
Salah satu Mall besar.
Sepasang netra memperhatikan kekompakan Mj dan Elisa. Dia tersenyum licik dan mendekati keduanya dari belakang. Ia merogoh tas untuk mengambil ponsel. Dia mengabadikan foto-foto kemesraan Mj dan Elisa sambil tersenyum senang.
Dia tak menyangka akan bertemu keduanya di tempat ini.
"Kita lihat saja nanti, gue akan membuat ini jadi bukti perceraian!" Silvia meletakkan kembali ponselnya
"Asyik, lumayan nih buat nyogok kakak sama tante!" Silvia tersenyum lebar.
"Sil, buruan kesini!" panggil salah satu temannya.
Silvia bergegas mendekati teman-temannya. Mereka yang seumuran bersenang-senang sambil bercanda ria sesekali.
"Tadi lu ngapain sih? gue perhatiin senyum lu lebar banget deh!" tanya salah satu temannya penasaran.
"Gue cuma senyum sama pasangan aneh yang disana kok!" jawab Silvia enteng.
"Emang lu kenal mereka?" tanya temannya lagi.
"Kagak lah, gue kagak kenal!" bohong Silvia.
"Udah hampir siang nih! kita makan dulu yuk! gue laper." Ajak Silvia pada ketiga temannya.
"Boleh deh!" sahut yang lain.
Mereka berempat meninggalkan area permainan itu dan bergegas pergi ke food court yang berada di dalam Mall.
Sementara itu, Mj dan Elisa kecapekan karena terlalu bersemangat untuk bermain. Keduanya terduduk dengan lemas di kursi oanjang.
Elisa beranjak membeli es krim yang berada di konter sebelah. Dia menjulurkan eskrim itu pada Mj.
"Kaya anak kecil makan eskrim!" Mj mengeluh.
"Udah, makan aja eskrim nya!" bujuk Elisa.
Akhirnya Mj meraih eskrim itu dengan malas.
"Kok lemes gitu sih mas! eskrim ini enak lho!" seru Elisa.
"Iya deh!" Mj menjawab asal.
Mereka berdua menikmati eskrim dengan khidmat tanpa percakapan apapun.
Mj masih termenung dengan perkataan ibunya tempo hari. Hari ini dia harus membuat keputusan. Ibunya hanya memberi waktu 3 hari saja.
"Mas, aku laper nih! makan yukk!" ajak Elisa sambil menarik lengan Mj agar berdiri.
"Makan lagi? tadi kan sblum masuk sini udah makan?" heran Mj.
"Main lempar, main dancing, dan lainnya itu bikin laper mas, hehehe!" cengir Elisa yang menampakkan seluruh giginya.
"Ya udah yok!" Mj mengalah.
Mereka kembali ke area food court yang terletak di lantai atas Mall. Elisa berkeliling mencari menu yang dia inginkan.
Netranya memandang satu persatu gambar makanan yang ada di sana.
"Itu dia mas!" tunjuk Elisa girang.
"Chicken katsu?" tanya Mj.
"Iya, aku mau itu ajah!" sahut Elisa. Ia mendekati konter itu dan memesan menu yang paling enak menurut nya.
__ADS_1
Elisa mencari tempat duduk. Netranya memperhatikan sekeliling.
"Anak itu? bukannya dia sekolah, tapi malah maen di Mall!" Elisa menelisik Silvia dan teman-temannya yang duduk tak jauh dari tempatnya.
"Eh, tante itu ngeliatin kita mulu deh!" seru teman Silvia.
Silvia menoleh pada orang yang ditunjuk temannya tadi.
"Ngapain dia disini?" lirih Silvia.
Elisa menghampiri meja Silvia dan teman-temannya. Dia menegur Silvia.
"Sil, kenapa kamu gak sekolah? ini bukan hari libur lho!" seru Elisa.
"Elo itu gak usah ngurusin gue deh! urus aja selingkuhan elo itu!" Silvia berucap dengan entengnya.
"Bentar lagi kamu itu ujian Silvia! masa mau main-main doang kerjaan nya!" nasehat Elisa.
"Kalo mau ceramah gak usah disini! tempat ceramah itu di masjid orang udik!" sengit Silvia.
"Tapi kan...!" Elisa tak mampu melanjutkan perkataannya.
"Udah yuk guys, kita pulang aja!" ajak Silvia langsung beranjak dari tempatnya duduk.
Silvia tak menghiraukan perkataan Elisa dan langsung menjauh dari food court.
"Lu kenal siapa dia?" tanya teman Silvia penasaran.
"Dia? dia itu cuma jongos dirumah gue!" jawab Silvia sekenanya.
"Jongos dandanannya kaya gitu? yang bener lu Sil?" tanya teman satunya tak percaya.
"Udah deh, kita gak usah bahas jongos itu lagi!" kesal Silvia.
"Oke deh, daripada lu ngambek!" ucap teman satunya.
