
Sudah 2 bulanan Dendi mendekam di penjara.
Tak ada rasa penyesalan di hati. Dia malah dendam karena Malik bisa melarikan diri, sementara dia tidak.
Dia selalu menyebar informasi kepada polisi bahwa supir yang kabur itu bernama Malik Jayadi. Tapi, omongan Dendi tidak diindahkan polisi yang bertugas disana.
Dendi pun merasa heran.
Cuiiihhhh. Enak bener tu orang. Awas aja nanti, dia bakal ngerasain apa yang kurasa didalam sini. Tidur tanpa alas dan bantal. Makan makanan yang tak layak.
Raut wajah Dendi selalu saja marah kalau mengingat Malik. Hatinya bergejolak ingin meluapkan segalanya. Tapi, keadaan disini tak memungkinkan. Apalagi selama ini, orangtuanya sendiri pun tak pernah berkunjung menanyakan kabarnya.
...----------------...
*
*Bos David Pov.
Aku pengusaha terkenal di seluruh pulau ini. Tidak ada yang bisa mengalahkanku. Segelintir orang mungkin akan tertarik dengan bisnis yang aku geluti. Tapi, tidak semuanya bisnis itu aku peroleh dengan cara yang halal.
Aku duduk di kursi CEO ku yang mewah.
Bahan kulit kualitas premium membuatku betah berlama-lama dan duduk disini.
Setiap minggu akan ada anak perusahaan lain yang akan mengemis padaku. Agar aku menginvestasikan danaku ke perusahaan mereka. Mereka yang tidak berpikir panjang dan memikirkan keuntungan semata. Hanya manggut-manggut saja dengan syarat dan ketentuan yang aku ajukan.
Pada akhirnya mereka akan terjebak dan mengalami kebangkrutan berkala. Dari sinilah aku bisa mengakuisisi anak perusahaan mereka. Sungguh cara yang mudah bagiku untuk menghasilkan keuntungan.
Mereka dengan bod*hnya mengiyakan syarat yang aku ajukan dan menandatangani berkas-berkas yang belum mereka pahami.
Seorang pebisnis kelas kakap sepertiku memang tak layak disandingkan dengan pebisnis kelas teri seperti mereka.
Dua bodyguard ku mengetok pintu. Aku menyuruh mereka berdua masuk kedalam ruangan ini.
"Maaf bos David. Orangtua Dendi bos, bu puji dan suaminya ada di ruang tunggu. Mereka tak pantang menyerah untuk bertemu dengan anda bos!" Ujar si kepala plontos.
"Biarkan saja mereka menunggu, aku akan mengulur waktu. Kamu, sampaikan saja kalau aku masih sibuk dengan berkas pekerjaan!" tunjukku pada si gondrong.
Mereka berdua pengawal pribadi kesayanganku. Aku percaya dengan mereka. Mereka juga yang menyelidiki kecurangan Dendi. Supir itu tidak tahu apapun mengenai ini. Dendi pun masuk kedalam jebakanku.
*
*Flashback sehari sebelum penangkapan Dendi.
Tergopoh mereka berdua menghampiri. Raut wajah mereka berubah serius. Mereka sudah menyelidiki kebocoran dana. Ya, uang yang seharusnya aku terima utuh sudah dipermainkan oleh Dendi selama itu. Selama 7 bulan dia bekerja padaku.
"Bukti sudah kami dapatkan bos David! Dendi menyimpan 3 barang elektronik untuk kantong pribadinya sendiri. Dia meminta harga yang pantas bagi orang yang menawarnya." Ucap si plontos dengan memberikanku bukti foto-foto penggelapan yang dilakukan Dendi.
"Anak ini licik seperti aku. Tapi, lihat saja! kali ini aku akan meringkusnya. Siapkan polisi untuk menangkapnya!" suruhku lantang.
"Anak ini berani bermain-main denganku. Lihat saja pembalasanku!" Ucapku lagi.
"Besok malam pengiriman di tengah hutan K bos, apakah besok malam waktu yang pas untuk menangkapnya?" tanya si gondrong.
"Ya, kalian atur saja semuanya! ringkus anak licik itu! oh ya, itu si supir. Apakah dia dapat uang dari penjualan Dendi?" tanyaku penasaran.
"Kami tidak menemukan jejaknya bos. Dia bersih, bahkan Dendi dengan sengaja memotong persenan supir itu dan mengambilnya sendiri." Jelas si plontos.
__ADS_1
"Baiklah, biarkan dia lolos. Dendi, Dendi, kamu memang penuh intrik. Sayangnya kamu akan merasakan pembalasanku. Karena sudah berani bermain-main denganku!" geramku sambil meremas foto-foto itu dan membuangnya sembarangan.
"Kalian! cepat laksanakan perintahku. Buat seakan-akan polisi mengendus pengiriman itu.
Aku akan mengerahkan polisi bayaranku untuk ini!" suruhku dengan lantang.
Emosiku naik ke ubun-ubun. Memikirkan aku dicurangi oleh anak buahku sendiri.
"Anakmu sungguh licik dan picik bu Puji. Untunglah kalian tidak tahu akan hal ini. Jadi, kalian bisa bernafas lega. Aku yang akan mengirimkan Dendi kepenjara." Seringaiku licik sambil menggenggam erat pen ditangan.
Besok aku akan menyingkirkan tikus kecil itu.
Tikus yang selama ini menggigit harta tuannya sendiri.
Aku hanya tersenyum puas ketika membayangkan wajah tikus itu yang mendekam di penjara selama 5 tahun bahkan lebih.
*
*Flasback off.
Aku yang mengulur waktu hanya duduk sambil menaruh kakiku diatas meja.
