Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 5. Sekelebat bayangan masalalu.


__ADS_3

Wanita itu.....wanita yang selama ini, telah


aku singkirkan dari hati dan pikiran. Bagaimana tidak, dia sudah meninggalkan


kami begitu saja.


Dialah Rosyanti, teman


sekolahku yang sudah menjadi mantan istri.


Langsung saja aku masuk ke kamar setelah


sampai dirumah dan memberikan salam,


tak kuhiraukan Annisa yang merengek


minta gendong.


Di dalam kamar langsung saja aku


menghempaskan diri dikasur yang nyaman,


pandanganku menatap langit-langit kamar,


tapi pikiranku melayang jauh di kehidupan lalu.


Dimana wanita itu mulai terbongkar semua


kebohongannya.


Kuhela nafasku, menghembuskannya


perlahan, seolah-olah meringankan beban


di pundak.


...----------------...


-- Flashback---


"Gak mungkin kamu sering keluar rumah


walaupun sore hari, kamu kan gak punya


kerjaan selain ngurusin Nisa!," bentakku


kasar pada Ros.


"Ya....aku emang gak punya kerjaan mas,


tapi aku punya temen, masak ketemu


temen sendiri ajah gak boleh sih." Belanya


tak terima.


"Temen, kamu bilang? emang ketemu temen


harus setiap hari? gak masuk akal kamu Ros,


kamu tuh punya anak bayi, dia butuh belaian


mu. Kalo setiap sore kamu keluar siapa yang


rawat nissa....ha?, apalagi setiap kamu keluar


hampir 3 jam kamu habiskan diluar." Aku


sudah berada diambang batasku.


"Kan ada ibuk mas, lagian 3 jam itu kan gak


lama, aku ada urusan sama temen makanya


aku keluar rumah." Sungutnya kesal.


"Aku tau kamu keluar sama siapa. Aku


pernah melihatmu dengan seorang lelaki."


Kataku mulai tak sabar.


"Lelaki? siapa mas? selama ini aku ketemuan


sama Nani kok," kilahnya.


"Sudahlah gak usah banyak alasan......."


oeeekkkkk.....oeeekkkk.....


Terdengar suara tangisan bayi, dan


perkataanku langsung terhenti ketika


menoleh ke arah Annisa yang tengah


menangis.


Ros langsung menepuk punggung nissa


perlahan dan mulai menyusuinya.


Kuurungkan niatku untuk mengekspos


Rosyanti dengan pria itu, walaupun aku tidak


tau wajahnya tapi aku sudah tau dimana dia


tinggal, rumahnya ada di desa sebelah yang


jaraknya tidak jauh dari kampung ini.


...Kuselidiki mereka berdua disuatu hari, dan...


firasatku tepat, Ros benar-benar tega


menghianatiku. Memang aku bukan


orang kaya, tapi aku selalu berusaha


memenuhi kebutuhannya selama ini.


Dan satu lagi yang membuat aku kecewa


berat dengannya karena dia tega


berselingkuh dengan pria lain, padahal anak


kami masih bayi dan perlu perhatian lebih


darinya.


Ataukah mungkin ini takdirku? entahlah aku


sudah diambang batasnya. Sudah sebulan


dia seperti ini. Membuat alasan keluar rumah


dan selalu saja berkilah kalau aku


membahasnya dengan pria lain.

__ADS_1


...----------------...


Adzan shubuh berkumandang, berat


sekali rasanya membuka mata. Biasanya


Ibu dan bapak selalu mengetuk pintu kamar


ketika sudah shubuh.


Tok....tok.....tok....tokk....


Terdengar suara ketukan pintu yang tak sabar.


Kubuka mata perlahan dan mengerjab-ngerjab


beberapa kali supaya rasa kantukku


menghilang.


"Nak, mana istrimu?." Ibuku langsung


bertanya ketika pintu sudah kubuka.


"Adalah buk, dia..........," sambil ku tunjuk


arah kasur.


"Apa..?? kemana dia? bukankah semalam


dia tidur disini?," aku melongo tak percaya.


"Sebelum adzan shubuh, Ibu dengar ada


suara motor di jalan depan rumah nak, ibu


pikir mungkin orang lewat, jadi ibu gak


periksa. Setelah adzan, ibu keluar kamar.


Ternyata pintu depan tidak terkunci dan


pagar kayu kita juga terbuka, makanya ibu


tanya istrimu ada apa tidak di kamarmu?."


jelas ibuku panjang lebar.


"Ya sudah buk, biar aku cari dia di rumah


pria itu, dasar perempuan kurang ajar,


berani-beraninya dia....," sambil kukepalkan


tanganku tanda tak terima.


"Sabar dulu nak, sholat dulu sana, barulah


kamu pergi cari dia, kalo dia tak ada disana,


gak usah kamu cari kemana-mana lagi!, ibu


yang baik tidak akan pernah menelantarkan


anaknya. Apalagi, Nissa masih bayi yang perlu


ASI dan seorang Ibu yang memberinya


kehangatan."


Ibuku menasehati dengan sabar.


...----------------...


Ku ketuk pintu rumahnya berkali-kali, tapi


tidak ada siapapun yang menyahut.