Elisa dan Mj di meja makan Food Court
"Tuh anak emang sebelas duabelas dengan Shella, susah dibilangin!" kesal Elisa pada Mj.
"Kamu lebih baik gak usah peduli dengan mereka! kamu tahu sendiri kan sikap mereka itu seperti apa!" larang Mj.
"Tapi mas, aku itu kan kasian sama om Cipto. Makanya aku nasehatin Shella dan Silvi!" sahut Elisa.
"Lebih baik gak usah di kasihani, mereka bukannya orang yang gak punya! cukup cuekin aja lah, gak usah di perhatikan!" seru Mj.
"Mas nih kok jahat begitu sih?" tanya Elisa gak percaya.
"Bukan jahat sih, biar mereka gak ngelunjak dengan kita Lis. Kita harus acuh pada mereka!" sahut Mj tak mau kalah.
"Iya aja deh mas!" Elisa jengah.
Pesanan sudah datang dan Elisa menyantap nya dengan perasaan yang tak menentu.
Mj pun demikian. Masih harus mencari alasan pada ibu dan keluarganya agar dia masih diijinkan berada di pulau ini. Keduanya larut dalam pikirannya masing-masing.
...----------------...
Malam hari di kediaman keluarga Cahyono.
Elisa yang sudah pulang sejak sore masih saja belum keluar dari kamarnya.
Cipto memerhatikan nya dari atas sampai bawah. Cipto yang masih duduk di kursi rodanya mulai berani berdiri menghampiri Elisa.
__ADS_1
Di ruang keluarga Cahyono.
Silvia yang sudah mengadu pada kakaknya akhirnya bisa bernafas lega. Foto yang sudah disimpannya langsung di kirimkan kepada Marshella saat itu juga. Dia sudah mendapatkan bagian uang jajan Shella selama beberapa hari karena informasi yang ia berikan.
"Gimana kak? canggih kan ide Silvi?" seru Silvia yang tersenyum lebar.
"Canggih apaan? elo itu cuma mau duit jajan doang dari gue!" sungut Marshella sebal.
"Kasihanilah Silvi kak, gue kurang duit jajan mulu selama beberapa hari ini!" cengir Silvi jahil.
"Tapi, masa gue yang harus jadi korbannya? elo kan bisa minta sama tante Sandra!" sungut Shella sebal.
"Itu mah beda kak! gue juga mau minta jatah sama tante!" Silvia menaikturunkan alisnya dengan cepat.
Elo mintain aja semua orang yang ada dirumah ini!" gerutu Shella.
"Oh iya kak, tante kita yang norak itu kemana? tumben dia malem begini belum pulang?" tanya Silvi penasaran.
"Entah, mungkin tante norak kita lagi di apartemennya om Rexy!" sahut Shella yang setengah tertawa!"
"Yang bener? kapan balikannya?" tanya Silvia.
Tap, tap, tap.
Suara langkah kaki terdengar mendekati Silvia dan Marshella. Keduanya masih membicarakan Sandra.
"Ehem," seseorang berdehem dibelakang Silvi dan Shella.
"Eh, tante Sandra udah pulang?" cengir Silvia.
"Kalian ngapain gosip?" tanya Sandra jutek.
"Kagak kok nte, kita cuma ngomong tante yang balikan dengan om Rexy." jawab Shella tenang.
"Udahlah, tante mau langsung ke kamar aja!" Sandra segera bergegas meninggalkan kedua keponakannya.
"Tante kita datang-datang malah jutek gak jelas gitu!" ujar Shella cepat.
Silvia dan Marshella masih melanjutkan obrolan mereka mengenai bermacam-macam hal yang sudah di lalui hari ini.
* Dalam kamar Cipto.
Elisa yang sudah mandi dan berganti baju mulai duduk di depan meja riasnya. Ia mulai melakukan kebiasaan malam dengan memakai produk perawatan wajah. Tiap malam ia rutin melakukan itu.
Cipto mulai beranjak berdiri dari kursi rodanya. Ia menghampiri Elisa yang duduk di depan meja rias.
Kakinya menapak lantai dengan perlahan, kekuatan nya seperti di isi kembali. Sungguh hal yang luar biasa akan pencapaian nya selama ini. Cipto melangkah perlahan, tangannya memegang sisi almari yang berada di sampingnya. Dengan tertatih dia mencapai pundak Elisa. Elisa yang memakai masker wajah tak tahu bahwa orang di sebelahnya mendekati.
Plak
Tangan itu memukul pundak Elisa pelan.
Elisa tersentak dan membuka perlahan masker wajahnya. Ia menoleh dan terkejut akan orang di belakang nya.
"Tunggu dulu, kamu udah bisa jalan?" tanya Elisa terkejut.
"Aa-kk-u........!" Cipto menjawab pelan.
Elisa membelalakkan netranya. Ia benar-benar tak menyangka bahwa.....
*
*
__ADS_1
*
Selamat membaca