Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 109. Kesedihan Elisa yang terulang


__ADS_3

Kediaman Cahyono.


Beberapa hari terakhir Elisa masih membujuk Cipto agar mau menceraikannya. Tapi, Cipto masih bulat dengan keputusannya dan tak akan pernah berubah.


Siang ini Elisa masih berada di rukonya. Ia mencari sumber dari akun yang mengunduh video acara pertunangan Evans. Ia hanya tahu dimana kampung Malik tanpa tahu alamat lengkap rumah nya.


Ia meletakkan ponselnya keatas meja di depannya. Ia mencoba tegar dan berusaha lebih keras lagi. Tiba-tiba saja ponselnya berdering nyaring.


Ia melirik layar ponsel.


"Tumben bunda menelpon jam segini!" Elisa bergumam sambil tersenyum.


"Maaf, ini mbak Elisa kan?" tanya suara seberang.


"Ini ponsel bunda kenapa bisa kamu yang pegang? kamu siapa?" tanya Elisa khawatir.


"Ini bener mbak Elisa? kalau benar mbak kesini dulu! ibu Marwah jatuh dan pingsan, sekarang beliau berada di puskesmas desa!" suara itu terdengar panik.


"Baiklah saya akan cepat kesana!" Elisa langsung mematikan ponselnya dan berlari menuju parkiran mobil.


"Kenapa mbak Elisa berlari seperti itu?" tanya pegawai tokonya heran.


Ia hanya menggeleng cepat dan kembali melakukan pekerjaannya.


Elisa langsung menancap gas kendaraan nya. Ia tak berpikir keselamatan nya sendiri. Kini yang ia pikirkan hanyalah Marwah seorang.


Ibu tiri yang menyayangi nya selama ini.


Dua jam perjalanan Elisa tempuh. Tapi ia belum sampai ke rumah Marwah. Seperti nya emosi di dadanya berguncang hebat. Disaat seperti ini Cipto menelpon dan menyuruh pulang walaupun Elisa memberikan alasan yang sebenarnya.


"Aku gak akan pulang ke rumah itu sampai bunda sehat kembali!" tekad Elisa.


"Dasar tua bangk*, aku mau menjenguk ibuku sendiri aja malah di marahin!" gerutu Elisa seorang diri.


Setengah jam kemudian Elisa berada di depan puskesmas desa. Ia menyapa petugas disana dan menanyakan ruangan sang bunda.


Elisa bergegas setengah berlari. Ia tak mau melewatkan waktu semenit pun. Ia mau merawat bundanya itu sampai pulih.


Elisa membuka pintu perlahan. Ia tak mau membangun kan bundanya yang sudah lelap tertidur. Jarum infus bertengger di tangannya.


Elisa memandang wajah pucat sang bunda.


Ia merasa kasihan dan takut. Takut karena masih belum bisa membahagiakan bundanya selama ini.


Elisa duduk di tepi brankar sang bunda. Ia mengecup kening Marwah pelan sekali. Tangan Elisa mencoba mengelus lengan bunda tersayang.


"Maaf kan aku bunda karena tak selalu ada di sisi bunda ketika sedang sakit!" Elisa berkata lirih.


Tak terasa air bening menetes dari pipi mulusnya. Tiba-tiba ponsel Elisa berbunyi.


Ia langsung mematikan nya ketika tahu bahwa Cipto lah yang menghubungi. Tangan Marwah memegang tangan Elisa. Ia terbangun setelah mendengar dering ponsel tadi.

__ADS_1


"Bunda! kenapa bunda bisa jatuh?" tanya Elisa khawatir.


"Tadi hanya tersandung saja!" jawab Marwah lemah.


"Bunda, Elisa sungguh khawatir!" Elisa menggenggam tangan Marwah.


"Tenang lah! bunda tak kenapa-napa!" Marwah menahan sakitnya.


"Maafkan bunda selama ini nak!" Marwah tersenyum kecil.


"Tidak bunda! Elisa yang harus meminta maaf pada bunda!" Elisa mulai terisak.


"Jangan menangis! bunda sudah tidak apa-apa!" Marwah berbohong dan berusaha tersenyum.


Wajah pucat dan deru nafas yang semakin melemah membuat Elisa semakin khawatir.


"Bunda tunggu disini! Elisa akan memanggil dokter!" seru Elisa.


"Tidak usah nak! tadi dokter sudah kemari dan memeriksa keadaan bunda! dokter bilang bunda tidak kenapa-napa. Hanya lemas sedikit!" jelas Marwah lagi.


Elisa mendengarkan perkataan Marwah, dia hanya mampu mengangguk dan tak berhenti mengusap pucuk kepala Marwah.


Marwah tersenyum tenang dan bahagia bahwa Elisa berada disisinya Sekarang ini.


Marwah mulai menutup mata perlahan. Nafasnya yang naik turun perlahan menghilang. Tangan yang Elisa genggam menjadi kaku. Tak ada denyutan jantung lagi.


