Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 60. Menjalankan rencana jebakan.


__ADS_3

*Author Pov.


Mj yang sudah sampai di kosannya ternyata sudah di tunggu oleh dua orang tetangga dekat.


Mereka sepasang suami istri kamar sebelah.


Senyuman dari sepasang suami istri itu sungguh lebar. Mj yang terlepas dari bujukan pertama Hendra mulai waspada akan sikap keduanya.


"Mereka pikir aku orang bodoh yang mau mereka kendalikan kapan saja!" batin Mj.


"Kalian sudah bersih ya, sementara aku baru pulang." Serunya.


"Kami kan gak kerja kaya mas. Jadi, ya beginilah kami." Sahut Anngi.


"Ya sudah, aku pamit mau mandi. Seharian ini di jalanan mulu nganter majikan!" pamit Mj.


"Eh mas Mj, tunggu dulu! ada yang perlu kami sampaikan mas. Kita ngobrol di sana sebentar ya!" ajak Hendra menunjuk pojokan di sebelah kamar Mj.


Mereka berpindah tempat.


"Jadi begini mas. Kami mau meminta maaf karena hal beberapa hari yang lalu." Hendra memulai.


"Iya gak pa-pa, lupakan saja kejadian kemarin! anggap saja kita gak mengobrol apapun!" Tegas Mj.


"Tapi, kami gak enak mas! besok malem mas makan bersama kami saja! biar Anggi yang masak. Mau ya mas?" pinta Anggi sambil membujuk.


Malik memikirkan ajakan suami istri itu. Setelah menimbang beberapa lama. Akhirnya dia mau menerima ajakan mereka.


"Baiklah, aku mau.Tapi, hanya untuk besok malam saja!" Seru Mj.


"Iya mas Mj. Terimakasih mas!" seru keduanya antusias.


"Sudah dulu ya! aku mau mandi nih." Pamit Mj.


Sepasang suami istri itu hanya bisa mengangguk dan tersenyum.


Malik masuk ke kamarnya setelah membuka pintu yang di kunci. Dia langsung beranjak kedalam kamar mandi mungil nan sempit di kamarnya.


Seperti biasa Mj akan pergi keluar sebentar untuk mencari makan malam. Tak berapa lama dia kembali dan langsung saja menuju ranjang.


Dia berbaring dan melihat jarinya yang tertusuk pecahan kaca tadi. Dia mengingat kejadian dimana dia bisa melihat dengan sangat dekat ketika Elisa mengobati jarinya. Pemandangan yang menyejukkan mata. Dia tersenyum tipis dan memejamkan mata.


...----------------...


Pagi hari di kediaman Cahyono.


Sesampainya di rumah itu, seperti biasa Mj memanaskan kendaraan sebelum mengantar nyonya Elisa.


Ada deru kendaraan yang terdengar. Mj melihat seorang wanita turun dari mobil mewah itu. Sang supir membukakan pintu untuknya.


Pakaiannya bergaya seperti sosialita. Umurnya mungkin diatas 30 tahunan. Lagaknya sok Bossy dan seenaknya kepada supir pribadinya itu.


"Untung saja Elisa gak kaya gitu, ngeri deh kalau punya nyonya seperti dia. Bisa-bisa mati berdiri." Lirih Mj seorang diri.


"Tunggu deh, kenapa dia membawa koper? apa jangan-jangan dia....." belum sempat Mj bergumam ada tangan yang menepuk pundaknya.


"Kenapa mas? ngobrol sama siapa sih?" tanya Elisa.


Mj terkejut dan spontan menepuk tangan Elisa di pundaknya.


"Aduh, sakit lho!" keluh Elisa.


"Maaf ya! lagian kamu ngagetin sih. Jadi refleks nih tangan." Ujar Mj. Dia mengambil telapak tangan Elisa dan mengelusnya.


"Lagian ngomong sendiri pagi-pagi. Makanya aku tepuk, kalau kesambet gimana?" goda Elisa.


"Aku lagi lihat wanita barusan itu! siapa dia? tanya Mj penasaran.


"Owh, dia? dia itu adik bungsu om Cipto. Suka berbuat onar dan seenaknya sendiri. Perawan tua lagi." Ejek Elisa.


"Owh begitu. Tampangnya menor banget ya!" Mj berpendapat.


