Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 123. Fatma dan Evans telah halal.


__ADS_3

Hotel Gurney.


Hari ini semua orang sibuk dengan resepsi pernikahan Fatma dan Evans. Semua keluarga dan relasi bisnis datang memberikan ucapan selamat. Fatma sungguh cantik bagaikan putri raja. Gaun pengantin yang bertema white and pearl membalut tubuhnya dengan indah.


Sedari siang Fatma sudah bersemangat sekaligus gugup. Ini pengalaman pertama nya menikah


"Wah, calon pengantin kita sepertinya sungguh mempesona dan anggun!" puji Elisa.


Ia masuk kedalam kamar pengantin untuk bertemu Fatma dan menyemangatinya.


"Aku deg-degan banget nih Lis! sebentar lagi akad nikah kan dimulai!" Fatma gugup.


"Yang gugup itu seharusnya mas Evans dong! kan dia yang akan mengucapkan ijab kabul!" kerling Elisa jahil.


"Aku tahu, aku juga gugup dengan hal itu! aku khawatir mas Evans akan membuat kesalahan!" sahut Fatma.


"Kita lihat saja nanti! tapi aku yakin kok kalau mas Evans berusaha keras untuk itu. Selama ini dia belajar dengan mas Malik!" terang Elisa.


"Benarkah? kenapa dia tak mengajakku?" kesal Fatma.


"Bisa-bisa salah fokus dan tambah gugup kalau mas Evans di perhatikan oleh mu Fat!" ujar Elisa.


"Benar juga ya! tapi apakah mas Evans sudah lancar mengucapkan itu?" tanya Fatma tak sabar.


"Kita lihat saja nanti!" ucap Elisa enteng.


Klikk, pintu terbuka.


"Sayang, acara akad nikah kalian sebentar lagi akan dimulai. Ayo kita keluar!" ajak Zainab pada putri satu-satunya.


Fatma menghembuskan nafas secara perlahan. Ia berusaha untuk bersikap tenang dan tak gemetar. Evans sudah menunggu di depan penghulu dan saksi beserta wali nikah Fatma yang tak lain dan tak bukan adalah ayahnya sendiri. Acara pun dimulai. Akad nikah berjalan dengan lancar dan khidmat. Evans lancar mengucapkan kata-kata ijab kabul. Semuanya bisa bernafas lega.


Acara berlanjut dengan resepsi di sebuah ballroom hotel yang berdekatan dengan tempat akad nikah tadi.


Ternyata semua hal yang dia idamkan selama ini bisa Evans wujudkan. Di Ballroom hotel ada sebuah taman yang di desain khusus untuk pengantin. Fatma sengaja meminta dibuatkan taman untuk mereka berfoto dengan keluarga nantinya.


Moms dan Daddy Evans sungguh bahagia bahwa anaknya akan menikah dan mendapatkan wanita yang tepat. Mereka menyayangi Fatma seperti anak sendiri. Pesta berlangsung dengan megah dan meriah. Elisa dan Malik memakai pakaian yang seragam. Mereka berdua sungguh sangat serasi, tak lupa Nissa juga memakai dress yang serupa dengan Elisa. Mereka bertiga berkeliling dan berkenalan dengan para tamu. Banyak tamu penting di acara itu. Apalagi orang tua Evans orang berpengaruh di Australia. Sementara Sugeng dan Sumiyati tengah duduk santai dan menikmati makanan mereka.


Sesi foto bersama pun dimulai. Kedua keluarga mempelai harus berani unjuk gigi keatas pelaminan. Kali ini orang tua Fatma sungguh bahagia, mereka melupakan Toni yang berada di jeruji besi untuk sementara. Kali ini keduanya sungguh bahagia melihat Fatma sudah sah menjadi istri orang yang hebat seperti Evans.


Malam sudah tiba. Acara pun telah usai. Kedua mempelai pengantin sudah berada di kamar hotel. Fatma terlihat lelah setelah seharian ini duduk dan berkeliling menyalami tamu undangan.

__ADS_1


Kedua keluarga juga sudah berada di kamar masing-masing. Tak lupa juga Elisa, Sumiyati dan Nissa berada di satu kamar. Sementara Malik berdua dengan Sugeng di kamar sebelah nya. Mereka semua sudah berganti baju dan tertidur dengan lelapnya.


(Kita intip kamar pengantin gak ya😁)


Kamar pengantin.


"Mas bukain gaunku nih! ribet banget deh!" seru Fatma kesal. Ia mencoba membuka gaunnya tapi tak kunjung terbuka juga.


Evans tersenyum dan mendekat pada Fatma.


Ia mencoba membuka resleting gaun pengantin Fatma yang hampir tak terlihat.


"Owh, jadi begitu ya bukanya!" Fatma bernafas lega.


