
*Authtor POV.
"Seandainya keluargaku masih lengkap. Mungkin saja nasibku tidak akan seperti ini."
Gumam Elisa pelan.
Kriiingg, kriiing, kringg.
Ponsel Elisa terdengar nyaring.
"Maaf mas." Pamitnya sambil beranjak keluar dari kamar ini.
Elisa melihat layar ponselnya.
"Bunda? kenapa bunda menelepon? padahal sudah lama sekali." Gumam Elisa langsung menjawab panggilan itu.
Setelah hampir 5 menit berlalu.
"Apa? tidak mungkin bunda." Elisa lemas dan meneteskan air bening dipipinya.
"Elisa akan secepatnya kesana bunda. Bunda jangan kemana-mana ya! tunggu Elisa datang."
Raut wajag Elisa tegang dan masih menetes air bening.
Dia mengusap wajahnya dan kembali kekamar perawatan Mj.
"Maaf mas, ada urusan mendadak! jadi Elisa harus pergi! mas tunggu saja disini!" seru Elisa gugup.
"Masalah apa Lis? kok kamu panik dan gugup begitu?" tanya Mj penasaran.
"Aku gak bisa jelasin disini mas! aku harus cepat kesana! kasihan bunda." Jawab Elisa masih ambigu dan melangkah pergi meninggalkan Mj.
"Tunggu Lis!" teriak Mj.
Entah Elisa tak mendengarnya atau sengaja menghindar. Dia seakan tak mau mempersulit keadaan Mj.
Elisa tanpa basa-basi langsung menempuh perjalanan kerumah bunda Marwah.
Air mata yang tadi menetes sudah mengering. Berganti raut wajah yang penuh dendam.
"si*alan! siapa yang berani melakukan ini terhadapku. Itu satu-satunya peninggalan dari orangtuaku." Elisa mengeratkan giginya.
Tangannya terkepal memegang kemudi.
Laju kendaraan diluar batas normal. Dia seakan mau cepat sampai ke tujuan.
30 menit berlalu.
Elisa melangkah keluar dari dalam mobilnya. Dia berlari menuju rumah bunda Marwah.
Setelah mengucap salam dia masuk kedalam rumah. Marwah menunggunya di kursi ruang tamu.
"Kamu sudah datang nak!" sapa Marwah.
"Siapa yang berani berbuat seperti itu bunda? cepat katakan!" tanya Elisa tak sabar.
"Bunda juga tidak tahu nak! tadi ada 2 orang pria kesini membawa surat perjanjian jual beli.
Di surat itu tertulis bahwa kepemilikan sudah berganti." Jelas Marwah sendu.
"Tapi tidak mungkin bund! hanya om Cipto yang bisa mengalihkan kepemilikan itu. Surat-suratnya pun dia yang pegang." Ucapku yakin.
"Seharusnya dari dulu kamu pegang sendiri surat penting itu Lis! itu kan satu-satunya peninggalan orangtuamu yang berharga." Lirih Marwah.
"Hanya tanah itulah yang Elisa punya. Masa kecil pun Elisa sering di ajak kesana menanam sayuran dengan ayah." Elisa sedih mengingat hal dimasa lalunya.
__ADS_1
Dia menerawang kejadian waktu ayahnya masih hidup dulu. Kenangan demi kenangan muncul dalam kepalanya.
"Bunda, tadi nama siapa yang bunda lihat? sudah berganti nama siapa bun?" tanya Elisa sambil menggenggam tangan Marwah.
"Se-b-en-arnya nama kepemilikan berganti men-ja-di Alexandra Cahyono. Keluarga Cahyono juga nak." Terang Marwah gugup.
"Apa?? Alexandra Cahyono bunda?" tanya Elisa tak percaya.
Bunda Marwah hanya mengangguk tanpa bersuara. Pandangannya tak mampu melihat raut wajah Elisa. Marwah tertunduk.
"Maaf nak! ibu tidak bisa membantumu. Mereka membawa surat resmi tadi. Ketika bunda sudah menyuruh orang-orang bercocok tanam disana. Dua pria itu itu mengusir mereka. Dan menunjukkan suratnya." Jelas Marwah sendu.
"Terimakasih karena bunda langsung memberitahu Lisa. Aku akan mengambil surat itu kembali. Hanya tanah itulah harta Lisa bunda." Elisa mengepalkan tangannya kuat.
"Elisa akan pulang kerumah Cahyono bund. Bunda jangan memikirkan apapun! Doakan Lisa bisa mengambilnya kembali." Pinta Elisa.
"Kamu harus selalu waspada nak! bunda juga tak menyangka dia akan berbuat begitu." Ucap Marwah.
"Sekarang juga Elisa akan pulang bunda. Elisa pamit bund!" Elisa memeluk dan mencium punggung tangan Marwah.
Tenaganya sudah berisi karena dia tahu langsung dari bunda Marwah. Dia tak mau menyerah. Dia tak akan pernah mengalah dari adik kandung Cipto.
Mobilnya melesat kencang. Sekencang tekadnya ingin melabrak wanita itu.
...----------------...
Sore hari di kediaman Cahyono.
"Tunggu dulu Silvia! mau kemana lagi kamu? Masa baru sampai rumah sudah mau keluar lagi?" tanya Sandra.
