Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 55. Pertengkaran ibu dan anak tiri


__ADS_3

Sudah dua bulan aku bekerja menjadi supir pribadi Elisa. Rasanya begitu menyenangkan bisa bersama setiap hari dengannya.


Rasa ini memang salah. Aku jatuh cinta pada istri orang. Bahkan sampai sekarang, aku tidak berniat menghindari dan membuang jauh-jauh perasaan ini. Awalnya memang aku harus bisa mengendalikan perasaanku padanya.


Tapi, sejauh ini aku tidak bisa begitu. Apalagi Elisa dengan terang-terangan menggandeng lenganku ketika kami pergi makan dan belanja bersama.


Sebuah Mall besar di pusat kota.


"Mas, bawain ini ya. Tanganku udah penuh sama shopping bag nih!" suruhnya.


"Kamu kan udah punya toko baju sendiri. Kenapa masih aja beli di luar?" tanya ku heran.


"Kualitasnya beda mas. Tolong ya, nanti Elisa sambil bawa juga kok." Serunya lagi.


"Baiklah, dua saja ya!" tawarku.


"Oke deh, asalkan bawa yang besar dan yang berat. He...he...he." Cengirnya.


"Mau gimana lagi, jadi cowok emang harus bisa diandalkan." Sahutku


Aku mengambil 2 tas yang besar dan lumayan berat.


Perempuan kalau gak shopping gak bisa kali ya. padahal tiap hari ganti baju, masih saja bilang kurang terus bajunya. Heran deh.


Aku membawa tas besar di sebelah bagian kiri. Sementara yang kanan, tangan Elisa menggenggamnya erat. Seakan dia tidak mau aku lepas dari sisinya.


Kami melewati outlet terkenal. Masuk dan keluar lagi. Entah apa yang di cari Elisa.


Setelah puas dia mencari. Dia memberiku sebuah jam tangan mahal. Ada kartu sertifikat di dalam kotaknya.


"Ini? ini buatku? jamnya mahal lho Lis. Maaf aku gak bisa menerimanya." Tolakku halus.


Selama ini aku merasa rendah diri. Karena Elisa selalu saja memberikanku barang-barang mahal dan bermerek terkenal.


Mulai dari kemeja, sepatu, dompet dan yang lainnya. Harganya juga membuatku tercengang. Setara dengan 6 bulan gajiku menjadi supir angkot.


"Lisa beli ini khusus buat mas Mj. Makanya kalau jalan sama Lisa berdua kaya gini harus di pake mas!" dia membuka kotak jam itu lagi dan memakaikannya di pangkal lenganku.


"Wah, bagus banget mas. Cocok mas pake lho, terlihat lebih jantan dan tangguh!" ucapnya bersemangat.


"Aku gak enak Lisa, semua yang aku pakai sekarang ini hadiah dari kamu semua. Lihatlah!" aku memutar badanku 360•, seperti seorang model yang tengah berada di panggung Catwalk.


"Lisa suka lihat mas yang kaya gini kok. Tampan dan keren seperti seorang CEO perusahaan besar." Serunya bersorak girang.


"Tapi, kenyataannya tidak kan?" sahutku pelan.


"Jangan kuatir mas, Elisa akan tetap suka dan cinta sama mas Mj walaupun bukan seorang CEO yang kaya raya!" ucapnya jujur.


Selama ini, baru pertama kalinya dia mengungkapkan perasaannya padaku. Aku agak sedikit terkejut dengan ucapannya tadi.


"Tapi, aku ini hanyalah bawahanmu Lisa. Tidak lebih. Apalagi pekerjaanku hanya jadi seorang supir." Gumamku.


Ya, aku memang sadar siapa diriku ini.


"Elisa juga bukan siapa-siapa mas. Semua ini berkat bantuan om Cipto yang mau meminjamkan modal dan Elisa mampu mengembangkannya." Terangnya.


"Tapi.....ini kan." Belum sempat aku meneruskan ucapanku Elisa langsung menarik tanganku agar keluar dari sana.


"Udah mulai ramai disana mas. Sebaiknya kita pindah ke food court ajah yuk. Lumayan kan ngobrol sambil ngemil." Ajaknya lagi.


Tangan kami masih bergandengan. Banyak pasang mata melihat kami. Mungkin mereka berpikir kalau kami ini pasangan yang serasi.


Padahal aslinya hanya majikan dan bawahan.

__ADS_1


Elisa menyuruhku duduk dan dia langsung memesan makanan yang dia suka.


Tiba-tiba ada yang menghampiriku. Raut wajahnya merah padam menahan amarah. Tangannya bersilang di dada dan berucap.


"Om Mj, enak ya disini kencan sama istrinya papa. Tadi, Shella mau minta anter gak mau. Eh, ternyata udah disini sama istrinya papa." Sinis sekali nada bicaranya.


"Om kan supir pribadi nyonya Elisa. Jadi, kalau dia mau dianterin kemana. Om harus nurut Shella." Jawabku pelan.


Aku melihat raut wajah itu, seolah tak mau mengerti keadaanku yang serba salah.


"Gak usah cari alesan Om. Buktinya kalian masuk bergandengan tangan tadi. Shella perhatiin itu taukk!" pekiknya.


Orang-orang sekeliling kami memandang dengan tatapan penasaran.


Suara Shella sudah diatas normal. Sifat kasar dan semena-menanya datang kembali.


Aku berdiri dan mendekati Shella.


"Kamu sama siapa kesininya? sini duduk sama om Mj ajah!" ajakku membujuknya.


