Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 101. Kesedihan Elisa yang berlanjut


__ADS_3

* Rumah keluarga Cahyono.


Elisa sudah tidak tahan berada di rumah. Dia tidak punya teman untuk berbagi kesedihan.


Ia memutuskan pergi menginap ke rumah bunda Marwah untuk sementara waktu. Ia pamit dan tidak peduli akan larangan Cipto.


Ia memesan taksi online pergi ke rumah bunda Marwah. Ia tak mau mengendarai mobil yang selama ini sudah banyak menyimpan kenangan akan Mj.


Elisa menunggu sang supir taksi di kursi taman. Ia sudah menyiapkan beberapa pasang baju ganti di dalam koper yang ia bawa.


Hingga akhirnya taksi berada di depan pagar rumah. Ia beranjak dan menggeret kopernya dengan tergesa. Ia tak mau ada yang menghalanginya, ini kesempatan yang bagus karena Sandra ada di rumah sakit karena kecelakaan kemarin.


Di dalam taksi, Elisa termenung dan meratap.


Ia belum bisa melupakan Mj, karena hanya Mj lah yang dia cintai selama ini.


"Pak, santai aja ya nyetirnya! maaf kalau lokasi nya lumayan jauh dari sini!" Elisa berkata pada sang supir taksi.


"Baik mbak!" sahut supir itu.


Kendaraan itu meluncur di tengah padatnya jalanan kota. Elisa hanya mampu memandang kearah luar jendela mobil.


Di tengah perjalanan tiba-tiba muncul seorang lelaki yang sepertinya mirip dengan seseorang yang Elisa kenal.


"Pak, tolong kejar motor itu! saya penasaran siapakah dia!" Elisa bergetar.


"Semoga saja itu dia!" harap Elisa yang memancarkan rona bahagia.


Pak supir mengikuti kemana motor itu pergi. Beruntunglah kalau si pengendara motor berhenti di minimarket terdekat. Ia membuka helem dan berjalan masuk ke dalam minimarket.


"Mbak, si mas itu masuk ke minimarket sana!" seru sang supir taksi.


"Baiklah pak, tunggu sebentar ya! tenang saja, nanti saya akan tambah ongkos nya!" Elisa keluar dari dalam mobil.


Ia menunggu di depan kursi yang berada di teras minimarket. Ia memandang motor itu.


Lima menit berlalu. Pria itu keluar dan hendak memakai helemnya.


"Tunggu sebentar, jangan di pakai dulu!" Elisa yang melamun akhirnya menyadari bahwa pria itu sudah berada di samping motornya.


"Kenapa? siapa kamu?" sahut pria itu curiga.


Elisa menatap pria di depannya, ternyata dia sudah salah mengira bahwa pria itu adalah Mj.


"Maaf mas, saya pikir anda itu kenalan saya! silahkan lanjutkan lagi!" Elisa menahan kesedihannya.


Ia kembali masuk kedalam taksi. Pak supir langsung melesatkan mobilnya.


Elisa tak berbicara sepatah kata pun. Ia hanya memikirkan masa lalu.


Kecewa merasuk kembali dalam relung jiwa.


Satu jam kemudian Elisa sudah sampai di rumah bunda Marwah. Ia memberikan ongkos taksi dan melebihkan nya pada pak supir.


Ia menyeret koper dan mengetuk pintu rumah.


Sudah beberapa kali pintu diketuk tapi tidak ada sahutan dari dalam rumah.


Ia bertanya kepada tetangga dekat akan keberadaan bunda Marwah.


Ia tersentak dan terkejut karena bunda Marwah tengah sakit dan berada di puskesmas desa.


Ia langsung menghubungi ponsel bundanya.

__ADS_1


Tut, tut, tut.


Ponsel itu di jawab oleh bunda Marwah.


Suara beliau sungguh lemah dan serak.


"Kenapa nak?" tanya Marwah pelan.


"Bunda sakit kenapa gak ngasih tahu Elisa? untung saja Elisa sudah di rumah bunda. Sebentar lagi Elisa akan menyusul bunda ya!" Elisa menutup ponselnya dan tak membiarkan Marwah menolak Elisa.


Ia meninggalkan kopernya di sebelah kursi yang berada di teras. Elisa setengah berlari menuju puskesmas yang tak jauh dari rumah Marwah.


Elisa tersengal setelah sampai di sana dan langsung bertanya kepada petugas dimana Marwah berada. Ia segera menuju kamar Marwah.


"Bunda!" Elisa memanggil Marwah yang terbaring di brangkar.


Marwah menoleh kearah Elisa, ia tak menyahut dan hanya tersenyum ringan.


"Bunda sakit apa? Elisa takut bunda kenapa-napa!" Elisa mulai menitikkan air matanya.


"Jangan menangis nak! bunda hanya sakit ringan kok!" Marwah tersenyum lebar.


Wajah yang pucat serta tangan yang di infus membuat Marwah lemah dan tak berdaya.


Ia tak mau membuat Elisa khawatir akan keadaannya.


"Bunda, Elisa hanya takut bunda. Elisa tidak punya siapa-siapa lagi sekarang selain bunda!" Elisa mulai terisak pelan.


"Jangan kuatir nak! bunda pasti akan sembuh secepatnya!" Marwah tersenyum.


"Aamiin bunda!" Elisa hanya mencium tangan Marwah dan tak mau lepas darinya.


