Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 96. Tak ada lagi kesempatan


__ADS_3

Pagi yang kelabu.


Pagi itu juga Mj di bawa Sandra kekosannya dan harus mengemasi barang-barang. Sandra menghubungi Rexy dan orang suruhan nya yang selama ini memantau Mj.


"Berangkat kekosan sopir kampung itu dulu baru ke bandara!" Sandra menyuruh pria yang berada di balik kemudi.


"Baik nona!" ia mengiyakan permintaan Sandra.


"Suara ini sepertinya aku pernah mendengarnya!" suara batin Mj.


Mj hanya bisa melihat dari kaca spion diatas


kepala pengemudi. Ia belum melihat wajah itu dengan jelas. Mj hanya bisa menghela nafas dan membuangnya kasar.


Selang beberapa menit kemudian sampailah mereka berempat di kosan Mj. Sandra menyuruh Mj lekas turun dari mobil dan secepatnya mengemas pakaiannya.


Mj Keluar dari mobil, ia diam-diam memperhatikan wajah sang sopir. Ia menebak dan mengira-ngira bahwa ia pernah melihat orang itu. Mj berpikir lebih keras.


"Aku ingat sekarang! dia itu kan pria waktu itu, pria yang menerobos hujan dan bertanya tentang Hendra. Jadi, itu hanya alasan saja bukan benar-benar mencari Hendra!" batin Mj.


Mj tercekat dan tak menyadari bahwa selama ini Sandra telah menyuruh orang untuk mengawasi dan mengikuti nya. Apalagi orang itu juga menggali informasi tentang dirinya.


"Heh, cepet dong!" bentak Sandra pada Mj yang masih mengemas pakaiannya.


"Elu masih untung gak di tahan di dalam penjara! abang gue masih punya hati, makanya elu kudu pulang dan jauh dari Elisa!" Sandra memperhatikan gelagat Mj yang mulai terlihat tak biasa.


"Oh iya, ponsel elu mana? sini kasih ke gue!" pinta Sandra dengan kasarnya.


Mj mengulurkan ponsel yang ada di saku celana. Ia bergetar ketika Sandra mengambilnya.


"Kenapa elu? takut?" tanya Sandra acuh.


"Eeh, enggak kok!" jawab Mj pelan.


Sandra mengotak atik ponsel Mj dan memberikan ponsel itu lagi pada Mj.


"Penerbangan elu satu jam lagi! cepatlah be*o!" suruh Sandra.


"Udah semua non!" sahut Mj pasrah.


"Biarlah kita begini Elisa, mungkin ini jalan takdir kita. Aku juga tak bisa berbuat apapun!" Mj membatin dan wajah nya terlihat lemas.


Mereka kembali masuk kedalam mobil dan melanjutkan perjalanan menuju bandara internasional di kota itu.


Dua puluh menit kemudian mereka sampai di bandara.

__ADS_1


"Heh, sopir kampung! cepet! gue kudu nunggu elu sampe elu masuk kedalam kabin pesawat!" seru Sandra ketus.


Mj hanya tertunduk dan melangkah. Wajahnya yang lemas dan tak bersemangat membuat Sandra semakin senang.


Terdengar pengumuman bahwa pesawat yang akan di naiki Mj akan segera berangkat. Penumpang di harap masuk dan membawa boarding pass masing-masing.


Mj menyeret langkah nya yang berat. Ia sebenarnya tak mampu meninggalkan Elisa seorang diri di rumah itu. Mj takut Elisa akan jadi bahan bullian penghuni rumah keluarga Cahyono. Tapi, semua tak seimbang keinginan dan harapan keduanya. Rencana mendadak dari Cipto membuat mereka harus berpisah sampai disini.


Mj sudah berada didalam pesawat. Sandra sendiri yang mengawasinya masuk kedalam kabin pesawat. Ya, uang yang Sandra sogok untuk petugas ternyata ampuh agar Sandra bisa masuk dan melihat langsung bahwa Mj telah berada di dalam pesawat.


Sandra juga menyuruh petugas yang di sogok nya tadi untuk mengawasi Mj sampai pesawat lepas landas.


Sandra, Rexy dan orang suruhan itu kembali kerumah Cahyono. Dalam perjalanan Sandra mengobrol dengan Rexy.


"Yang, sekarang tinggal wanita kampung itu yang harus kita singkirkan!" seru Sandra semangat.


"Emang kamu punya rencana apa sayang?" tanya Rexy sambil mengelus pipi Sandra lembut.


