantan suami daripada suami sendiri!" Cibir Andi.


"Bukannya gitu mas! udah lah aku gak mau debat sama kamu! kita pulang saja yuk!" ajak Rosyanti pada Andi.


Andi hanya mengangguk dan memesan taksi online. Mereka menunggu sampai taksi tersebut berada di luar restoran.


Mereka berdua baru sekali ini makan malam di restoran mahal. Andi sengaja mengajak istrinya makan disini agar Rosyanti tahu rasanya makan di restoran mewah. Dulu waktu di kota ia tak pernah mengajak Rosyanti ke restoran mewah. Setelah taksi datang, mereka berdua segera keluar. Rosyanti tak hentinya menatap Nissa dari jauh. Ia tak menyangka bahwa Nissa akan tumbuh menjadi anak yang cantik dan berisi.


Malik dan keluarga nya sudah selesai makan malam. Mereka berbincang mengenai apotek baru yang akan di buka. Pembangunan sudah siap, stok obat pun sudah Evans siapkan di gudang rumahnya. Tinggal menunggu Malik siap membuka apotek itu.

__ADS_1


"Nak, kamu harus persiapkan semuanya dengan baik! Evans sudah menyiapkan hal hal yang penting! jangan sampai kamu membuat Evans kecewa!" Sumiyati berpesan.


"Iya bu! tenang saja! Malik hanya jadi kasir dan bersih-bersih sedikit! yang mengurus stok dan semuanya ada kenalan Malik yang bisa di percaya!" sahut Malik tenang.


"Benarkah? apa dia ahli dalam obat-obatan nak?" tanya Sumiyati khawatir.


"Pasti bu! dia kan seorang apoteker. Dan itu memang sesuai dengan kebutuhan kita dalam mengurus apotek nanti!" jelas Malik.


"Syukurlah, ibu lega mendengarnya. Sebaiknya cepat lah kamu buka agar warga kampung kita tidak terlalu jauh ketika butuh obat dan pertolongan pertama!" Seru Sumiyati.


"Beres bu! kita buka lapak langsung syukuran di tempat! gimana tuh ide Malik? bagus gak?" tanya Malik semangat.


"Bagus tuh! tapi jangan mendadak ya nak! biar ibu bisa pesan ke rumah tetangga sebelah!" seru Sumiyati lagi.


"Kalian gak mau denger pendapat bapak ya?" tiba-tiba Sugeng bersuara.


"Maaf pak, lagian bapak selalu bilang terserah Malik sih!" sahut Malik tersenyum.


"Ya udah yukk kita pulang! lihat Nissa tuh dari tadi menguap mulu!" ajak Sugeng.


Mereka berempat meninggalkan restoran dan kembali kerumah.


Tiga hari berselang.


*Kampung Malik


Hari ini acara pembukaan dan peresmian apotek baru di kampung ini. Tamu undangan datang ke apotek tersebut. Hanya sedikit dari kenalan Evans dan Malik yang datang. Tamu undangan dan keluarga yang hadir tak lebih dari 50 orang. Sumiyati sudah menyiapkan segalanya bersama Fatma. Mereka berdua yang menyusun makanan dan minuman diatas meja hidangan. Pak ustadz yang diundang pun turut membawa beberapa anak yatim bersamanya. Suasana menjadi semakin meriah. Acara dimulai dengan berdoa bersama. Setelah selesai, sambutan dari Evans dan Malik bergantian meriahkan suasana. Halaman parkir berubah menjadi tempat acara. Sungguh peresmian yang berkonsep kekeluargaan. Semua saling berbaur dan menyapa satu sama lain. Mereka juga bergantian masuk kedalam apotek yang luasnya hampir ratusan meter.


Rak obat tersusun diantara etalase kaca yang transparan. Di dalamnya juga terdapat berbagai jenis obat. Ada satu ruangan khusus untuk apoteker yang menangani keluhan pelanggan.


Semua sudah di persiapkan dengan baik oleh Malik. Evans menepuk pundak saudaranya itu.


"Semoga kau bisa sukses saudaraku!" Evans tersenyum lebar melihat hasil kerja keras Malik.


"Terimakasih mas Evans! ini semua berkat bantuan dan dukungan dari mas Evans!" Malik membalas senyum.


"Kamu sudah belajar kan cara pengelolaan dan pengendalian keuangan?" tanya Evans.

__ADS_1


"Sudah mas, tinggal praktek nya saja ini!" jawab Malik bersemangat.


"Aku serahkan semuanya ini padamu! kau dan keluarga mu sudah aku anggap keluarga sendiri selama ini!" seru Evans lagi.


"Terimakasih atas kepercayaannya selama ini mas! Oh iya, kapan nih acara pernikahan nya? Malik tunggu lho!" Malik menggoda Evans.


"Masih sibuk nih! daftar operasi menumpuk! doain aja Lik bulan depan banyak jadwal kosong!" sahut Evans lesu.


"Selalu dong mas!" Malik tersenyum.


Tap, tap, tap.


Suara langkah kaki tak sabar mendekati keduanya yang berbincang.


"Mas berdua di cari ibu lho! udah saatnya menemani tamu makan!" Fatma berkacak pinggang sambil berkata pada dua orang lelaki kesayangannya itu.


"Iya bawel!" seru Malik dan Evans bersamaan.


Keduanya saling pandang dan tertawa lebar.


"Emang pantes deh jadi abang adik! mirip kelakuan nya!" sungut Fatma kesal dan meninggalkan mereka berdua.


"Mas sabar deh kalau menghadapi Fatma! tingkahnya emang terkadang nyebelin!" Malik berbisik.


Malik dan Evans menyusul langkah kaki Fatma. Sumiyati menyambut mereka berdua dengan piring di tangan.


"Semua tamu sudah ada dimejanya! kalian bergabung lah dengan mereka!" suruh Sumiyati.


Mereka sibuk dengan para tamu. Semua berbincang layaknya seorang sahabat lama yang bertemu kembali.


Tak ada yang di bedakan dalam peresmian apotek ini. Semua mendapat perlakuan dan respon yang serupa dari tuan rumah.


Hari itu merupakan hari yang sibuk dan melelahkan bagi Malik dan keluarga nya.


*


*

__ADS_1


*Bersambung.


Jangan lupa untuk terus mendukung karya author.


__ADS_2