Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 84. Kecurigaan Marwah terbukti.


__ADS_3

Rumah Marwah.


Setelah mengunjungi makam pak Ismail.


Mereka bertiga kembali pulang. Marwah selalu memperhatikan Elisa dan Mj. Sepertinya ada suatu rahasia yang mereka simpan sendiri.


Ketika Mj membasuh kaki di pancuran air depan rumah Marwah, cepat Elisa di seret menjauh dari Mj. Marwah bertanya-tanya hubungan apa yang terjadi antara Elisa dengan Mj.


Elisa terlihat gugup, pandangannya tertunduk tak berani menatap netra sang bunda. Pertanyaan sang bunda dia jawab dengan ragu dan tergagap.


"Elisa, bunda perhatikan kalian berdua sejak tadi pagi! apa sebenarnya hubungan kamu dengan nak Mj?",seru bunda Marwah.


"Elisa tahu bunda. Tapi, perasaan ini tidak bisa kami Hindari." Jawab Elisa.


Mj yang menghampiri memutus percakapan ibu dan anak itu. Marwah yang melihat Mj hanya bisa mengajak mereka masuk kedalam rumah.


"Mari kita lanjutkan ngobrol di dalam rumah!" ajak Marwah.


Mereka masuk berjalan beriringan. Mj dan Elisa masuk kedalam ruang tamu. Sementara Marwah terdiam memperhatikan keduanya dibalik ruang makan.


Tak berapa lama, Mj pamit pada Elisa akan menuju kamar mandi. Marwah cepat menghampiri Elisa dan menariknya menuju kamar. Di dalam kamar itu hanya ada mereka berdua.


Marwah bersedekap. Dia mau melanjutkan obrolan tadi yang sempat terputus.


"Jelaskan lebih rinci hubungan mu sama Mj!" seru bunda Marwah tegas.


"Bunda, kami itu saling mencintai dan menyayangi! hati Elisa tidak bisa berbohong!" sahut Elisa sendu.


"Tapi, kamu harus selalu ingat Lisa! kamu itu sudah bersuami! kenapa kamu berhubungan dengan lelaki lain?" tanya Marwah kecewa.


"Elisa tahu itu bunda. Elisa akan menuntut perceraian ketika om Cipto sudah sembuh!" sahut Elisa.


"Kamu yakin Cipto akan menceraikanmu setelah dia sembuh suatu saat nanti?" tanya bunda Marwah.


"Elisa akan membujuk om Cipto bunda! tolong pahami perasaan Elisa bund!" Elisa memohon.


"Kalian berdua harus menjaga jarak! ketika kamu sudah bercerai barulah kalian bisa bersatu!" saran bunda Marwah.


"Tapi bunda, Elisa sudah tidak bisa jauh dari mas Mj!" tolak Elisa.


"Sejauh apa hubungan kalian? cepat jawab yang jujur!" hardik bunda Marwah.


"Sebenarnya belum lama ini kami!" Elisa tercekat.


"Jawab saja nak!" tegas Marwah.


"Sebenarnya kami sudah punya rencana untuk menikah secepatnya ketika om Cipto sudah menceraikan Elisa bunda." Jawab Elisa.


"Kalian terlalu cepat untuk berpikir kearah sana! kalian pikir Cipto akan melepaskan Kalian begitu saja?" tanya bunda Marwah lagi.


"Biarlah kami menjalani kehidupan kami yang sekarang bunda! tolong doakan kami bunda!" pinta Elisa memelas sambil menggenggam telapak tangan Marwah.


"Bunda tidak mau mengarahkan kalian pada hal yang berdosa nak! tolong menjauh lah untuk sementara!" pinta bunda Marwah sedih dan kecewa akan sikap Elisa.


"Bunda, Elisa itu butuh mas Mj! cuma dia supir yang bisa mengerti Elisa!" sahut Elisa.


"Dari awal bunda juga sudah curiga dengan kalian berdua! pandangan kalian sungguh menyimpan suatu rasa! bunda sudah tahu sejak Mj bertemu pertama kali dengan mu!" jelas Marwah.


"Elisa sungguh cinta dan sayang pada mas Mj bunda!" mohon Elisa lagi.


"Bukan begini caranya nak! lebih baik Mj bekerja disini saja seperti dulu!" usul bunda Marwah.

__ADS_1


"Terus Elisa siapa dong yang nganterin bunda?" tanya Elisa.


"Kamu kan bisa mencari supir lain!" seru bunda Marwah.


"Tidak bunda! Elisa tidak akan mengganti mas Mj dengan supir lain!" tolak Elisa.


"Kamu ini memang keras kepala seperti ayahmu!" sahut bunda Marwah pasrah.


"Kalau ada apa-apa yang terjadi di kemudian hari. Jangan pernah meminta pertolongan bunda ya! ingat itu!" bunda Marwah memberi peringatan.


"Maafkan kamu bunda!" sesal Elisa.


Tap, tap, tap.


Terdengar suara langkah kaki. Bunda Marwah langsung mengajak Elisa keluar kamar.


"Nak Mj sudah keluar dari kamar mandi. Sekarang kita harus keluar juga Lis!" seru bunda Marwah.


"Baiklah bunda!" Elisa mengikuti langkah Marwah keluar dari kamar.


Mj mencari dimana keberadaan Elisa dan bunda Marwah.


Ceklek, pintu terbuka.


Mj menoleh dan melihat Elisa beserta bunda Marwah keluar dari sebuah kamar.


"Aku pikir kalian kemana!" ujar Mj lega.