"Pokoknya nanti gue kasih tahu elu ya yang! pasti elu akan suka deh!" sahut Sandra yang membalas perlakuan Rexy.


Sementara itu di rumah keluarga Cahyono.


Marshella yang menangis karena menyaksikan Mj diusir dan di pecat hanya bisa merenung. Air bening tak henti-hentinya mengalir dan membasahi pipi mulusnya. Ia berada dikamar nya dan tak mau berbicara dengan siapapun.


"Masa hanya gegara om Mj yang kaya gitu sampe ditangisin sih!" gerutu Silvia sambil melangkah.


Elisa yang di kunci di dalam kamarnya hanya bisa pasrah dan menangis. Ia seakan tak punya kekuatan untuk melawan. Air bening terus menerus membasahi pipinya sedari pagi tadi.


Ia hanya melihat Mj sekilas ketika dia diseret masuk kedalam kamar.


"Mas, aku harus gimana? aku gak mau hidupku seperti ini terus selama sisa hidupku!" Elisa hanya mampu berkata lirih seorang diri.


Netranya menampakkan kesedihan yang mendalam. Ia benar-benar tak menyangka semua akan seperti ini.


"Oh iya, ponsel! aku harus menghubungi mas Mj!" Elisa teringat sesuatu. Ia mengambil ponselnya diatas nakas.


Ia menghubungi nomor telepon Mj dan belum mendapatkan jawaban. Bahkan nomor itu sudah tidak aktif.


"Mas, kenapa gak aktif nomormu ini?" Elisa gelisah.


Ia menangis lagi dan lagi. Air bening itu seakan belum habis dan terus mengalir. Sampai akhirnya Elisa tertidur akibat terlalu lama menangis.


...----------------...


Beberapa jam kemudian pesawat telah turun dengan sempurna. Mj kini sudah berada di kota S tempat bandara internasional itu berada. Ia turun dan mengantri menunggu barang bawaannya. Ia berpikir harus kemana sekarang ini.

__ADS_1


"Apakah aku harus kembali ke pulau S ataukah aku harus pulang kerumah orang tuaku?" Mj berkata lirih.


Ia berpikir keras. Ia teringat akan ponselnya.


Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel itu. Dia menyalakan ponsel itu, ia tersentak kaget karena tidak ada nomor apapun didalam nya. Bahkan nomor ibunya sekalipun.


Mj mengotak atik ponselnya. Ia baru menyadari bahwa kartu SIM tidak ada di tempatnya.


"Aku terlalu memikirkan Elisa tadi, sampai-sampai tak menyadari kalau Sandra sudah mengambil kartu SIM Ponsel ku!" Mj menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Setelah mengambil barang nya, Mj akhirnya pergi keluar bandara dan membeli kartu ponsel baru. Ia memesan taksi online yang akan membawanya ke stasiun. Sungguh hal yang diluar dugaan, ia sudah berada kembali di kota ini. Ia membuka amplop coklat yang diberikan oleh Sandra tadi. Isinya lumayan tebal, sampai-sampai Mj membelalakkan netranya.


Di sebuah bus antar kota.


Dalam perjalanan ia masih saja memikirkan Elisa yang di kurung tadi. Pikirannya tak fokus pada orang-orang di sekelilingnya.


Satu jam kemudian bus kota berhenti dan menaikkan penumpang baru. Mj yang hanya merenung di sapa oleh orang yang baru saja naik bus itu.


"Mas Mj?? ini kamu kan?" tanya pria itu bersemangat.


Mj yang termenung belum menanggapi pertanyaan pria yang masih berdiri di sebelahnya.


"Mas Mj, kamu kenapa? kamu gak kenal lagi sama aku ya?" tanya pria itu kecewa.


Mj akhirnya mendengarkan dan memperhatikan pria di depannya. Keningnya berkerut dan kepalanya memikirkan sesuatu.


Kenangan di terminal membuatnya teringat siapa pria di depannya ini.


"Kamu??? kamu itu kan supir pak Bardi juragan angkot kampung sebelah itu kan?" tanya Mj.


"Benar sekali mas!" pria itu duduk di kursi kosong disamping Mj.


"Iya aku ingat sekarang, kamu itu kan......!


Mj tersenyum tipis mengingat teman seperjuangan dulu.


*


*


*


*Selamat membaca semua.


Terimakasih buat yang sudah membaca dari awal sampai saat ini. Jangan lupa dukung dengan cara like setiap episode, komen, favorit, rate ⭐ 5 dan bisa juga memberikan vote Mingguan.🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2