
Pagi hari di kampung Malik.
Tak seperti biasanya, langit pagi ini begitu hitam mencekam. Mentari seolah takut dan bersembunyi. Setelah sarapan dan berbincang dengan Zainab dan Ahmad, Elisa meminta ijin untuk keluar rumah. Elisa diantar oleh Fatma ke rumah Malik. Fatma tak mau ketika dijalan nanti Elisa kehujanan.
"Ibu kalau sama kamu kok mau ngobrol ya? padahal udah lama ibu pelit omong kalau sama aku!" keluh Fatma.
Ia tak menyalahkan Elisa tapi lebih menyalahkan ibunya sendiri.
"Benarkah? tapi kenapa pandangan ibu ketika melihat mu seperti menyesal dan kasihan?" Elisa mengungkapkan pendapatnya.
"Mungkin hanya perasaan kamu aja Lis, buktinya ibu gak pernah banyak omong dan g pernah bercerita banyak padaku!" keluh Fatma lagi.
"Kalian punya masalah ya selama ini?" rasa penasaran Elisa.
"Entahlah, aku tak mau membahasnya!" Fatma tak mau bercerita perihal Toni abangnya.
Keduanya terdiam setelah melihat rumah Malik yang sudah terlihat. Elisa sudah tak sabar melihat Malik kembali. Rasanya waktu satu malam tak bertemu terasa lama dan menyiksa.
Elisa turun dan pamit pada Fatma, keduanya berpisah dirumah Malik. Fatma seketika meluncurkan mobilnya kembali, kearah tempat ia bekerja.
"Mas, aku datang!" Sumringah Elisa.
Ia bergegas masuk kedalam halaman rumah Malik. Yang dia harapkan pun muncul tepar didepannya. Malik menggandeng Nissa mau mengantar Nissa ke sekolah.
"Mas, kamu mau antar Nissa sekolah ya?" tanya Elisa.
"Iya nih, ibu gak bisa anterin. Ibu tengah masak banyak buat bekal bapak nanti!" jawab Malik.
"Aku boleh ikut kan?" Elisa bertanya lagi.
"Boleh sih tapi kami berdua tuh jalan kaki ke sekolah. Kamu gak keberatan kan?" tanya Malik.
"Gak kok mas! malah bisa sambil jalan pagi dong, apalagi disini tak banyak kendaraan melintas dijam segini!" sahut Elisa sumringah.
"Oke yuk kita berangkat!" ajak Malik.
Nissa hanya terdiam, Malik berada ditengah antara Nissa dan Elisa.
Mereka berjalan beriringan menyusuri jalanan di pagi ini yang tengah mendung.
Tak ada sepatah katapun terucap dari mereka bertiga. Selang lima menit kemudian, sekolah Nissa terlihat. Di depan sana ada Aisyah tengah menunggu kedatangan seseorang.
Ia terlihat sendu ketika melihat Elisa dan Malik mengantar Nissa. Ia mendadak masuk secara terburu-buru seolah menghindari mereka bertiga.
"Sampai sini aja ya nak! tuh lihat semua teman kamu juga diantar sampai sini! nanti siang ayah jemput oke!" Malik mengelus rambut Aisyah
"Iya ayah!" Aisyah meraih tangan ayahnya dan mencium punggung tangan Malik.
"Tante juga mau dong!" Elisa nyeletuk.
"Tante mau disalim juga ya?" tanya Nissa pelan.
"Mau dong sama gadis manis kaya Nissa!" Elisa menjulurkan tangannya kearah Nissa.
Nissa menyalami Elisa. Dengan gerakan cepat Elisa mencium gemas pipi Nissa yang mulai berisi. Nissa hanya terdiam melihat Elisa tersenyum lebar padanya. Ia masih saja takut akan kehadiran ibu tiri dalam hidupnya.
__ADS_1
Nissa masuk kedalam kelas dan melambaikan tangan pada Malik dan Elisa. Mereka berdua meninggalkan sekolah dan kembali kerumah.
"Nissa anak yang manis mas!" ucap Elisa.
"Begitulah dia Lis!" sahut Malik.
Keduanya saling tersenyum dan berjalan santai. Malik mempunyai sebuah ide.
"Lis, kita beli baju buat kamu yuk! kamu kan gak bawa baju banyak!" ajak Malik.
"Boleh aja mas!" angguk Elisa.
"Sekalian mau tahu cerita mereka disana!" Malik teringat akan kelakuan keluarga Cahyono padanya.
"Baiklah mas!" sahut Elisa singkat.
Malik masuk kedalam rumah ketika sudah sampai disana. Elisa menunggu diluar ketika Malik mengambil kunci mobil.
Mereka berdua masuk kedalam mobil ketika Malik menekan tombol kunci.
Jalanan mulai ramai lancar. Malik pergi ke sebuah Mall di kota sebelah.
Dua jam berlalu, mereka sudah lelah berkeliling dan mencari baju yang cocok untuk Elisa.
Akhirnya mereka pergi ke area Food court untuk makan siang bersama.
Setelah makan siang dengan suasana santai, Malik yang penasaran langsung ke inti pembicaraan.
"Lisa, kasih tahu aku secepatnya kenapa kamu bisa berada disini? apa jangan-jangan kamu kabur dari Cipto?" selidik Malik.
