Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 105.


__ADS_3

Rumah Malik.


Mj terengah-engah ketika sampai dirumah. Ia mulai mengatur napas dan membuka pintu rumah. Ia meninggalkan Aisyah yang tak mampu menyusul langkahnya.


Disana Nissa tengah duduk di depan Sumiyati. Nissa memegang boneka kesayangannya.


Mj mendekati Nissa dan langsung memeluknya. Ia menatap sang anak dan memberikan kecupan sayang pada kedua pipi Nissa.


"Nissa, tadi kamu kemana? kita semua mencarimu kemana-mana!" Mj mulai berceloteh.


"Tadi Nissa diajak tante yah! tante itu bilang teman ayah kok!" Nissa menyengir lebar.


"Tante siapa? kenapa gak ijin ayah dulu sih kalau tante itu kenal dengan ayah!"


"Nissa gak tau siapa namanya ayah! Nissa keluar mengejar kupu-kupu tadi, terus tante itu datang ngajak Nissa!" jelas Nissa jujur.


"Terus Nissa di bawa kemana?" Mj bertanya.


"Nissa di bawa ke restoran ayah! makan kentang goreng, nugget sama minum milk shake!" jawab Nissa girang.


Malik yang mendengarnya melongo ketika anaknya semangat menceritakan kejadian tadi.


"Bu, kalau begitu Nissa pergi dengan siapa ya? siapa yang ngajak dia tadi?" telisik Mj.


"Entahlah nak! ibu juga bingung. Fatma kan kerja jadi bukan dia yang membawa Nissa pergi." Sahut Sumiyati.


Sumiyati baru menyadari keberadaan Aisyah.


"Nak Ais, ayo kesini! jangan berdiri disana!" ajak Sumiyati.


"Baiklah bu!" Aisyah mendekat kearah Mj dan Sumiyati.


"Maaf ya Ais, aku mengacuhkan mu!" sesal Mj yang melupakan Aisyah.


"Santai aja mas, mas kan lagi khawatir karena Nissa baru ketemu!" Aisyah tersenyum kaku.


Mereka berbincang dan bertanya kepada Nissa mengenai siapa wanita yang membawanya tadi.


Disisi lain. Di suatu sudut kampung di dalam sebuah rumah mungil.


Taksi berhenti didepan rumah itu. Seorang wanita keluar dari sana sembari menenteng tas kresek besar.


Ia langsung berjalan kearah rumahnya. Berharap suaminya belum pulang bekerja.


Ia meletakkan kresek itu ketika sudah berada di dalam rumah. Kejadian tadi membuat nya merasakan kebahagiaan. Beberapa tahun terakhir, dia tak bisa menyentuh dan mencium sang anak gadis.


"Nissa, ibu sangat merindukanmu!" senyum lebar menghiasi bibir Rosyanti.


"Alhamdulillah akhirnya aku bisa bertemu dan menyentuhmu anakku!" Rosyanti mulai mengeluarkan cairan bening.


Ia sangat bersyukur karena bisa mengajak Nissa makan bersama dan bercengkrama.


Walaupun hanya sebentar tapi, ia sungguh bahagia karenanya.


Ia merebahkan dirinya di ranjang seusai berganti baju. Rasa terharu membuatnya terlelap dalam tidur di siang itu.


...----------------...

__ADS_1


Rumah Marwah.


Sudah seminggu Elisa menginap di rumah bundanya. Ia sungguh malas kembali ke rumah Cipto. Disana sudah tak ada lagi kebahagiaan baginya. Terlebih Sandra yang dominan menguasai Cipto dan segalanya di rumah itu.


Marwah menarik kursi plastik di teras rumah.


Ia memandang sekeliling untuk mengusir rasa bosan karena selama ini yang selalu berada di dalam rumah.


Elisa menghampiri bunda tercinta. Ia duduk di sebelah bundanya.


"Bunda, Elisa sudah malas berada di rumah itu! Elisa ingin bercerai saja!" Elisa curhat kepada sang bunda.


"Dari dulu kamu selalu berkata seperti itu nak! tapi buktinya sampai sekarang kamu masih bertahan dengan Cipto!" sahut Marwah.


"Kali ini Elisa serius bunda! Sandra dan keponakannya terlalu sering menyiksa mental Elisa selama ini!" keluh Elisa.


"Bunda sudah menyarankan yang terbaik untukmu! kalau memang itu keputusan mu bunda akan mendukung mu nak!" senyum Marwah.


Elisa akhirnya mendapatkan ijin dari bundanya.


Ia semakin yakin bahwa keputusannya kali ini akan berhasil. Elisa memeluk Marwah dengan erat, keduanya saling melepaskan rasa.


"Maaf mas, aku belum bisa membahagiakan anak tersayang kita." Batin Marwah teriris.


"Mas Mj tunggulah aku! aku akan keluar dari rumah itu!" Elisa berkata dalam hati.


Keduanya saling tersenyum. Mereka berdua tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada.


