
Tap, tap, tap.
Terdengar langkah kaki tergesa menyusul wanita yang bertamu ke rumah Malik.
Ia terengah dan menyapa wanita di depannya.
"Maaf sayang, aku terlambat!" ucap Evans pada Fatma.
"Hei, kamu Elisa ya! akhirnya kamu datang juga!" sapa Evans pada Elisa yang melongo menatap nya.
"Kamu kenal dengan wanita ini mas?" telisik Fatma agak cemberut.
"Iya sayang! dia wanita yang meneleponku itu lho, yang sampai kamu ngambek dua hari!" jelas Evans tersenyum.
"Jadi dia itu Elisa yang mas ceritakan waktu itu?" tanya Fatma.
"Iya mbak, saya Elisa. Mbak siapa namanya?" pikiran Elisa mulai tenang setelah tahu siapa sebenarnya wanita itu.
"Saya Fatma, tunangannya mas Evans!" Fatma menggandeng lengan Evans di depan Elisa.
Tiba-tiba Malik menyusul Elisa karena Elisa tak kunjung kembali ke dalam rumah.
"Siapa sih Lis? kok kamu lama banget!" Malik melangkah sambil berucap.
Belum sempat Elisa menjawab, Fatma sudah berhambur ke pelukan Malik.
"Mas Malik, Fatma turut bahagia mas!" Fatma tak segan memeluk Malik di depan Evans dan Elisa.
"Udah dong sayang! jangan kelamaan meluknya!" Evans menarik Fatma.
"Maaf mas Evans sayang! Fatma bahagia kalau mas Malik juga bahagia!" Fatma mencubit pipi Evans gemas.
"Maaf, memangnya selama ini mas Malik gak bahagia ya?" tanya Elisa pelan.
"Boong mereka tuh Lis, biasalah orang usil. Kita masuk aja yuk!" ajak Malik.
Mereka berempat masuk kedalam rumah Malik. Rumah yang sederhana itu terasa ramai, padat dan menyenangkan. Sumiyati melihat keakraban antara mereka satu sama lain.
"Alhamdulillah ya Allah engkau telah memberikan kami kebahagiaan dan ketenangan hati!" ucapnya dalam hati.
Fatma memonopoli Elisa, ia menanyakan segalanya tentang Elisa. Elisa yang ditanya pun tak mampu menjawab banyak karena Elisa tak mau orang lain tahu semua penderitaannya selama ini. Dia hanya mengakui kalau ia sekarang sudah menjadi janda tanpa anak.
Evans dan Malik berbincang di teras rumah.
"Bro, kok kamu bisa tahu Elisa akan datang kemari? ke kampung ini?" tanya Malik penasaran.
"Aku juga tak percaya dia serius datang kesini! begini ceritanya...." Evans memulai cerita.
*Flashback Evans 2 Minggu sebelumnya.
Aku bertugas pagi di RS hari ini. Ponsel ku bergetar beberapa kali. Aku melihat layar ponsel dan menatap nomer itu. Nomer yang belum pernah aku tahu.
__ADS_1
Aku membiarkannya, namun nomer itu sudah menghubungiku sudah puluhan kali.
"Sepertinya orang ini serius menghubungi ku, apa aku jawab saja ya?" lirihku.
Ponselku bergetar lagi.
"Aku jawab aja deh! halo siapa sih ini? nelpon terus dari tadi!" aku mulai tak sabar.
"Maaf, ini dokter Evans yang bertugas di RS Medika dikota M jawa timur? tolong jawab dokter!" suara disebelah telpon bergetar.
"Suara seorang perempuan." ucapku tanpa suara.
"Iya benar, saya dokter Evans. Siapa anda? kenapa tahu nomer saya?" tanyaku.
"Itu tidak penting dok, ada yang harus saya tanyakan lagi. Dokter kenal dengan mas Mj? maksud saya Malik Jayadi dok!" tanya suara itu.
"Anda kenal dengan Malik? siapakah anda sebenarnya?" tanyaku.
Aku tak menyangka kenapa dia mencari Malik, siapa dia sebenarnya. Banyak yang tidak tahu nomer ponsel pribadi yang ini. Aku penasaran sekali.
"Tolong jawab pertanyaan saya dokter!" suara itu memohon.
"Saya kenal dengan Malik Jayadi. Ia saudara angkat saya! siapa anda?" aku masih penasaran dengannya.
"Saya Elisa teman Malik ketika di perantauan dulu dok, bolehkah saya meminta tolong dokter?" tanya dia lagi.
"Owh begitu, katakan saja saya harus menolong apa! Insya Allah saya menyanggupi. Kalau saya bisa menolong kenapa tidak." Sahutku.
"Ada hubungan apa anda dengan Malik? Anda tahu darimana nomer ponsel saya ini?" aku masih penasaran sedari tadi, ia tak juga menjawab.
