Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 66. Kecemburuan Alexandra Cahyono.


__ADS_3

*Author POV.


Epilog Suara hati Cipto Cahyono.


Semenjak Sandra berada disini. Dia sudah membuat keluarga ini terpecah belah. Dia mau memisahkanku dengan Istriku Elisa.


Walaupun aku tahu bahwa Elisa tidak mencintaiku. Tapi, karena dialah aku bisa hidup walaupun tak sepenuhnya bisa bergerak.


Kejadian memalukan Shella membuatku shock dan tak terima dengan keadaan.


Elisa menemukanku tergeletak di lantai.


Dia juga yang membawaku ke rumah sakit dan memberikan pertolongan pertama.


Sampai sekarang pun Elisa masih merawatku dengan tulus dan ikhlas. Aku tidak peduli walaupun dia menyukai supir itu, aku akan tetap menjadi suaminya. Suami yang suatu saat bisa dia andalkan.


Di depanku pertengkaran sengit terjadi. Aku sungguh prihatin pada Elisa. Tak kunjung berhenti orang-orang dirumah ini mencaci maki dan menyiksanya secara mental.


Apalagi itu adalah anak dan adik kandungku sendiri. Aku merasa malu dibuatnya.


Mereka tidak tahu bahwa dulu perusahaan mengalami masalah kekurangan dana. Elisa menyodorkan Depositonya kepadaku. Aku juga tak menyangka bahwa dia selama ini pandai mengatur keuangan dan berinvestasi. Sungguh perempuan yang pintar dan bisa melihat peluang. Hutangnya padaku senilai 50 juta sudah lunas dan dia masih punya tabungan berupa deposito sampai ratusan juta.


Anak sahabatku ini tidak bisa diremehkan.


...----------------...


Bi Minah mendorong kursi roda itu. Cipto berada ditengah-tengah perempuan anggota keluarganya. Dia melihat mereka satu persatu tanpa terkecuali.


Mulutnya berusaha berucap. Dari semalam Cipto memang bertekad untuk sembuh secepatnya. Terapi yang dia jalankan selama ini ternyata membuahkan hasil. Apalagi ditambah tekad yang kuat untuk sembuh.


"Kk-aal-li-aann dd-ia-m!" pelan Cipto.


Tangannya bergerak perlahan dan berusaha meraih sesuatu di sampingnya. Dia berusaha meraih tangan Elisa. Elisa yang menyadarinya secepatnya mengelus tangan Cipto.


"Bergeraklah pa! biarkan aku melihatmu sembuh total." Pinta Elisa.


Sembuhlah agar aku bisa bebas dan terlepas dari belenggu dalam rumah ini. Aku tidak pantas menjadi nyonya Cahyono. Aku ingin menjadi wanita yang bisa hidup dengan orang yang aku cintai.


Melihat Elisa yang di sayang oleh abangnya. Tebersit kecemburuan dihati Sandra.


Dasar perempuan samp*h. Bisa-bisanya dia mengambil hati abang Cipto, padahal dia suka sama supir kampung itu. Awas saja, masih gak kapok juga gue ambil tanahnya.


"Bang sini dong!" Sandra mengambil alih kursi roda Cipto.


"Bi, urusin dapur ajah sana! gue mau makan malam nanti menunya harus enak. Bang Cipto biar gue yang ngurusin!" suruh Sandra.


"Baik nona, saya permisi dulu." Sahut bi Minah sambil meninggalkan mereka.


"Abang, gak usah mikirin hal yang enggak-enggak ya! kita masuk kekamar dulu!" ajak Sandra dan mendorong kursi roda cipto.


Cipto tak mau menuruti kehendak adiknya itu. Dia mencoba sekuat tenaga untuk memegang tangan Sandra.


"Ttt-uu-nnggu dd-ulu!" Cipto bersuara pelan.


"Kenapa bang?" tanya Sandra.


Elisa yang melihatnya hanya bisa menghela nafas perlahan. Sandra belum tahu arti penolakan Cipto yang tak mau berjauhan dengan Elisa.

__ADS_1


"Dia itu gak mau ke kamar, dia mau disini bersamaku!" ucap Elisa tenang.


"Apa? elo gak salah ngomong? Pede banget sih kalau abang gue mau nemenin elo." Cibir Sandra.


"Bukan Pede sih, tapi lebih ke realita. Selama ini aku dan bi Minah yang merawatnya. Jadi, kami kurang lebih tau maunya apa." Jelas Elisa sengit.


"Alesan aja elo wanita tak tau terimakasih!" cibir Sandra.


"Terserah lah mau ngomong apa. Yang penting aku tau maunya om Cipto itu apa." Sahut Elisa.


"Oh begitu ya! kalau abang gue pengen bercerai sama elo, elo tau juga pastinya kan!"


"Ah, masak sih? yang bener? mau dong kalau bercerai sama om Cipto." Raut wajah Elisa berubah cerah.


"Tunggu dulu, kok elo bahagia gitu kalau bercerai sama abang gue?" selidik Sandra.


