
Malik yang berada didepan rumah orangtuanya sungguh tak sabar. Apalagi ada bocah lelaki yang membukakan pintu untuknya. Suara yang dikenal Malik terdengar dari dalam dan mendekat.
"Ibu, kenapa mereka berada disini?" Malik tersentak ketika Sumiyati keluar bersama seorang wanita yang Malik kenal.
"Malik...apa kabarmu?" Ipah hendak memeluk Malik.
Akan tetapi Malik memilih untuk menjauh.
"Ibu...siapa sih om itu? dia sepertinya kesal sama Rico tadi." Rico mengadu.
"Dia itu Pak Lik kamu nak, adik kandung Ibu." Ipah menjawab.
"Ibu...Bapak dimana? Elisa sudah menunggu sedari tadi." Malik tak menggubris pertanyaan kakaknya itu.
"Kamu gimana sih Lik, ditanya Ipah malah diem aja." Sumiyati mengingatkan.
"Ini lho Bu, aku lagi baca novel seru. Judulnya AKU KEMBALI di aplikasi fizzo. Mau baca cerita ini ajah Bu, soalnya gratis dan update tiap hari. Lumayan kan buat hiburan." Malik malah tidak peduli pada si kakak yang sudah lama tidak bertemu.
"Ditanyain malah baca novel, emangnya seru banget ya Lik?" Sumiyati penasaran.
"Seru banget Bu, kisah drama rumah tangga, cinta segitiga. Eh, segiempat, mungkin bisa jadi segi lima. Author Black_Queen keren banget bikin orang penasaran tiap babnya." Malik semakin malas membicarakan sang Kakak.
"Ya sudah, nanti Ibu download aplikasinya dan baca juga deh, lumayan buat hiburan di waktu senggang. Tuh kakakmu jangan dicuekin gitu Lik!" Sumiyati menunjuk anaknya.
Ipah dan Rico hanya terdiam menyaksikan mereka entah berdebat atau mungkin mengobrol membahas novel baru author Black_Queen di fizzo.
Lima menit berlalu, Malik mengantongi hapenya.
"Aku gak punya banyak waktu untuk berbincang dengannya Bu. Ayo kita pergi sekarang juga!" Malik menarik lengan Sumiyati dan menuntunnya masuk ke dalam mobil.
Setelah itu ia masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikan keberadaan Ipah dan Rico.
"Pak...ayo kita berangkat." Panggil Malik.
Imah yang mendengar suara itu, keluar dari kamarnya. Ia sudah menidurkan Zeta yang mungil.
"Lho... Malik, kenapa terburu-buru? kamu sehat kan?" tanya Imah melihat Malik dengan lama.
Sugeng keluar dari kamarnya dengan berpakaian rapi. Malik segera menarik lengan Bapaknya agar segera keluar rumah dan masuk kedalam mobil. Seperti sebelumnya Malik tak menghiraukan pertanyaan Imah.
"Sabar kenapa nak! mbok yo disahut dulu mbak yu mu nyapa tuh." Sugeng yang ditarik pelan oleh Malik menyesalkan sikap Malik yang acuh.
"Malik tidak ada waktu untuk mereka Pak, sekarang juga kita berangkat!" Malik membuka pintu mobil dan membantu bapaknya masuk.
Malik sudah masuk kedalam mobil dan segera meluncur kearah rumahnya. Tak sampai setengah jam akhirnya mereka sudah sampai ditempat tujuan. Malik menuntun kedua orangtuanya dan tersenyum kepada para tamu yang sudah hadir dalam acara selamatan 40 hari putranya tercinta. Mereka semua masuk beriringan dan duduk ditempat yang sudah disediakan.