Elisa memutuskan untuk pulang ke rumah Cipto keesokan paginya. Ia akan mengutarakan keinginannya itu. Ia tak mau seumur hidup menghabiskan waktu di tempat dimana orang-orangnya tak menghargai keberadaannya selama ini.


...----------------...


Cipto memakai tongkat untuk berjalan. Ia berjalan dengan tertatih menuju taman di samping rumahnya. Sore itu ia meminta pada bi Minah untuk membuat kan minuman hangat dan sepotong roti. Ia sekarang sudah tak seperti dulu yang hanya diam terduduk di kursi roda. Cipto yang sekarang mulai lebih banyak bergerak dan beraktivitas walaupun belum sepenuhnya sembuh dari sakit.


Ia mencoba menghubungi Elisa, tapi sayang ponsel Elisa off. Jadi operator provider yang menjawab panggilan Cipto.


"Betah banget dia disana! sudah seminggu ada dirumah Marwah, tak mengabari ku sama sekali!" Cipto mengeluh.


Ia meletakkan ponselnya diatas meja. Ia mulai mengunyah roti yang di sediakan bi Minah tadi


Pikiran nya masih tertuju pada Elisa. Tubuh mulus Elisa mulai terbayang. Sebagai seorang lelaki normal ia pun masih bisa sanggup melakukannya. Tapi, karena penyakit selama ini yang menyebabkan keinginan nya itu harus tertunda. Sekarang kondisinya sudah membaik dan bisa membuat Elisa sumringah di atas ranjang. Pikiran seorang suami yang menahan hasrat selama bertahun-tahun. Itulah Cipto yang sekarang.


Tap, tap, tap.


Sandra melangkah mendekati abangnya. Ia langsung duduk di sebelah abangnya itu.


"Bang, kapan kalian akan bercerai?" tanya Sandra tanpa basa-basi.


Cipto membulatkan netranya. Ia menoleh kearah adiknya itu.


"Bercerai? aku dan Elisa bercerai? tidak mungkin!" sahut Cipto.


"Cerai aja sih bang! nanti abang bisa menikah lagi, gampang kan?" usul Sandra enteng.


"Abang sudah berjanji pada ayah Elisa bahwa abang akan membahagiakannya!" seru Cipto.


"Dia kan udah bahagia bang! udah banyak tuh duit yang dia dapat dari pernikahan ini!" Sandra berkata.

__ADS_1


"Kamu tidak tahu siapa Elisa sebenarnya! abang tidak akan bercerai dengannya!" keputusan Cipto sudah bulat.


Ia mengambil tongkat dan memakainya untuk berjalan, ia tak melanjutkan obrolannya dengan Sandra. Kali ini, ia tak mau kehilangan Elisa untuk yang kedua kalinya.


"Gadis kampung kaya gitu ajah kok di pertahankan sih!" gerutu Sandra.


Ia memanggil bi Minah dan menyuruh memanggil Marshella menemaninya di taman.


Sementara itu, Marshella yang masih patah hati karena Mj masih saja nampak murung.


Ia selalu menghindar ketika ada seorang pria yang mendekatinya waktu di kampus. Ia merasa cintanya kepada Mj selama ini begitu besar.


Tok, tok, tok.


Bi Minah mengetuk pintu kamar Shella.


"Ada apa?" tanya suara dari dalam


"Maaf non, non Shella disuruh ke taman! nona Sandra menunggu disana!" ujar bi Minah dari balik pintu.


"Iya bi, nanti gue kesana!" sahut Shella yang masih tak membuka pintunya.


Ia masih memainkan ponselnya. Shella yang menonton sebuah video lucu akhirnya bisa tertawa lepas. Ia sampai-sampai melupakan ajakan tantenya untuk menemani di taman.


Kringggg.


ponsel Shella berdering kencang. Ia melihat nama Sandra terpampang jelas.


"Ck, menyebalkan ini orang!" Shella beranjak dari tempat duduknya.


Ia keluar kamar dan menuju kearah taman di samping rumah. Sandra menunggu dengan tak sabar disana.


"Kenapa lagi sih tant?" tanya Shella yang sudah duduk di sebelah Sandra.


"Lu coba bujuk papa elu agar mau menceraikan si gadis kampung itu!" suruh Sandra kecut.


"Males gue tant, nanti yang ada jatah bulanan gue di potong sama papa!" Shella menolak.


"Kalian nih sama aja deh! gak ada yang mau dengerin gue!" ujar Sandra.


"Males ah, gue ke kamar aja deh!" lanjut Sandra yang beranjak dari tempat duduknya.


"Nih orang cuma gitu doang udah ngambek!" cibir Shella.


Ponsel Sandra berada di meja itu. Shella mengintip ponsel itu dan melihat sebuah postingan beberapa hari yang lalu.


Ia tersentak ketika ada seorang pria yang tersenyum lebar di acara itu.


"Apa?? dia kan.........!"


Shella tersentak dan melanjutkan menonton video itu.


*


*


*

__ADS_1


Selamat membaca.


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like setiap bab, komen, rate ⭐ 5, favorit dan vote Mingguan gratis.


__ADS_2