Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 56. Rencana yang telah disusun.


__ADS_3

*Pov Hendra.


Aku memikirkan perkataan istriku tadi sore. Anggi mengeluarkan pendapatnya.


"Benar juga apa yang dia bilang. Seharusnya dari awal aku sudah mengincarnya. Pasti dia tidak keberatan bekerja sama denganku." Gumamku lirih.


Aku menjaga warung mungil ini sendirian. Ada tujuan lain kenapa aku mau membuka warung bahan pokok sehari-hari.


Sudah sebulan lebih aku di sini. Banyak yang tidak tahu aku itu siapa. Jadi, ketika aku pertama kali menginjakkan kaki di sini. Aku sudah menyukai lingkungannya.


Banyak orang dari luar pulau yang mengontrak di kawasan ini. Mereka adalah target yang tepat. Salah satu target ku adalah mas Mj.


Semoga saja dia mau bekerja sama denganku.


Aku akan menyapanya dan akan mendekatinya secara perlahan. Apalagi di lihat dari penampilannya yang sudah berubah. Dia mulai terlihat lebih rapi. Pakaian yang di pakai pun terlihat jelas dari merek ternama.


"Pasti dia mulai kehabisan uang untuk gaya hidupnya itu. Sasaran yang sempurna," lirihku sembari tersenyum licik.


Ada yang menghampiriku. Dia tergopoh sambil menyapa.


"Mas Hen, Beli berasnya sekilo ya! oh ya, minyaknya juga sekilo," ucapnya terburu-buru.


"Bu Idah belom masak ya? padahal udah sore gini lho." Aku berbasa-basi.


Sambil menyerahkan pesanan bu Idah.


"Iya nih mas, kehabisan beras. Makanya belum masak. Nih uangnya! udah dulu ya mas." Dia langsung pergi meninggalkan warung.


Aku menerima uang itu. Kuhitung jumlahnya dan uangnya berlebih tiga ribu rupiah.


Biar besok kalau belanja lagi saja baru aku bilang kalau ada uang kembaliannya.


"Mas, aku udah masak buat nanti malam. Kamu mandi dulu sana! udah sore nih." Suruh Anggi.


"Iya, mas juga lagi nungguin kamu. Mas kedalam dulu ya! jangan sampai ada yang hutang lho." Ancamku.


"Gak mungkin mas, kemaren itu kan ibunya yang bohong. Makanya aku kasih aja. Sekarang percaya deh sama aku." Kilahnya.


"Pokoknya jaga yang bener! jangan sampai kalau ada yang beli itu, stoknya terlihat." Pesanku.


"Udah sana deh, berapa kali ngomongin itu terus." Suruhnya kesal.


Aku hanya tersenyum kecut dan meninggalkannya menuju kosan kecil kami.


...----------------...


Sepuluh menit kemudian.


Aku menghampiri istriku yang tengah meladeni pembeli.


"Warungnya aku tutup ajah ya? bentar lagi adzan Maghrib. Nanti setelah isya baru buka lagi!" saranku.


"Iya mas, mending kaya gitu aja. Kemarin aja buka tapi gak ada pembeli di waktu maghrib.


Pada sholat kali ya. Gak kaya kita." Ucapnya enteng.


"Ya udah, kamu masuk aja sana! biar mas yang tutup warung ini!" seruku.

__ADS_1


Dia meninggalkanku seorang diri. Setelah mengunci pintu warung. Ada seorang pria mendekat ke arahku.


"Mas Hendra, tumben tutup? Kemarin-kemarin padahal buka lho." Tanya pria itu.


"Nanti sehabis adzan Isya baru buka lagi mas Mj." Jawabku.


"Baru pulang mas? padahal ini hari minggu. Lembur kerja ya mas?" kernyit ku heran.


"Gak juga sih. Tadi diajakin nemenin majikan belanja kok." Sahutnya ringan.


"Wah enak dong. Dikasih apa aja mas? biasanya sih kalau nemenin belanja pasti dikasih sesuatu. Bener gak mas?" tanyaku yakin.


"I-ya, di-kasih b-a-ju ajah tadi tuh. Alhamdulillah rejeki." Sahutnya gugup.


"Majikan mas Mj baek banget ya. Jadi pengen punya majikan juga." Cengirku.


"Padahal sudah punya warung sembako, eh malah mau nyari majikan." Goda mas Mj.


"Kadang bosen juga jagain warung mulu mas. Perlu piknik kerjaan yang lainnya, He...he..he."


Sahutku bercanda


"Bisa aja sih mas Hendra. Beruntung lho punya penghasilan dari warung sendiri mas. Gak di suruh-suruh orang." Ujarnya.


"Iya mas Mj, alhamdulillah. Nanti malam kalau ada waktu, saya mau mengobrol mas. Ada bisnis baru." Tawarku sambil tersenyum tipis.


"Baiklah, sehabis saya makan malam saja kalau begitu. Pukul setengah delapan ya!" suruhnya.


"Oke mas. Tunggu saja, nanti aku kesana." sahutku.


"Silahkan mas." Sahutku.


