Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 88. Cipto punya rencana lain


__ADS_3

Rumah keluarga Cahyono.


Senyum lebar menghiasi bibir Sandra. Dia yakin rencana kali ini akan berhasil seratus persen.


Dia pergi ke kamar abangnya dan menunjukkan berkas ditangannya itu.


Cipto menerima berkas dari Sandra, Sandra membuka dan membolak-balik halaman demi halaman berkas tersebut.


Cipto membacanya. Dia mencerna kata demi kata. Ada satu perkataan disana yang membuat Cipto marah besar. Nafasnya naik turun tak beraturan. Dia menjatuhkan berkas itu dan menekan dadanya kuat-kuat.


"Bang Cipto kenapa? ada yang sakit?" tanya Sandra yang heran sekaligus khawatir akan keadaan abangnya.


Cipto hanya terdiam, tangannya terkepal erat tanda emosi yang sudah diatas wajar.


"Abang kenapa? bilang aja bang sama Sandra!" seru Sandra yang mulai khawatir ketika melihat wajah Cipto yang memerah seakan menahan emosi.


"Ka-mu, ke-na-pa ka-mu!" Cipto yang biasanya berbicara pelan dan tergagap mulai lancar sedikit. Jarinya bergerak cepat menunjuk pada Sandra.


"Ke-napa ka-mu se-per--ti i-ni San-ddra?" tanya Cipto.


"Seperti ini gimana sih bang? Sandra kan mau bantu abang agar tidak terjebak dengan orang kampung itu!" Sandra mengambil berkas yang jatuh tadi.


Dia mengamati perubahan raut wajah abangnya. Cipto marah bercampur kecewa akan sikap Sandra yang seperti ini.


"Ti-dak uuu-sah! kamu ja-ng-an per-nah men-cam-pu-ri ur-us-an ru-mah tang-ga kami."


Sahut Cipto yang membuat Sandra terperangah.


"Bang Cipto kamu, kamu itu sudah mulai lancar banget ngomong nya!" pekik Sandra girang.


"Tapi, tetap saja bang. Gue gak mau abang ditipu oleh wajah polos orang kampung itu!" lanjut Sandra.


"Ini uu-ru-san ab-ang!" tekan Cipto lagi.


"Pokoknya abang harus menandatangani berkas-berkas ini semuanya!" perintah Sandra.


Sandra mengambil ibu jari Cipto, dia mencelupkan ibu jari itu pada tinta yang sudah disiapkan sebelumnya.


Cipto melawan Sandra. Walaupun dia sekarang ini sedang sakit tapi, dia tidak mau ada orang lain yang mencampuri urusan rumah tangganya. Apalagi dia adalah adik nya sendiri.


"Ti-dak, aa-ku tidak maa-uu!" tolak Cipto lagi.


Tinta itu di buang oleh Cipto ke lantai.


"Tolong lah Sandra bang! Sandra gak suka sama sekali pada orang kampung itu!" mohon Sandra.


"Tii-dakk!" pekik Cipto menolak permohonan Sandra.


Cipto memberanikan diri untuk berdiri dari duduknya. Dia mencoba bangkit untuk memberikan pelajaran kepada Sandra.


"Ekh, ekh!" Cipto mengerang pelan. Kakinya seakan kaku untuk berdiri. Mungkin ini akibat dari dia yang selalu duduk di kursi roda. penyakit itu membuat Cipto tahu rasanya tak bisa berbuat apa-apa.


"Bang, jangan main-main dengan Sandra lho bang!" ancam Sandra.


Cipto menarik rambut Sandra yang tengah menungging mengambil Beberapa kertas berkas yang masih bertebaran di lantai.

__ADS_1


"Aduh bang, sakit!" rintih Sandra kesakitan.


Ternyata jambakan Cipto lumayan memberikan rasa sakit pada Sandra adiknya.


"Bu-ang i-itu San-dra!" perintah Cipto pada berkas yang di peluk oleh adiknya itu.


"Gak mau, pokoknya Sandra akan tetap menyimpan ini bang!" tolak Sandra.


"Bii-ar abang ya-ng mem-bee-rikan mere-ka pela-aja-ran!" seru Cipto.


"Udahlah bang, padahal selama ini kita akur-akur saja! ini semua karena wanita kampung itu!" geram Sandra curiga.


"Bu-kan -di--a!" cecar Cipto.


"Sandra mau keluar dulu mencari angin. Daripada disini malah bikin mood jelek!" ketusnya dan melirik pada Cipto.


Sandra melangkah cepat meninggalkan kamar Cipto. Dia masih kesal atas perbuatan Cipto tadi.


Dia mengambil kunci mobil dan tas tangannya.


Secepat kilat dia mengendarai mobil itu ke arah kafe favorit nya.


"Sialan tuh abang! baru kali ini dia membentak gue. Gue pasti akan misahin kalian berdua!" tekad Sandra bulat seperti tahu bulat di goreng dadakan lima ratus rupiah. (😳)


Sandra tiba di kafe Qiara. Kafe itu termasuk salah satu tempat yang paling viral dan terkenal di kota L.