Elisa mengguncang tubuh Marwah. Ia berlari keluar meminta pertolongan. Dokter dan suster segera masuk ke kamar rawat Marwah.


"Maaf nona! beliau sudah meninggal!" ucap dokter itu pelan.


"Apa?? tidak mungkin dokter! bunda bilang dia sudah tak kenapa-napa! bunda sudah sembuh kan dokter?" Elisa terisak dan berkata.


Dokter bercerita pada Elisa tentang keadaan Marwah yang sebenarnya bahwa selama ini beliau mengidap penyakit jantung dan harus di operasi. Tapi, Marwah selalu menolak dan tidak mau membebani Elisa.


Marwah menghadapi penyakitnya tanpa seorang pun tahu kecuali sang dokter.


Elisa menangis tersedu-sedu. Ia tak kuasa menahan emosinya. Ia juga tak habis pikir kenapa sang bunda tercinta bisa berpikiran seperti itu.


"Bunda, kenapa menyembunyikan penyakit mu pada Elisa? Elisa pasti akan berusaha dan berjuang bersama bunda!" Elisa mengguncang tubuh sang bunda yang terbujur kaku.


Air mata semakin deras dan berjatuhan di pipinya. Ia tak sanggup kehilangan orang tua tercintanya lagi. Kali ini ia benar-benar sendirian. Tak ada lagi tempat untuk berkeluh kesah. Tak ada lagi tempat berbagi cerita.


Orang kesayangannya telah pergi meninggalkan nya untuk selamanya.


Senja mulai merangkak turun. Semua orang yang melayat telah pergi satu persatu. Akan tetapi Elisa masih diam mematung duduk di samping makam Marwah. Ia masih tak percaya telah kehilangan Marwah.


Sekarang berjejer tiga makam orang tua Elisa tercinta. Sang ibu, ayah dan bundanya. Elisa terdiam tanpa suara dan memandang ketiga makam itu bergantian. Tetangga dekat Marwah mengingatkan Elisa.


"Nak, tolong jangan pernah meratapi orang yang sudah meninggal dunia! kasihanilah arwah mereka nak!" ibu Yeni membelai kepala Elisa.


"Kita pulang sekarang nak! Kita harus menyiapkan acara tahlilan setelah adzan Maghrib nanti!" seru bu Yeni peduli.

__ADS_1


Elisa memeluk Yeni, Yeni pun membalas pelukan Elisa dengan hangat.


"Mari kita pulang!" Yeni menuntun Elisa agar menjauh dari makam.


Mereka berdua berjalan beriringan. Yeni dengan telaten menghibur Elisa yang berduka.


Ia tak mau mengingkari janjinya pada tetangganya itu sekaligus sahabatnya dari kecil.


Flashback Yeni seminggu yang lalu.


Yeni tengah berjalan pulang dengan jalan kaki, ia menenteng plastik belanjaan. Marwah yang menyiram tanaman menyapa dan memanggil nya agar mampir di rumah.


"Maaf Yen tiba-tiba aku memanggil mu!" ujar Marwah lesu.


"Ada pa Ar? kenapa wajahmu lesu begitu?" kernyit Yeni heran.


Mereka berdua tengah duduk di kursi teras dengan santai.


"Aku gak pa-pa Yen, aku hanya mau kamu menengok Elisa kalau dia nanti kesini!" Marwah berpesan.


"Loh, kenapa harus aku? kamu kan bundanya Elisa!" kening Yeni bertaut.


"Iya aku tahu akulah bunda Elisa, aku hanya ingin Elisa tak kesepian kalau dia berada di rumah ini!" pesan Marwah lagi.


"Baiklah, baiklah kamu tenang saja gak usah khawatir kan Elisa!" Yeni mengiyakan.


Ia tak mau berdebat panjang lebar dengan sahabatnya itu. Mereka berbincang santai dan mengingat masalalu. Marwah dan Yeni terhanyut dengan cerita mereka dahulu.


*Flashback off.


Yeni mendampingi Elisa. Ia dan ibu-ibu yang lain menyajikan hidangan buat para tamu yang akan membacakan doa untuk arwah Marwah.


Acara tahlil pertama ini berjalan dengan lancar.


Tami sudah pulang. Hanya Yeni dan suaminya yang berada di rumah ini. Elisa hanya terdiam mematung melihat kursi yang selalu bundanya duduki selama ini.


Yeni menghampiri dan memeluk Elisa dengan erat. Nasehat nya kembali terucap.


Elisa terisak pelan mengingat kenangan akan Marwah yang menemani nya. Ia seakan kehilangan separuh jiwanya.


*


*Bersambung.


*


*Selamat membaca.


Dukung terus karya pertama author. Jangan lupa like, komen, favorit, rate ⭐ 5 dan vote Mingguan atau bisa memberikan gift.


Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2