Marshella yang daritadi terdiam akhirnya membuka suaranya.


"Gimana gak seneng sih tante. Dia kan suka sama om Mj, makanya dia pengen bercerai sama papa." Cibir Shella.


"Benarkah? wah bagus dong biar kalian berdua bisa kami usir dari rumah ini." Girang Sandra.


"Tak masalah, kami bisa hidup walaupun kami keluar dari rumah ini." Sahut Elisa santai.


"Sombong amat dasar perempuan kampung!" sungut Sandra sebal.


"Sini! biar aku saja yang bawa om Cipto!"


Elisa langsung mengambil alih kursi roda itu dari tangan Sandra.


Sandra yang sudah malas berdebat akhirnya melepaskan tangannya.


Sandra dan Marshella menjauh dan beranjak menuju taman belakang rumah.


Mereka mau menghibur diri dengan bersantai ditaman bunga.


"Ponakan sama tante sama saja, sama-sama tengil dan keras kepala." Gumam Elisa.


"Kita kekamar dulu mas. Biar aku yang menyuapimu makan nanti!"


Keributan di sore hari sudah berakhir.


*Di taman bunga.


Marshella dan Sandra akhirnya bisa menjauh dari Cipto.


"Tunggu dulu deh tante, tante beneran dukung kalau papa bercerai sama orang udik itu?"


"Dukung banget dong, kenapa tidak?"


"Terus nanti dia bisa menikah sama om Mj dong tant." Kesal Shella.


"Coba ajah, tante gak akan biarin mereka berdua bersatu." Senyum licik terkembang.


"Tapi, gimana caranya tante? kalau gitu Shella bisa pacaran dong sama om Mj." Girang Shella.


"Siapa yang nyuruh kamu pacaran dengan supir kampung itu? Jangan kepedean kamu Shel."

__ADS_1


"Yah tante nih. Tapi kan Shella suka sama om Mj." Sungut Shella.


"Cinta monyet doang itu, gak akan bertahan lama."


"Tapi serius lho tant!"


"Kok Malah bahas supir kampung sih. Sudah stop!" perintah Sandra.


"Tante mau ngomongin rencana selanjutnya. Tanah perempuan kampung itu sudah atas nama tante. Jadi, kita bisa beraksi mengambil alih yang lainnya." Rencana licik Sandra.


"Tunggu deh tante! kapan emang tante ambil alih tanah itu?"


"Kemarin tante tak sengaja mencari dokumen lama tante yang tertinggal. Eh, nongol di depan mata ada map berkas."


"Owh, jadi begitu tante."


"Ya, begitulah. Gue baca dan periksa isinya. Ternyata itu tanah perempuan kampung. Tapi, untunglah masih ada kuasa abang di dalamnya. Jadi, gue mencap jari abang waktu dia tidur siang."


"Rencana tante hebat. Kalau menyiksa orang udik itu, Marshella suka banget. Tapi, tante ingat aja kalau jangan sampai mengusik om Mj ku tersayang."


"Dih, najis amat sama bocah bucin kaya elo." Sungut Sandra.


"Gue punya rencana lain buat supir kampung itu dan elo gak usah ikut campur. Cukup gue aja yang jalanin rencana itu." Sandra mengingatkan keponakannya.


"Tapi, tante. Dia itu....."


Belum sempat Shella mengucap, Sandra lebih dulu menyahut.


"Kalau elo nurut sama tante, tante akan memberi semua yang elo mau. Tapi, kalau elo membangkang. Jangan salahkan tante kalau elo juga akan menderita nantinya." Ancam Sandra serius.


Marshella hanya bisa terdiam tanpa kata ketika melihat dan mendengar ucapan yang penuh penekanan dari tantenya.


...----------------...


Rumahsakit tempat Mj dirawat.


"Maaf pak, sekarang saatnya kami meriksa keadaan bapak!" dokter melakukan tugasnya.


Ada seorang suster pendamping di sebelahnya. Malik hanya bisa pasrah dan menuruti kemauan dokter agar bisa sembuh total dan beraktifitas kembali.


Prannnggg.


Talam aluminium yang berisi kantong cairan infus Malik jatuh dan pecah.


"Maaf dokter, biar saya ambil yang baru!" sesal suster itu yang langsung keluar mengambil kantong infus baru.


"Pak, jangan bergerak mendadak! biar saya yang mengganti cairan infusnya nanti."


"Iya dokter, silahkan!"


Dokter mencopot infus yang sudah habis dan akan menggantinya dengan yang baru, hanya saja masih menunggu suster tadi.


Dimana kamu Lis, sudah sore begini kamu belum menemuiku. Apakah kamu melupakanku begitu saja?


Malik bertanya-tanya dalam hatinya. Dia resah dan gelisah karena Elisa yang tiba-tiba pergi meninggalkannya tanpa sebab yang jelas.


*

__ADS_1


*


* Happy reading semua....😊😊😊🤗


__ADS_2