
*Kediaman Cahyono.
Sandra meninggalkan ponselnya di meja tanpa ia sadari. Shella mencibir tantenya itu. Tanpa sengaja Shella melihat ponsel sang tante yang belum terkunci. Ia melihat dan menaik turunkan layar ponsel Sandra.
"Gini nih, kalau udah menua. Ponsel ketinggalan kan jadinya!" cibir Shella.
Shella menaik turun kan layar ponsel lagi. Ia terkejut karena ada video pesta pertunangan seorang dokter. Shella mengernyitkan dahinya karena ia melihat Mj disana bersama keluarganya.
"Ini kan om Mj kenapa dia bisa berada di acara itu?" Shella penasaran.
Ia membuka kolom komentar dan membaca satu persatu. Ia akhirnya tahu bahwa Mj berada di kota M yang terletak di pulau Jawa tepatnya di Jawa timur.
"Gue harus tahu nomor telepon om Mj yang baru!" tekad Shella bersemangat.
Ia membaca komentar satu persatu tapi tak di dapatnya info tentang nomer telpon Mj. Shella merasa frustasi. Ia menepuk jidat berulang kali tanda frustasi.
Shella berjalan kedalam rumah sambil membawa ponsel tantenya itu. Ia mengetuk pintu, Sandra tak menyadari bahwa Shella mengetuk pintunya karena ia berada di dalam kamar mandi.
Shella mencoba membuka pintu setelah beberapa kali tak mendapat respon. Ia masuk kekamar Sandra begitu saja dan meletakkan ponsel itu sekenanya. Ia menuju kamarnya dan melanjutkan aktivitas rutin di kala sore tiba.
*Pagi hari di rumah Marwah.
Elisa berpamitan pada Marwah. Senyum lebar menghiasi bibir nya yang merona. Pagi itu semangatnya kembali muncul. Mj sudah menjadi bagian hidup Elisa yang tak terpisahkan. Marwah tak bisa menghalangi Elisa yang mau bercerai. Ia tak tahu kapan waktunya akan habis. Ia sungguh kasihan pada Elisa yang belum bisa menemukan kebahagiaan sesungguhnya. Ia ingat pesan dokter waktu itu bahwa kapan saja ia bisa meninggalkan anaknya untuk selamanya.
*Flashback Marwah on.
Marwah pingsan ketika sedang pergi berbelanja ke pasar tradisional. Ia di selamatkan oleh salah satu penjual disana.
Ia di bawa ke puskesmas terdekat oleh penjual itu. Dokter memeriksa Marwah yang sudah berada di brankar nya. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Dengan perlahan Marwah membuka kedua netranya. Ia merasakan tangan dokter yang menekan nadinya. Ia merasa pusing dan lemas sekali.
"Maaf dok, kenapa saya bisa disini?" tanya Marwah lemah.
"Tadi ibu pingsan terus ada yang menolong ibu dengan membawa kemari!" jelas dokter itu.
"Benarkah dok?? dimana dia sekarang?" tanya Marwah.
"Beliau sudah pulang bu! beliau bilang tak mau di ketahui identitas nya!" sahut dokter sambil tersenyum.
"Ya Allah, makasih banyak! Alhamdulillah, terimakasih pak dokter!" syukur Marwah yang masih lemas.
"Alhamdulillah masih ada orang baik bu!" lanjut dokter.
"Dokter, sebentar saya sakit apa?" tanya Marwah lesu.
"Sebelum nya ibu merasa sering sesak nafas kan?" tanya dokter.
Marwah hanya mengangguk pelan.
"Itu salah satu ciri sakit jantung bu!" lanjut dokter lagi.
__ADS_1
"Benarkah dokter? apakah saya bisa sembuh dok?" tanya Marwah dengan suara bergetar.
"Sebenarnya bisa bu, tapi ibu harus berobat ke kota yang peralatan nya lebih canggih dan lengkap daripada di puskesmas ini!" saran dokter.
"Apakah tidak ada cara lain dokter? saya tidak mau menyusahkan anak saya!" tanya Marwah masih bergetar.
"Maaf bu, ibu harus secepatnya melakukan operasi pasang Ring. Tidak ada lagi cara lain!" dokter berucap.
Buliran air bening itu mulai menetes dari netra Marwah, suaranya bergetar hebat.
"Dok boleh saya minta tolong?".
"Minta tolong apa bu? bicaralah bu, siapa tahu saya bisa membantu!" ucap dokter.
Marwah mengusap air mata yang menetes.
