Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
B. C Setahun Kemudian.


__ADS_3

Bruagh....'


Elisa terjatuh dilantai rumah nya. perutnya yang membesar membuat dia kesusahan mengambil ponselnya yang terjatuh sehingga Elisa kehilangan keseimbangan.


"Ahhh, MAMA....!" pekik Annisa melihat mamanya yang terjatuh. Annisa langsung menghampiri Elisa.


Malik baru saja masuk kedalam rumah nya. Sore ini ia pulang lebih awal karena sengaja ingin memeriksakan kehamilan Elisa yang sudah cukup bulan.


"Elisa sayang....Annisa sayang, ayah pulang nih." Malik melangkah masuk dengan santai.


Annisa yang mendengar suara ayahnya sontak saja memanggil dengan cepat.


"AYAH...mama jatuh dan pingsan." Pekik Annisa kencang.


Malik yang mendengarnya langsung saja sontak berlari kearah Elisa. Disela-sela paha Elisa terlihat ada cairan bening yang mengalir.


"Annisa buka pintu mobil nak, Mama mu sepertinya mau melahirkan." Suruh Malik pada putrinya.


"Iya ayah." Annisa berlari sekencang mungkin.


Rumah Malik tak seperti dulu, kini mereka bertiga hidup di sebuah rumah baru yang besar. Bangunan nya pun khas rumah moderen. Kedua orang tua Malik tak mau pindah ke rumahnya yang baru. Mereka masih saja ingin menempati rumah turun temurun itu.


"Tahan sebentar lagi sayang! kita ke Rumah Sakit sekarang juga." Ucap Malik menggotong tubuh Elisa.


"Cepatlah ayah!" Annisa sudah berada di dalam mobil dan membiarkan pintu nya terbuka.


Malik menyenderkan kepala Elisa di kursi sandaran mobil. Dengan cepat ia bergerak ke arah kemudi. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi disore itu.


Di Rumah Fatma.


Zaenab tengah menggendong seorang bayi mungil. Umur bayi itu kira-kira dua bulanan, sementara Fatma duduk dengan santai dan nyaman diteras menunggu Evans pulang.


"Kamu masuk saja nak! gak baik lho kelamaan di luar, bisa-bisa masuk angin nanti." Ucap Zaenab.


"Iya.....iya Bu sebentar lagi ya aku masuk." Cengir Fatma.


Zaenab mulai melangkah lagi masuk kedalam rumah. Ia khawatir cucunya itu akan terkena angin sore.


Tak lama Fatma menyusul masuk ketika Evans yang ditunggunya sudah pulang.


"Sayang kenapa kamu menunggu aku diluar? mana gadis kecilku?" tanya Evans setelah berada disamping istrinya.


"Reva digendong neneknya mas, Ayuk lah kita masuk dahulu." Ajak Fatma.


Mereka berdua saling berpandangan dan bergandengan tangan. Evans mengecup kening istrinya. Ia juga tak sabar untuk mencium bayi mungil nya.


Tiiiin.....tiiin.


Suara klakson mobil berbunyi nyaring. Setelah itu Malik keluar dari mobilnya dan memanggil petugas Rumah Sakit.

__ADS_1


"Pak... istri saya mau melahirkan. Bawakan brankar sekarang juga!" pinta Malik.


Petugas medis datang tergopoh-gopoh. Elisa diangkat oleh beberapa orang dan masuk ke ruang bersalin.


Malik dan Nissa menunggu diluar kamar bersalin. Keduanya tegang dan nampak saling menguatkan diri.


"Ayah, mama Lisa gak kenapa-napa kan? kenapa tidak ada suara didalam sana?" Elisa khawatir.


"Ayah juga gak tau nak, doakan saja semoga mama dan adikmu selamat." Malik memaksakan senyumnya didepan Nissa.


Pikiran nya berkecamuk karena ini pengalaman pertama Elisa melahirkan.


Pintu dibuka dari dalam, seorang dokter memanggil Malik agar masuk menyemangati istri nya.


"Loh saya pikir bapak bukan suaminya. Mari masuk pak! berikan semangat dan dukungan pada istri nya. Si kecil bandel masih muter dari tadi." Ajak Bu dokter.


Malik mengiyakan, dan ikut masuk bersama dokter. Annisa yang melihat ayahnya masuk hanya bisa melongo dan kebingungan.