"Cari siapa ya nak? temennya si Aan ya?,"


tanya seorang bapak tua yang melintas.


"Emmm....Aan... i- iya pak, nyari Aan, tapi


gak ada orang di dalam rumahnya pak."


Jawabku pada si bapak.


"Kayanya Aan udah pindah nak, seminggu


yang lalu orangtuanya berangkat ke kota,


tapi kalo Aannya pindah tadi malam


kayaknya." Jelas bapak tua.


"Pindah ke kota? kota mana pak? kenapa


pindah?," tanyaku mulai tak sabar.


"Kalo itu bapak tidak tau nak," lanjutnya lagi.


"Terimakasih pak atas waktunya, maaf


mengganggu," senyumku ramah.


"Ya sudah, bapak tinggal dulu nak," sambil


berlalu pergi meninggalkanku sendiri.


"Kurang ajar mereka berdua, sepertinya


mereka sudah merencanakan ini semua!,"


kataku sambil menggeletukkan gigi


tanda emosi yang sudah memuncak.


AKu kembali ke rumah dengan langkah


gontai dan wajah kecewa.


Ibu menghampiri dan menepuk


pundakku pelan.


"Ikhlaskan saja nak. Kalau sudah begini,


ya mau dilanjutkan bagaimana lagi.


Kamu sudah berusaha sebisamu, tapi


hasilnya nihil." Beliau menasehati sambil


menguatkan aku.


"Itu sudah jadi keputusan Rosyanti buk, aku


sudah jenuh membahas pria itu dengannya.


Kalau dia sudah memilih pria itu, mau

__ADS_1


gimana lagi. Insya Allah Malik pasrah buk."


Sambil memeluk Ibu yang selama ini telah


membuatku lebih kuat dan tabah.


------Flashback off-------


Kehadiran wanita itu di kampung ini.


Menghadirkan luka lama yang sudah


hampir tertutup.


...Kuhempaskan pantatku diatas kursi kayu...


beralas kapuk. Aku tak mau lagi memikirkan


wanita itu.


"Sudah pulang nak, kenapa wajahmu gusar


gitu? apa ada masalah yang


mengganggumu?," tanya ibuku bertubi tubi.


"Sebenernya bukan masalah besar buk,


hanya saja.....," sambil menghela nafas.


Dan kembali melanjutkan perkataanku.


"Ros, aku melihat Rosyanti di jalan tadi,


waktu mau pulang kesini."


"Wanita tak tau diuntung, pergi tanpa


pamit hanya karena terbuai hawa nafsu.


Buat apa dia kembali ke kampung ini lagi?


emang dia masih punya muka untuk


menginjakkan kakinya di kampung ini?


orangtuanya saja sudah tidak peduli


dengan wanita murahan itu," sambil


menahan amarahnya ibuku


mengepalkan tangannya.


"Aku udah gak peduli dengannya lagi buk.


Aku hanya peduli dengan Anissa ibu dan


bapak. Malik hanya mau ibu dan bapak


menjaga Nissa kalo aku berangkat kerja


dan tidak ada dirumah, jangan sampai


wanita itu bertemu dengan Nissa, anakku!,"


tegasku pada ibu.


"Tenang saja nak, Nissa gak akan pernah


bertemu dengan wanita itu, dia bukan ibu


Nissa lagi. Nissa hanya butuh sosok ibu


yang memprioritaskan nya selalu.


Apalagi di umurnya sekarang yang


sedang tumbuh dan berkembang." Jelas ibuku.


"Bapak kenapa gak keliatan bu?, biasanya


jam segini udah ngopi diteras rumah. Bapak


belum pulang ya bu." Cecarku sambil


melihat-lihat ruangan rumah.


"Bapakmu bawa Annissa kerumah pak Ahmad,


tadi bu Zainab telpon, ada baju bekas


keponakannya, masih bagus-bagus katanya.


Jadi, ibu suruh bapak antar nissa kesana, ibu


kan harus masak. Ibu pikir kalian ketemu


dijalan dan pulang bersama tapi ternyata,


malah kamu pulang duluan." Jawab ibu.


"Tapi tadi pas setoran, aku gak liat tuh ada


bapak atau Nissa. Pak Ahmad juga gak bilang


apa-apa." Aku mengernyit heran.


Ada suara memberi salam dari arah luar.


"Assalamualaikum." salam terdengar


bersamaan.


"Waalaikumsalam.... baru aja diomongin,


udah sampe aja dirumah," jawabku


tersenyum pada bapak dan Nissa.


Aku menggendong Nissa dan menciuminya


bertubi-tubi. Kucubit pipi gembulnya gemas.


"Ayah kangen sama kamu, nak!,"


"Yah, Nissa kan gak kemana-mana, kok bisa


kangen sih?," Nissa bertanya heran.


Tak kuhiraukan tampang lucunya disaat


memikirkan perkataanku tadi, aku


melanjutkan mencium dan mengelus


pucuk kepalanya dengan lembut.


Berharap anakku mendapat Ibu sambung


yang peduli dan sayang padanya

__ADS_1


suatu saat nanti.


__ADS_2