"Tante, Silvi mau ke rumah temen. Terus kita nanti shopping bareng di Mall. Tante mau ikut kami? ayo aja sih!" jawab Silvia enteng.
"Kamu ditanyain malah gitu!" ucap Sandra.
"Silvi bosen dirumah mulu setelah pulang sekolah tant. Apalagi kalau harus lihat tante yang norak kaya gini!" Seru Silvia sambil setengah berlari menjauhi Sandra.
Silvia langsung berlari dengan kecepatan penuh. Dia menuju keluar gerbang dan masuk kedalam taksi online pesanannya.
Hosh, hosh,hosh.
Nafasnya terengah ketika dia masuk kedalam taksi.
"Kenapa mbak? kok lari sampe segitunya sih? kaya di kejar setan ajah." Ejek supir taksi.
Silvia mengatur nafasnya, dia menyahut perkataan supir taksi.
"Di kejar wewe gombel di sore hari pak, pfftttt!" jawab Silvia menahan tawa.
"Duh yang bener mbak? jangan gitu ah!" ciut supir taksi.
"Makanya langsung berangkat ke tempat tujuan gak pake lama pak!" seru Silvia.
Supir taksi hanya mengangguk saja. Rautnya sedikit berubah takut dan cemas.
Mobil Elisa berpapasan dengan taksi yang Silvia pesan. Silvia yang melihatnya mencibir.
"Itu lagi wewe gombel dateng."
"Kenapa lagi mbak?" tanya supir yang mendengar gumaman Silvia.
"Bapak nih, udah deh berangkat aja yang cepet!"
suruh Silvia.
Mereka saling terdiam dan fokus dengan aktifitas masing-masing.
__ADS_1
Elisa yang baru saja turun dari mobil langsung masuk kedalam rumah tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia melihat Sandra dan Shella yang tengah bersantai sambil menikmati cemilan diruangan menonton.
"Alexandra Cahyono!" panggil Elisa.
"Heh, dasar perempuan gak sopan panggil nama gue!" sahut Sandra ketus.
"Gue ini juga salah satu pemilik dari rumah ini. Jadi, elo kudu tahu diri!" ucap Sandra nyaring.
"Maksud kamu itu apa ya? kenapa kamu mengambil alih hak saya satu-satunya?" geram Elisa. Dia mendekat ke arah Sandra.
"Apa? hak kamu? kamu gak salah ngomong?" gertak Sandra.
"Semua hak kamu itu abang Cipto yang bayar lunas. Jadi, kamu gak punya apa-apa Elisa Hardi." Gertak Sandra dengan penuh penekanan di setia katanya.
"Tidak, tanah itu om Cipto kasih buat aku karena dia tahu bahwa cuma dengan itulah aku bisa mengenang ayahku. Dia menyimpan surat kuasa atas namaku, Elisa Hardi." Sahut Elisa tak mau mengalah.
"Elo diam disini, biar gue tunjukkan buktinya!" Sandra melangkah kedalam kamarnya. Dia mengambil surat kuasa yang sudah berpindah tangan menjadi miliknya.
"Ini dia! lihat baik-baik, disini ada cap jempol om Cipto dan pengalihan hak milik. Jadi, secara hukum tanah itu sah menjadi milikku." Seringai Sandra dengan liciknya.
"Itu pasti akal-akalanmu saja kan? om Cipto itu masih sakit, gak mungkin dia berbuat seperti itu padaku."
"Orang udik keras kepala juga ya tante. Melek juga dia sama harta!" cibir Shella.
Bik Minah mendorong kursi roda Cipto ke tempat dimana pertengkaran itu terjadi.
5 menit sebelum pertengkaran memanas.
Bi Minah yang mengelap badan tuannya di kejutkan suara yang berasal dari luar kamar.
Cipto yang mendengar berusaha membuka mulut dan berbicara pelan.
Tangannya bergerak dan menjadi semakin sering. Dari mulutnya mulai terdengar suara perlahan.
"Bbb-ii, bb-a-w-a sss-aa-yy-aa ke-sss-ana!" Lirih cipto pelan sekali.
Bi Minah terkejut karena tuannya mulai bersuara kembali.
"Coba ulang sekali lagi tuan!" seru Minah sambil mendekatkan telinganya ke mulut Cipto.
Cipto mulai bersuara seperti tadi dan Minah mengerti maksud dari perkataan tuannya.
Dia melanjutkan mengelap dengan cepat dan memakaikan pakaian baru untuk tuannya.
Minah mendorong kursi roda Cipto dengan berhati-hati.
Sesampainya diruangan itu. Elisa, Sandra, dan Marshella terdiam ketika melihat Cipto yang memperhatikan mereka.
"Kenapa bibi bawa kemari sih?" sungut Sandra sebal.
"Maaf non Sandra, tuan Cipto sendiri yang menyuruh saya membawa kesini. Jadi, saya dorong beliau sampai sini!" sahut Minah.
"Ah gak mungkin, gerak aja susah. Emang papa bisa ngomong bi?" selidik Shella.
"Bisa kok non, tadi nyuruh bibi dengan suara yang pelan sekali." Jawab Minah jujur.
"Benarkah?" kompak ketiganya berkata bersamaan.
"Kk-al-ii-aann, dd-iiaa-m." pelan Cipto.
Tangannya berusaha meraih sesuatu di sampingnya.
*
*
__ADS_1
*
Happy reading.