Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 52. Kisah singkat Cipto Cahyono


__ADS_3

*Cipto Pov.


Sudah dua tahun aku menyusahkan orang-orang dirumah ini dengan penyakitku.


Elisa dan Minah sungguh telaten merawatku selama ini.


Aku hanya bisa menatap tanpa bisa berpendapat dan bergerak. Aku hanya bisa berharap dan berdoa, semoga sisa umurku tidak berada di kursi roda lagi.


Kejadian itu membuatku shock. Marshella benar-benar anak yang kurang aj*r. Kubesarkan dia dengan susah payah hingga menjadi seperti sekarang ini. Tapi, dia benar-benar membuatku kecewa.


......................


*Flashback waktu Malik pertama kali kerumah ini.


Aku melihat lelaki tampan nan tegap masuk kedalam rumahku. Elisa memandang pria itu berbeda. Sorot matanya menunjukkan rasa suka dan kagum.


Ya, walaupun selama aku menjadi suaminya. Dia tidak pernah memandangku seperti itu.


Elisa mengelus tanganku.


"Pa, dia nanti yang akan jadi supir pribadi mama." Terangnya.


Aku hanya mampu mengedipkan mata. Elisa yang tau akan hal itu langsung tersenyum lebar.


Sudah sering aku mengalah pada Elisa. Aku tidak bisa mengatakan tidak padanya. Rasa cinta ini muncul ketika dia masih saja menghindari sentuhanku.


Dia merespon kedipanku dengan bahagia.


"Makasih pa, sudah lama mama tidak diantar supir pribadi." Lanjutnya semangat.


Dia memanggil Minah dan menyuruh Minah membawaku ke kamar. Aku hanya bisa melihatnya berjalan beriringan dengan pria itu.


Ada rasa sakit di dada kiri. Mungkin beginilah rasanya cemburu.


*Flashback off.


......................


Sampai sekarang Elisa masih gadis suci. Aku belum pernah menjamahnya sama sekali. Aku tidak tega menyakiti hati dan tubuhnya.


Sorot mata itu penuh ketakutan ketika aku beraksi pertama kali. Dan membuatnya menangis terisak keras. Sejak itulah aku berhenti mengganggunya. Aku akan menunggu dia mencintaiku seutuhnya.


Tapi harapan itu sudah menghilang seiring datangnya penyakitku ini.


Aku tidak berdaya selalu duduk di kursi roda. Hanya diam memperhatikan mereka.


Apalagi, supir baru itu mulai menjadi pusat perhatian dari Elisa dan Marshella.


Pendengaranku masih tajam ketika mereka mendebatkan sesuatu tentang supir itu.


Mereka berdua lebih sering beradu mulut semenjak adanya supir pribadi itu.


Satu masalah baru muncul. Aku sudah malas memikirkannya. Mereka berdua hanya mampu melihat visual pria itu saja tanpa benar-benar tau sifat aslinya seperti apa.


Biarlah begitu, setidaknya ada yang meramaikan rumah ini. Ramai karena pertengkaran anak dan istriku.


*Cipto Pov end.


...----------------...


Pagi ini aku merasa bahagia. Aku sudah berbincang dengan Anak dan ibuku.

__ADS_1


Setidaknya tahu bahwa mereka baik-baik saja.


Elisa memintaku mengantarnya ke sebuah konveksi di luar kota. Belum sempat aku mengucapkan terima kasih pada Shella, dia sudah menyeretku untuk ikut bersamanya.


Aku mengendarai pelan mobil ini. Setengah jam berlalu dan rasanya aku mengingat sesuatu. Tunggu dulu, ini jalan sepertinya pernah aku lalui.


Ingatanku terpatri pada suatu peristiwa.


Sebuah peristiwa dimana pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di pulau ini.


Ini sih jalan menuju rumah kontrakan bos David. Di pengkolan sana ibu dan bapak Dendi berada. Duh, aku harus gimana inih? semoga saja Elisa tidak turun pas disebelah rumah itu.


"Mas, turunnya di ujung sana ya! sebelah rumah yang di sampingnya ada warung." Suruhnya.


Aku hanya mengangguk dan bernafas lega.


Elisa agak jauh turun dari rumah kontrakan bos David.


Sebuah rumah sederhana. Namun ada gudang disebelahnya yang cukup besar, mengalahkan luasnya rumah itu sendiri.


"Kamu harus turun mas! nanti akan ada beberapa contoh baju yang akan kita bawa!" serunya.


"Baiklah nyonya Elisa, siap laksanakan!" sahutku tersenyum lebar.


Aku mengikuti Elisa. Dia melihat-lihat model baju dan gamis model terkini di sebuah katalog besar.


Aku duduk disebelahnya ketika kami dipersilahkan tadi.


Lumayan bosan juga, untung ajah ada Elisa di samping. Jadi, lumayan lah buat cuci mata.