"Gak mas, aku gak kabur kok! aku sudah bebas dari om Cipto!" sahut Elisa.
*Flashback Elisa.
Elisa POV.
Aku tak mau mendengarkan teriakan Sandra. Hari ini aku harus pergi dari rumah ini. Tempat ku sementara ini hanya di tokoku sendiri.
Aku sudah tak peduli lagi tentang om Cipto. Sudah cukup selama tiga tahun ini aku menjadi bahan bulan-bulanan mereka.
Aku bergegas pergi dan masuk kedalam mobil, aku melajukan mobil kencang. Lima belas menit kemudian aku sampai di ruko.
Karyawanku satu-satunya menatap ku heran.
Mungkin karena wajah sembabku terlihat jelas.
"Maaf mbak, kenapa gak cuci muka aja dulu!"
"Males ah, nanti aja kalau pergi beli makan!" sahutku enteng.
Aku mencari akun yang menyebarkan video tunangan dokter Evans kemarin. Tak banyak informasi yang aku dapatkan. Kucoba lagi bertanya pada akun yang komen di video itu.
sudah puluhan akun aku bertanya, tapi hasilnya nihil. Aku mencoba mengirim pesan pada akun yang terakhir. Sepuluh menit berlalu, tak ada notif atau pun jawaban. Aku sudah pasrah.
Aku tertidur di sofa ini. Aku terkejut karena suara dering ponsel. Aku mengucek mata dan segera menjawab telepon itu tanpa melihat siapa yang menghubungiku.
__ADS_1
"Maaf ini tadi orang yang bertanya tentang dokter Evans kan?" tanya suara itu.
Aku yang mendengarnya seketika terlonjak kaget. Tak kusangka ada yang menghubungiku. Usahaku ternyata berhasil.
"Benar pak, maaf ya kalau menyita waktu anda! saya minta tolong berikan nomer telpon dokter Evans karena ini penting sekali!" ucapku memohon.
Kami berbincang sebentar dan ia memberikan sebuah nomor telepon kepadaku. Aku sangat girang dan gembiranya karena ini.
Kriiiiinnnggg.
Dering ponsel ku berbunyi lagi. Kulihat sebuah nama di layar ponsel. Aku menghembuskan nafas kasar.
"Ada apa? biasanya gak pernah nelpon aku!" suara ku agak kasar.
"Elo harus tanggung jawab, papa sekarang berada di Rumah sakit. Papa kecelakaan mobil dan itu semua gara-gara elo wanita kampung!" Shella berteriak di seberang telepon.
"Apa? tidak mungkin! tadi om Cipto dibawa oleh Sandra ke Rumah sakit bukan karena kecelakaan mobil tapi terjatuh!" balasku tak mau kalah.
"Kalau elo tak percaya kesini sekarang!" Shella memutus sambungan telepon.
"Ah pasti itu hanya alasan om Cipto! tapi aku harus kesana karena sudah berani mengacuhkannya!" pikirku.
Aku mencuci muka dan merapikan penampilan. Ku buka pintu mobil dan masuk kedalamnya. Aku bergegas menuju Rumah sakit tempat om Cipto dirawat.
Sesampainya disana hanya ada Shella diluar kamar itu. Aku tak menyapa Shella dan langsung masuk keruangan om Cipto dirawat.
Selang oksigen menancap di hidung om Cipto. Mesin ECG ( alat pendeteksi denyut jantung ) terpasang.
Aku melihat luka-luka di seluruh wajah om Cipto. Ternyata yang dikatakan Shella benar adanya. Aku keluar dan bertanya pada Shella. Kali ini nada suaranya terdengar begitu menyayat hati. Ia tak mau ditinggal oleh papa dan tante nya itu. Aku juga kaget ketika tahu Sandra koma dan kakinya yang mengalami kelumpuhan otot. Secepatnya aku menjenguk Sandra dikamar nya. Ada Rexy yang tengah termenung di sana.
"Maaf aku terlambat datang!" kataku menyesal.
"Ini semua karena kamu!" tuduh Rexy.
"Aku hanya mengacuhkan om Cipto dan aku tak tahu kalau mereka akan terkena kecelakaan seperti ini!" ucapku.
"Pasti ada sesuatu dibalik kecelakaan ini!" lirih nya terdengar olehku.
"Apakah kamu sudah menyelidiki kecelakaan itu Rexy?" tanyaku penasaran ketika mendengar itu.
"Belum Lis, aku tak tahu harus berbuat apa tadi ketika tahu Sandra dan bang Cipto kecelakaan!" sahut Rexy.
"Aku akan menjaga Sandra dan om Cipto bergantian dengan shella, kamu pergilah menyelidiki kecelakaan yang menurutmu ada seseorang dibalik nya!" suruhku tulus.
Walaupun Sandra selama ini bersikap kasar padaku tapi ketika ada orang yang mencelakai nya aku pun tak rela. Ia sampai lumpuh seperti sekarang ini. Aku sungguh tak tega melihat keadaan Sandra seperti ini.
*Elisa POV end
Ada seorang wanita memakai Hoodie dan menelisik kamar Sandra. Ia menerima kabar dari kedua anak buahnya. Senyum terkembang sempurna di bibirnya yang tipis.
*
*
*Bersambung
__ADS_1
Selamat membaca.
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, komen, favorit, rate ⭐ 5 dan vote Mingguan gratis.