
Sumiyati terlihat resah bercampur khawatir. Ia melantunkan doanya ketika waktu sholat dzuhur tiba.
"Ya Allah...maafkan hamba, bukannya hamba mau memisahkan seorang ibu dan anak, tapi hamba takut wanita itu membawa Nissa pergi dari sini," lirih Sumiyati dalam doanya.
Nissa yang hanya melihat neneknya selesai sholat dan berdoa langsung menghampirinya.
Dia mengusap air mata yang mengalir dari pipi neneknya.
"Yangti kenapa? kenapa menangis lagi? Nissa nakal ya?" tanya Nissa sedih.
"Maafkan Yangti nak, Nissa gak nakal kok. Yangti kan lagi doa, makanya nangis kaya gini biar doanya diterima sama Allah" terang Sumiyati menghibur cucunya.
Dia melepas mukenah dan melipatnya.
Dia tersenyum pada Nissa supaya cucunya itu tidak bertanya-tanya lagi.
"Nissa kan tadi udah makan, sekarang tidur siang ya nak! sudah jam 1 siang lho. Nanti sore kan kita mau kerumah om Dendi." Suruh sumiyati pada cucu kesayangannya.
"Iya...yangti...tapi Molly," ujar Nissa mengiyakan.
"Molly masih ada diluar yangti," lanjut Nissa lagi.
"Biar Yangti aja yang ambil Molly ya!" sambil tersenyum dan berjalan keteras rumah.
Sebelum membuka pintu, Sumiyati melihat sekeliling luar rumahnya dari kaca jendela transparan yang ditutupi tirai kain sederhana dan sudah usang.
"Syukurlah wanita itu sudah pergi." Katanya sambil membuka pintu dan langsung mengambil Molly yang tergeletak di dipan teras.
"Ini nak, Molly kesayanganmu," sambil menyerahkan boneka itu.
"Makasih yangti, antar Nissa tidur ya!" ajak Nissa pada neneknya.
"Baiklah...kesayangan yangti," sahut Sumiyati tersenyum lebar.
Mereka berdua masuk ke kamar Malik dan Nissa yang memang sudah mengantuk, terlelap dengan cepat, begitu merebahkan dirinya dikasur.
Sumiyati mengusap kening cucunya itu.
"Yangti gak akan nyerahin kamu begitu saja nak. Wanita itu tidak berhak!" lirihnya seorang diri sambil menatap wajah cucunya yang tenang karena sudah tertidur.
...----------------...
Setelah kepulangannya dari rumah Malik. Rosyanti tidak menyadari kehadiran lelaki yang tangannya bersedekap di teras rumahnya.
"Mas Andi?" ujarnya kaget setengah mati, dia melihat Andi duduk di kursi teras sambil bersedekap.
"Kamu...kamu wanita si*lan, darimana saja kamu? keluyuran kemana kamu Tiiii? cepat jawab!" tanya Andi marah.
***
__ADS_1
Andi yang merasa sakit perut, terbangun dari tidurnya dan pergi ke toilet.
Setelah selesai dengan hajatnya, dia memanggil istrinya. Istri yang dipanggilnya tidak menyahut dan akhirnya Andi mencari istrinya ke seluruh ruangan di rumahnya.
"Kurang ajar, dia keluar ketika aku tidur. Awas nanti kalo dia sudah pulang!" geram Andi sambil mengepalkan tangannya.
Andi menunggu di teras rumahnya dan tak berapa lama, orang yang ditunggu pun tiba.
"Maaf mas...tadi aku pengen eskrim makanya aku keluar sebentar!" bohong Rosyanti.
"Yang benar kamu Ti, warung sebelah itu dekat. Jaraknya hanya 4 rumah dari sini. Aku nunggu disini itu sudah 15 menit," terang Andi.
"Oh...tadi ngobrol sama ibu yang punya warung mas. Ya sekalian makan disana deh eskrimnya," lanjutnya berbohong lagi.
"Tapi...kenapa matamu itu sembab? kamu habis nangis di warung?" selidik Andi melihat wajah istrinya.
"Eh...ini-ehmm...itu mas, tadi ibu yang jaga warung cerita masalah keluarganya, aku ikut sedih mendengar ceritanya mas," bohong Rosyanti lagi dan lega rasanya sudah menemukan alasan yang tepat.
Untung saja suaminya itu baru bangun dan dia turun dari ojek online didepan rumah tetangganya.
"Selamat....," batinnya lega.
( Jangan ditiru ya readers tercintaah π, ini hanya kebohongan halu, jadi....yang sudah emak-emak wajib menghindar dari kebohongan jenis iniπππ)
"Ya sudah....cepat masuk dan cuci muka! udah kaya gembel mukamu itu. Terus, langsung bikinkan aku kopi hitam! kali ini gulanya banyakin dikit ya!" suruh Andi pada Rosyanti.