Setengah jam telah berlalu. Suara tangis bayi terdengar sampai ke telinga Annisa.


"Adek bayi nya nangis...adek bayi aku udah lahir," Nissa memekik kegirangan diluar kamar persalinan.


"Alhamdulillah sudah lahir sayang." Malik mengecup kening Elisa yang sudah berjuang melahirkan anaknya.


"Anak kita cewek apa cowok mas?" tanya Elisa lemah.


"Dokter, istri saya pingsan... tolong dia Dok!" Malik memanggil dokter yang sudah keluar ruangan. Bayi Malik dan Elisa sudah dibawa keruang rawat untuk dibersihkan.


Satu dokter dan dua perawat berlari ke arah kamar persalinan. Dokter memeriksa kondisi Elisa yang tak sadarkan diri.


"Fiuh....saya pikir pasien kenapa-napa." Dokter bernafas lega.


Seorang perawat sudah memasang infus di tangan Elisa.


"Istri saya kenapa dok? dia tiba-tiba saja pingsan." Tanya Malik.


"Istri bapak hanya lemah dan kecapean saja, sebentar lagi sudah boleh pulang kok setelah cairan infus itu habis." Ucap dokter.


"Terimakasih Dokter....saya akan disini menjaganya selalu." Malik mengelus kepala Elisa.


"Saya permisi dulu ya pak! Istri bapak hanya butuh banyak istirahat. Dan anak bapak sudah boleh bapak lihat." Ucap dokter itu dan berlalu pergi meninggalkan Malik.


Annisa masuk karena melihat dokter itu sudah pergi.


Ia tercengang begitu melihat Elisa di infus dan belum sadarkan diri.


"Ayah....Mama kenapa?" tanya Nissa tercekat.


"Mama kamu butuh banyak istirahat saja nak. Keadaan nya normal dan wajar kok." Jelas Malik.

__ADS_1


"Nissa takut kalau Mama kenapa-napa Ayah!" Nissa terisak.


"Jangan takut nak....kamu tunggu disini ya! ayah mau mengambil adik bayi dulu." Ucap Malik.


Nissa hanya mengangguk setuju dan mendekati brankar Elisa.


Tak berapa lama Malik datang dengan menggendong seorang bayi yang lucu dan menggemaskan. Annisa mencegat ayahnya.


"Ayah...Nissa mau melihat adek bayi." Ucap Nissa berbinar-binar.


"Adek bayinya sudah tidur sayang....jangan sampai bangunin adek bayi ya!" Seru Malik.


Nissa hanya mengangguk patuh. Sementara Malik menaruh bayinya di box khusus bayi di sebelah kiri brankar Elisa.


"Ayah...adek bayinya cowok apa cewek?" Tanya Nissa lagi.


"Adek bayinya kaya Ayah dong....tuh lihat adeknya cakep kan?" Malik terkekeh.


"Yah Nissa gak punya adek cewek buat maen boneka bareng deh." Keluh Nissa setelah tahu bahwasanya adiknya seorang lelaki.


"Yang penting bisa diajak main yang lainnya kan?" Malik tersenyum lebar.


"Iya aja deh." Jawab Nissa.


Sudah separuh cairan infus berkurang. Elisa membuka netranya dengan perlahan. Pandangan nya tertuju pada box bayi disampingnya.


"Mas Malik...." Lirih Elisa.


Malik yang tertidur disofa tak mendengar suara istrinya. Elisa memanggil lebih keras lagi.


Malik dan Nissa tersentak bersamaan karena ada suara yang memanggil.


"Sayang....kamu sudah bangun?" Malik bangkit menghampiri Elisa.


"Mama adek bayi kita kaya Ayah lho...kata Ayah cakep." Nissa mulai kegirangan.


Malik menggendong anaknya dan membaringkan tubuhnya disebelah Elisa.


"Dia sudah bangun mas...biar aku menyusuinya dulu." Elisa mulai membuka kancing bajunya dan menyusui bayi mungil nya yang menggeliat.


Terlihat pemandangan yang begitu harmonis antara Malik, Elisa, Annissa dan sang bayi mungil.


Mereka tersenyum dan saling berpandangan dengan raut wajah berbinar-binar.


"Astaga......aku lupa sayang!" ucap Malik teringat sesuatu.


Nantikan bonus chapter selanjutnya.


🤭🤭🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2