Dia melangkah meninggalkanku sendirian. Aku melihatnya sampai dia menghilang di balik kamar kosnya.


Semoga kamu masuk dalam organisasiku mas Mj. Kesempatan bagus untuk menambah anggota baru.


Aku menemui istriku dan menemaninya. Kami disibukkan akan pesanan para anggota lain. Mereka sungguh antusias sekali. Kami hanya mencatat dan menghitung berapa untung yang bisa kami dapatkan dari itu.


"Satu minggu ini lumayan mas. Biaya persalinan ku aman." Terang Anggi.


"Syukurlah. Kalau bukan dengan cara ini. Dengan cara apalagi kita dapet duitnya. Untung warung sembako kan cuma dikit. Hanya cukup buat makan kita sehari-hari." Jelasku.


Anggi hanya mengangguk mantap. Dia mengiyakan perkataanku.


"Eh mas, gimana rencana selanjutnya? kita harus merekrut seenggaknya lima orang untuk minggu ini. Kalau jadi langganan tetap kan lumayan tuh." Anggi antusias.


"Tadi sih mas mau ajak orang sebelah kita. Bentar lagi mas akan mengobrol dengannya." Sahutku tersenyum puas.


"Yakin nih mas? kalau misal dia menolak gimana?" tanya anggi lagi.


"Kalau nolak, kita dekati lagi secara halus dan perlahan. Pasti lama-lama akan luluh juga. Kamu tenang saja. Serahkan semuanya padaku!" Ucapku yakin.


"Semoga berhasil mas. Semoga ini menjadi rejeki kita. Sudah lebih dari cukup kita dipermainkan mereka dulu. Mereka selalu semena-mena pada kita." Ucap Anggi sambil menerawang masa lalu kita yang kelam.


"Mas juga sudah capek jadi orang baik. Gak ada untungnya. Selalu di remehkan dan di campakkan oleh orang-orang sekitar." Keluhku.


"Mau gimana lagi mas. Mungkin beginilah takdir kita. Jangan pernah mau di injak-injak lagi oleh mereka! kita buktikan bahwa kita mampu dan diatas mereka!" Tekad Anggi yakin.

__ADS_1


"Kamu istirahat dulu ya! mas mau kesebelah dulu. Doakan saja agar mas berhasil membujuknya." Pamitku.


Aku melihat Anggi tersenyum tipis. Aku meninggalkannya dan mengunjungi mas Mj.


Malam ini menjadi ajang penentuan akan bertambahnya anggota baru.


Anggota yang akan menjadi pelangganku sekaligus pesuruhku untuk mengembangkan jualan ini.


*Hendra Pov End.


...----------------...


Rumah mewah keluarga Cipto.


Gadis belia itu berjalan menghentakkan kakinya. Baru saja dia sampai dengan selamat. Teman satu genk nya hanya bisa melihat keangkuhannya.


"Biasa aja tau jalannya! sewot amat sih lo." Sergah Nindy pada Marshella.


"Gue sebel, kesel, marah, pokoknya semuanya deh sama itu orang udik." Pekik Marshella.


Dua temannya hanya bisa menutup telinganya.


"Buset lo, cuma om-om kaya gitu ajah sampe di cemburuin. Apa hebatnya sih? apalagi dia kerja cuma jadi supir doang." Elliana mendekapkan kedua tangannya.


Mereka bertiga masuk kedalam rumah dan menuju kamar Marshella.


Mereka melanjutkan obrolan tadi setelah duduk di pinggir tempat tidur mahal Marshella.


"Kalau gue suka ya suka ajah, emang harus ada alesannya gitu? gak juga kan?" Seru Marshella enteng.


"Mending lo pilih temen gue ajah, anak pejabat. Ganteng lagi. Yang paling penting dia itu suka sama lo." Terang Nindy.


"Ah lo mah suka ngarang." Sergah Marshella acuh.


"Dih ni anak dibilangin juga. Apa kita berdua perlu panggil orangnya kesini sekarang juga? biar lo yakin sama dia." Jelas Nindy lagi.


"Emang siapa sih orangnya?" Marshella penasaran.


"Rendi Suganda. Anak pejabat tajir melintir nan tampan dan rupawan." Jelas Nindy.


"Owh, si Rendi? kirain siapa." Sahut Marshella acuh.


"Rendi salah satu cowok idola di sekolah kita dulu. Dan dia sekarang mau satu universitas sama elo biar bisa deketin elo terus." Jelas Elliana.


"Males gue El, Nin. Udah lah kalian gak usah ngurusin kisah percintaan gue." Tolak Marshella.


Ketiganya terbungkam dengan pikiran masing-masing. Mereka berdua mulai jengah dengan tingkah Marshella.


Di balik pintu. Ada sepasang telinga mendengarkan mereka bertiga. Dia tidak bisa bergerak. Hanya mampu mendengar. Dia tahu sekilas kisah tentang anaknya yang suka kepada supir itu.


*


*


*Happy reading. Jangan lupa tinggalkan like, komen, favorit, ⭐️5 dan votenya.


Terimakasig atas dukungannya 🙏🙏💖.

__ADS_1


__ADS_2