Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 17. Perasaan


__ADS_3

Mentari sudah hampir tenggelam, Malik


merasa sudah cukup menjenguk Fatma.


Besok bisa lanjut jenguk dia lagi bersama


Annisa di rumah Fatma.


"Udah jam segini Fat, aku harus pulang...kasian


Nissa, pasti nungguin aku," pamit Malik undur


diri.


Fatma hanya mengangguk mengiyakan sambil


tersenyum tanpa menjawabnya. Dia merasa


masih belum puas melihat pria yang disukai


berada disisinya dan meladeninya berbincang.


Malik menoleh kearah Aisyah, tak lupa


berpamitan dan menanyakan kapan Aisyah


pulang.


"Aku nunggu mas Toni....bentar lagi


juga pasti dateng kok mas, mungkin masih di


perjalanan.


"Baiklah kalo begitu, aku duluan ya!" pamit


Malik lagi sambil berlalu pergi setelah


mengucapkan salam.


Aisyah memandangi punggung Malik sampai


dia tak terlihat lagi.


Fatma yang menyadari wajah lesu Aisyah


bertanya.


"Ais...kamu kenapa? wajahmu


seperti lemas begitu, kamu capek


ya? nungguin aku disini?" kernyit Fatma.


"Eh...oh..ennggak kok Fat, mungkin karena


udah senja ajah, jadi penglihatanku rada


meredup, makanya muka jadi terlihat lemas,"


jawab Aisyah beralasan sambil tersenyum


"Aku mau mandi....tolong aku ya!" pinta Fatma.


"Okey...sini!" sambil memapah Fatma yang


sudah duduk di tepi brankar.


...----------------...


Di suatu rumah sederhana, di kampung


sebelah.


Terlihat ada sepasang suami-istri meributkan


sesuatu hal.


"Kan ...mas sendiri yang bilang, kita akan


jalan malam ini, kenapa malah males sih?


padahal kerja aja enggak kok," sungut Ros


kesal.


"Makanya gak kerja itu, mas mau rehat di


rumah aja, lain kali kan kita bisa perginya,"


Andi beralasan seolah tak peduli.


"Jadi aku akan dikurung terus....selama aku


masih disini?" nada suara Ros mulai


meninggi.


"Sudahlah...kamu tuh gak usah ngajak ribut


deh...udah maghrib, setan udah pada keluar


cari mangsa," Andi tak menanggapi


kemarahan Rosyanti.


"Gak usah pake bilang setan segala mas...lha


disini juga ada satu di depanku," ujar Ros.


"Eh...mana...mana Yan? kamu bisa ngeliat


setan ya?" tanya Andi mulai ketakutan.


"Bisa....tuh setannya," sambil menunjuk


kearah Andi.


Klotak........


Andi menoyor kepala Rosyanti sambil berkata.


"Suami sendiri di bilang setan...lha...situ siapa?


istrinya setan?" sungut Andi sebal pada


istrinya sendiri yang sudah membuatnya


setengah takut.


"Kita tuh bisa cerai kapanpun mas, ingat


ya ...kita hanya menikah secara agama saja,


berkas perceraian sama mas Malik saja aku


belum menandatanganinya," ancam Rosyanti.


"Ck....itu lagi yang dibahas, kalo kamu mau


kita pisah...silahkan, emang ada lelaki


yang mau sama kamu? ingat ya ...reputasimu


sebagai wanita itu udah ...ko...it," cecar Andi.

__ADS_1


Rosyanti yang mendengar perkataan suaminya,


hanya merengut sambil keluar dari kamarnya.


Dia menekan remot tv di ruang keluarga,


menonton acara yang sebenarnya sudah


bosan diliatnya.


Andi tersenyum senang, karena istrinya


tidak berani menjawab perkataannya.


"Tidur dulu ah...nanti malem bisa begadang


nonton bola," sambil merebahkan dirinya di


ranjang yang nyaman.


Rosyanti yang menonton, mengganti channel


televisinya secara acak, karena sebenarnya


dia memang hanya mengalihkan perhatiannya


dari Andi.


Malam ini....rasa suntuk, bosan dan lelah


menguasai raga dan jiwa Rosyanti.


Dengan televisi yang menyala, dia tertidur


di kursi kayu panjang.


...----------------...


Matahari menyembul menampakkan sinar


paginya. Tampak 3 orang sudah mengemas


kembali keperluan orang tercinta mereka.


Fatma yang masih tertidur di brankarnya,


tidak menyadari bahwa hari sudah pagi.


Dan dia akhirnya bisa kembali kerumahnya.


Prannggg.....


Toni yang tidak sengaja menjatuhkan


piring stainless bekas makan Fatma


kemarin, tanpa sadar membangunkan adiknya


yang tertidur lelap.


Fatma membuka matanya perlahan, dia


merasakan sinar mentari dibalik tirai jendela yang terbuka.


"Uhukk...uhukkk..," Fatma terbatuk ringan.


Dia mulai duduk perlahan dibantu dengan


kakaknya.


"Mas, itu udah di kemas semuanya?" sambil


melihat tas besar yang ada disofa.