Evans dan Fatma juga hadir di acara itu. Setelah semua siap, doa bersama dimulai dan dilanjutkan dengan memotong rambut putra Malik yang diberi Nama Ervino Prayoga. Dia tak keberatan akan nama yang dipilih Elisa untuk putranya. Arti dari Ervin sendiri adalah orang yang tampan dan adil. Malik menyukainya. Acara sudah dilaksanakan dengan khidmat dan tertib. Para tamu segera mengambil makanan yang sudah tersedia. Ervin yang sudah tidur berada di ayunan bayi yang sudah dihias dengan indah. Setelah satu jam lebih para tamu mulai berpamitan dan meninggalkan kediaman Malik sekeluarga.
Sugeng dan Sumiyati duduk berselonjor dilantai yang sudah dialasi karpet. Sepertinya umur yang sudah renta membuat mereka lebih capek dari biasanya.
__ADS_1
"Ibu dan Bapak malam ini menginap disini saja!" seru Malik.
"Tidak nak, kami akan pulang. Ibu masih merindukan mereka," jawab Sumiyati cepat.
"Tapi Bu, Ibu tidak usah kasihan kepada mereka. Mereka saja tidak kasihan dengan keadaan kita dulu," Malik masih marah pada kedua kakaknya.
"Jangan menaruh dendam dihatimu nak! itu akan membuatmu jauh dari kedua kakakmu." Sumiyati menasehati Malik.
"Ayo Bu kita pulang! hari sudah sangat malam," ajak Sugeng.
"Ayo Pak! Ibu ingin bermain dengan Rico Sebelum dia tidur," mereka berdua berdiri perlahan.
"Kalian ini sengaja membuatku marah ya!" Malik meninggikan suaranya.
"Astaghfirullah Mas....kamu kenapa sih?" Elisa menarik tangan Malik.
Sedari tadi ia perhatikan wajah suaminya itu.
"Jangan keterlaluan pada ibu dan bapak mas. Cepat minta maaf!" Elisa mengelus kepala suaminya dengan lembut.
Mereka berdua menyusul ibu dan bapaknya yang sudah berada didepan pintu.
"Maafkan Malik Bu, Pak. Mari Malik antar pulang!" Malik menyalami tangan orangtuanya dan mencium telapak tangan mereka.
"Terimalah kenyataan dahulu dan sekarang nak. Lihatlah kakakmu! mereka sudah mendapatkan hukuman dari Tuhan karena sudah menghilangkan diri dari keluarganya." Sumiyati menepuk pundak Malik.
Malik hanya bisa mengangguk saja. Mereka sudah berada didalam mobil dan mobil pun meluncur keluar dari halaman rumah yang luas. Elisa tersenyum senang melihat Malik tidak keras kepala lagi.
***
"Kamu kenapa gak turun nak? kamu gak kangen sama kakak-kakakmu? keponakanmu juga ada lho," Sugeng seakan mengerti rasa kecewa dan ragu yang Malik rasakan.
"Besok saja aku kesini Pak, Bu, sekarang aku hanya bisa mengantar kalian. Titip salam buat kak Ipah dan kak Imah," ia mencium punggung tangan kedua orangtuanya yang sudah renta.
Mereka turun dengan sangat berhati-hati dibantu oleh Malik. Kini keduanya hanya bisa menatap kepergian anaknya.
"Anak itu pasti marah, kecewa, sedih dan bahagia bersamaan karena kedatangan kedua kakaknya," Sumiyati menatap suaminya.
"Benar sekali Bu, dan anak kita sekarang sudah berkumpul bersama. Rasanya Bapak sudah bisa meninggalkan dunia ini dengan tenang," Sugeng berkata spontan.
"Huss... Bapak ini ngomong apa to, cucu kita masih kecil-kecil Pak! kita harus sehat dan bugar agar bisa menemani mereka beranjak dewasa," pandangannya berharap.
"Semoga saja kita diberikan umur yang panjang agar bisa melihat anak dan cucu kita bahagia dengan kehidupan mereka," harap Sugeng yang diamini oleh istrinya.
****
Ayam berkokok menandakan hari telah pagi. Kali ini Malik sekeluarga memang berencana mengunjungi rumah kedua orangtuanya. Mereka telah menyuruh ART untuk menyiapkan segala keperluan dan makanan yang banyak sebagai bingkisan.