"Elisa mencari barang dikamar ini mas! tapi gak ketemu juga!" Elisa beralasan.


Bunda Marwah hanya tersenyum getir.


Mereka melanjutkan obrolannya diruang tamu.


"Kalian beneran mau kerumah pak Ismail untuk ikut tahlilan?" tanya Marwah kuatir.


"Nanti pulangnya malam lho!" lanjut Marwah lagi.


"Mumpung kami masih disini bunda! tidak apa kami menunggu acara tahlilan selesai!" ucap Mj.


"Baiklah kalau begitu! lebih baik kamu hubungi orang di rumah Lisa! biar mereka tidak berpikir macem-macem terhadap kalian berdua!" saran bunda Marwah.


"Baiklah bunda! saya akan menghubungi bi Minah! hanya beliau satu-satunya yang bisa memahami Lisa ketika di rumah!" lanjut Elisa.


Setelah menghubungi bi Minah dan memberikan alasan yang sebenarnya, Elisa merasa lega. Karena dia pikir orang-orang di rumah itu tidak akan berpikir macam-macam terhadap nya.


Elisa, Marwah dan Mj berangkat kerumah pak Ismail. Para tetangga bekerja sama menyiapkan hidangan untuk orang-orang yang berdoa di acara tahlilan tersebut.


Acara berjalan dengan khidmat, khusyuk dan teratur.


Mj pulang bersama Elisa setelah acara tahlilan selesai. Mereka pamit pada bunda Marwah.


"Jangan sampai kalian menyesal nak!" ucap Marwah pada Elisa sambil memeluk putri kesayangannya itu.


"Semoga saja tidak bunda!" sahut Elisa yakin.


"Berhati-hatilah nak Mj! hari sudah gelap, sebaiknya kalau menyetir jangan terlalu kencang!" nasehat bunda Marwah.


"Siap laksanakan bunda!" Mj tersenyum nakal pada Marwah.


"Ya sudah sana! keburu malem nanti!" seru Marwah.

__ADS_1


Elisa dan Mj memasuki mobilnya. Tak lama kemudian mereka menuju jalan utama kampung dan melintasi jalan raya utama.


Elisa memandangi kanan dan kirinya. Dia teringat ketika pertama kali menemukan Mj di jalan ini.


"Mas, kamu ingat nggak? di jalan ini aku menabrakmu dulu! saat itulah kita pertama kali bertemu!" kenang Elisa.


"Benarkah? kenapa aku tidak ingat? kupikir aku bertemu denganmu waktu di puskesmas!" ucap Mj sambil menyetir.


"Kamu kan pingsan setelah tertabrak mas. Makanya gak ingat!" ujar Elisa.


"Sekarang aku akan mengingatnya dengan jelas Elisa ku!" senyum Mj terkembang dengan sempurna.


Mereka saling menautkan jemari ketika Mj menyetir perlahan. Saling berpandangan dan saling mengucapkan kata-kata manis yang bisa membuat keduanya merasa bahagia akan percintaan ini.


...----------------...


Dirumah keluarga Cahyono.


Sandra yang menerima informasi dari bi Minah akhirnya bisa mendapatkan simpati dari sang abang.


Marshella dan Silvia tidak tahu mengenai rencana Sandra yang sudah tersusun dengan rapi. Tadi sore, Sandra dan Cipto hanya berdua di ruang tamu. Tak banyak yang di lakukan keduanya. Apalagi Cipto yang memang masih belum sembuh total dari penyakitnya.


"Bang, sebaiknya abang harus cepat sembuh dan menceraikan wanita kampung itu!" seru Elisa memaksa.


Cipto hanya membalas dengan gelengan kepala yang pelan sekali. Tangannya dia gerakkan sehingga hampir menyentuh tangan Sandra.


"Wah, abangku sudah banyak perkembangannya ya!" senyum Sandra lebar.


Sandra melihat tangan Cipto yang mau menyentuh nya. Langsung di ambilnya telapak tangan abangnya itu. Sandra mengelus dan mengeluarkan ponsel miliknya.


"Abang, coba abang pegang ponsel Sandra ini! genggamlah yang kuat bang!" seru Sandra bersemangat.


Cipto hanya mengerjapkan netranya perlahan. Tangannya berusaha menggenggam ponsel pemberian Sandra. Cipto menggenggam sekuat tenaganya. Ponsel itu akhirnya telah sempurna berada di tangan Cipto tanpa terjatuh.


"Wah, bagus sekali bang! genggaman tangan abang ternyata masih bertenaga!" Sandra terlihat senang.


Cipto mengangguk lebih cepat dari gerakan sebelumnya.


"Coba Sandra pinjam kembali ponsel Sandra bang!" pinta Sandra.


Cipto akhirnya mengulur kan tangan yang menggenggam ponsel itu kepada Sandra.


"Bagus, sungguh banyak perkembangannya!" Sandra girang.


Sandra membuka ponselnya dan mencari beberapa foto yang sudah dikirim bi Minah tadi siang. Dia berencana memperlihatkan pada abang kesayangannya.


"Tunggu dulu bang! Jangan bergerak terlalu cepat!" seru Sandra.


"Lihat ini!" Sandra menyodorkan kembali ponselnya pada Cipto.


Cipto melihat foto itu. Raut wajahnya berubah tidak biasa. Raut wajah yang tidak bisa diartikan.


Batin Cipto.


"Kamu? kenapa dia.......!"


*


*


*

__ADS_1


*


Happy reading semua....🥰🥰


__ADS_2