"Sudahlah! gak usah bahas dia lagi! kita langsung berangkat aja mas. Oh iya, kamu sementara jangan sampai berpapasan sama orang itu ya! dia menginap di sini selama seminggu." Jelas Elisa.


"Emang kenapa?" tanya Mj mengernyit.


"Pokoknya gak boleh deket-deket sama orang kaya gitu. Nanti bisa darah tinggi!" Elisa memperingatkan Mj.


"Kalau begitu ya sudah. Ayo kita berangkat sekarang nyonya Elisa!" ajak Mj.

__ADS_1


Mereka berdua masuk kedalam mobil dan mulai meluncur keluar dari rumah ini.


Sementara di dalam rumah. Bi Minah di sibukkan oleh nona yang akan menginap di rumah ini.


Dia sangat pemilih terhadap makanan. Dan kamar yang akan di tempatinya sekarang harus di bersihkan lagi sesuai perintahnya


"Bi, itu hiasan gantung buang aja! aku gak suka. Bersihin semuanya sampai gak ada debu sedikitpun oke!" suruh Alexandra.


Dia menghampiri kamar Marshella dan mengetoknya. Dari dalam Marshella berteriak menyuruh masuk.


"Eh tante! apa kabar?" pekik Marshella yang langsung memeluk tantenya itu.


"Gak sopan ya! tante ketuk pintu bukannya di bukain malah teriak-teriak." Seru Alexandra.


"Maaf deh tante. Tante kenapa kesini? padahal sudah lama sejak papa sakit." Tanya Marshella.


"Baru sekarang tante bisa pulang ke indonesia. Kerjaan di Singapura lumayan padat Shel." Jelas Alexandra.


"Terus kalau gitu, jajan Marshella mana tante?" pinta Shella.


"Nanti kita shopping bareng. Tante capek mau istirahat, oh iya adekmu mana?" tanya Alexandra.


"Dia sudah berangkat sekolah te. Kalau Shella kan lagi persiapan test masuk perguruan tinggi." Jelas Shella.


"Ya sudah, tante kekamar saja mau istirahat!" Alexandra langsung keluar dan meninggalkan Shella.


"Kerja di singapura tapi dandanannya masih saja norak." Lirih Shella sambil cekikikan.


...----------------...


Sore hari setelah Mj mengantar Elisa berkeliling.


"Mas, kamu jangan pulang ke rumah! langsung ke kosan aja deh!" suruh Elisa tak tenang.


"Emang kenapa sih? emang gak pa-pa kalau kamu nyetir dari kosan ke rumah?" tanya Mj heran.


"Santai aja tau, aku cuma gak mau kamu ketemu sama ulet daun pisang itu." Raut wajah Elisa terlihat khawatir.


"Siapa itu? ulet daun pisang?" tanya Mj.


"Itu lho mas, adek bungsu om Cipto." Jawab Elisa.


"Owh wanita itu. Emangnya kenapa kalau misal papasan atau ketemu di rumah?" tanya Mj penasaran.


"Wah enak dong di sosor, mau dong." Goda Mj pada Elisa.


"Dih kamu itu di bilangin malah ngajak bercanda." Sungut Elisa.


Malik hanya terkekeh melihat reaksi Elisa. Raut wajahnya cemberut seperti anak kecil yang tidak di turuti kemauannya.


"Aku turun sini, kamu hati-hati nyetirnya!" seru Mj dan langsung keluar dari mobil.


Elisa mengambil alih kendaraan dan melajukannya pulang ke rumah mewah Cipto.


Klotak.


Ada barang terjatuh dari atas Dashboard mobil.


Elisa mencari barang apa itu. Dia menemukannya.


"Hadeuh ni orang, masa ponsel aja bisa ketinggalan. Ah nanggung mau puter balik. Bentar lagi sampai rumah." Ucap Elisa.


Elisa menaruh ponsel Mj di dalam tas. Dia sampai di rumah Cipto dan langsung turun meninggalkan garasi rumah.


Terlihat dua orang sedang berbincang dengan santai. Mereka adalah tante dan keponakan.


Elisa hanya menyapa Alexandra sekilas dan langsung masuk kedalam kamar.


"Lihat saja tingkahnya tante! belagu amat ity orang udik!" cibir Shella.


"Namanya orang miskin terus kaya mendadak. Begitu deh bentukannya." Sahut Alexandra.