Mas Mj sudah pergi entah kemana. Entah pulang kampung atau di bawa kemana oleh Sandra. Sekarang bunda sakit dan lemah. Semoga Allah masih berbelas kasihan padaku.


"Ehmm, sebenarnya sih!" Elisa tak melanjutkan kata-katanya. Ia hanya menatap netra sang bunda dengan nanar.


"Ada apa nak? kamu menyembunyikan sesuatu dari bunda! katakan apa itu!" Marwah menyelidiki Elisa.


"Maaf bunda, Elisa tak mau membuat pikiran bunda tambah banyak karena masalah Elisa!"


"Gak pa-pa nak! cerita saja, bunda tak mau membuat mu menderita sendirian!" ucap Marwah pelan.


"Sebenarnya begini bunda!" Elisa menceritakan kejadi Mj yang di pecat dan di usir dari rumah keluarga Cahyono.


"Benarkah? jangan-jangan kalian ketahuan ya!" Marwah menebak asal.


"Begitu lah bunda! padahal Elisa mau bercerai dengan om Cipto dan menikah dengan mas Mj." Isak Elisa mulai terdengar.


"Sabarlah nak! mungkin ini sudah menjadi takdir mu!" Marwah menghela nafasnya.


Mas, anakmu sungguh kasihan. Aku belum bisa sepenuhnya membahagiakan Elisa mas.


Ibu dan anak itu berpelukan lama. Mereka saling menguatkan satu sama lain. Karena hanya mereka berdualah keluarga yang tersisa.


"Sudah lah nak! jangan terlarut dalam kesedihan, gak bagus buat kesehatan nak!" nasehat Marwah.


"Iya bunda, Elisa akan usahakan itu!" sahut Elisa.


Mereka termenung dengan pikirannya masing-masing. Sebuah kondisi dimana hati dan pikiran hanya mampu terpaut dalam sebuah nama.


...----------------...


Kampung Malik.

__ADS_1


Siang ini Malik dan keluarga nya berjanji akan bertemu Evans di sebuah restoran. Mereka akan membahas sebuah apotek baru yang akan dikelola oleh Malik dan keluarga.


Annisa sungguh girang bukan kepalang. Ia membuka lemari pakaian dan mengambil baju yang dia sukai. Baju itu sebuah gaun berwarna merah muda seperti bunga mawar. Gaun yang indah di pandang.


"Nissa yakin mau pake ini?" tanya Sumiyati ketika Nissa menyodorkan gaun tersebut.


"Iya eyang, Nissa mau pake itu!" rengek Nissa.


"Baiklah, tapi ini siang hari lho bukan malam!" seru Sumiyati lagi.


Nissa tetap merengek mau memakainya. Sumiyati menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia langsung mengganti baju Nissa dengan baju yang Nissa suka.


Malik yang masih tak bersemangat hanya berpakaian seadanya. Baju dari Elisa ia simpan baik-baik dalam lemari pakaiannya. Ia hanya mampu mengingat kenangan indah itu.


Mereka sudah bersiap dan menunggu jemputan dari Evans.


"Nak, kamu cuma pakai kaos kaya gini? bukannya kemeja bagusmu banyak?" kening Sumiyati mengerut.


"Males mau pakai kemeja bu!" sahut Mj malas.


"Bukannya kita makan di restoran ya nak! kasian nak Evans dong kalau kita berpakaian seadanya!" Sumiyati mengingatkan Mj.


"Baiklah bu, Malik akan ganti baju!" Mj berjalan lemas kearah kamarnya.


Sumiyati masih bertanya-tanya kenapa Malik bisa berubah begitu drastis. Dulu ia seorang pria yang amat periang. Sekarang ia selalu murung dan tak bersemangat. Seakan ada rahasia yang ia sembunyikan. Tapi sang ibu belum mau berbicara untuk saat ini.


Evans dan Fatma datang, mereka masih berada dalam mobil Pajero milik Evans. Klakson berbunyi, Mj sekeluarga keluar dan bergegas masuk kedalam mobil.


"Wah, bapak kok tambah ganteng ya kalau pake kemeja itu!" puji Evans.


"Terimakasih nak, tapi yang buat ganteng itu kemejanya bukan bapak kok!" seringai Sugeng lebar.


"Bapak bisa ajah!" sahut Evans.


"Mas Malik kok diem aja sih?? kaya orang lagi patah hati aja gak punya semangat!" Evans bertanya.


"Mas, kamu tuh!" Fatma menyenggol lengan Evans yang berada di sebelah nya.


Malik hanya menatap mereka berdua dan tersenyum kaku.


Mobil mulai berangkat menuju restoran steak terkenal di daerah itu. Evans sudah memesan tempat VIP disana. Nissa berseru kegirangan.


"Yee, Nissa mau makan di restoran!" ujarnya polos.


"Nissa mau mama baru gak?" ceplos Evans.


"Mama baru? iya juga sih om, Nissa udah lama gak punya mama!" Nissa berpikir dan menunduk. Ia seakan bisa mengerti arti dari perkataan Evans.


"Mas Evans udah deh mas!" suruh Fatma.


Mj hanya menghela nafas. Ia hanya bisa memandang jalanan yang ramai dari dalam mobil.


"Tunggu dulu, dia masih disini??" Mj berkata dalam hati.


*


*


*


*Siapa yang dimaksud Mj.


Bersambung

__ADS_1


Selamat membaca dan dukung terus dengan like, komen, dan gift ...🤗🤗🙂


__ADS_2