Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 113. Masih berencana


__ADS_3

Malik, Elisa dan Nissa sudah sampai di rumah.


Elisa yang memang dari awal tak membawa barang bawaan hanya melenggang dengan tas tangan ukuran sedang. Ia melihat Nissa yang sedang memperhatikannya.


"Lisa, kita kedalam ajah! kamu gak usah menunggu di teras!" ajak Malik ketika Elisa berhenti dan duduk di teras.


"Ayah, dia siapa?" tanya Nissa penasaran.


Elisa yang mendengar pertanyaan Nissa tersenyum. Ia menjawab pertanyaan Nissa dengan riang. Sementara Malik hanya mengamati keduanya.


"Sini dong Nissa sayang! kenalan sama tante!" seru Elisa mendekat kearah Nissa.


"Kok tante bisa tahu namaku?" tanya Nissa polos.


"Tahu dong, kan ayah Nissa pernah cerita!" Elisa menjawab santai.


"Tante siapa? kenapa ayah bawa tante ke rumah kami?" tanya Nissa polos.


"Tante itu teman spesialnya ayah Nissa!" jawab Elisa.


"Teman spesial itu apa sih?" tanya Nissa sambil berpikir keras seolah pertanyaan untuk diri sendiri.


"Pokoknya teman yang lebih dari teman biasannya!" Elisa menjawab lagi.


"Udah deh kalian berdua ini sama-sama cerewet, kita masuk aja sekarang!" suruh Malik pada keduanya.


"Cerewet?" tanya Nissa dan Elisa bersamaan.


Mereka saling berpandangan dan tertawa karena mengatakan cerewet bersamaan.


"Ya udah deh, yuk kita masuk Nissa!" ajak Elisa mengikuti langkah Malik. Nissa berjalan antara Malik dan Elisa.


Setelah mereka mengucapkan salam. Sumiyati yang berada di dapur bergegas ke arah depan.


Ia sungguh tak menyangka Malik pulang membawa seorang perempuan.


Perempuan itu sungguh asing, Sumiyati belum pernah bertemu sebelumnya dengan perempuan itu.


"Siapa sih dia? sepertinya bukan orang dari kampung sini ataupun sebelah!" ucap Sumiyati dalam hati.


"Ibu, sini dong! kenalin ini Elisa. Dia, dia itu sebenarnya!" Malik menggantung ucapannya.

__ADS_1


"Nak Elisa selamat datang ya! maaf kalau rumah kami sempit dan kecil!" ucap Sumiyati tersenyum tipis.


"Alhamdulillah masih punya rumah bu, rumah ini juga nyaman. Lihatlah saya belum punya rumah yang layak huni!" Elisa merendah.


"Kalian pasti capek kan seharian di perjalanan! ibu sudah masak, tapi ibu belum tahu apa sesuai dengan selera nak Elisa!" ujar Sumiyati.


"Maaf merepotkan bu, saya tidak pernah pilih-pilih makanan kok bu!" Elisa tersenyum.


"Ya udah kamu mandi dulu! pakai kamar ibu disana ya mumpung bapak masih ke rumah pak Yanto!" suruh Sumiyati.


"Terimakasih banyak bu, saya permisi dulu!" Elisa bergegas ke arah kamar yang di tunjuk Sumiyati.


Sumiyati menghampiri Malik dan menyenggol lengan anaknya itu.


"Pake gak ngaku segala ya tadi! dia itu perempuan yang selalu kamu panggil namanya kan waktu tidur?" ucap Sumiyati.


"Malik selalu memanggil nama Elisa? benarkah itu?" tanya Malik.


"Jadi benar kalau itu Elisa?" tanya Sumiyati lagi.


"Benar bu, dia pacar Malik waktu Malik berada di perantauan!" jawab Malik.


"Jadi sekarang rencanamu apa nak?" tanya Sumiyati.


Ia memang berencana menikahi Elisa. Tapi statusnya yang masih menjadi istri orang menjadi halangan utama. Kini entah apa status yang di sandang Elisa, karena setahu Malik tuan Cipto tak mau menceraikan Elisa sampai kapanpun.


"Lik, kamu kenapa nak? kenapa melamun?" ujar Sumiyati menepuk pundak Malik.


"Maaf bu, lagi kepikiran sesuatu ajah!" sahut Malik.


Nissa yang masuk kedalam kamarnya sedari tadi hanya bisa bertanya siapakah Elisa sebenarnya. Ia mengintip percakapan Malik dengan Sumiyati. Nissa memikirkan perkataan ayahnya yang berencana menikah dengan Elisa.


"Duh gimana nih, ayah mau menikah? terus nanti Nissa punya ibu tiri dong? Doni bilang ibu tiri itu jahat!" lirih Annisa.


Ia tak mau menjadi seperti teman sekelasnya yang bernama Doni. Tiap hari Doni pergi kesekolah diantar dan selalu di marahi oleh ibu tirinya di depan teman-temannya. Nissa jadi ngeri memikirkan itu. Ia tak mau nasibnya seperti Doni.


"Nissa, ayo mandi nak! tante Lisa udah keluar dari kamar mandi lho!" suruh Sumiyati pada cucunya.


"Iya eyang, sebentar ya!" Nissa mengambil handuk dan keluar kamar.


"Eyang mandiin Nissa kan?" tanya Nissa.

__ADS_1


"Tadi pagi kan udah! sekarang Nissa mandi sendiri aja ya nak!" Sumiyati tersenyum tipis.


"Yah eyang, ya udah deh biar Nissa pergi mandi sendiri!" ucap Nissa kecewa.


Elisa tak kuasa melihat Nissa yang muram. Ia menawarkan memandikan Nissa.


Tapi Sumiyati melarang nya agar Nissa belajar mandiri dengan cepat, setidaknya ketika berada dirumah ia harus di ajarkan mandiri agar tak manja di kemudian hari.


Elisa tak jadi menyusul Nissa ke kamar mandi. Ia mengobrol dengan Sumiyati sambil menunggu sholat Maghrib dan makan malam.


Tak banyak yang Elisa ceritakan. Ia masih merahasiakan status nya kepada Sumiyati.


Adzan Maghrib berkumandang, keluarga itu sholat berjamaah. Setelah sholat mereka makan malam dengan khidmat.


Mereka membicarakan Elisa yang akan menginap dimana.


Tok, tok, tok.


Pintu rumah Malik di ketuk. Elisa menawarkan diri untuk membukanya.


"Biar saya saja yang buka ya bu!" ucap Elisa.


"Hem, baiklah Lis!" angguk Sumiyati.


Tap, tap, tap.


Elisa mulai melangkah bergegas membuka pintu.


Klek, pintu terbuka.


Di depan pintu ada seorang wanita. Elisa dan wanita itu saling bertatapan.


"Kamu siapa?" tanya wanita itu.


"Kamu siapa?" tanya Elisa pada wanita itu.


Mereka berdua saling berpandangan dan menelisik satu sama lain. Tak ada yang mau mengalah mengenalkan diri masing-masing.


*


*

__ADS_1


*Bersambung


Jangan lupa like, komen, favorit, rate ⭐ 5, dan vote Mingguan nya. Dukung terus karya Author.


__ADS_2