
Rumah mewah Cahyono.
Sandra yang tengah berduaan dengan Rexy memutuskan mendorong tubuh Rexy menjauh.
Ci*man itu, Sandra harus menahannya. Walaupun tadi Rexy sempat mencium lama, setidaknya Sandra masih bisa mendorong kuat tubuh Rexy. Suara langkah kaki menghentikan ci*man mereka berdua.
Bi Minah yang sedari pagi mendapat tugas dari Sandra akhirnya melapor pada majikannya.
"Maaf non Sandra!" ucap bi Minah yang tergopoh menghampiri Sandra dan Rexy.
"Ada apa bik?" tanya Sandra sok acuh dan cuek.
Sandra berusaha menormalkan kembali nafasnya yang memburu dan tersengal.
"Tuan Rexy ada disini! gimana ya aku bilang sama non Sandra?" batin bi Minah.
"Ehm, begini nona. Saya sudah dapat pemandangan yang bagus. Foto pemandangan yang sungguh sempurna!" senyum bi Minah lebar. Akhirnya dia menemukan kata yang pas agar Sandra gampang menebak maksud dari perkataannya.
Sandra terlihat berpikir sejenak. Dia melihat Rexy yang berada di sampingnya.
Sandra mengernyit heran, foto pemandangan apa yang dimaksud bi Minah. Sandra memikirkan sesuatu yang hampir dia lupakan.
"Pasti foto mesra mereka berdua yang bi Minah maksud!" batin Sandra.
Pikiran Sandra melayang pada rencananya beberapa hari yang lalu.
*Flashback 2 hari yang lalu.
Sandra pulang dari rumah sakit. Dia mengambil baju ganti untuk dibawanya ke rumah sakit.
Di ruang tamu di duduk menyamankan bahunya yang kaku. Terlintas perlakuan Mj pada Elisa.
"Supir kampung itu ternyata meremehkan gue. Dia masih saja mendekati orang miskin Elisa selama gue gak disini!" gumam Sandra sebal.
Lama Elisa berpikir. Akhirnya dia dapat ide untuk memberi pelajaran Mj dan Elisa lagi.
Sandra tersenyum licik, raut wajahnya tidak bisa diartikan.
"Bi Minaahhhh!" teriak Sandra memanggil pembantunya.
Bi Minah yang mendengar teriakan Sandra akhirnya tergopoh mendekat kearah Sandra yang berada di ruang tamu.
"Bikin jantungan nih non Sandra kalau udah manggil!" lirih bi Minah sambil berjalan tergopoh.
"Bikkk sini cepat!" pekik Sandra.
"Ada apa non Sandra?" tanya bi Minah yang nafasnya tak teratur.
"Gue punya tugas buat elo bik! sini gue bisikin!" perintah Sandra.
Bi Minah mendekat, Sandra menempelkan bibirnya ke telinga bi Minah dan berkata sesuatu. Senyum terkembang lebar dari bibir tipisnya itu. Bi Minah yang mendengarnya terkejut. Dia tak habis pikir bahwa majikannya ini bisa berbuat sekejam itu.
"Kenapa bik? gak mau menuruti perintah gue? tenang saja bi, elongue kasih duit dari tiap misi yang gue suruh!" seru Sandra tersenyum licik.
"Iii- yyaa nona!" sahut Bi Minah terbata.
"Baru kali ini aku melihatnya sendiri! ternyata nona Sandra memang lebih licik dari kelihatannya." Batin bi Minah dongkol.
Bi Minah berpikir panjang dan menimbang kembali penawaran Sandra. Mau tak mau akhirnya bi Minah mengangguk setuju. Walaupun dihati kecilnya masih saja tersimpan keraguan.
"Mulai besok atau lusa segera lakukan rencana kita bik! awas ya kalau sampai elo keluar jalur! gue akan memecat elo dari sini!" ancam Alexandra penuh penekanan.
"Baiklah nona, besok atau lusa saya akan melakukan rencana kita!" sahut bi Minah setuju.
__ADS_1
"Jadi, besok itu tugas ku yang pertama ya nona?" tanya bi Minah.
"Ya, begitulah bi! besok jangan lupa ya! besok bi Minah harus melakukan rencana gue yang tadi." Senyum Sandra terkembang lebar.
"Siap nona Sandra, kalau begitu saya pamit dulu!" ijin bi Minah.
"Silahkan bi, kalau ada kabar segera beritahukan kepada gue!" suruh Sandra.
Bi Minah mengangguk dan berjalan menuju area dapur. Sandra tersenyum senang sendirian di kursi itu.
*Flasback off.
Sandra mengerti maksud perkataan bi Minah.
Dia hanya mengangguk dan tersenyum saja.
"Kerja bagus bi! nanti gue akan panggil elo lagi! sekarang pergilah!" suruh Sandra.
"Baik nona! saya hanya menyampaikan bahwa misi hari ini berhasil!" senyum bi Minah.
"Saya permisi dulu nona dan tuan Rexy!" pamit bi Minah yang langsung saja berlalu dari hadapan Rexy dan Sandra.
Rexy hanya terdiam dan memperhatikan keduanya. Ada rasa penasaran dalam benak Rexy. Dia hanya terdiam dan tak mampu berbicara. Satu perkataan saja salah, dia sudah tak bisa mengambil kembali hati Sandra.