Setelah aku ditunjuk untuk membawa contoh pesanan. Kami menuju jalan pulang.


"Mas, udah siang. Kita makan dulu ya! Disana ada restoran steak langgananku." Ajaknya.


"Steiiik? makanan apa itu? kok aku belum pernah makan?" tanyaku.


( Mj kan orang kampung, makanya gak tau jenis makanan western 😁)


"Steak itu daging sapi yang di olah mas. Pokoknya enak deh. Pasti mas Mj suka." Sahutnya.


"Baiklah akan aku coba. Kalau sudah dekat dengan restorannya kamu kasih tau saja!" seruku sambil tersenyum kearahnya.


Dia membalas hanya dengan anggukan kepala.


Kami dengan bebas mengobrol ketika berdua di dalam mobil. Elisa menceritakan keluh kesahnya selama menjadi pebisnis online dan offline.


Tanpa sadar aku menggumamkan sesuatu.


"Kalau kamu tau aku ini seorang duda beranak satu, mungkin kamu gak akan mau dekat denganku."


"Mas bilang apa tadi? aku gak denger dengan jelas. Coba ulang lagi deh!" tanya Elisa penasaran.


"Eh, emangnya aku bicara apaan ya? kok jadi lupa gini!" ujarku mengalihkan pembicaraan.


"Gak usah akting deh mas! aku denger kamu tadi bilang sesuatu. Entah itu tentangmu ataupun tentangku." Bujuk Elisa.


Aku menghela nafas dan membuangnya secara kasar.


"Nanti sampai di restoran, aku akan membicarakan semuanya." Jelasku.


"Jadi penasaran deh. Pake nanti segala lagi ngasih tahunya." Rengek Elisa kesal.

__ADS_1


"Biar enak ajah. Masak dijalan ngobrol hal yang penting sih. Gak etis aja gitu!" seruku.


"Ya udah deh, kalau begitu. Aku tunggu!" sahut Elisa cemberut.


Tak berapa lama. Kami sampai di restoran mewah dan megah.


Aku yang seorang pria kampung baru pertama kali melihat restoran semewah dan sebesar ini.


Dari luar saja begitu menarik di pandang.


"Mas, ayo masuk. Jangan bengong aja!" Ajak Elisa sambil menggandeng tanganku.


Aku beranjak dari parkiran mobil dan mengikuti majikanku ke dalam restoran.


Dia memesan steak yang di suka. Entah apa namanya. Aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas.


Pasti mahal deh kalau makan di restoran kaya gini. Desain interiornya ajah mewah banget. Dasar udik gue nih. Baru kali ini makan di tempat kaya gini.


Lima belas menit berlalu. Steak sudah tersaji di meja kami. Tampilannya sungguh menarik. Daging sapi yang besar dan tebal serta ada kentang goreng dan sayuran rebus. Di tambah pelengkap saus asli resep restoran ini.


Elisa menerangkannya padaku. Aku hanya terdiam dan melongo melihat pisau dan garpu yang ada di kanan kiriku.


Elisa tertawa kecil melihatku yang kebingungan.


"Sini mas! biar aku ajah yang potong-potong Steaknya. Biar kamu bisa langsung makan nanti." Elisa meraih piring Steak ku.


Kami menikmati steak dengan khidmatnya. sungguh rasa baru di mulut ini. Karena baru pertama kalinya aku memakan hidangan Western.


"Mas, ayo cerita yang tadi. Kan kamu janjinya setelah makan steak ini." Bujuk Elisa.


"Iya, sabar napa sih. Gak sabaran amat." Sahutku.


"Penasaran lho mas!" Serunya lagi.


"Ehm, sebenarnya aku itu. Itu lho, sudah duda. Duda anak satu." Jelasku pelan dan ragu.


"Oh, duda anak satu. Emangnya kenapa kalau aku tau mas?" sahutnya biasa.


"Gak pa-pa sih. Aku hanya kuatir kamu gak mau berteman denganku lagi kalau tau aku ini seorang duda anak satu." Jelasku lagi.


"Biasa aja tuh. Toh status ku sekarang ini juga sebagai istri orang. Jadi, kenapa aku harus keberatan dengan status itu!" Ucapnya yakin.


Sekarang, semuanya jelas. Aku tidak akan merasa bersalah tentang statusku ini.


Kami mulai meninggalkan restoran mewah ini.


Aku melajukan mobil kembali kerumah besar Elisa. Dan bersiap-siap untuk perjalanan selanjutnya.


*


*


*


Selamat membaca. Maaf kali ini upnya telat.


Seharian ini Author tidur dan tidur kerjaannya. Efek begadang selama satu minggu penuh.


Jangan lupa dukung author dengan cara like setiap babnya, komen, rate⭐️5, favorit dan vote. πŸ™πŸ™πŸ™πŸ€—


Terimakasih bagi pendukung setia SUPIR UNTUK SANG NYONYA.😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2