
Malik dan Elisa pulang dari sebuah Pusat perbelanjaan. Dua jam kemudian sampailah mereka ke rumah Malik.
Hari sudah senja, Berbeda dengan pemandangan tadi pagi yang mendung kelabu. Senja ini begitu indah dipandang. Elisa menatap sebuah pemandangan indah di depannya. Ia tak langsung masuk kedalam rumah. Ia termenung melihat mentari senja yang berwarna jingga yang indah. Semburatnya seolah menyentuh wajah Elisa. Ia teringat kenangan akan Marwah yang suka sekali dengan indahnya senja.
Ada sebuah tangan menepuk pundak Elisa.
"Ayo kita masuk! jangan bengong lho, bentar lagi adzan Maghrib!" seru Malik.
"Iya mas, aku tahu!" sahut Elisa sambil tersenyum.
Mereka masuk kedalam rumah. Nissa menyambut Malik antusias.
"Ayah, mana oleh-oleh Nissa? ayah gak kerja kan hari ini?" sungut Nissa kesal.
Raut wajah ngambeknya sungguh lucu. Elisa hanya tertawa kecil melihat tingkah Nissa.
"Kok kamu tahu kalau ayah gak pergi ke Apotek?" kernyit Malik.
"Tante Fatma tadi datang dan nyari ayah di Apotek tapi gak ada tuh!" seru Nissa jengah.
"Owh begitu ya! oh ya, oleh-oleh buat Nissa minta sama tante Lisa aja ya!" seru Malik.
Malik berusaha mendekatkan Elisa dan Nissa.
Malik ingin dua kesayangannya semakin dekat dari hari ke hari.
"Eum...tante Lisa! emang beli oleh-oleh buat Nissa ya!" Nissa mengerjapkan matanya berulang kali dengan cepat.
Elisa tersenyum melihat gadis kecil itu.
"Pasti dong tante beliin! masa tante lupa sama Nissa sih!" jawab Elisa sambil menyodorkan sebuah tas belanja kepada Nissa.
Nissa mengintip tas itu. Ia terpesona melihat bando lucu nan imut yang berbentuk kuda poni yang lagi hits.
Sumiyati mendekati mereka.
"Nissa mandi dulu sana! sini biar eyang bawa dulu ya!" Sumiyati merebut tas belanja itu.
"Eyang nih, padahal Nissa kan mau coba!" sungut Nissa sebal.
"Mandi dulu baru coba!" perintah Sumiyati.
"Iya eyang, nih Nissa berangkat mandi!" Nisa menjawab dan segera masuk ke kamarnya dan mengambil handuk.
"Kalian kalau pergi berdua lupa waktu ya!" goda Sumiyati.
__ADS_1
Mereka pindah duduk di dipan bambu. Malik menyahut perkataan ibunya, sedangkan Elisa hanya tersenyum ringan.
"Dengerin cerita Elisa yang sampe lupa waktu bu! bukan karena jalan-jalannya!" jawab Malik."
"Kalian juga harus mandi setelah ini! Evans mengajak kita makan malam!" seru Sumiyati.
"Makan malam dimana? bukannya bapak belum pulang?" tanya Malik.
"Bapak ada di rumah pak Samsul, ibu udah telpon tadi. Dan nak Evans akan menjemputnya disana!" jelas Sumiyati.
"Baiklah kalau begitu bu!" jawab Malik pasrah.
Padahal malam ini ia ingin bertanya dan mengobrol banyak dengan Elisa. Tapi, rencananya gagal karena Evans mengajak makan malam diluar.
...----------------...
*Rumah Cahyono.
Sandra sudah berobat keluar Negeri. Rexy telaten sekali dalam mengurusi semua keperluan Sandra selama ini. Ia dibantu oleh seorang perawat yang berpengalaman. Sekarang Sandra sudah tidak memakai kursi roda lagi. Sandra memakai tongkat dan mulai belajar berjalan.
"Sebentar lagi kita akan menikah! jadi aku harap kamu bisa sembuh sayang!" Rexy mengecup kening Sandra.
"Aku akan berusaha untuk bisa berjalan normal kembali!" tekad Sandra yakin.
Tap, tap, tap.
"Tante, om! Silvia lulus nih. Nilai rata-rata Silvia juga bagus!" Silvia memeluk Sandra erat.