"Kita lihat saja nanti!" gumam Sandra enteng.
"Ada apa sayang? kok kamu seneng banget?" tanya Rexy.
"Ah, gak kok. Biasa aja sih!" sahut Sandra.
Pasti ucapan bi Minah tadi ada hubungannya dengan ini semua. Seketika Sandra mulai bersemangat sekali.
"Sayang! kita lanjutkan yang tadi yukkk!" ajak Rexy merayu Sandra.
Sandra beranjak dari tempat duduknya. Dia pergi begitu saja meninggalkan Rexy yang terdiam mendengar perkataannya. Rexy pasrah dengan perlakuan Sandra.
"Daripada maksa terus nanti tambah marah, mending aku cabut aja ah!" gumam Rexy dan beranjak dari tempatnya duduk.
Dia melangkah keluar rumah dan masuk kedalam mobilnya.
...----------------...
Kampung bunda Marwah.
Sore menguasai hari ini. Ada 3 orang berjalan mendekat ke area pemakaman yang tak jauh dari rumah Marwah. Mj tak kuasa menahan air beningnya. Air itu jatuh perlahan ketika Mj mulai bersimpuh di makam pak Ismail.
Orang yang baik hati dan mau menampung Mj ketika kesulitan.
Elisa mengelus bahu Mj berulang kali. Perlakuan Elisa terhadap Mj membuat Marwah curiga. Elisa terlalu menampakkan hubungannya kepada bunda Marwah.
Mereka bertiga terdiam cukup lama setelah berulang kali Mj mengelus batu nisan dimakam pak Ismail. Mj berdiri, menghapus air bening itu. Dia mengajak bunda Marwah dan Elisa untuk pulang.
"Maaf bunda! Mj belom bisa menahan emosi tadi!" sesal Mj.
"Tidak apa-apa nak! wajar kita bersedih ketika orang yang kita sayang meninggalkan kita untuk selamanya!" bijak bunda Marwah.
"Mari kita pulang saja bunda!" ajak Mj.
Elisa menggandeng tangan Mj. Bunda Marwah memperhatikan mereka berdua.
"Tunggu dulu! kenapa mereka bisa jadi sedekat ini?" batin Marwah bertanya-tanya.
Jarak dari area pemakaman dan rumah bunda Marwah tidaklah jauh. Hanya berkisar 1-2km saja. Setibanya dirumah, bunda Marwah menarik tangan Elisa yang sudah tidak bergandengan dengan Mj lagi.
__ADS_1
"Sini kamu!" tarik bunda Marwah.
"Ada apa sih bunda?" tanya Elisa heran.
"Jelasin sama bunda Lisa! apa hubungan kamu dengan nak Mj sebenarnya?" tanya bunda Marwah langsung pada intinya.
"Eh, itu...itu!" Elisa tergagap.
"Jawab sekarang juga dan harus jujur!" tekan bunda Marwah.
"Kami sebenarnya, sudah berpacaran bunda!" Elisa menjawab sembari menundukkan pandangannya.
"Apa?? kamu gak salah nak?" pekik bunda Marwah.
"Ada apa bunda?" tanya Mj yang tiba-tiba muncul setelah membasuh kedua kakinya.
"Owh ini nak, ada serangga tadi. He..he!" cengir bunda Marwah kaku.
"Mana sekarang serangganya bunda?" tanya Mj.
"Oh, udah terbang tuh!" cengir bunda Marwah.
"Ayuk ah masuk! masak ngobrol di depan rumah!" ajak bunda Marwah.
Mereka bertiga masuk kedalam rumah. Mj pamit mau ke kamar mandi sebentar.
Langsung saja Elisa di tarik menuju kamarnya oleh Marwah.
"Elisa, siapa yang menyuruh kamu pacaran dengan Mj?" tanya bunda Marwah.
"Maaf bunda! tapi kami saling mencintai dan menyayangi!" sendu Elisa.
"Ingat nak! kamu itu sudah bersuami! kamu mempermalukan keluarga Hardi!" bunda Marwah mengingatkan Elisa akan statusnya.
"Elisa tahu itu bunda, dan Elisa ingin bercerai dengan om Cipto secepatnya kalau beliau sudah sembuh!" jelas Elisa.
"Tapi tetap saja kalian bersalah nak!" ucap Marwah sedih.
"Kita tak bisa menyembunyikan perasaan ini bunda!" sahut Elisa gundah.
"Memangnya kamu tahu darimana, kalau Cipto sembuh terus kamu minta cerai dia akan menceraikanmu!" hardik Marwah.
"Elisa akan membujuk om Cipto bunda! tolong pahami perasaan Elisa bund!" Elisa memohon.
"Kalian berdua harus menjaga jarak! ketika kamu sudah bercerai barulah kalian bisa bersatu!" saran bunda Marwah.
"Tapi bunda, elisa sudah tidak bisa jauh dari mas Mj!" tolak Elisa.
"Sejauh apa hubungan kalian? cepat jawab yang jujur!" hardik bunda Marwah.
"Sebenarnya belum lama ini kami!" Elisa tercekat.
"Jawab saja nak!" tegas Marwah.
"Sebenarnya kami sudah........!"
*
*
*Bersambung.
Selamat membaca 🥰🥰
__ADS_1