
Kediaman Cahyono
Cipto menahan amarahnya dan menekan dadanya yang naik turun. Elisa masih saja mengajukan perceraian padanya walaupun supir itu sudah berada di pulau Jawa sana.
Ia tak habis pikir, apa yang Elisa harapkan dari seorang pria miskin itu?. Berbeda sekali dengannya yang mempunyai segalanya. Bahkan ketika Cipto sakit, perusahaan yang dimiliki masih mampu menghasilkan ratusan bahkan milyaran rupiah perbulan.
"Kamu, kenapa masih mau bercerai? lihatlah aku sekarang sudah hampir sembuh total!" ucap Cipto.
"Maaf, aku selama ini tidak pernah merasakan kebahagiaan ketika berada di rumah ini!" jawab Elisa jujur.
"Apa kebahagiaan yang kamu cari? aku punya segalanya, kamu dari dulu sudah aku katakan cukup di rumah dan gak usah kerja!" Cipto mulai menaikkan intonasi suara.
"Bukan itu masalahnya! aku hanya ingin hati dan jiwaku merasa tenang ketika bersama seseorang. Aku juga ingin merasakan kebahagiaan ketika berdampingan dengan orang yang aku cintai!" Jelas Elisa.
Sandra yang mendengar keduanya berdebat hanya mampu terdiam seribu bahasa.
"Ternyata wanita kampung itu selama ini memang tak bahagia berada dirumah ini!" Sandra berkata dalam hati.
"Pokoknya aku gak akan menandatangani surat perceraian dan apapun itu yang bersangkutan! keputusan Cipto sudah bulat.
"Tolong om, kasihanilah saya yang seorang yatim piatu!" pinta Elisa memelas.
"Karena kamu tidak punya orang tua itulah saya mau menikah dengan mu, dan itu sudah menjadi amanah ayahmu sendiri Elisa. Dia sahabat baikku dan aku gak mau mengingkari janji ku padanya!" Cipto mulai geram pada Elisa.
"Tapi, Elisa sudah besar dan bisa membahagiakan diri sendiri om! sekali lagi tolong Elisa om!" pinta Elisa.
Tiba-tiba Elisa bersimpuh, ia memegang kaki Cipto yang tengah duduk di sofa ruang tamu.
"Lepaskan Lisa, jangan berulah atau kamu aku kurung kembali!" Cipto bangkit dari duduknya.
Ia mengambil tongkat untuk membantunya berjalan. Ia berjalan menuju ke kamarnya.
"Om, tolong Elisa!" pinta Elisa pada Cipto yang meninggalkan nya.
"Seperti nya penderitaan elu akan berlanjut sampai ujung nyawa elu kelak!" cibir Sandra yang mulai pergi meninggalkan Elisa seorang diri.
"Kamu, kamu juga salah satu penyebab dari semua ini!" Elisa mengepalkan tangannya dengan erat. Ia memandang Sandra yang menjauh darinya.
Pagi ini, Elisa lelah jiwa dan raga. Ia berusaha mengebut di jalan supaya cepat sampai rumah dan mengatakan niatnya yang sudah bulat. Tapi, semua itu hanya menjadi angan-angan saja. Ia sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi.
Elisa mulai bangkit perlahan. Ia menuju dapur dan mengambil air putih. Bi Minah memandang dan menelisik raut wajah majikannya itu.
"Nyonya mau makan apa? nanti saya masakkan! masakan tadi sudah tak bersisa nyonya!" bi Minah menawarkan diri.
"Gak usah bi, males makan nih! bibi buatin cemilan kesukaan saja ya! pinta Elisa.
"Baiklah nyonya! ditunggu sebentar ya nyonya!" bi Minah tersenyum kaku. Ia merasa bersalah karena dulu ia tergiur dengan uang yang di tawarkan Sandra. Ia menjadi mata-mata Sandra ketika Mj masih berada di rumah ini.
__ADS_1
"Nanti bibi antarkan ke taman samping aja ya! aku akan berada disana untuk sementara ini!" jelas Elisa.
"Baik nyonya!" sahut bi Minah.
Elisa meninggalkan dapur setelah selesai minum air putih. Ia meninggalkan bi Minah yang mulai sibuk karena pesanannya tadi.
Elisa mencuci wajahnya akibat lelehan air mata yang menetes tadi. Ia beranjak menuju taman samping rumah dengan buku bacaan dan ponsel pintarnya. Ia membuka buku novel tersebut. Ia mulai hanyut membaca novel tersebut. Tak berapa lama bi Minah mengantarkan pesanan Elisa. Elisa tak menyadari keberadaan bi Minah karena Elisa telah tenggelam membaca kisah cinta pada novel tersebut.
"Nyonya, ada lagi yang mau saya masakkan?" tawar bi Minah membuyarkan lamunan Elisa.
"Eh, udah bi. Udah cukup ini saja! nanti pas makan siang aku mau keluar bentar!" jawab Elisa.
"Saya permisi dulu nyonya!" pamit bi Minah.
Elisa hanya mengangguk dan meneruskan bacaan nya. Ia mulai berpikir bahwa karakter tokoh utama pria didalam novel itu mirip seperti Mj yang dia kenal selama ini.