Mereka bertiga yang berada di taman mulai berbincang dan mulai ikhlas akan keadaan sekarang ini.
"Nanti Silvia mau lanjut disekolah mana nih?" tanya Rexy perhatian.
"Sekolah kak Shella dulu dong om! disana kan kumpulan orang-orang pinter kecuali kak Shella sih!" cekikik Silvia.
"Heh, gue denger apa yang elo bilang ya bocah!" sungut Shella.
Shella yang datang diam-diam memperhatikan ketiga orang di depannya. Ketika perkataan Silvia menyebut namanya barulah ia menyahut.
Silvia menoleh ke belakang. Ia cengengesan ketika melihat Shella berada di belakangnya.
"Maaf Kaka, Silvi kan emang sengaja tadi! tapi Silvi bener kan?" tanya Silvia usil.
Silvi langsung tancap gas dengan kencang. Seakan ia menjadi pelari profesional.
"Awas aja elo Sil, gue akan tangkap elo ya kali ini!" pekik Shella sambil bergegas berlari mengejar adiknya.
__ADS_1
"Anak-anak itu tak pernah berubah!" Sandra tersenyum kecil melihat tingkah keponakannya.
Rexy hanya geleng-geleng kepala saja melihat kejadian itu.
"Kita masuk aja yuk!" ajak Rexy yang membawa tongkat jalan Sandra. Ia menyodorkan satu pada Sandra, sementara lengan Rexy satunya menggandeng Sandra.
Mereka masuk kedalam perlahan. Bi Minah mulai menyapa majikannya dan pergi menuju dapur untuk memasak makan malam.
Rumah ini sekarang berubah, tak ada lagi tuan Cipto Cahyono. Semua perusahaan dan aset Cipto beralih pada kedua anak dan adik kandungnya. Sebenarnya Elisa masuk dalam daftar warisan tapi Elisa tak mau mengambilnya. Ia serahkan itu semua pada ahli waris yang lain dan mengajukan syarat agar separuh dari warisan itu diberikan pada sebuah panti asuhan yang tak jauh dari kompleks itu.
Elisa sudah mempunyai aset dan lahan yang cukup. Ia tak mau tamak akan harta orang lain.
Sementara itu setelah kedatangan Sandra yang berobat dari luar negeri. Ada seorang wanita memakai Hoodie dan mengenakan kacamata hitam. Ia memakai masker wajah, wajahnya tak terlihat jelas. Wanita itu mengintip dibalik lubang-lubang pagar samping rumah Cahyono.
"Sialan, kenapa malah si tua itu yang mati! kenapa Sandra masih hidup." Geramnya mengepalkan tangan.
"Aku harus buat rencana lain, kuberi kau perhitungan lagi. Awas nanti kau Sandra, aku tak akan membiarkanmu bahagia. Rexy, Sandra lihat saja nanti!" Ujar wanita itu licik.
Wanita itu tak tahu bahwa mobil yang parkir di depannya sedari tadi ada orang didalamnya. Kaca mobil itu gelap dan tak nampak dari luar. Tapi, yang didalam mobil bisa melihat dengan jelas apa saja yang berada diluar.
Wanita itu tak tahu bahwa dirinya sedang diawasi.
"Aku akan menghubungi mereka lagi!" sungut wanita itu yang tak lain adalah Jessica.
Jessica masuk kedalam mobilnya. Ia menghubungi seseorang dan tak lama mobilnya pun melaju ke aspal jalanan.
Mobil yang mengawasi tadi pun tak berdiam diri. Setelah kendaraan Jessica keluar dari kompleks barulah dengan cepat mobil tadi menyusul.
Kringggg.
Dering ponsel pria dalam mobil berbunyi nyaring.
Ia mendengarkan arahan dari suara ponsel.
"Baiklah bos, dan sekarang juga saya sedang membuntuti target. Tenang saja, sebentar lagi semuanya akan terbukti bos!" sahut pria itu percaya diri.
Senyum terkembang sempurna dibalik bibirnya yang tebal. Rencananya sungguh sesuai keinginannya.
*
*
*
*Masih bersambung 🤭.
__ADS_1
Jangan lupa dukung terus ya.
Berikan dukungan berupa like, komen, favorit, rate ⭐ 5, dan vote Mingguan gratis. Bisa juga memberikan gift berupa mawar, kopi, atau love.