Ku nikmati momen indah ini.
"Baru dua bulanan kau mendekam di penjara. Masih lama kau akan keluar tikus kecil. Rasakan itu!" senyumku lebar.
"Kalian, pergilah dulu! satu jam lagi barulah ijinkan bu Puji dan suaminya kemari. Aku akan mengatasi ini semua!" suruhku pada dua orang pengawalku.
"Baiklah bos David." Sahut mereka bersamaan.
*
...----------------...
*
*Puji Pov.
Aku merindukannya. Anakku yang malang mendekam di penjara selama ini. Kami hanya bisa berdoa dia baik-baik saja disana. Walaupun kami masih belum bisa menemuinya.
"Pak, kita ke perusahaan bos David saja yuk!" ajakku pada suamiku.
"Bu, sudah beberapa kali kita mencoba kesana. Tapi, bos David seakan tidak peduli." Ucapnya.
Memang benar apa yang dikatakan suamiku.
Bos David bukan hanya tidak peduli. Tapi, beliau seakan-akan tidak mau tahu tentang hal ini. Perasaanku sebagai seorang ibu sungguh menderita. Aku hanya ingin melihat Dendi bebas dan berkumpul lagi dengannya.
"Ibu harus kesana pak! pekerjaan ibu juga sudah selesai disini. Bapak ikut atau tidak terserah bapak saja!" aku beranjak meninggalkan suamiku.
Dia menyusul langkahku.
"Tunggu bu! biarkan aku ikut denganmu. Kita bersama-sama membujuk bos David!" Ucap suamiku yakin.
Kami berboncengan ke perusahaan bos David.
Meminta bertemu dengan bos David sangatlah sulit. Karena beliau CEO yang super sibuk dengan pekerjaannya.
__ADS_1
Setelah menunggu di bawah. Kami dipersilahkan naik ke lantai atas. Dimana ruangan bos David berada. Kami di bawa ke suatu ruangan tunggu di sebelah tempat kerja sekretaris bos David.
Kami duduk dan menunggu dengan tidak sabar.
Sudah hampir dua jam kami disini. Menunggu ketidak pastian, apakah kami akan ditemui oleh bos David.
Telepon berdering. Wanita itu menjawab dan mengiyakan suara di seberang sambil melihat kami berdua.
Setelah menutup telepon. Dia bangkit dari kursinya dan mengajak kami untuk mengikuti.
Kami masuk kesebuah ruangan besar dan mewah. Perabot disini terlihat mahal dan memiliki merek yang terkenal.
Disana, bos David menyilangkan tangannya. Beliau mempersilahkan kami duduk di kursi yang di dorong oleh sekretaris tadi.
Kami duduk dengan berhati-hati. Ketakutan terpancar di wajah kami ketika melihat raut wajah bos David yang seperti tidak nyaman akan kedatangan kami berdua.
"Kenapa lagi kalian berdua kemari?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Ka-ka-mi, itu bos. Ka-mi mau minta tolong!" jawabku tergagap.
"Minta tolong apa? saya tidak punya banyak waktu!" Seru bos David acuh.
"To-long lah bos, anak kami kasihan sekali ada di penjara. Tolong anak kami bos!" pinta suamiku memelas.
"Tahukah kalian? kalau yang berulah itu anak kalian sendiri. Dia menantang saya dengan cara menjual beberapa barang elektronik. Dan uangnya dia kantongi sendiri." Jelas bos David.
Aku berpandangan dengan suamiku. Aku tidak menyangka Dendi akan menampung keuntungannya sendiri. Kami bergetar dan memohon ampun pada bos David. Hanya inilah cara satu-satunya.
"Ampuni kami bos! ampuni anak kami bos! tolonglah kami!" Aku dan suamiku memohon dengan cara menyembah bos David.
Bos David bangun dari duduknya. Beliau menghampiri kami dan tersenyum dengan lebar.
"Kalian memang tahu diri. Tapi, tidak untuk anak kalian! Dendi akan merasakan akibatnya karena sudah berani bermain-main denganku!" Kata bos David acuh.
"Tolonglah kami bos! kami mohon sekali belas kasihan dari Anda bos David!" pintaku yang masih bersimpuh.
"Sudah terlambat. Awalnya aku akan memberinya pelajaran selama 5 tahun penjara. Tapi, aku akan meringankannya menjadi 2 tahun saja. Itu keputusan akhirku titik!" bos David berkata dengan tegasnya.
Beliau kembali duduk di kursinya. Kakinya dinaikkan diatas meja kerjanya.
"Terimakasih banyak bos! setidaknya anak kami tidak berlama-lama dalam penjara." Aku terisak pelan.
"Pergilah kalian! jangan sampai aku melihat kalian di sini lagi! kalian cukup berada dirumah utama mengerjakan pekerjaan kalian." Suruhnya pada kami.
"Terimakasih banyak bos David atas kemurahan hati anda. Kami permisi dulu bos!" Ucap suamiku.
Kami bergandengan tangan keluar dari ruangan ini. Setidaknya kami bisa bernafas dengan lega bahwa Dendi tidak akan di penjara selama lima tahun.
Bersabarlah nak, ini sudah menjadi takdirmu. Engkau yang memulai semua ini. Jadi, engkau pula yang harus bisa menerima balasannya.
*
*
*
Selamat membaca readers setia.
__ADS_1
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankannya.🤗🤗
Tetap beri dukungan berupa like setiap episodenya. Komen, rate ⭐️5, favorit dan votenya. Siapalah saya tanpa dukungan dari kalian semua. Terimakasih banyak-banyak.🙏🙏🙏😘😍