"Kalian ini heboh sekali sih," Malik masih menguap. Ia heran dengan Elisa dan Annisa yang kompak berisik di pagi hari karena menyuruh ini dan itu pada dua ART.
__ADS_1
"Semua persiapan harus matang Mas! kita kan akan berlibur bersama dan menyiapkan kejutan untuk mereka. Aku sungguh bersemangat," Elisa tersenyum lebar.
"Ayah cepatlah mandi! sebentar lagi kita akan berangkat. Keburu adek bangun lho," seru Nissa tak sabar.
"Kalian berdua memang sama karakternya," gerutu Malik meninggalkan mereka ke kamar mandi.
Setelah semua persiapan sudah berjejer rapi didalam bagasi mobil, akhirnya mereka semua masuk kedalam mobil dan kendaraan pun meluncur dengan lancar.
Ervino masih terlelap di pangkuan ibunya.
Tak beberapa lama, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Malik membunyikan klaksonnya sebelum mereka turun.
"Pasti Malik itu Pak," Sumiyati tersenyum senang.
Mereka masuk dan saling berpelukan dengan kakak yang selama ini tak diketahui keberadaannya.
Nissa semakin senang bahwa ada Rico dan Zeta. Ia bisa mengajak mereka bermain bersama. Rico hanya terpaut setahun lebih tua dari Nissa. Jadi mereka cepat akrab.
"Kalian semua sudah mandi dan sarapan kan?" tanya Malik penasaran.
"Sudah dong nak, lihatlah wajah kita berseri-seri," Sumiyati tersenyum lebar. Ipah dan Imah tertawa bersamaan mendengar perkataan ibunya.
"Kalau begitu ayo kita semua masuk kedalam mobil!" ajak Malik.
"Ngapain kita om? kenapa suruh masuk mobil?" tanya Rico penasaran.
"Kita akan berwisata ke pantai di kota sebelah. Makanya kita harus berangkat sekarang juga," Sahut Malik.
"Asyikkk....kita liburan Ma," Rico menoleh kearah mamanya.
Dengan keadaan riang, mereka semua sudah duduk didalam mobil. Mobil yang awalnya kosong jadi penuh. Ervino pun senang berada di pangkuan budenya. Ia tak rewel berada di pangkuan Imah.
Dua jam perjalanan membuat mereka mulai bosan. Akan tetapi pemandangan di sekitarnya membuat mereka bersemangat lagi. Pantai sudah terlihat, akan tetapi Malik harus mencari jalan menuju tempat parkir.
Mereka semua keluar dari mobil dan meluruskan kaki yang sekian jam tertekuk. Aroma pantai membuat mereka terbuai. Malik mengajak keluarganya untuk duduk disebuah gazebo yang sudah ia sewa.
Piknik kali ini sungguh lengkap dan terasa menyenangkan. Angin segar menyapa setiap helaian rambut yang terurai. Elisa, Malik, Nissa dan Ervino memandang Ipah, Imah, Rico dan Zeta yang tengah berkejaran di pasir putih yang terbentang. Sementara Sugeng dan Sumiyati memilih berjalan dan bergandengan tangan di pinggir laut dan membiarkan air laut mengelus kaki-kaki renta mereka.
Pemandangan indah untuk sebuah akhir kisah tentang sebuah keluarga.
*Finally End sodara-sodara.
Bismillah bulan depan akan ada lanjutan kisah anak-anak Malik dan Elisa beserta keponakannya.
Genre kali ini bisa pilih ya🤭🤭
Mau horror, romantis lagi, atau thriller bercampur misteri?
Coba tulis di kolom komentar 🤭
__ADS_1
Terimakasih banyak atas dukungan selama ini.
Ini karya pertama author yang baru belajar dan baru mengenal ilmu kepenulisan jadi diharapkan memakluminya. Untuk karya selanjutnya semoga lebih bisa memuaskan hati pembaca sekalian.