Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 100. Pertemuan kembali dengan Malik


__ADS_3

Kampung Malik.


Sore itu Aisyah mengantarkan Nissa kerumahnya dan sekalian membawa keponakan nya bermain bersama Nissa.


Ia mengetuk pintu dan memberikan salam.


Seseorang menghampiri pintu dari arah dalam. Ia tak menjawab salam dan tak menyapa Aisyah yang berada di depannya. Setelah itu ia langsung masuk kembali kedalam kamarnya.


Nissa yang berada dihadapannya pun tak di gubrisnya apatah lagi Aisyah yang hanya bertemu beberapa kali saja.


Aisyah hanya bisa menghela nafas panjang dan berat. Dia tak menyangka bahwa Malik akan berubah sedrastis ini.


Anissa dan Meilani bermain bersama di ruang tengah yang sempit. Aisyah hanya memantau Nissa dan keponakannya sambil bermain ponsel. Ia membuka akun sosial medianya.


Tak lama kemudian ada suara ketukan pintu.


Tapi, Aisyah tak mendengarnya karena terlalu asyik dengan lamunannya.


"Tante, ada tamu. Ada yang mengetuk tuh!" seru Nissa.


"Ah iya, tante aja yang bukain pintunya!" Aisyah terhenyak dari lamunannya. Ia segera beranjak dan bergegas membuka pintu.


Ceklek, pintu terbuka.


Aisyah sedikit tersentak dengan seorang pria dihadapannya. Ia belum pernah melihat pria itu selama ini.


"Maaf, ini benar rumah bu Sumi kan?" tanya pria itu terkejut karena yang membukakan pintu ternyata seorang gadis muda.


"Iii-ya, ini rumah beliau!" jawab Aisyah terbata.


"Saya pikir beliau itu sudah pindah!" ucap pria itu lega.


"Ada apa mas? kok belum masuk sih?" tanya perempuan yang bersama pria itu.


perempuan itu menyusul di belakang sang pria.


Perempuan itu melihat Aisyah. Ia langsung saja menyapa.


"Aisyah, itu kamu kan?" tanya perempuan yang bersama pria itu.


"Kamu, kamu itu kan si Fatma! adeknya mas Toni!" Aisyah tersenyum getir mengingat kenangan masa lalu tentang Fatma.


"Iya, ini aku Ais! oh ya kamu kenapa bisa ada disini? dimana ibu?" tanya Fatma sambil menelisik sekeliling rumah.


"Eh, kalian masuk saja dulu!" seru Aisyah tersenyum.


Siapa pria tampan ini? kenapa dia bisa bersama Fatma? sebenarnya apa hubungan mereka?


Mereka bertiga masuk kedalam dan menemui Nissa serta Meilani.


"Seru nih kayanya main boneka! pantesan ajah tante dateng bersama om malah gak di gubris!" Fatma memasang raut wajah sok cemberut.


"Tante!" Nissa menghampiri Fatma dan memeluknya. Ia melihat ada Evans disana dan memeluk erat Evans.


"Asyik, rumah Nissa rame deh!" seru Nissa girang dengan gaya khas bocahnya.


"Temennya kok gak dikenalin sih?" tanya Fatma.


"Maaf tante, kenalin nih teman aku. Namanya Meilani!" seru Nissa semangat.


"Benarkah? nama yang bagus secantik orangnya!" Fatma mengelus kening Meilani.


"Makasih tante!" senyum Meilani mengembang.

__ADS_1


"Oh iya Ais, ibu kemana ya? kok gak keliatan?" tanya Fatma.


"Ibu tadi pagi bilang mau mencuci baju dirumah bu RT!" jawab Aisyah singkat.


"Apa? mencuci baju?" tanya Evans yang melongo tak percaya.


"Iya mas, ibu dari dulu bekerja menjadi buruh cuci! ibu gak mau berpangku tangan!" Fatma menjelaskan.


"Tapi yang, kan aku udah bilang kalau ibu harus beristirahat dan gak boleh bekerja terlalu berat!" Evans mengeluh.


"Ibu sudah biasa mas, dan beliau mengambil pekerjaan itu hanya sekali-kali saja kok. Gak tiap hari!" Fatma menjelaskan.


"Tapi tetap saja aku kasihan melihat ibu yang kecapean!" sahut Evans.


Aisyah hanya memandang Fatma. Ia merasa bahwa Fatma terlalu dekat dengan pria itu.


Siapakah dia sebenarnya? baru pertama kali aku melihatnya disini.


Fatma teringat sesuatu.


"Maaf Aisyah, kami berdua mengacuhkan mu! oh iya kenalin dia ini calon suami ku!" Fatma melihat Aisyah yang terdiam seorang diri.


"Oh iya maaf ya! nama saya Evans!" ucap Evans sambil mengulurkan tangannya.


"Tak masalah, saya Aisyah!" Aisyah tersenyum kecil.


Melani dan Nissa yang asyik bermain tak mengindahkan ketiga orang dewasa di samping nya. Fatma melihat ada sebuah koper besar di samping dapur. Ia mengernyitkan dahi dan bergumam.


