
Setelah seharian aku bertugas mengantar Elisa. Akhirnya sore ini aku bisa pulang.
Badan terasa pegal dan tangan juga kaku akibat menyetir seharian.
Dia mengantarku ke kosan. Aku hanya berpamitan singkat. Di sebelah kamarku, ada sepasang suami istri baru pindah kemarin.
Aku menyapa mereka, sang suami menyalamiku dan mengajakku masuk ke kamarnya.
"Maaf mas, saya baru pulang kerja. Jadi belum bisa mampir!" tolakku halus.
"Baiklah kalau begitu, kapan-kapan juga bisa kok, ehm-mas siapa ya namanya?" tanya dia sopan.
"Panggil saja Mj, Kalau mas siapa?" tanyaku.
"Aku Hendra, istriku namanya Anggi." Jawabnya singkat.
"Baiklah mas, permisi dulu ya!" pamitku sambil masuk kedalam kamar.
Aku berbaring sebentar. Meluruskan punggung dan kaki yang pegal. Mendinginkan kepala yang terasa panas dan berdenyut.
Setelah di rasa cukup beristirahat, aku mandi dan sholat ashar yang terlambat.
Sudah sekian lama aku tidak melaksanakan kewajibanku yang satu ini. Jadi, sekarang aku mulai sholat kembali walaupun tidak selalu lima waktu. Aku hanya sholat ketika aku ingin.
( Tolong jangan di tiru kelakuan Malik pembaca semua π€ Karena sekarang Malik merasa dia sudah bisa hidup dengan tenang tanpa hambatan. Padahal kita tidak akan pernah tahu kapan ujian itu akan datang lagiπ€)
"Seger banget kalau udah mandi gini. Saatnya nunggu Adzan Maghrib tiba." Gumamku seorang diri.
"Oh iya, ibu dan Nissa. Hampir saja aku lupa. Marshella sudah memberikan nomor ibu padaku." Gumamku bersemangat.
Aku menghubungi ibu. Berharap bisa mengobati rasa rindu kembali.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif."
Terdengar suara operator Provider.
"Pasti lupa kalau baterainya habis. Ibu nih, kebiasaan dari dulu." Helaku kasar.
Sayup-sayup aku mendengar suara Adzan. Aku mendengarnya dengan khusyuk. Sudah lama aku tidak lagi mendengar dan menyimak suara adzan. Kali ini aku tidak mau melewatkannya walaupun hanya terdengar sayup-sayup.
Aku mulai melaksanakan kewajibanku. Aku berdoa agar aku sehat selalu dan bisa berkumpul dengan keluargaku. Aku dilema dengan keadaan ini. Satu sisi aku ingin berkumpul dengan keluarga. Disisi lain aku yang mulai bisa mengisi hatiku, seakan tidak bisa lepas dari Elisa. Walaupun aku tahu, dia masih menjadi istri orang.
Perut mulai berbunyi tanda minta diisi. Aku menunggu sampai adzan isya tiba. Barulah mencari makanan. Disini banyak sekali orang-orang berjualan. Mendirikan warung tenda di pinggir jalan. Itulah pemandangan yang aku lihat ketika semalam Elisa mengantarku pulang.
Aku bertekad mengumpulkan uang sebanyak mungkin. Jadi, aku harus punya pekerjaan lain selain menjadi supir pribadi.
Ceklek.
Aku menutup dan mengunci pintu kamar kosan. Disana, ada dua orang bersiap mau keluar juga.
"Eh, mas Mj. Mau kemana mas?" sapa Hendra.
"Mau nyari makan malem, perut udah laper nih." Sahutku sambil mengelus perut.
__ADS_1
"Kita bareng ajah! tapi, mas Mj gak make motor kan?" tanya Hendra sambil menelisikku.
"Aku gak punya motor kok mas. Belum sebulan aku tinggal dan bekerja di sini." Jawabku.
Wanita disebelah Hendra hanya tersenyum simpul. Dia mengelus perutnya yang mulai membesar. Sepertinya dia tengah mengandung.
"Kita jalan bareng saja yuk mas!" ajaknya.
Aku hanya mengangguk mengiyakan ajakannya.
Kami bertiga melangkah beriringan. Banyak pasang mata mengikuti langkah kami.
Aku juga tidak tahu kenapa mereka seperti itu.
Pandangan mereka seakan mengintimidasi pasangan ini. Aku hanyalah orang baru dan awam di kawasan ini. Jadi, aku malas menanyakan hal yang tidak penting. Apalagi, ini menyangkut urusan rumah tangga orang.
"Mas, Hen. Adek mau makan di sana saja! sepertinys enak. Wangi bakarannya sampai kesini!" tunjuk Anggi pada suaminya.
"Baiklah. Tapi, mas Mj mau makan dimana? Kami akan ke warung tenda itu!" serunya.
"Aku ikut kalian saja. Mungkin di sana makanannya enak!" sahutku.
Kami mendekati warung tenda itu dan memesan menu apa yang kami mau.