"Sebenarnya saya menonton video dokter waktu bertunangan beberapa minggu yang lalu. Saya terkejut ketika melihat mas Malik berada disana, saya juga mencoba mencari tahu nomer dokter pada orang yang menyebarkan video itu." Jelasnya panjang lebar.
"Ya kerabat ku memang banyak menyebarkan video tunangan kemarin, tak ku sangka dia mencari tahu cara untuk menghubungiku agar mendapat informasi Malik berada!" ucapku dalam hati sambil berpikir apa hubungannya dengan Malik.
"Dokter, dokter Evans! anda masih disana kan?" terdengar suara itu risau.
"Ya saya masih disini! penjelasan anda sepertinya masuk akal tapi, aku mau tahu hubungan anda dengan Malik!" seruku.
"Baiklah dokter, sebenarnya saya ini pacar mas Malik. Kami dipisahkan oleh keluarga saya ketika mas Malik bekerja di rumah!" suara itu cukup bergetar ketika mengucapkan.
"Benarkah? apa anda tidak berbohong?" selidikku.
Aku tidak bisa memberikan informasi tentang Malik pada sembarang orang. Tapi sepertinya dia tak berbohong.
"Baiklah, saya akan mengirimkan anda alamat kami disini! sebaiknya anda memberi tahu saya kapan akan datang!" suruhku.
"Alhamdulillah, terimakasih dokter! saya akan secepatnya datang ketika anda memberikan alamat lengkap mas Mj...eh mas Malik!" suara itu girang.
"Saya harus bekerja kembali, saya tutup panggilan ini!" seruku padanya.
Wanita itu tak berhenti mengucapkan terimakasih, aku pun menutup panggilan telepon.
__ADS_1
Selang beberapa hari, wanita itu menghubungiku lagi dan berkata akan berangkat sore hari. Ia menggunakan transportasi kapal laut. Ternyata ia berada di pulau Sumatera. Ia juga menelponku ketika sampai di kota M. Ide ini muncul begitu saja, aku tak mau Fatma curiga lebih jauh karena akan menjemput seorang wanita di stasiun.
"Lebih baik Malik aja kusuruh kesana! sepertinya ide bagus kalau Malik dan wanita itu bertemu secara tiba-tiba!" gumamku tersenyum lebar.
*Flashback off
"Begitulah ceritanya kenapa aku bisa menyuruhmu menjemput Elisa!" ucap Evans sembari menepuk pundak Malik.
"Syukurlah dia sekarang berada disini bersamaku. Aku sebenarnya rindu berat dengannya bro!" Malik menghembuskan nafas.
"Aku tahu itu! Nissa bercerita padaku bahwa akhir-akhir ini kamu sering mengigau dalam tidurmu menyebut nama seorang wanita!" terang Evans.
Malik terbelalak tak percaya.
"Benarkah Nissa yang cerita?" tanya Malik tak percaya.
"Iya, Nissa takut kalau dia punya ibu tiri. Dia takut kalau nasibnya sama dengan teman sekelasnya Doni!" Evans menjelaskan lagi.
"Dia tak mau berterus terang padaku! tapi kenapa padamu di bercerita segalanya?" Malik tak terima.
"Kamu selalu jauh darinya, selama ini aku dan Fatma yang menemani Nissa kemanapun dia pergi. Ya selain ibu sih pastinya!" Evans tersenyum.
"Aku harus memberi perhatian yang lebih pada Nissa, aku tak mau dia berpikir macam-macam!" sesal Malik.
"Aku sudah kasih kamu karyawan supaya kamu lebih santai dan sering berkumpul dengan Nissa! eh kamu malah terlalu fokus dengan pekerjaan di apotek!" keluh Evans.
"Maaf bro, aku selama ini hanya mengalihkan perhatianku agar tak mengingat Elisa, tapi sayangnya malah Nissa menjauhiku!" sesal Malik.
"Minta maaf sana sama Nissa, bujuk dia agar mau mempercayai mu kembali! buat Nissa kembali ceria seperti dulu!" saran Evans.
"Baiklah, aku akan melakukan semua yang kamu ucapkan tadi bro!" sahut Malik tersenyum.
Tap, tap, tap.
Suara langkah kaki menghampiri Malik dan Evans yang duduk di teras.
Orang itu tersenyum dan menyapa keduanya.
"Kamu? kenapa kamu kesini? sekarang kan udah malem?" tanya Malik pada orang yang bertamu itu.
"Sebenarnya aku......!" ia menggantung ucapannya.
*
*
*Bersambung
Jangan lupa untuk dukung terus karya Author.
Terimakasih yang sudah menjadi pembaca setia selama ini. Salam hangat dari author ☺️.
__ADS_1