Tanpa sadar ia langsung membuka gaunnya. Tepat setelah itu ia tersentak kaget karena ada Evans di depannya. Ia langsung berlari ke kamar mandi.


Evans menyusul Fatma. Ia mau membuka pintu sebelum di kunci. Tapi sayangnya Evans terlambat.


"Sayang! ayo buka pintunya! kita kan udah halal jadi gak usah malu ya!" Evans membujuk Fatma.


"Duh gimana ini? gak sengaja buka gaun di depan mas Evans!" gugup Fatma didalam kamar mandi.


Sementara Evans diluar sudah berganti dengan kaos putih polos dan celana pendek. Ia duduk dipinggir ranjang empuk.


"Jangan lama-lama disana sayang! ayo lah keluar!" suruh Evans.


"Iya mas, sebentar ya!" sahut Fatma.


"Duh gimana ini! apa aku harus keluar pake handuk ini?" cemas Fatma berkata pada dirinya sendiri.


Akhirnya Fatma keluar dengan terbalut handuk putih. Ia menghampiri lemari di sebelah kamar mandi untuk mengambil baju tidurnya. Ia tak tahu bahwa suaminya telah memperhatikan nya semenjak ia keluar dari kamar mandi. Evans menenggak Saliva nya dengan cepat ketika melihat Fatma hanya berbalut handuk.


Ia menghampiri istri nya dan memeluk nya dari belakang. Fatma tersentak kaget.


"Mas, kamu kok suka banget sih ngagetin aku!" sungut Fatma sebal.


"Gak usah malu sayang! gak usah kamu tutupi tubuhmu dengan handuk ini!" Evans menarik handuk Fatma.


Evans menyudutkan istrinya itu di dinding. Fatma tercengang dan spontan menutup daerah yang rawan dengan tangannya.


"Kita sudah menikah sayang! jadi tak usah malu lagi!" bisik Evans dengan suara parau.

__ADS_1


Ia tergoda melihat tubuh Fatma yang tanpa handuk. Evans mulai melancarkan aksinya.


(Udah ya segini aja gak usah di terusin ngintip Fatma dan Evans. Author jadi bengek kalau harus ngintip kemesraan mereka berdua. Maklumlah Author masih belum menikah jadi gampang bengek kalau ada adegan intip-intipan)


...----------------...


Pagi harinya.


Semua orang sudah bangun dan sudah rapi berpakaian. Pengantin baru kita entah dimana. Mereka masih belum turun untuk sarapan. Semua orang pun paham kondisi pengantin baru kita ini. Sarapan sudah dipersiapkan secara lengkap. Tiga keluarga sudah duduk di tempat masing-masing.


"Pak, anak kita kok belum turun juga ya? apa dia gak laper?" Zaynab khawatir.


"Bu, kalau sudah laper pasti mereka akan turun menyusul kita!" sahut Ahmad.


"Tenang saja! saya sudah menyuruh pelayan hotel untuk membawa sarapan mereka ke kamar nya!" Mommy Evans tersenyum ramah.


Ya, dia mengerti keadaan anaknya itu. Ia juga harus secepatnya mempunyai cucu yang banyak. Semua orang di meja makan akhirnya hanya diam dan memakan makanannya.


Nissa tak banyak bicara hari ini. Dia sungguh letih sedari kemarin. Apalagi pipinya selalu dicubit para tamu yang datang. Jadinya ia harus merasakan sedikit nyeri di kedua pipinya.


Di dalam kamar pengantin masih berlanjut acara lomba panjat pinang. Evans masih belum puas menyentuh Fatma. Hal yang baru pertama kali ia rasakan adalah menikah dengan seorang gadis perawan. Kali ini ia sungguh beruntung dan bahagia. Istrinya itu sungguh membuat Evans semakin mencintai nya.


(Udah lah acara panjat pinang nya. Ganti acara panjat tebing ajah, eh.)


Semua keluarga berkumpul dan bercengkrama di kamar hotel yang paling besar. Mereka bermain kartu dan taruhan pake bedak bayi. Siapa yang kalah maka wajahnya akan di oles bedak bayi. Nissa tertawa terbahak-bahak melihat wajah Daddy Evans penuh dengan bedak. Sungguh hari kebahagiaan Fatma dan Evans.


Di satu sisi. Ada 5 orang pemuda mengunjungi rumah Malik. Mereka tak tahu bahwa sudah tiga hari Malik dan keluarga nya menginap di hotel karena pernikahan Fatma dan Evans.


"Udah lah kita pulang aja! besok kita kesini lagi!" ucap pria bertubuh mungil.


"Yuk kita pulang! jangan lupa hubungi gue kalau elo dah ketemu sama Malik!" sahut pria lain.


Mereka berlima mulai pergi menjauhi rumah Malik.


*


*


*Bersambung dua bab terakhir.


Selamat membaca. Jangan lupa untuk tinggalkan jejak.

__ADS_1


__ADS_2