"Tolong rahasia kan penyakit saya kepada putri saya Dok! saya tidak mau menyusahkan dia. Sudah cukup selama ini putri saya menderita!" ucap Marwah.
Dokter hanya mengangguk pelan.
"Tapi bu, kenapa tidak diskusi dulu dengan putrinya? saya yakin putri ibu akan membiayai semua nya!" saran dokter.
"Tidak bisa dok! saya merasa bersalah nanti kalau meminta dia seperti itu. Dia bukan putri kandung saya, ya walaupun dia terlalu menyayangi saya!" jelas Marwah sendu.
Dokter itu menghela nafas dan membuangnya.
Ia terpaksa mengangguk dan menuruti kemauan Marwah. Ia pamit pada Marwah setelah semuanya selesai.
"Maaf kan bunda Elisa, tolong maafkan bunda!" lirih Marwah seorang diri sambil memejamkan netranya.
"Biar bunda yang menanggung semuanya nak! berbahagialah selalu nak! bunda akan mendukung semua keputusan mu!" lirih Marwah yang mulai terisak.
Ia mulai lemah dan tak berdaya akibat obat yang dikonsumsi nya tadi. Perlahan Marwah mulai memejamkan netranya. Ia masuk ke alam bawah sadarnya.
*Flashback off.
"Bunda, kok melamun sih?" tanya Elisa yang masih menggenggam tangan Marwah.
Marwah tersentak karena ia mengingat kejadian baru-baru ini.
"Eeh, bukan nak! bunda lagi mikir aja nih!"
sahut Marwah gelagapan.
"Lisa pikir bunda melamun, ya udah bunda Lisa pulang dulu ya!" pamit Lisa lagi.
Elisa tak kuasa meninggalkan bundanya seorang diri. Ia masih saja berat meninggalkan Marwah seorang diri. Akhirnya dengan langkah pasti dia mulai melangkah menuju mobil nya.
Ia masuk kedalam mobil dan mulai melajukan perlahan. Elisa menoleh ke arah Marwah dan melambaikan tangannya. Ia mulai mempercepat laju kendaraan agar bisa secepatnya sampai ke rumah Cipto.
Satu jam berlalu.
__ADS_1
Cipto duduk sambil memegang ponselnya. Tangannya tak lagi kaku seperti dulu. Ia mulai aktif bergerak dan bermain ponsel lagi. Ia melihat akun sosial medianya yang sudah lama tak aktif. Ia membukanya kembali akunnya dan berselancar di dunia maya.
Prakkk..
Sandra menjatuhkan sebuah sendok. Ia memungut dan membuangnya ke arah dapur.
Cipto yang melihat kelakuan adeknya itu menggeleng dan menegur.
"Kamu itu yang lembut dikit jadi perempuan Dra!" suruh Cipto.
"Males mau jalan ke dapur bang!" sahut Sandra acuh.
"Tapi gak di lempar kaya gtu juga kali!" dengus Cipto mulai kesal.
"Iya deh, nanti gue buang langsung aja bang ke tong sampah!" sahut Sandra cuek.
"Terserah kamu aja deh Dra, gue udah males nasehatin mulu!" Cipto mulai jengah.
Tiba-tiba Elisa muncul dengan tergesa. Pintu yang dibukanya pun terdengar berisik.
Ia mendekat ke arah Cipto.
Cipto pun menoleh kearah nya dan penasaran kenapa ia bertingkah seperti orang yang sedang terburu-buru.
"Kamu kenapa sih? kok kaya orang lagi di kejar setan!" kata Cipto.
"Ada hal penting yang harus saya bicarakan om!" seru Elisa.
"Bicaralah disini sekarang!" titah Cipto.
"Lebih baik kita ke kamar dulu!" ajak Elisa.
Sandra yang berada tak jauh dari mereka berdua menimpali.
"Sok privasi banget lu orang kampung!" cibir Sandra.
"Baiklah, saya akan ngomong disini sekarang juga!" ucap Elisa tak sabar.
"Lanjut ajah!" sahut Cipto.
"Saya sudah membuat keputusan dan tidak bisa di ganggu gugat. Saya ingin bercerai om, Elisa yakin akan keputusan ini!" ucap Elisa lantang dan yakin.
"Baguslah bang, kan nanti di rumah ini gak akan ada orang kampung kaya dia lagi!" sahut Sandra.
Cipto yang mendengar perkataan Elisa mulai terguncang. Ia menekan dadanya dan mulai menggerakkan kakinya. Nafasnya naik turun, Ia........
*
*
*
__ADS_1
Selamat membaca 😊