Elisa menghela nafas kasar. Ia mulai frustasi karena Mj yang masih berada di ruang hatinya.
Sudah beberapa kali ia mencoba menyerah dan melupakan Mj. Tapi, ia tak kunjung bisa dan akhirnya ia memutuskan untuk memperjuangkan rasa cintanya itu dengan cara bercerai dari Cipto.
"Besok aku harus mencoba lagi! semangat lah Elisa, coba lagi terus dan pantang menyerah!" Elisa mengepalkan tangannya ke udara. Ia menyemangati diri sendiri. Tekadnya sudah bulat, ia juga sudah mendapatkan restu dari bunda Marwah akan perceraiannya.
Satu sisi di rumah bunda Marwah.
Siang menjelang sore.
Ada dua frame foto di dekat Marwah. Ia mengambilnya dan memeluknya erat. Nafasnya terdengar perlahan. Marwah memandangi foto tersebut, air mata menetes dari pipi keriput nya.
"Ayah, aku gak bisa menepati janjiku dulu. Aku tidak bisa menemani Elisa sampai dia menemukan kebahagiaannya. Maaf kan aku!" Lirih Marwah tersedu sambil mengelus foto suami tercinta yang sudah tiada.
"Maafkan bunda nak! bunda tidak mau menjadikan penyakit ini sebagai bebanmu! bunda tahu kamu sudah lama menderita!" Marwah mengusap foto Elisa. Ia mencium foto itu.
"Baru tadi pagi engkau pergi! bunda sudah kesepian dan mengharapkan kehadiran mu nak!" sedu Marwah.
Ponsel Marwah berdering nyaring. Ia mengambil ponsel diatas nakas. Ia tersenyum lebar ketika tahu siapa yang menelepon nya.
Anak gadis kesayangannya menghubungi.
"Bunda! Elisa gagal merayu om Cipto untuk becerai!" Elisa langsung berkata setelah di jawab salamnya oleh Marwah.
"Sabar saja dulu nak! biar waktu dan takdir yang menentukan!" pesan Marwah.
"Iya bunda, Elisa akan mencoba lagi dan lagi!" tekad Elisa terdengar.
"Oh iya bunda! kenapa bunda suaranya serak seperti itu?" tanya Elisa heran.
"Oh ini, bunda hanya sedikit batuk tadi. Tapi, sekarang sudah mendingan!" Marwah berkelit.
__ADS_1
"Tetap jaga kesehatan bunda! jangan lupa selalu menghubungi Elisa ya! nanti Elisa akan secepatnya menemui bunda tersayang!" suara Elisa terdengar mulai bersemangat.
"Iya baiklah anak kesayangan bunda! bunda mau pesan makan dulu ini, nanti malam bunda akan menelpon mu!" pamit Marwah.
"Baiklah bunda, selamat beristirahat sore!" sahut Elisa langsung mematikan panggilannya.
Marwah menghela nafas panjang. Ia tak mau Elisa tahu akan keadaan sebenarnya.
Marwah masih mendekap kedua foto bersejarah keluarga nya dulu ketika masih lengkap. Ia tak henti mendekap dan mengalirkan air mata kembali.
*Rumah Cahyono.
Malam hari.
Marshella sudah pulang dari aktivitas luarnya. Ia diantar oleh teman akrabnya di kampus.
Adzan isya terdengar sayup-sayup dari toa masjid terdekat. Shella melihat seorang wanita duduk di bangku taman rumahnya. Wanita itu tengah serius membaca buku.
"Sok pinter deh, malam jam segini baca buku!" Shella mengejek wanita itu yang tak lain adalah Elisa.
Sebuah ide muncul di kepala Shella. Ia mengambil ponsel pintarnya dari dalam tas kuliah nya. Ia mencari akun yang dia ingat dan mencoba membuka akun sosial medianya sendiri. Shella menghampiri Elisa.
"Orang udik!" panggil Shella enteng setelah berada di dekat Elisa.
"Ada apa? mau ganggu aku lagi?" sahut Elisa tanpa menoleh ke arah Shella. Ia sudah jengah dan bosan akan tingkah Shella selama ini.
"Gue mau nunjukin sesuatu ke elo nih!" seru Shella.
"Apa itu? cepatlah!" masih asyik membaca.
"Lihat ini, perhatikan semuanya!" Shella tersenyum lebar sambil menyodorkan ponselnya.
Elisa mengambil ponsel itu dan menonton sebuah acara mewah. Ia melotot tak percaya ketika ada seorang pria berpakaian rapi dan berada di dekat orang terkenal di Jawa timur.
Elisa menutup mulut dengan telapak tangan. Ia sungguh tak percaya akan video itu. Ia menghafal nama akun itu.
"Udah ah, gak usah lama-lama!" Shella menarik ponselnya dari tangan Elisa. Ia beranjak menjauh dan meninggalkan Elisa sendirian.
"Benarkah itu kamu.......?" Elisa masih berpikir keras.
*Bersambung
*
*
Selamat membaca semua π€
__ADS_1
Tetap dukung author dengan like, komen, favorit, rate β 5, dan vote Mingguan. Terimakasih βΊοΈπ