"Sama temen-temen. Mereka ada disana!" tunjuk Marshella.


"Kita gabung aja mejanya, gimana?" usulku.


"Males tau om. Jadi gak selera makan kalau satu meja bareng istrinya papa." Sungutnya.


Aku melihat Elisa tergopoh mendatangi kami.


Nampan yang dia bawa langsung di letakkan di meja sebelah kami.


"Shella, kenapa kamu disini? marahin mas Mj lagi." Elisa berkata kesal.


"Heh, lu diem ajah ya! gue gak punya urusan sama elu." Serunya ketus.


Aku yang melihat perdebatan mereka berdua hanya mampu berdiam diri.


Kriuuuukk....kruuuukkk.


Suara perutku terdengar. Aku beranjak ke sebelah meja tempat Elisa meletakkan makanan tadi.


Ya kali ngelihat mereka berantem bikin perut gue kenyang. Makan dulu ah, nanti kalau mereka udah capek. Pasti berhenti dengan sendirinya.


(Bisa-bisanya ya Mj makan sambil melihat siaran langsung orang yang lagi beradu mulut.😆😆😆)


Mereka berdua masih saja beradu argumen.


Aku makan dengan santainya. Tak lama, aku yang sudah kenyang tanpa sengaja bersendawa dengan suara yang lumayan kencang.


"Ewwhhhhkkkk."


"Alhamdulillah," ucapku tanpa rasa bersalah.


"Dih, jorok banget sih!" ucap mereka kompak.


"Wauw, kalian ternyata bisa kompak juga ya. Buktinya barusan, hahaha." Tawaku mengejek mereka berdua.


"Dih, makan duluan gak ngajak Elisa!" sungut Elisa sebal.


"Bagus om, gak usah makan bareng sama orang udik ini. Nanti tertular udiknya!" Sahut Shella gak mau kalah.


"Om kan emang orang udik Shel, jadi om santai ajah ah." Kataku tenang.


Mereka berdua masih melanjutkan perdebatannya. Orang-orang ada yang masih memperhatikan dan ada pula yang sudah bosan dengan tingkah mereka berdua.

__ADS_1


Aku sudah kenyang. Berniat beranjak dan meninggalkan mereka berdua.


Cocok ya mereka, kaya saudara kandung ajah. Lagi rebutan maenan gak mau kalah.


Aku beranjak dan berdiri meninggalkan mereka.


Mereka tidak menyadari kepergianku.


Setelah keluar dari Foodcourt ini. Aku di kejar seseorang. Di tangannya terdapat tas yang bermacam-macam warna.


"Mas Mj, kenapa ninggalin Lisa? Lisa belum makan tau!" rengeknya sambil memberikan tas belanjaannya.


"Kuping mas panas banget. Dengerin kalian berantem kaya tadi. Lebih panas dari dengerin ceramahnya ustadz, eh!" gurauku sambil menutup kedua telinga.


"Lagian itu Shella sih, dateng-dateng malah ngajak berantem." Keluhnya lesu.


"Trus tuh anak mana? gak nyusul aku juga ya?" tanyaku penasaran.


"Dia diajak temen-temennya. Film yang akan mereka tonton sebentar lagi mulai." Jawab Elisa.


"Wah, enak juga ya. Hiburan nonton Film." Ucapku antusias.


"Ya udah kita nanti nonton mas. Tapi, Lisa sekarang laper banget. Makan yuk!" ajak Lisa.


"Aku males mau masuk kesana lagi. Malu weehhh! kita makan di tempat lain saja!" ajakku.


Elisa hanya mengangguk pelan. Tangannya mulai menggandeng lenganku. Kami beriringan berjalan bersama.


Kami keluar dari Mall besar ini dan menuju restoran yang Elisa suka.


...----------------...


Tetangga kosan Mj.


Anggi yang mulai terlihat perut buncitnya menghampiri suaminya yang tengah beberes membersihkan warung mungil mereka.


Warung itu sudah 3 minggu berdiri. Terbuat dari papan kayu triplek. Isinya ada berbagai macam kebutuhan bahan pokok.


"Mas, kenapa kita gak ngajak mas sebelah saja? sepertinya dia bisa diajak bekerja sama. Dia juga butuh duit yang banyak agar bisa pulang kampung!" terang Anggi.


Hendra menghentikan kegiatannya dan memandang sang istri kagum.


"Otakmu encer juga. Nanti mas coba aja deh tawarin sama dia juga. Lumayan buat pemasukan kita." Sahut Hendra.


"Sepertinya dia terlalu polos dan naif mas. Lihat aja tampangnya itu. Kaya orang yang gampang di boongin." Jelas Anggi lagi.


"Baiklah sayang. Kamu tenang saja, biar nanti mas yang urus." Kata Hendra sambil menyembunyikan sesuatu di balik terpal plastik warna hitam.


Ada beberapa barang yang di sembunyikan Hendra. Dia mengatur tata letak barang itu agar tidak mudah di temukan pelanggan warungnya.


Barang yang mungkin saja tidak layak untuk di jual.


*


*


*


Happy reading. Maaf ya kalau up nya gak tentu. Author juga punya kehidupan di dunia nyata. Jadi, ketika sempat barulah menulis lagi.


Terimakasih bagi yang sudah memberikan dukungannya 🙏🙏😍💖.


Terus dukung dengan cara like setiap bab, komen, rate ⭐️5, favorit dan vote.🙏💖

__ADS_1


Selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga amal kita selama bulan puasa ini diterima. Aamiin.


__ADS_2