
Ipah dipanggil oleh seseorang yang berada di dalam bus. Orang itu tak jauh dari tempat duduknya.
"Ternyata itu benar kamu kak Ipah." wanita yang memanggilnya tak percaya akan penglihatannya.
Ipah menoleh kearah suara. Ia terbelalak tak percaya karena adiknya berada di dalam bus yang sama.
"Imah... kenapa kamu bisa ada disini? mana suamimu?" tanya Ipah celingukan.
Imah berpindah dari tempat duduknya, ia duduk disebelah Ipah dan memeluknya.
"Imah sudah diceraikan oleh mas Tio kak. Sekarang Imah mau pulang kerumah Ibu dan Bapak." Imah sedikit terisak.
"Apa? jadi kalian sudah resmi bercerai? terus mana si Deni? seharusnya dia ikut pulang kan?" tanya Ipah tak percaya.
"Deni ikut ayahnya kak, Deni diancam tidak akan pernah mendapat uang pendidikannya satu sen pun kalau ia ikut denganku." Imah berkaca-kaca.
"Kenapa nasib kita seperti ini Mah?" tanya Ipah lesu.
"Maksud kak Ipah apa? Jadi kakak juga....." Imah menggantung pertanyaannya.
Ipah tak perlu menjawab, ia hanya mampu mengangguk lemah.
Mereka terdiam, Rico hanya memandangi ibu dan bibinya bergantian. Sementara sikecil Zeta sudah tertidur pulas. Bus mulai berjalan perlahan, lambat laun kian cepat membelah jalanan.
"Apakah ini semua karena aku melupakan Ibu dan Bapak?" tanya Imah. Ia mulai berbicara setelah lama terdiam.
"Memangnya kamu tidak pernah memberi kabar pada Ibu dan Bapak?" tanya Ipah.
"Hampir 3 tahun aku sudah tak mengabari mereka. Aku juga lama tidak memberi mereka sedikit rejeki." jawab Imah jujur.
Deg, Ipah berdebar kencang. Ia tak menyangka bahwa ia dan adiknya itu ternyata sama. Sama-sama tidak peduli pada kedua orangtuanya. Kini mereka menyesal karena telah membuat mereka merasa terlupakan.
Bus sudah jauh pergi meninggalkan pusat kota. Lima jam berlalu, mereka harus turun dan berganti kendaraan. Mereka berempat melangkah beriringan untuk mencari tahu bus kota yang akan mereka naiki selanjutnya. Sikecil Zeta mulai merengek tanda ada yang salah dengannya.
"Mungkin dia lapar atau haus." Imah menggendong Zeta yang menangis. Mereka berhenti disebuah warung makan untuk mengisi perut. Matahari sudah tinggi dan memberikan rasa panas. Mereka semua memakan makanannya dengan lahap tanpa menyisakan sedikitpun. Rico yang sudah kekenyangan mengeluh mengantuk pada ibunya.
"Kita cari dulu bus selanjutnya, baru kamu bisa tidur." Ucap Ipah pada anaknya.
Mereka berjalan kembali ditengah teriknya mentari. Asap kendaraan mengepul membuat mereka mulai sesak nafas. Tak berapa lama akhirnya bus yang mereka cari sudah ketemu. Mereka semua masuk dan mencari tempat duduk yang nyaman.
Rico dan Zeta bermain sebentar sebelum bus berangkat. letih bermain mereka tertidur dengan pulasnya.
__ADS_1
Hari sudah sore, satu persatu penumpang sudah turun. Kini tinggallah beberapa orang yang masih berada didalam bus.
Ipah terbangun dan melihat keluar jendela.
'Ternyata sebentar lagi kita turun dan akan bertemu dengan ibu dan bapak.' Batin Ipah.
30 menit berlalu, kini mereka semua turun. Imah membantu kakaknya menggendong Zeta. Rico mulai mengamati keadaan sekeliling. Selama ini ia belum pernah masuk ke kampung atau desa. Jadi inilah kali pertamanya melihat empang, kebun, dan sungai yang dilalui ketika perjalanan tadi.
Mereka mencari angkot untuk sampai dikampung halaman. Terminal ini sudah tua termakan usia, namun tidak menyurutkan kesibukan orang-orang yang berlalu-lalang setiap harinya.
Mereka sudah didalam angkot, tak lama mereka turun didepan sebuah rumah yang mereka rindukan. Rico dan Zeta selama ini belum pernah melihat rupa kakek dan neneknya.
"Bu, itu rumah siapa? kenapa kita kesana?" tanya Rico.
Rico mulai mengeluh kecapean, dari pagi mereka berada di bus dan berganti kendaraan lainnya.