"Makan dulu enak kali ya!" gumam Sandra berbicara sendiri sambil keluar dari dalam mobilnya yang masih ada di parkiran.


Tap, Tap, tap.


"Elo? ngapain elo disini? pake acara ngikutin gue lagi!" ketus Sandra pada orang itu.


"Sayang, aku kan mau makan siang disini! tadi aku melihat mu di parkiran. Jadi, aku menyusul mu dan akan menemani mu makan siang!" senyum orang itu melebar. Siapa lagi kalau bukan Rexy yang selalu membuat Sandra kesal.


"Alesan aja tuh! elo kan emang sengaja ngikutin gue!" ketus Sandra gak mau kalah.


"Kita masuk saja yuk! jangan berdebat di depan pintu sayang!" ajak Rexy.


Rexy menggandeng lengan Sandra dan menuntunnya masuk kedalam kafe.


Sandra pun hanya terdiam ketika Rexy berbuat seperti itu padanya.


"Duduklah sayang!" Rexy membuka kursi di sebelah nya.


Mereka duduk sambil memilih menu yang disukai. Sandra hanya terdiam saja sambil menunjuk menu apa saja yang dia mau.


"Cuma ini aja yang! kamu gak mau makan yang lainnya?" tanya Rexy khawatir.


"Enggak, lagi diet!" jawab Sandra singkat.


Tak beberapa lama pesanan mereka datang. Sandra dan Rexy akhirnya bersantap siang dengan khidmat. Hanya suara dentingan sendok dan garpu yang menemani mereka.


Di sekitar meja mereka kosong. Hanya terisi beberapa meja saja.


Tak jauh dari meja makan Rexy dan Sandra ada sepasang netra yang menahan rasa marah, benci dan kesal sekaligus. Wajahnya di tutupi oleh buku menu kafe itu. Dia mengintip Sandra dan Rexy ketika sudah selesai makan siang.

__ADS_1


Sandra dan Rexy terlihat mulai berbincang. Rexy dengan cepat bisa mengambil hati Sandra yang memang sedang kesal tadi. Mereka tampak mulai mesra, tangan Rexy mulai mengelus punggung tangan Sandra.


"Si*lan, kenapa mereka semakin akrab setelah kejadian di rumah sakit kemarin?" ucap wanita itu kesal.


"Tunggu waktu saja! kalian akan merasakan pembalasanku!" senyum licik terkembang dari mulut wanita itu.


Dia tidak jadi memesan makanan, dia hanya membayar minuman yang sedari tadi dia pesan. Wanita itu melangkah keluar kafe sambil terus memperhatikan Rexy dan Sandra yang dia anggap orang yang menghancurkan karir dan masa depannya.


Dia pergi menjauh dari kafe Qiara.


...----------------...


Marshella dan Silvia bertemu di kafe yang sama! mereka akhirnya memutuskan untuk pulang bersama.


Taksi online yang di pesan sudah datang dan melajukannya kearah rumah Cipto.


Silvia memulai percakapan.


"Kak, elo tau gak sih rencana tante Sandra?" tanya Silvia sambil memainkan ponselnya.


"Gak sepenuhnya tau sih! cuma tahu kalau bokap sama orang udik itu harus bercerai secepatnya!" jawab Shella jengah.


"Ada lagi tau kak!" ucap Silvia enteng.


"Ha, beneran nih ada lagi?" tanya Shella penasaran.


"Iya kak, beneran! Kakak mau tahu gak?" tanya Silvia.


"Paling elo ituh lagi ngibulin gue!" Shella cuek.


"Kagak dong! gue beneran ini , jujur deh!" sanggah Silvia.


"Ya udah kasih tahu saja sih! buruan!" seru Shella.


"Tapi, ada syaratnya kak!" Silvia cekikikan.


"Elo nih pasti selalu mengambil kesempatan. Dasar adik gak bener!" sahut Shella.


"Gue cuma mau dapet uang jajan elo 3 hari aja kok. Mau ya, nanti gue bocorin apa saja rencana tante Sandra!" rengek Silvia.


"Ya udah deh kalau cuma 3 hari doang! gue gak masalah tuh!" sahut Shella enteng.


"Yes, asyik. Jangan sampai ingkar janji!"


"Iye, buruan apaan itu!"


"Gini lho kak, nanti setelah papa dengan orang udik itu bercerai. Tante akan........!"


Shella mengernyitkan keningnya menunggu penjelasan dari Silvia


*


*


*Bersambung

__ADS_1


Selamat membaca semua. Terimakasih banyak atas semua dukungannya. Jangan lupa untuk like setiap bab, komen, masuk daftar favorit, rate ⭐ 5 dan vote nya. Bisa juga memberikan gift berupa 🌹, ☕,❤.


__ADS_2