Kami berbincang sebentar sambil menunggu pesanan datang.
"Mas Mj ini orang mana? sepertinya bukan asli orang sini." tanya Anggi memulai obrolan.
"Aku orang jawa asli mbak! di sini belum sebulan. Tapi pernah bekerja di kota sebelah selama 7 bulan." Terangku.
"Emang kalian asli orang sini?" tanyaku.
"Kami asli pulau ini. Tapi, rumah kami berada jauh di desa pelosok sana." Jawab Hendra.
"Oh begitu ya. Kamu kerja apa di sini mas Hendra?" tanyaku santai.
"Aku dan Anggi rencana mau buka warung sembako mas. Sudah lama aku tidak bekerja karena aku di fitnah seseorang." Ucapnya sendu.
"Oh, jadi begitu ya. Baguslah kalau kalian mau membuka warung sembako. Jadi, kalau aku perlu sesuatu gak usah jauh-jauh." Senyumku.
"Tapi, kenapa bisa di fitnah? emang kerjaanmu itu apa?" tanyaku penasaran.
"Dia hanya sebuah karyawan pabrik minyak sawit mas." Jawab Anggi cepat.
"Pabrik minyak sawit?" aku merasa pernah berhubungan dengan kata-kata itu. Aku mengerutkan kening dan mau bertanya lebih lanjut.
Tapi, tiba-tiba saja makanan datang dan membuat aku melupakan pertanyaan lanjutan tadi.
Kami memakannya dengan lahap dan terdiam dengan pikiran masing-masing.
Aku sudah selesai dengan makananku. Mereka berdua masih betah berlama-lama mengobrol di sini. Aku pamit pulang duluan karena besok pagi akan bekerja kembali.
"Hati-hati di jalan mas. Nanti kami nyusul pulang juga kok!" ucap Anggi.
__ADS_1
"Oke, aku duluan ya!" sambil beranjak meninggalkan mereka berdua.
Aku melewati sederet warung tenda yang berjejer. Kawasan ini memang bagus untuk para pekerja yang tidak tahu memasak seperti aku. Sebelum sampai di kosan. Ada seorang pria memperhatikanku.
Dia mendekat seolah mengenalku.
"Mas, jangan terlalu dekat dengan Hendra dan Anggi! Agar mas gak terkena masalah yang besar." Pesannya.
"Maaf ya. Mas ini siapa? kenapa mencampuri urusanku yang mau berteman dengan siapa pun?" tanyaku heran.
"Mas tidak perlu tahu siapa aku. Yang jelas aku tahu siapa mereka berdua. Mereka itu pasangan suami istri yang licik." Ujarnya dan langsung pergi meninggalkanku begitu saja.
Belum sebulan hidup dikosan ini. Banyak hal aneh muncul di sekitarku. Sepertinya ini karma yang harus aku lalui karena sudah terlena dengan uang dan wanita kemarin.
Pandanganku mengikuti langkah pria tadi.
Aku hanya bisa menatapnya heran dan bertanya-tanya.
Benarkah Hendra dan Anggi punya niat jahat terhadapku? entahlah aku sendiri yang akan mengamati mereka berdua. Tunggu saja sampai waktunya tiba. Mereka benar-benar tulus atau sebaliknya.
Ada gadis-gadis penghuni kamar kos sebelah yang menyapaku dengan gaya khas mereka.
"Sendirian aja mas. Mau kita temenin gak?" tanya mereka genit.
"Kalian udah nikah belom?" aku balik bertanya.
Mereka saling pandang sambil mengendikkan bahu dan menggeleng pasti.
"Tentu belom dong mas. Lihat saja wajah kami masih segar dan menggemaskan gini." Jawab gadis berambut pendek.
Aku tersenyum jahil mendengar jawaban mereka.
"Kalian kudu nikah dulu. Karena aku itu suka sama istri orang. Sementara kalian masih jomblo. Ha...ha...ha." Tawaku lepas dan mengejek mereka bertiga.
"Dih, ganteng-ganteng kok sukanya sama istri orang sih!" sungut mereka dengan muka tertekuk.
Aku tak menanggapi perkataan mereka. Inilah caraku agar aku tidak di dekati gadis-gadis nakal seperti dulu. Aku meninggalkan mereka bertiga yang masih menggumamkan sesuatu.
Setibanya dikamar, mata semakin layu dan mengantuk. Setelah mencuci tangan dan kaki serta berganti baju. Aku merebahkan diri dengan santai dan mulai memejamkan mata.
Seketika pertanyaan yang masih mengganjal mulai terlupakan.
Aku tertidur dengan nyenyak dan nyaman.
*
*
* Happy reading semua.
Kali ini ada tokoh baru dan akan memulai konflik dengan MC pria. Jangan lupa dukungannya dengan cara like setiap babnya. Komen, favorit, rate βοΈ 5 dan vote.
Terimakasih karena selalu mendukung Author.
__ADS_1
ππ Selamat berpuasa bagi yang menjalankannya. Berkah Ramadhan mendampingi..aamiin.π€π€