"Koper siapa itu? besar juga ya!" heran Fatma.


"Kenapa Fat?" tanya Aisyah yang mendengar sekilas gumaman Fatma.


"Itu lho, ada koper besar disana!" tunjuk Fatma.


"Owh itu, itukan koper nya mas Malik." Sahut Aisyah enteng.


"Ehem," Evans berdehem melihat tunangan nya yang girang ketika mengucap nama Mj.


"Iya Fatma, sudah 3 hari yang lalu dia pulang!" jawab Aisyah.


"Dia dimana ya sekarang ini?" tanya Fatma bersemangat.


"Ia ada di kamarnya! tingkahnya aneh semenjak ia pulang dari pulau itu!" ucap Aisyah murung.


"Aneh gimana sih? aku gak ngerti deh!" kernyit Fatma bingung.


"Lebih baik kamu kesana aja langsung! coba bicara dengan mas Malik!" usul Aisyah.


"Baiklah kalau begitu! mas Evans , ayok kita ke kamar mas Malik!" seru Fatma.


Ia mengajak Evans bertemu dengan Malik.


Mereka berdua mengetuk pintu kamar Malik, Malik yang mendengarnya hanya mampu berkata masuklah.


Malik hamya memainkan ponselnya dan membuka akun sosial media.


"Mas, ini aku Fatma dan mas Evans!" ucap Fatma.


Malik menoleh kearah mereka berdua bergantian.


"Ada apa sih kalian ini!" sahut Malik tak enak hati.


"Kami hanya mau memastikan kalau kamu benar-benar pulang mas!" Fatma menjawab pertanyaan Sandra.

__ADS_1


"Iya, disinilah aku Sekarang!" Mj menjawab tak bersemangat.


"Berkumpul bersama keluarga tapi kok kamu gak bersemangat bro!" Evans membuka suaranya.


"Entahlah!" jawab Mj sekenanya.


"Kamu seperti orang yang sedang patah hati bro! apa jangan-jangan kamu.....?" Evans tak meneruskan perkataannya.


Mj berpikir Evans pasti salah paham terhadap nya kini.


"Tenang saja bro, Fatma aman kok! dari dulu gue cuma anggep Dy seperti adik sendiri!" sahut Mj cepat.


"Baguslah kalau begitu!" ucap Evans.


"Mas Malik kenapa pulang cepat?" tanya Fatma yang penasaran.


"Ada masalah sedikit Fat, tapi sekarang semuanya sudah beres!" Mj menyahut pelan.


"Ya sudah mas, kami keluar dulu ya menunggu ibu!" Fatma beranjak meninggalkan Malik di kamarnya. Evans mengikuti Fatma.


"Kalian tidak akan pernah tahu rasanya seperti aku ini gimana!" Mj bergumam lirih hampir tak bersuara.


Tak lama, Sumiyati pulang dan bergabung dengan para tamu dirumah nya.


Mereka akhirnya bertemu dan membicarakan proyek baru yang sebentar lagi akan dibangun Evans tak jauh dari pusat alun-alun di kampung ini.


...----------------...


*Kediaman rumah Cahyono.


Elisa sudah 3 hari ini tak berselera makan dan minum. Ia hanya mampu menelan beberapa sendok makanan saja.


Ia pamit pada suaminya itu bahwa akan menginap di rumah bunda Marwah.


Ia tetap bersikeras akan kesana walaupun suami nya melarang.


"Jangan kuatir akan keadaanku! mas Mj sudah tidak disini, aku tidak akan bisa lagi mencintai orang lain seperti aku mencintai mas Mj." Ucap Elisa spontan.


"Tttaaa-ppi," Cipto tergagap.


"Aku berangkat dulu!" pamit Elisa yang meninggalkan Cipto sendirian di kamarnya.


Elisa memesan taksi online menuju rumah bunda Marwah. Ia tak mau terjadi apa-apa dijalan, karena itulah dia tak mau menyetir dengan pikiran kalut seperti sekarang.


Taksi itu menunggu di depan rumah. Ia langsung masuk dan menyuruh supir itu untuk melajukan mobilnya.


"Pak, santai aja ya nyetirnya! maaf kalau lokasi nya lumayan jauh dari sini!" Elisa berkata pada sang supir.


"Baik, mbak!" sahut supir itu.


Kendaraan itu meluncur di tengah padatnya jalanan kota. Elisa hanya mampu memandang kearah luar jendela mobil.


Ia yang mendapat kabar tentang kecelakaan sandra tidak di perbolehkan pulang ke rumah Marwah. Tapi, tetap saja ia tak mau mematuhi aturan suaminya.


Di tengah perjalanan ada sosok lelaki yang sepertinya mirip dengan seseorang.


"Pak, tolong kejar motor itu! saya penasaran siapakah dia!" Elisa bergetar.


"Semoga saja itu dia!" harap Elisa yang mulai memancarkan rona bahagia.


*


*

__ADS_1


*


*Selamat membaca semua 🤗


__ADS_2