"I...iya mas," jawab Ros dan melangkah menuju dapur di rumahnya.
...----------------...
"Waalaikumsalam....eh ibu Sum sama Nissa, mari masuk bu!" suruh seorang pemuda seumuran Malik setelah menjawab salamnya.
"Maaf nak ngerepotin, kami mau minta bunga melatinya. Nissa bilang dia mau bunga itu," terang Bu Sum.
"Masuk dulu saja bu, lagian sudah lama kita tidak bertemu walaupun jarak rumah gak jauh," paksa pemuda itu yang bernama Dendi.
"Om...Nissa mau bunga, kenapa disuruh masuk?" tanya Nissa mengerutkan keningnya.
"Ya masuk dulu, ngobrol sebentar. Oh iya, om juga punya permen coklat didalam," tawar Dendi.
"Yang bener om? kalo gitu Nissa mau om," pekik Nissa kegirangan.
"Yangti...ayo kita masuk!" ajak Nissa pada neneknya.
"Baiklah nak, kita mampir sebentar saja ya!" sahut Sumiyati.
"Mari bu, silahkan ...kalo lama juga boleh!" senyum Dendi.
Mereka bertiga ngobrol dengan santai, Nissa yang memeluk Molly kadang hanya mendengar nenek dan omnya itu berbincang.
__ADS_1
"Buk...kenapa Malik gak ikut orangtua Dendi ke kota L di pulau S? disana kerjaan banyak, siapa tau bisa membantu perekonomian sekeluarga," tanya Dendi.
"Maliknya yang gak mau nak, dia mau merawat Nissa disini, ibu juga sudah bujuk dia nak!" cerita Sumiyati.
"Oh...begitu ya buk, tapi aku juga sebentar lagi mau kesana buk. Ibu dan bapak memanggilku. maji2kan mereka perlu tambahan karyawan di pabriknya," terang Dendi.
"Jadi nak Dendi mau kesana juga? siapa yang akan tinggal disini nak? kakak kalian kan sudah menikah dan pergi kerumah suaminya," tanya Sumiyati.
"Tenang saja buk, setelah satu tahun saya disana, ibu akan kembali ke kampung ini," jawab Dendi.
"Oh...seperti itu nak. Ibu sebenarnya ingin Malik kerja di tempat yang layak. Dijalanan itu terlalu keras buat dia," sahut Sumiyati lagi.
"Ibu bujuklah Malik lagi supaya mau ikut bersamaku. Lumayan bu jadi buruh pabrik, gajinya juga sudah UMK (upah minimum kerja)," bujuk Dendi.
"Iya, nanti ibu akan bicara lagi dengan Malik," sahut Sumiyati dengan tersenyum.
"Nissa ....permen coklatnya jangan dibuat mainan! Kasian om Dendi nanti bersihinnya," ucap Sumiyati kepada cucunya yang asyik bermain dengan Molly dan permen cokelat yang berserakan.
"Permennya enak Eyang," ucap Nissa jujur.
"Ha...ha...ha...ini anak sudah pinter ngomong, udah besar lagi," Dendi mencubit gemas pipi Nissa.
"Om...melatinya mana? Molly juga mau bunganya lho om?" tanya Nissa berbinar.
"Om lupa....," sambil menepuk jidatnya.
"Ayok ikut Om kedepan!" sambil menuntun tangan mungil Nissa.
Sumiyati mengikuti keduanya dari belakang.
Setelah dirasa cukup memetik bunga, mereka pergi meninggalkan Dendi seorang diri.
"Semoga saja Malik mau ikut aku ke kota L, kan lumayan dapat bonus dari bos," katanya sambil tersenyum licik.
......................
"Nissa...cepat nak! lengan Nissa diseret Sumiyati.
"Yangti...sakit," lirih Nissa.
"Maaf nak...," ujar Sumiyati pada cucunya.
Sumiyati gelisah dan khawatir akan Annisa.
Dia takut wanita itu akan muncul kembali dan membawa Nissa pergi.
Setelah dirasa sudah aman. Sumiyati berjalan perlahan. Kembali menuju rumahnya yang sudah didepan mata.
"Cepat masuk sayang! sudah sore...bentar lagi ayah pulang kerja." Suruh Sumi karena Nissa sudah duduk di dipan teras rumahnya begitu sampai.
__ADS_1
"Ya sudahlah yangti. Nissa duduk didalam rumah. Oh ya...temenin Nissa nonton tivi ya!" pinta Nissa.
Sumiyati hanya mengangguk setuju dan mereka berdua masuk kedalam rumah serta mengunci pintunya rapat-rapat.