"Kita masuk saja dulu! nanti kamu akan tahu itu rumah siapa," sahut Ipah mengelus kepala anaknya.
Mereka berjalan mendekat dan semakin mendekat. Mereka was-was dan khawatir. Ya, mereka khawatir kalau orangtuanya tidak mau menerima kedatangan mereka.
"Gimana ini kak? kok aku merasa bersalah sama Bapak dan Ibu." Ucap Imah cemas.
"Aku juga berpikiran sama denganmu. Ketika kita susah kita pulang dan mengharapkan mereka menerima kita." Ipah jadi ragu.
"Pak, ayo cepetan! kita jangan sampai terlambat! Cucu kita sudah berumur 40 hari." Pekik Sumiyati pada Sugeng yang masih didalam.
Sumiyati berdiri diambang pintu, ia melihat kedepannya setelah berkata pada suaminya.
"Ya Allah, kalian!" Sumiyati menutup mulutnya tak percaya.
"Iya Bu, ini kami." Ipah dan Imah saling berpandangan.
Mereka menghamburkan diri pada Sumiyati, keduanya memeluk ibunya dengan erat. Tubuh renta Sumiyati bergetar tak bisa bergerak. Kerinduan yang selama ini terpendam akhirnya bisa tercurahkan berkat kehadiran kedua putrinya.
"Akhirnya kalian pulang, Ibu sudah lama menahan perasaan rindu ini." Sumiyati terisak, bulir-bulir air bening menetes dan membasahi pipinya.
Mereka masih berpelukan, Ipah dan Imah meminta maaf pada Ibunya berulang kali.
Sugeng yang mendengar suara berisik berlari dari dalam rumahnya. Ia khawatir terjadi sesuatu pada istrinya.
"Ipah, Imah..." suara Sugeng tercekat melihat kedua putrinya. Ia melihat ada seorang anak lelaki dan balita perempuan yang tengah duduk di dipan teras.
__ADS_1
"Mereka ini cucuku semua?" Sugeng menciumi wajah Rico dan Zeta bergantian.
"Mereka anak Ipah Pak." Sahut Ipah melepaskan pelukannya dari Sumiyati. Ia mendekat pada Sugeng dan memeluknya erat. Kerinduan orangtua pada anaknya kini telah terobati. Mereka semua masuk kedalam rumah setelah capek menangis karena sekian lama tidak bertemu.
Kriiiiinnnggg
Dering suara ponsel Sumiyati berkali-kali berbunyi. Sumiyati seperti enggan untuk mengangkatnya. Ia tak tahu bahwasanya dilayar ponselnya ada nama Malik.
Ponsel itu tergeletak begitu saja diatas meja.
Sementara Malik mulai kesal menunggu kedatangan kedua orangtuanya. Ia tidak ingin acara malam ini tertunda. Adzan Maghrib selesai berkumandang, Malik berpamitan pada istrinya untuk menjemput orangtuanya. Semua persiapan untuk menyambut tamu undangan sudah siap sedari sore tadi. Catering dan pelayan Elisa sudah menyiapkan semuanya.
Anak Malik masih tertidur pulas di ranjang goyangnya. Nissa melihat adiknya dengan penuh semangat. Terkadang ia mengelus pipi adiknya yang gembul.
Malik sudah sampai di halaman rumah ibu dan bapaknya. Ia langsung turun dan memanggil keduanya dengan bergantian.
Ada seorang anak kecil membuka pintu untuk Malik. Malik heran dengan anak itu, sepertinya ia pernah melihat wajah yang mirip dengan bocah lelaki itu tapi entah dimana.
"Om ini siapa ya?" tanya anak kecil itu dengan polosnya.
"Kamu siapa? kenapa kamu ada disini? mana Ibu dan Bapakku?" Malik bertanya bertubi-tubi.
"Om, aku itu nanya. Kenapa Om malah balik nanya?" anak itu sebal dengan pertanyaan Malik yang banyak.
"Kamu siapa? jawab aku!" Malik mulai meninggikan suaranya.
"Siapa Rico?" suara Perempuan didalam rumah terdengar di telinga Malik.
'Apa yang terjadi? kenapa ada anak ini dan suara perempuan didalam rumah? kemana Ibu dan Bapak?' Malik membatin.
Tap..tap...tap.
Suara langkah kaki terdengar, Malik melongo kedalam untuk melihatnya.
"Ibu kenapa mereka.....
Bersambung di bonchap part akhirðŸ¤
Bulan depan akan ada novel sekuel dr Supir untuk Sang Nyonya. Di tunggu saja ya para pembaca setiaku. Terimakasih banyak atas dukungan selama ini.
Bisa juga follow IG ku: Swan_princess_1904.
__ADS_1
Disana juga ada info tentang novel author di platform lain🤗🤗