"Udah dong...kami semua yang beresin,


bapak pergi ke tempat administrasi," Toni


menjelaskan keberadaan orangtuanya.


Dokter datang bersama Zainab memeriksa


kembali keadaan Fatma dan mengganti


perban baru di kepalanya akibat benturan.


"Udah gak pa-pa kok, paling hanya sedikit


lemas, infus juga sudah habis dan tidak usah


di ganti, nanti saya resepkan obat dan bisa


langsung di tebus ya buk," terang dokter


perihal keadaan Fatma.


"Terimakasih dokter Evan," sahut Zainab.


sambil mengangguk mengiyakan ucapan


dokter Evan.


Setelah semuanya selesai, mereka segera


meninggalkan RS Harapan Bangsa.


Didalam mobil, Toni yang menyetir terlihat


menyembunyikan sesuatu. Raut wajahnya


tak bisa diartikan. Yang lain tidak menyadari


karena sibuk memperhatikan kenyamanan


Fatma ketika duduk ditempatnya.


...----------------...


"Alhamdulillah...sampe rumah juga, 4 hari


di RS berasa 4 minggu, apalagi makanannya


tawar semua," ucap Fatma bersemangat


turun dari mobil.


Toni yang memapah Fatma berjalan hanya


diam saja, dia tidak mau adiknya kecewa


karena suatu hal yang tidak diketahui Fatma.


"Disuruh make kursi roda malah gak mau,"


tegur Zainab.


"Fatma tuh bukannya gak bisa jalan bu,


kan cuma lemes aja," bantah Fatma.


"Ya sudah...bawa adikmu kekamar nya Ton!"


lanjut Zainab lagi.


"Jangan bu....biar aku duduk di ruang tamu aja,

__ADS_1


pasti sumpek kalo dikamar mulu," tolak Fatma.


Tanpa basa-basi lagi Toni memapah Fatma


dan mendudukkannya di sofa ruang tamu.


Mereka mulai sibuk dengan urusan


masing-masing, apalagi Fatma yang baru


pulang harus mengurus kerjaan kantor


sebisanya, tanpa menghambat kondisinya


sekarang.


...----------------...


Sore hari dirumah majikan Malik.


"Wah...mobil sudah penuh di garasi, pasti


semua orang ada dirumah," gumam Malik


seorang diri sambil masuk ke rumah Fatma.


Setelah mengucapkan salam, dia melihat


Fatma yang menyender di kursi malas yang


berada diruang tamu sambil memangku


laptop di pahanya.


"Udah pulang kamu Fat....baru aja pulang


tapi sudah pegang laptop ajah, emang


kerjaanmu banyak?" ucap Malik bertubi-tubi.


"Eh...sini mas, minum dulu...," tawar Fatma.


"Gak banyak sih...cuma kalo gak dicicil


bakalan numpuk mas, lagian gak aku paksa


kok, kalo aku capek...ya tinggal aja," terang


Fatma lagi.


"Aku gak bisa lama disini, Mau ngabarin


Annisa, dia pasti seneng banget kamu udah


pulang, dia bilang kangen sama kamu, soalnya


kamu jarang maen kerumah," kata Malik


panjang lebar.


Sambil tersenyum Fatma hanya mengangguk.


"Nissa...tante juga kangen kamu nak,


semoga kita bisa hidup satu rumah," batin


Fatma.


Setelah berpamitan, Malik berlalu dari


hadapan Fatma. Zainab memandangnya


dari jendela dapur yang mengarah ke halaman


rumah.


"Malik....seandainya kamu tau, kalo


dari dulu kita disini sudah menganggapmu


sebagai keluarga," sambil menghela nafasnya


perlahan.


...----------------...


Bulan menampakkan dirinya....Annisa yang


bersemangat menjenguk Fatma sudah tidak


sabar pergi kerumah tantenya itu setelah


makan malam selesai.


"Kita beyangkat sekayang Yah," rengek Nissa


tak sabar.


Kakek neneknya hanya mampu tersenyum


kecil melihat tingkah cucu perempuan mereka.


"Sabar napa sayang....biar ayahmu ganti baju


dulu!" ucap Neneknya sambil memegang bahu sang cucu yang duduk di depannya.


Malik sudah rapi dengan gaya casualnya.


"Lets go...kita berangkat!" ajak Malik pada


anaknya.


"Asyikkk....ayo Yah...buyuan," sahut Nissa


riang.


Mereka berdua menikmati udara malam yang


masih semilir. Nissa yang sudah lama tidak


merasakan naik motor, hanya tertawa senang


sambil berceloteh riang...khas anak kecil


seumurannya.


Nissa bergelayut manja pada sang ayah.


Ayahnya yang menyetir hanya memegang


lebih kuat tangan anaknya dan


melingkarkannya di pinggang.


Sementara disana....ada sepasang suami istri


yang memperhatikan Malik dan Nissa yang


melintas. Mereka menatap keduanya dengan


pandangan berbeda. Yang satu menatap


sendu dan sedih sedangkan satunya menatap


heran karena tak biasanya Malik membonceng

__ADS_1


anaknya.


__ADS_2