"Betul banget tante. Mana papa sekarang masih sakit, kan Shella gak bisa bujuk papa agar bercerai sama orang udik itu!" sungut Shella.


"Jangan gitu Shel, biarin saja. Lumayan kan gak usah bayar suster buat jaga papamu. Biar itu orang ada kerjaannya di sini." Seru Alexandra.


Mereka melanjutkan obrolan sambil menunggu Silvia pulang.


...----------------...

__ADS_1


Kosan Mj.


Malam mulai menampakkan dirinya. Malik yang punya janji dengan orang di sebelah mulai bersiap dan melangkah menuju kamar tetangganya.


Tok, tok, tok.


Mj mulai mengetuk pintu kamar.


Di dalam kamar, sepasang suami istri sudah menyiapkan semua dengan sangat baik.


"Mas Hend, itu pasti mas Mj deh. Anggi langsung taruh di gelas minuman aja ya biar dia nanti gak curiga!" seru Anggi.


"Baiklah, aku akan buka pintu. Kamu siapkan dengan rapi agar berjalan dengan mulus rencana kita!" pelan Hendra.


Anggi mengangguk cepat. Hendra membuka pintu dan menyuruh Mj masuk dan duduk di tikar.


"Maaf mas Mj, seadanya ya! hanya ini yang mampu kami suguhkan!" ucap Hendra menyesal.


"Alhamdulillah, ini sudah lebih dari cukup, terimakasih ya!" ujar Mj.


"Mari mas, kita mulai makan saja!" ajak Anggi bersemangat.


Mereka bertiga menyantap makan malam sambil mengobrol santai.


Minuman yang disediakan Anggi mulai di suguhkan. Mj meminumnya sampai habis.


"Alhamdulillah kenyang nih!" ucap Mj.


"Enak gak mas masakanku?" tanya Anggi.


"Enak kok, lebih enak daripada warung tenda langgananku." Jawab Mj tersenyum tipis.


"Syukurlah kalau begitu." Anggi berucap lega.


"Ini mas, minum lagi! biar tambah seger." Tawar Hendra. Dia menyodorkan segelas minuman jus jeruk.


Anggi dan Hendra berpandangan. Mereka saling tersenyum samar satu sama lain.


Malik mulai merasa kepalanya sedikit berdenyut.


"Kok agak pusing ya? padahal tadi gak gini lho." Heran Mj.


"Mungkin capek kerja mas." Sahut Hendra.


"Biar gak pusing, minum lagi mas jus jeruknya!" Hendra menyodorkan gelas baru.


Mj meneguknya sampai habis. Setelah itu dia mulai berkata hal-hal yang tidak masuk akal.


Kesadarannya samar dan mulai menghilang berganti dengan sosok Mj yang urakan dan seperti orang gila.


"Sepertinya dia belum pernah mabuk dan nge Fly barengan. Kita ajak dia masuk ke kamarnya. Sebelum berbuat onar disini!" ajak Hendra.


"Ayo mas, buruan. Lihat deh dia udah kaya orang gila tingkahnya!" Ucap Anggi.


Mereka membopong tubuh Mj yang seperti orang kesurupan. Mj tertawa terbahak-bahak. Dia berteriak mengatakan hal-hal yang di bencinya.


Setelah berhasil membawa Mj masuk ke kamarnya. Suami istri itu tersenyum puas karena rencana mereka berhasil.


"lihat saja besok! pasti dia akan mulai ketagihan, dan akan mencari tau apa sebabnya!" Cuap Hendra yakin.


*


*


Di kamar, Elisa terlupa akan sesuatu.


"Ponsel mas Mj!" pekiknya.


"Aduh gimana nih, aku lupa mau nganterin tadi. Tapi sekarang atau besok ya aku balikinnya?" Elisa berpikir keras.


Agak lama dia menimbang dan akhirnya dia memutuskan untuk.


*


*


*


Selamat membaca. Maaf baru bisa Up lagi.

__ADS_1


Jangan lupa terus dukung karya pertama Author dengan cara like setiap bab, komen, favorit kan, rate ⭐️ 5 dan vote nya. Bisa juga memberikan hadiah berupa 🌹,💖, atau ☕.


Terimakasih banyak karena sudah menjadi pembaca dan pendukung setia Author 🙏🙏🙏😘.


__ADS_2